To Be An Immortal Human By System

To Be An Immortal Human By System
Sang Penabrak



Kakei dan Ellios mulai melenggang bersama menyusuri koridor rumah sakit yang sudah semakin sepi, dingin dan kelam ini. Beberapa saat masih tak ada perbincangan sama sekali diantara mereka berdua dan suasana menjadi sedikit canggung.


"Kakei. Terima kasih selama ini kamu sudah selalu baik padaku." ucap Ellios dengan tulus.


"Hhm. Aku hanya berbuat sedikit saja kok, Ellios. Oh iya ... kalau boleh tau apa hubunganmu dengan Alisha? Apa kalian pacaran?" tanya Kakei mulai bertanya karena selama beberapa saat hal itu cukup mengganggu dirinya.


"Iya, Kakei. Aku pacaran lagi dengan Alisha." jawab Ellios dengan jujur.


"Pacaran lagi? Maksudmu kamu sudah pernah berpacaran dengan dia sebelumnya?" tanya Kakei menyimpulkan.


"Hhm. Kamu benar, Kakei. Sebenarnya aku sudah cukup lama berpacaran dengan dia. Namun aku sempat putus saat itu. Dan kini kami berpacaran lagi ..." jawab Ellios dengan jujur.


"Oh begitu ya. Tapi, Ellios ... aku sarankan padamu untuk berhati-hati padanya. Aku tidak ingin kamu dan ibumu terluka lagi." ucap Kakei dengan hati-hati.


"Apa maksudmu, Kakei?" tanya Ellios tak mengerti dan mulai beralih menatap sisi samping wajah Kakei.


Kakei mulai menghentikan langkah kakinya dan kulai beralih menatap Ellios dengan serius. Sebenarnya Kakei terlihat begitu ragu untuk menyampaikan ucapannya saat ini.


"Ada apa, Kakei?" tanya Ellios semakin ingin tau, karena Kakei malah terdiam dan hanya menatapnya saja.


"Lupakan saja, Ellios! Intinya kamu harus lebih berhati-hati dan selalu jagalah ibumu dengan baik!" jawab Kakei tersenyum tipis dan menepuk pelan punggung Ellios. "Beberapa orangku juga akan berusaha untuk menjaga kalian. Ayo kita pergi ke kantin dan beli beberapa makanan saja!" imbuh Kakei mulai melenggang kembali.


"Tunggu, Kakei!" sergah Ellios menahan lengan Kakei dan membuat Kakei terhenti kembali.


"Ya, Ell?"


"Tolong katakan padaku semua yang kamu ketahui, Kakei ... jangan merasa segan dan jangan merasa tidak enak padaku. Kita adalah teman bukan? Bukankah seharusnya teman adalah saling terbuka?" ucap Ellios menatap lekat Kakei.


Kakei terdiam selama beberapa saat lalu mulai mengambil nafas panjang, dan mengeluarkannya perlahan.


"Baiklah. Aku akan menceritakan semua kepadamu. Ayo kita ke kantin sambil menikmati teh hangat! Kita akan berbincang disana." ucap Kakei akhirnya.


"Hhm. Baiklah. Ayo!" sahut Ellios menyetujui ajakan dari Kakei.


Kedua pemuda itu mulai melenggang kembali untuk menuju ke kantin rumah sakit. Mereka mulai memesan teh ocha hangat dan ramen uddon.


"Makanlah dulu! Setelah makan aku akan memperlihatkan sesuatu kepadamu, Ell!" ucap Kakei setelah pelayan kantin rumah sakit mengantarkan beberapa makanan dan minuman yang sudah mereka pesan.


Tanpa banyak bertanya dan melakukan protes, kini Ellios mulai memikmati teh ocha hangat itu dan juga ramen yang masih sedikit berasap itu, menandakan masih sedikit panas.


Tak banyak perbincangan kembali, Kakei dan Ellios hanya fokus untuk menikmati makan malam mereka saja. Karena mereka berdua memang tipikal pemuda yang cukup pendiam.


Setelah beberapa saat dan sudah menghabiskan ramen itu, kini Kakei mulai mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah mini computer kini mulai dihidupkannya. Sedangkan Ellios hanya terdiam dan memperhatikannya saja.


"Date mengatakan padaku jika pelakunya melarikan diri setelah menabrak ibu. Mungkin karena dia panik dan ketakutan. Awalnya aku memang sangat ingin tau, Kakei. Namun kini kondisi ibu sudah mulai membaik. Jadi ... tidak masalah ... mungkin dia juga tidak sengaja." jawah Ellios yang memang pada dasarnya berhati lembut dan pemaaf.


