
Tubuh Oichi terhuyung ke depan depan dan terjatuh pada pelukan Ellios. Dan tak sengaja Oichi malah mengecup pipi kiri Ellios hingga meninggalkan bekas lipstik pada pipi Ellios.
Karena sesuatu yang terjadi saat ini sungguh sangat sangat di luar dugaan, Ellios malah terpaku cukup lama sambil menahan tubuh Oichi dengan memegang kedua lengan gadis cantik bak bidadari itu.
Sedangkan pandangan mereka saling bertemu selama beberapa saat. Namun akhirnya Ellios segera mendorong tubuh Oichi dan segera memalingkan pandangannya kembali.
Dan sudah bisa dibayangkan, betapa merahnya wajah Ellios saat ini? Merah sekali! Karena Ellios juga sempat melihat belahan yang begitu menggoda yang berada tepat di hadapannya saat ini.
"Nona Oichi, jika sudah tidak ada yang ingin dibicarakan lagi denganku ... maka aku akan segera pamit. Karena temanku sudah menungguku di bawah." ucap Ellios dengan sangat sopan.
"Datanglah ke pesta ulang tahunku lusa. Pengawalku akan menjemputmu kelak." ucap Oichi penuh harap Ellios akan memenuhi undangannya kali ini.
"Aku akan mengusahakannya, Nona Oichi." sahut Ellios masih saja menatap ke arah dinding dan tidak menatap Oichi sama sekali. "Bolehkah aku mengajak Jullian untuk pergi?"
"Jullian?" tanya Oichi yang rupanya malah sudah melupakan Jullian begitu saja.
"Temanku yang menggantikan aku untuk menerima hadiah dan naik ke panggung." ucap Ellios menjelaskan.
"Oh. Baiklah. Kamu boleh mengajaknya kok." sahut Oichi yang sebenarnya sedikit merasa keberatan, karena dia hanya mengharapkan Ellios saja yang datang dan menghadiri pesta ulang tahunnya.
Namun tak ada pilihan lain selain memenuhi permintaan dari Ellios, karena sepertinya Ellios hanya akan mau datang jika bersama dengan Jullian.
"Ellios ... mengapa kamu tidak mau melihatku sama sekali? Apakah wajahku terlalu buruk, sehingga kamu tidak menyukai saat memandangku?" tanya Oichi dengan kening berkerut menatap pemuda yang saat ini malah menunduk dan menatap sepatu sport-nya sendiri.
"Ti-tidak, Nona Oichi. Nona Oichi sangat cantik seperti bidadari. Mana mungkin nona Oichi jelek?" sahut Ellios dengan asal, dan sebenarnya ucapan yang Ellios dapatkan saat ini adalah ucapan dari Jullian yang selalu mengatakan jika dewi Oichi begitu cantik bak bidadari tak bersayap.
Oichi tertawa kecil mendengar ucapan dari Ellios dan membungkam mulutnya denga jemari kanannya.
"Terima kasih. Sudah cukup banyak orang yang mengatakan seperti yang kau katakan barusan." ucap Oichi tersenyum manis.
"Karena nona Oichi memang sangat cantik. Uhm ... baiklah. Kalau begitu saya permisi, Nona Oichi. Kasihan Jullian sudah menungguku terlalu lama." ucap Ellios dengan ramah dan mulai sedikit membungkukkan badannya lalu mulai berbalik dan meninggalkan ruangan ganti ini.
Sedangkan Oichi masih saja menatap kepergian Ellios dengan kedua tangannya yang saling disilangkanya di bawah dadanya. Senyuman misterius dan penuh dengan rasa ingin tau masih menghiasi wajah cantik dengan polesan make up natural itu.
"Ellios ... apakah sedikitpun kamu tidak tertarik padaku? Cih ... rasanya aneh sekali! Dan ini adalah pertama kalinya aku bertemu dengan seorang pemuda yang sama sekali tidak menginginkan aku. Setidaknya seharusnya kamu melihatku lah ... tapi dia malah selalu menghindariku dan tidak mau menatapku. Cih ... pemuda itu sungguh sangat berbeda dari pemuda lainnya." gumam Oichi merasa sedikit sakit hati dan kesal sendiri.
"Lihat saja. Aku akan membuktikan jika tak ada pria yang bisa menolak diriku!! Semua pemuda akan memujaku! Karena aku memiliki sebuah sistem untuk menakhlukkan pria dan dunia entertaiment!! Aku adalah idol paling bersinar dan akan menggenggam seluruh dunia" gumam Oichi tersenyum miring masih menatap lekat sebuah pintu yang baru saja dilalui oleh Ellios.
