To Be An Immortal Human By System

To Be An Immortal Human By System
Kembali Bersama Alisha



Tak bisa dipungkiri, sebenarnya ucapan dari Ellios cukup mengejutkan Alisha dan membuat Alisha merasa sedikit senang. Namun tentu saja Alisha tak ingin terlihat terlalu mudah untuk didapatkan kembali. Ditambah lagi, sebenarnya masih ada sebuah kekecewaan yang masih bersemayam jauh di dalam hati Alisha.


"Ellios, aku akan memberikan sebuah pertanyaan kepadamu sebelum aku menjawab keinginanmu. Dan jawaban darimu akan sangat mempengaruhi jawabanku." ucap Alisha menatap lekat Ellios.


"Baiklah. Apa itu? Katakan saja, Alisha. Aku akan menjawabnya dengan jujur ..." ucap Ellios pelan dan juga menatap lekat Alisha.


"Sebenarnya apa alasanmu yang sebenarnya memutuskanku saat itu?" ucap Alisha merendahkan egonya.


Karena sebenarnya hal itu sungguh membuatnya merasa malu untuk mempertanyakannya kembali. Namun karena Ellios mengutarakan kembali perasaannya, maka Alisha sangat ingin mengetahui alasan Ellios yang sebenarnya.


"Alasanku yang sebenarnya?" gumam Ellios mulai terlihat ragu kembali untuk menjawab pertanyaan dari Alisha.


"Ya. Aku sangat tidak mempercayai alasanmu saat itu. Dan aku sangat yakin jika kamu memiliki sebuah alasan yang lebih masuk akal." ucap Alisha dengan pelan namun terkesan tegas.


Atau kini sudah saatnya aku berkata jujur dengan Alisha? Tapi ... jika aku jujur padanya, kira-kira apa yang akan Alisha putuskan? Apakah Alisha masih mau bersama denganku yang berpenyakitan ini?


Batin Ellios mulai terlihat murung dan terdiam selama beberapa saat.


"Ellios ..." ucap Alisha membuyarkan lamunan Ellios.


"Uhm. Iya ... maaf ... aku malah melamun. Jadi begini, Alisha. Sebenarnya aku memang memiliki alasan lain saat itu. Jika boleh jujur padamu, sebenarnya aku ini sedang sakit keras. Aku hanya tak ingin membuatmu bersedih, jika suatu saat nanti aku pergi meninggalkanmu untuk selama-lamanya." ucap Ellios yang akhirnya malah jujur dan mengatakan akan penyakitnya.


"Sakit keras? Sudah aku duga ..." gumam Alisha pelan.


"Kamu sudah tau jika aku sedang sakit?" tanya Ellios cukup terkejut.


"Tentu saja aku tau, Ellios. Kita selalu menghabiskan watu bersama. Dan tubuhmu terlihat lemah saat itu. Namun aku tidak pernah tau kamu sakit apa. Dan aku hanya menunggu hingga kamu mengatakan semuanya kepadaku sendiri. Aku ingin kamu jujur kepadaku sendiri ... dan aku ingin mengetahui sejauh apa kamu mempercayaiku dan sejauh apa kamu menganggap aku." ucap Alisha yang terlihat sedikit kecewa, karena selama itu Ellios tak pernah memberitahu Alisha.


"Maafkan aku, Alisha. Bukannya aku tidak mempercayaimu. Dan bukannya aku tidak menganggapmu. Namun ... aku sudah bertekad untuk menyimpan rapat semua itu sendirian. Aku tidak ingin membuat orang-orang terdekatku bersedih dan semakin terbebani. Ibuku bahkan tidak mengetahuinya sama sekali." ucap Ellios lirih.


"Bibi Suzuna tidak tau?" tanya Alisha seakan tak percaya.


"Tidak ada yang tau sama sekali. Hingga akhirnya suatu ketika aku terjatuh pingsan. Dan disaat itulah Kakei mengantarkan aku ke rumah sakit. Dan Kakei-lah orang pertama yang mengetahui jika aku menderita kanker darah stadium akhir." ucap Ellios berusaha untuk tetap tersenyum meskipun jika mengingat semua itu membuatnya merasa ngilu.


"Kanker darah stadium akhir?" ucap Alisha membulatkan sepasang matanya dan membungkam mulutnya dengan kedua jemarinya, karena terkejut bukan main.


Alisha tak pernah menyangka jika ternyata Ellios menderita penyakit yang cukup mematikan di usianya yang masih cukup muda. Bahkan penyakitnya sudah mencapai stadium akhir. Dan mendengar hal ini tentu saja membuatnya sangat sedih.


"Benar, Alisha. Itulah alasanku yang sebenarnya. Aku hanya tak ingin membuatmu bersedih kelak, disaat aku sudah pergi. Kini semua terserah denganmu saja. Aku tidak akan memaksamu. Jika kamu tak ingin kembali padaku lagi, aku paham itu. Kamu pasti akan jauh lebih bahagia jika bersama dengan seorang pemuda yang sehat."