Sepasang mata Kakei masih memicing menatap Ellios dan perlahan pemuda yang tak lain adalah kapten basket di Universitas Todai ini menggeleng pelan.


"Tidak, Ellios. Ini bukanlah kecelakaan. Tapi semua ini sudah direncanakan oleh seseorang. Dan kali ini kamu tidak boleh berdiam diri saja! Kamu harus melaporkan semua ini pada pihak polisi!"


"Apa maksudmu, Kakei?" tanya Ellios tak mengerti.


"Lihatlah semua ini, dan kamu akan mengerti." ucap Kakei sambil memperlihatkan sebuah video rekaman CCTV sebelum kecelakaan itu terjadi.


Ellios mulai menonton video itu dengan seksama. Sebuah mobil berwarna hitam yang sudah terparkir cukup lama di depan sebuah toko bunga, tiba-tiba saja mulai melaju dengan cukup kencang setelah Suzuna keluar dari tempat perbelannjaan.


Mobil itu mulai menabrak Suzuna dan membuat tubuh wanita paruh baya itu terhempas cukup jauh, hingga akhirnya kepalanya terbentur pada pembatas jalan. Setelah itu mobil itu mulai melaju kembali meninggalkan lokasi kejadian.


Setelah video itu berakhir, kini Kakei mulai memainkan video lainnya lagi. Yaitu video lanjutan yang menangkap seorang pengemudi dari mobil penabrak Suzuna yang mulai menuruni mobil itu di sebuah gang.


Kedua video itu hanya berselang 10 menit saja. Dan betapa terkejutnya Ellios ketika melihat sosok pemuda yang sangat dia kenali menuruni mobil itu.


"Aku mendapatkan semua ini dari temanku yang ahli dalam peretasan." ucap Kakei yang tidak mengetahui jika sebenarnya Ellios cukup handal dalam hal ini.


"Kak Louis ... jadi ... dia yang melakukan semua ini?" ucap Ellios hampir tidak mempercayai semua ini.


"Hhm. Kamu benar, Ellios! Dan ... berhati-hatilah juga dengan Alisha. Aku khawatir dia juga akan berkomplot dengan kakaknya dan masih ingin untuk mencelakai kalian." ucap Kakei memperingatkan.


"Kakei. Aku sungguh tidak menyangka semua ini. Aku kira kak Louis benar-benar akan berubah ... dan sebenarnya Alisha tak ada hubungannya dengan semua ini. Ini adalah murni dari kak Louis."


"Merubah diri itu tak semudah membalikkan telapak tangan, Ellios. Semua itu harus dia sendiri yang bertekad untuk merubahnya." ucap Kakei dengan bijak.


"Sebenarnya ... beberapa hari yang lalu kak Loiluis pernah mengancamku. Jika aku tak meninggalkan Alisha, maka dia akan mencelakai ibu atau teman-temanku. Namun rupanya dia malah mengajakku berduel, siapa yang kalah, maka dia harus menuruti permintaan sang pemenang." ucap Ellios mulai bercerita.


Sementara Kakei hanya terdiam dan mendengarkan dengan serius.


"Aku menerima tantangannya itu dan aku berhasil mengalahkannya, Kakei. Dan saat itu aku meminta dia untuk berubah menjadi lebih baik, dan dia juga mengiyakan permintaanku. Aku sungguh tak menyangka dia malah akan menjadi senekat ini dan malah menjadi semakin jahat. Aku khawatir dia juga akan berniat untuk mencelakai kalian." ucap Ellios lagi.


"Kamu tak perlu mengkhawatirkan aku dan yang lainnya, Ellios. Sekarang yang terpenting kamu harus lebih menjaga ibumu! Dan kamu harus segera melaporkan semua ini kepada pihak kepolisian. Dan jangan khawatir ... aku akan selalu ada untukmu. Jangan takut ..."


Ellios merasa cukup terharu saat Kakei mengatakan semua itu. Namun perasaan bimbang mulai menyelimuti diri Ellios kembali karena merasa segan dengan Alisha jika harus melaporkan semua ini kepada pihak polisi.


"Lakukan saja, Ellios! Kak Louis memang salah dan sudah sangat keterlaluan! Dia pantas dihukum!" ucap seorang gadis tiba-tiba.