
Di dalam gedung perpustakaan terlihat Ellios sedang membaca sebuah buku. Sementara di hadapannya masih ada beberapa tumpukan buku lainnya yang sudah mengantri untuk dia baca.
[ Tuan Ellios. Mengapa tuan masih terlihat begitu santai? Saat ini tuan masih memiliki sebuah misi yang harus segera dikerjakan. Jika tidak segera menyelesaikannya sebelum hari ini berakhir, maka tuan Ellios akan segera mendapatkan pinalti. ]
Di tengah-tengah keseriusannya membaca sebuah buku, kini tiba-biba saja mulai terdengar suara Lovely. Pemuda itu mulai memejamkan sepasang matanya sesaat dan sedikit mendengus.
Mungkin jika hanya menyatakan cinta masih bisa diusahakan oleh Ellios. Meskipun selama ini Ellios tidak pernah secara langsung mengungkapkan perasaanya, dan hanya melalui sebuah surat.
Untuk mengajaknya berkencan juga masih bisa dilakukan oleh Ellios. Namun bagaimana dengan berciuman?? Sepertinya hal itu masih sangat mustahil untuknya.
Lovely. Aku tidak pernah menyatakan perasaan secara langsung untuk seorang gadis. Namun aku masih bisa mengusahakan hal itu bisa aku lakukan. Tapi ... bagaimana dengan berciuman? Aku sama sekali belum pernah melakukannya ... aku tidak tau caranya berciuman. Membayangkannya saja sudah membuatku begitu berdebar.
Batin Ellios dengan wajah yang sudah mulai merona karena membayangkan jika dirinya mencium seorang gadis.
Arggh!! Misi ini tidak benar!! Aku tidak bisa mencium seorang gadis!!
Batin Ellios terlihat frustasi dan mengacak-acak rambutnya sendiri.
[ Tuan Ellios tidak tau cara untuk berciuman? Ahaha ... kolot sekali tuanku satu ini. Ciuman hanyalah kedua bibir yang saling bertaut dengan hangat. Apa perlu tuan belajar dan melakukan sebuah praktek? Aku bisa membantu tuan Ellios dengan senang hati. ]
Ucap Lovely berusaha untuk menjelaskannya dan membantu Ellios, namun hal itu malah semakin membuat Ellios kesal dan frustasi.
Jangan bercanda, Lovely! Mana mungkin aku berlatih berciuman denganmu? Tidak lucu bukan jika ciuman pertamaku adalah bersama pemandu sistemku sendiri?
Batin Ellios mulai menutup bukunya karena sudah tidak fokus untuk membaca lagi.
[ Ahaha ... memang apa salahnya? Aku kan hanya berniat untuk membantu dan memberikan kelas saja. ]
Jawab Lovely dengan mudahnya.
Katakan padaku! Apa pinalti yang akan aku dapatkan jika aku tak menyelesaikan misi kali ini, Lovely!.
Batin Ellios bertanya, karena sebenarnya misi kali ini sungguh sangatlah berat untuknya. Andai pinalti kali ini tidaklah berat, mungkin saja Ellios akan lebih memilih untuk mendapatkan sebuah pinalti saja.
[ Pinaltinya adalah tuan akan kehilangan 80% dari sisa usia yang sedang tuan miliki saat ini. Silakan tentukan saja pilihan tuan saat ini. ]
Jawab Lovely dengan entengnya.
Apa?? 80%?? Itu artinya usiaku hanya akan tersisa kira-kira 1 tahun 2 bulan saja? Cihh ... kamu sungguh selalu membuatku tak memiliki pilihan lain, Lovely! Baiklah!! Mari lakukan saja!! Lakukan sedikit perubahan untuk hidupmu, Ellios!! Berkorbanlah sedikit dan kamu akan mendapatkan sesuatu yang fantastas!!
Batin Ellios kembali menyemangati dirinya sendiri dan mulai bangkit dengan semangat penuh yang membara.
...⚜⚜⚜...
Di sebuah taman kota, terlihat seorang pemuda dan seorang gadis yang sudah cukup lama berjalan bersama menghabiskan sisa sore ini. Bahkan kini langit sudah terlihat semakin memerah menandakan senja sudah mulai tiba.
