To Be An Immortal Human By System

To Be An Immortal Human By System
Menghindari Alisha Dan Jiu ?



Di bawah sebuah pohon besar, terlihat Ellios sedang duduk di bangku di dekatnya. Pemuda itu terlihat sedang membaca sebuah buku ditemani dengan milk tes kalengnya.


Semilir angin saat itu terasa begitu menyejukkan dan menenangkan dirasakan olehnya. Menambah Ellios semakin fokus dalam membaca buku ber-cover biru muda itu.


[ Misi hari ini akan segera dimulai, Tuan. Misi kali ini adalah cukup ringan, yaitu menghindari dua gadia sekaligus. ]


Suara Lovely tiba-tiba saja mulai terdengar kembali.


"Menghindari dua orang gadis sekaligus? Siapa gadis itu, Lovely?" tanya Ellios masih saja menyibukkan dirinya dengan membaca buku.


[ Gadis-gadis itu akan segera datang menghampiri tuan Ellios. ] ucap Lovely.


Dan benar saja, tiba-tiba saja ada segerombolan mahasiswi yang lewat tak jauh dari Ellios berada. Dan salah satu mahasiswi itu rupanya adalah Alisha.


Alisha mulai menghentikan langkahnya dan segera berpisah dengan teman-temannya karena melihat Ellios yang terduduk di atas kursi panjang di bawah pohon maple itu.


"Aku akan menyusul kalian nanti. Ada sesuatu yang harus aku lakukan saat ini ..." ucap Alisha mulai memisahkan diri dari teman-temannya.


Okay deh ..." sahut kedua mahasiswi itu kompak lalu meninggalkan Alisha.


Sementara Alisha mulai melenggang dan mendekati Ellios, hingga kini Alisha sudah bersiri di hadapan Ellios. Ellios yang menyadari kehadiran seorang gadis, kini mulai mendongak menatapnya.


"Alisha ... ada apa?" tanya Ellios penuh tanda tanya.


"Hadiah yang kamu berikan padaku ... itu terlalu mahal dan mewah. Jadi, aku memutuskan untuk mengembalikannya kepadamu." ucap Alisha sambil menyodorkan sebuah bingkisan kecil untuk Ellios.


"Alisha, bukankah kamu sendiri yang mengatakan jika hadiah adalah tidak dinilai dari nominal harga. Aku tulus memberikan hadiah itu untukmu. Jadi terimalah ..." ucap Ellios sedikit mendorong kembali tangan Allisha agar gadis cantik itu segera menyimpannya kembali


"Tapi ini terlalu mahal dan mewah, Ellios. Seharusnya akan lebih bermanfaat jika uangnya dipakai untuk keperluan lain saja yang lebih bermanfaat. Daripada kamu menghambur-hamburkannya. Aku sungguh merasa tidak enak dan tidak pantas ..." ucap Alisha masih saja kurang nyaman jika harus menerima hadiah itu.


Ellios tersenyum tipis dan kali ini malah meraih kotak kecil itu dan mulai mengeluarkan sebuah jam tangan rantai berwarna silver dari dalamnya. Lalu Ellios mulai menarik tangan kiri Alisha dan malah memakaikannya untuk Alisha.


Dan hal ini malah membuat Alisha terpaku dan tak bisa menolak Ellios lagi.


"Lihatlah, Alisha ... kamu sangat manis dengan jam tangan ini. Bahkan ukurannya juga sesuai denganmu. Katakan padaku dengan jujur, apa kamu tidak menyukainya?" ucap Ellios masih tersenyum menatap jam tangan yang sudah melingkar dengan manis pada tangan kiri Alisha.


Sementara Alisha masih saja membeku dan menunduk menatap Ellios yang terduduk di hadapannya. Pandangannya seakan begitu terhipnotis dan tersihir oleh Ellios.


"Katakan padaku dengan jujur, Alisha ..." kali ini Ellios mulai mendongak menatap Alisha yang masih terpaku menatap Ellios.


"Ak-aku masih menyukaimu ..." ucap Alisha tanpa sadar.


"Apa?" tanya Ellos dengan kening berkerut menatap Alisha


"Eh? Maksudku adalah ... aku menyukainya ..." ucap Alisha menjadi salah tingkah dan segera menarik tangnnya dari Ellios.


"Alisha ... kalau boleh jujur sebenarnya aku ..." ucap Ellios terpotong, karena tiba-tiba saja ada seorang gadis yang datang dan menghampiri mereka berdua.