Ucap Ellios begitu kalut, karena dirinya merasa tak pantas untuk Alisha.


"Sudahlah. Lupakan saja semua ... anggap saja aku tak pernah mengatakan apapun kepadamu. Semoga hidupmu menjadi lebih baik dan kamu menemukan pemuda yang jauh lebih baik dariku." ucap Ellios cepat dengan nada yang sangat bersahabat.


Alisha menggeleng pelan, seolah tidak sependapat dengan Ellios.


"Jika memang seperti itu, maka aku akan selalu menemanimu. Jangan pernah lagi melakukan hal bodoh sendiri! Kamu harus tetap semangat dan kuat melawan penyakit itu!!" ucap Alisha yang tiba-tiba saja malah menitikkan air matanya.


Ellios terdiam selama beberapa saat, namun akhirnya Ellios mulai tersenyum tipis dan mengangguk pelan sambil menyeka air mata Alisha dengan jemarinya.


"Alisha, jangan menangis. Aku berjanji, aku akan segera sembuh dan pulih kembali." ucap Ellios berusaha untuk menghibur Alisha.


Bagaimana seseorang bisa pulih dan sembuh kembali jika sudah mendapatkan penyakit mematikan pada stadium akhir? Rasanya sebuah harapanpun hanya akan ada dengan persentase yang begitu kecil. Dan semua itu sangat membuat Alisha begitu merasa sedih dan sesak.


"Jangan menangis. Aku akan membuktikan semua itu. Aku akan melawan penyakitku ini ... aku akan menemanimu hingga kamu merasa bosan padaku, atau ketika kamu tak menginginkanku lagi." Ellios berusaha untuk memeluk Alisha dan menenangkannya.


"Terima kasih, Ell!! Kamu harus memegang semua janjimu itu! Kamu harus sembuh lagi!"


"Hhm


"Hhm. Tentu saja. Uhm ... Alisha, apakah itu artinya kita pacaran lagi?" tanya Ellios sangat berhati-hati.


"Hhm." jawab Alisha tersenyum lebar disertai dengan anggukan pelan.


"Uhm, Alisha ... aku ... bolehkah aku ..."


"Ada apa, Ellios?" kali ini Alisha sedikit mundur dan mendongak menatap pemuda itu. "Mengapa wajahmu sangat merah? Apa kamu sedang merasa kepanasan? Ayo kita segera mencari tempat yang sedikit dingin jika kamu kepanasan!" tanpa memberi kesempatan Ellios untuk menjawab ucapannya, Alisha sudah meraih jemari Ellios dan menggiringnya untuk memasuki sebuah kafe yang berada tak jauh dari tempat itu.


Mereka mulai memasuki kafe itu dan memilih tempat VIP, dimana tamu akan mendapatkan sebuah ruangan kecil khusus yang sudah dilengkapi dengan beberapa fasilitas lengkap di dalamnya. Bahkan setiap ruangan yang tidak telalu luas itu memiliki sebuah AC.


"Bagaimana? Apa masih panas?" tanya Alisha ketika sudah menurunkan suhu ruangan mereka.


"Tidak, Alisha. Ini sudah sangat dingin."


"Dingin? Bukankah kamu sedang kepanasan? Dan sekarang tiba-tiba saja kamu merasa kedinginan?" tanya Alisha kebingungan.


"Bukan seperti itu, Alisha. Sebenarnya aku ..."


Tok ... tok ... tok ...


DRRKK ...


Setelah terdengar beberapa kali ketukan pintu, akhirnya pintu mulai terbuka. Terlihat seorang waitress mulai memasuki ruangan dan membawakan beberapa makanan yang sudah dipesan oleh Ellios.


Lovely. Bagaimana cara mencium Alisha? Aku sungguh tidak tau harus melakukan apa dulu untuk memulai semua itu.


Batin Ellios sambil menatap Alisha yang sejak beberapa saat yang lalu terlihat sangat cantik dan berbinar. Dan sangat terlihat jika suasana hatinya kini sedang sangat baik.


[ Nikmati saja makan malam kalian dulu. Setelah itu gunakan kesempatan sebaik mungkin saat tuan Ellios dan Alisha sedang berjalan bersama di bawah sinar rembulan dan di bawah lampu penerangan yang begitu indah. ]


Ucap Lovely menyauti.


Di bawah sinar rembulan dan lampu penerangan malam ya? Jika dibayangkan akan sangat indah dan romantis. Baiklah!! Aku tidak memiliki banyak waktu lagi! Sebaiknya segera habiskan makan malam kali ini dulu.


Batin Ellios mulai mengambil sepasang sumpitnya dan menikmati makan malamnya.


Kali ini Ellios terlihat begitu cepat dan bersemangat saat menikmati makan malamnya. Karena saat ini sudah hampir jam 8 PM. Sebisa mungkin Ellios harus segera menyelesaikan misinya sebelum tengah malam.


"Ellios, pelan-pelan ... atau kamu akan tersedak nanti." ucap Alisha mengingatkan dan tertawa kecil.