...⚜⚜⚜...
"Ellios, apa itu?" Jullian terlihat begitu syok saat melihat ada sesuatu pada pipi kiri Ellios.
"Memang apa?" gumam Ellios merasa cuek dan mulai membenarkan posisi duduknya saat berada di dalam taxi.
"Lihatlah ini!" kali ini Jullian mulai memberikan sebuah cermin kecil untuk Ellios.
"Woahhhh ... berikan aku tisu, Jullian!!" ucap Ellios begitu histeris setelah melihat wajahnya melalui cermin.
"Ahh ... aku juga tidak memiliki tisu! Tisuku habis! Pak sopir, berikan kami tisu!" ucap Jullian yang seketika menjadi histeris juga.
"I-ini! Pakai saja ..." ucap sopir taxi itu yang latah menjadi panik juga.
"Terima kasih, Pak sopir!" ucap Ellios mulai membersihkan bekas lipstik berwarna pink lembut yang menempel pada pipinya dengan cepat.
"Whoa ... sebenarnya apa yang sudah terjadi, Ellios? Warna lipstik ini ... adalah warna yang tadi digunakan oleh dewi Oichi saat melakukan performance." gumam Jullian masih mengamati bekas usapan lipstik pada tisu itu.
"Katakan padaku, Ellios! Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Mengapa lipstik dewi Oichi-ku bisa menempel pada pipimu?!" tanya Jullian lagi semakin menekan dan memaksa Ellios untuk segera menjelaskan sesuatu padanya.
"Saat itu terjadi sebuah kecelakaan kecil saja kok yang mengakibatkan semua ini terjadi. Kamu tenang saja, Jullian. Dewi Oichi-mu bukan tipeku kok. Aku tak akan menyukai gadis seperti dia." jawab Ellios dengan jujur.
"Wah sungguh kamu aneh dan keterlaluan ya, Ellios! Selama ini aku belum pernah melihat lelaki yang tidak menyukai Oichi. Semua laki-laki pasti akan langsung menyukainya meskipun hanya karena memandangnya saja." celutuk Jullian merasa sedikit kesal karena menurutnya Ellios sudah meremehkan dan merendahkan idolanya.
"Cih ... aku tidak peduli. Aku lelah sekali, Jullian. Aku mau tidur sebentar dulu. Hoam ... bangunkan aku jika sudah sampai ya." ucap Ellios mulai memejamkan matanya kembali dan berniat untuk segera tidur. "Oh iya ... lusa Oichi mengundang kita untuk menghadiri pesta ulang tahunnya. Dia juga akan meminta pengawalnya untuk menjemput kita."
"Wah!! Benarkah itu, Ellios?" tanya Jullian malah semakin mengguncang kuat tubuh Ellios dan malah menyebabkan Ellios tidak jadi tertidur.
"Iya ... untuk apa aku berbohong padamu?!" sungut Ellios merasa kesal.
"Yatta!! Kau memang selalu membawa keberuntungan untukku, Ellios!" ucap Jullian begitu kegirangan dan memeluk tubuh Ellios dengan erat hingga membuat Ellios merasa sesak.
"Lepaskan aku, Jullian! Dadaku begitu sesak dan aku kesulitan untuk bernafas!" ucap Ellios berusaha untuk melepaskan pelukan Jullian.
"Haha ... baiklah ... maaf deh. Aku terlalu bahagia. Hehe ..." Jullian menyauti dengan tawa kecil dan mengusap tengkuknya.
"Huft ... ya sudah. Aku mau tidur dulu! Bangunkan aku jika sudah sampai!" ucap Ellios mulai memejamkan matanya kembali dan mencari posisi yang nyaman untuknya beristirahat sebentar.
"Huft ... ya sudah! Tidurlah! Biar bagaimanapun hari ini kamu sudah membuat hidupku merasa sempurna!! Kamu memang sahabat terbaikku, Ellios!! Tidurlah ... tidurlah ... jika perlu aku akan memijitmu." sahut Julian slengekan dan mulai memijit bahu kiri Ellios.
Namun Ellios sedikit mengangkat bahu kirinya karena merasa risih, "Singkirkan tanganmu, Jullian! Aku tidak suka dipijit! Rasanya geli dan aneh sekali!"
Mendengar ucapan dari Ellios membuat Jullian tertawa renyah, namun Jullian tidak lagi mengganggu Ellios dan membiarkan Ellios untuk beristirahat di dalam taxi.
...⚜⚜⚜...