Dan itu artinya pemuda yang tak lain adalah Ellios itu sudah cukup lama mengulur banyak waktu dan tidak segera menyatakan perasaanya untuk gadis itu.
"Ellios? Ada apa? Tumben sekali kamu mengajakku bertemu?" ucap seorang gadis yang memiliki kecantikan sangat alami itu mulai membuka perbincangan kembali.
"Alisha. Begini ..." ucap Ellios mulai menghentikan langkah kakinya dan sedikit memutar tubuhnya untuk menghadap gadis itu.
"Ya?"
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu ..." ucap Ellios terlihat begitu kikuk.
Ayo katakan pada Alisha Ellios! Kamu pasti bisa mengatakannya tanpa menggunakan bantuan dari sistem! Lakukan dengan sepenuh hati dan alami! Karena sebenarnya kamu juga masih mengharapkan Alisha bukan?
Batin Ellios kembali menyemangati dirinya sendiri.
Namun belum sempat Ellios mengatakannya, kini tiba-tiba saja pandangan Ellios mulai tertuju pada bahu kiri Alisha.
"Alisha ... diam dan jangan bergerak ... ada ulat pada bahumu." ucap Ellios mulai mengangkat tangan kanannya untuk menjatuhkan ulat itu.
"Ahhh ... tolong singkirkan ulat itu, Ellios!! Cepat singkirkan dariku ..." teriak Alisha histeris, karena selama ini Alisha memang begitu takut dan geli dengan semua hewan melata.
Dengan cepat Ellios segera mengibaskan ulat itu hingga terjatuh dari bahu Alisha.
"Ellios!! Tolong sengkirkan ulat itu dariku ..." ucap Alisha masih histeris.
Bahkan Alisha tak sadar jika kini sudah meraih kedua lengan Ellios dan sudah bersembunyi di dalam dada bidangnya dengan sepasang mata yang terpejam.
"Alisha. Sudah tidak ada ... aku sudah membuangnya." ucap Ellios pelan.
Alisha segera membuka matanya kembali dan merasa malu ketika menyadari jika dia sudah berada dekat sekali dengan Ellios. Bahkan dengan cepat Alisha segera melepaskan kembali kedua lengan Ellios dan mundur beberapa langkah.
"Terima kasih. Aku sungguh takut sekali dengan ulat ..."
"Hhm. Tidak masalah kok." ucap Ellios menahan tawa karena melihat tingkah Alisha yang menurutnya terlihat begitu lucu dan menggemaskan.
Sudah cukup lama mereka berdua tidak bersama-sama seperti ini. Dan sebenarnya Ellios maupun Alisha masih saling merindukan satu sama lain.
"Apa kamu menertawakaku, Ellios?" celutuk Alisha yang rupanya memergoki Ellios sedang menahan tawa.
"Oh ... tidak kok. Aku tidak sedang menertawakanmu." ucap Ellios dengan cepat. "Oh iya, Alisha. Ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu. Dan kali ini aku ingin jujur kepadamu." imbuh Ellios mulai terlihat ragu kembali dan mengusap tengkuknya.
"Ya? Katakan saja padaku ..." ucap Alisha karena melihat Ellios mulai terlihat ragu-ragu untuk mengatakannya.
"Begini, Alisha. Selama ini ... aku masih belum bisa melupakanmu. Dan aku masih selalu mengingatmu. Aku memang salah saat itu karena memutuskanmu begitu saja. Maukah kamu memaafkanku dan kembali lagi padaku, Alisha? Bisakah aku memperbaiki semua kesalahanku selama ini?" ucap Ellios dengan sangat berhati-hati.
Tak dapat dipungkiri, jantung Ellios kini sudah berdegup seperti sebuah drum. Karena semua ucapannya adalah jujur, dan hal seperti ini adalah pertama kalinya dia lakukan di seumur hidupnya.
Namun rupanya, jawaban dari Alisha bukanlah ya atau tidak. Melainkan sebuah jawaban yang tak pernah dibayangkan sebelumnya oleh Ellios.
"Ellios, aku akan memberikan sebuah pertanyaan kepadamu sebelum aku menjawabnya. Dan jawaban darimu akan sangat mempengaruhi jawabanku." ucap Alisha menatap lekat Ellios.
"Baiklah. Apa itu? Aku akan menjawabnya dengan jujur ..." ucap Ellios pelan dan juga menatap lekat Alisha.