"Ellios!" sapa gadis itu dengan penuh binar dan membuat Ellios dan Alisha seketika mulai beralih menatap sang pemilik suara itu.


Rupanya Jiu sudah berdiri tak jauh dari mereka dengan senyum lebar. Dan gadis itu juga mulai melenggang mendekati Ellios dan Alisha.


"Jiu, ada apa?" tanya Ellios dengan ramah.


"Eh ... itu ..." ucap Ellios merasa sangat kebingungan.


Ellios paling segan dan tidak bisa menolak ajakan seseorang, namun Ellios juga tidak enak hati jika harus meninggalkan Alisha.


Hingga akhirnya tiba-tiba saja tak sengaja Ellios mulai meliht Kakei yang sedang berjalan sendirian di koridor yang tak jauh dari tempat Ellios berada saat ini.


Nah, saatnya aku melarikan diri dari mereka berdua. Huft ... terkadang misi dari sistem ini cukup membantuku sih, tapi terkadang malah menyulitkanku. Batin Ellios.


"Maaf, Jiu ... Alisha ... tapi aku harus segera pergi sekarang." ucap Ellios dengan cepat dan segera melangkah cepat untuk menyusul Kakei. "Kakei! Tunggu aku!" panggil Ellios.


Jiu dan Alisha hanya terdiam menatap kepergian Ellios yang secara tiba-tiba itu. Dan sebenarnya Alisha merasa sangat lega karena Ellios tidak menerima ajakan dari sang dewi kampus.


Sementara itu ...


[ Mission completed. Selamat, Tuan. Karena tuan sudah bisa menyelesaikan misi kali ini. ] ucap Lovely.


Hhm. Aku akan memeriksanya nanti saja saat sendirian. Agar mereka tak menganggapku gila.


Sahut Ellios dalam hati.


"Ellios, ada apa?" tanya Kakei sambil berjan beriringan dengan Ellios menyusuri koridor kampus yang rupanya membawa mereka berdha hingga ke ruang lapangan basket.


"Tidak ada apa-apa sih. Hanya ingin menyapa kamu saja kok." jawab Ellios seadanya.


"Oh, bagaimana kesehatanmu saat ini, Ell?" tanya Kakei sesekali memainkan bola basketnya berputar searah dengan jarum jam dengan jari telunjuknya.


"Aku sudah merasa lebih baik kok. Bolehkah aku melihat kamu bermain basket?"


"Tentu saja. Kalau hanya melihat tidak masalah sih. Tapi aku tidak mengijinkanmu untuk bermain basket!" ucap Kakei pelan namun penuh dengan penekanan.


"Hhm. Ya ... lagipula aku kurang menyukai basket kok. Hehe ... aku lebih suka membaca dan belajar." jawab Ellios dengan jujur.


"Lalu? Mengapa saat itu kamu bersikeras untuk bergabung dengan tim basket?" selidik Kakei merasa penasaran.


"Itu karena ... aku ... hanya ingin menguji kemampuanku sendiri saja sih." jawab Ellios dengan asal.


"Lain kali jangan memaksakan diri lagi. Tubuhmu saat ini cukup lemah. Dan kamu harus banyak beristirahat dan tidak boleh terlalu lelah." ucap Kakei mulai memasuki ruangan berlatih yang rupanya di dalam sudah ada Arata dan Sano yang sedang berlatih bersama.


"Iya, Kakei ..." ucap Ellios seadanya. "Kalau begitu aku akan duduk di bangku penonton dan melihat kalian bermain saj." imbuh Ellios lalu mulai melenggang menuju bangku penonton.


Sementara Kakei mulai melenggang ke lapangan basket dan bergabung bersama Arara dan Sano. Namun rupanya Arata malah berteriak ke arah Ellios dan mengajaknya bermain bersama.


"Ellios!! Ayo kita bermain bersama!!" teriak Arata bersemangat, karena semenjak Ellios bergabung dan bermain saat pertandingan final itu, Arata menjadi begitu menyukai Ellios.


Ellios yang mendengar ajakan dari Arata hanya tersenyum nyengir dan mengangguk pelan saja.


"Ellios tidak akan bermain basket lagi. Dia sedang kurang enak badan." sela Kakei.


"Yah ... padahal tim basket kita akan menjadi lebih sempurna jika Ellios bergabung kembali. Huft ..." sungut Arata kecewa.