To Be An Immortal Human By System

To Be An Immortal Human By System
Team Work



Karena mendapat desakan terus dari Date, akhirnya Ellios benar-benar meminta Oichi untuk menyanyi di kedai ayam krispi milik Suzuna. Dan rupanya sangat di luar dugaan dari yang mereka bayangkan!! Oichi menerima dan mengiyakan permintaan dari Ellios dan Oichi akan datang di akhir pekan untuk memenuhi permintaan dari Ellios.


Dan sebenarnya Ellios terpaksa meminta Oichi untuk melakukan semua itu juga karena Lovely sudah menjadikannya sebagai misi kali ini. Yaitu misi untuk membuat Ellios membujuk Oichi untuk menyanyi di kedai sang ibu.


Tepat di akhir pekan, pengunjung kedai ayam krispi itu terlihat 10 kali lebih ramai dibanding hari biasanya. Hingga Suzuna dan Ellios menyiapkan bangku tambahan untuk para pengujung.


Dan kebanyakan yang datang adalah mahasiswa dan mahasiswi universitas Todai. Karena mungkin sebagian dari mereka sudah mendengar jika senja ini akan ada penampilan dari sang dewi Oichi.


"Ellios! Apakah sudah waktunya aku mengangkat ayam ini dari penggorengan?" Kakei yang hari ini juga ikut membantu di kedai ayam krispi bagian menggoreng ayam terlihat begitu kebingungan memutuskan kapan waktu yang tepat untuk mengangkat ayam itu dari penggorengan.


Karena di dalam seumur hidupnya, Kakei sama sekali tak pernah melakukan hal semacam ini. Tuan muda Kakei di rumahnya akan selalu menerima semua beres dan tidak pernah mengetahui bagaimana proses itu. Bahkan pakaian ganti saja selalu disiapkan oleh sang ibu.


Dan bagaimana dengan penampilan Kakei saat ini saat melakukan tugasnya sebagai sang penggoreng ayam? Dia mengenakan kacamata fashion miliknya, mengenakan masker untuk menutupi wajah bagian bawahnya, dan memakai kerudung hodie kerennya untuk melindunginya dari percikan minyak. Terlihat begitu lucu!


"Uhm ... tunggu 2 menit lagi, Kakei. Warnanya masih terlalu pucat." Ellios yang sudah begitu hafal akan semua prosesi di kedai sang ibu memberitahu Kakei.


Ellios sendiri saat ini terlihat sedang mencuci piring-piring dan gelas kotor yang sudah menumpuk di atas wastafel.


"Ellios!! Persediaan saus tomat sudah habis di depan. Dimana aku harus mengambil persediaan untuk mengisinya kembali alat itu?" kini tiba-tiba saja Jullian sudah datang ke dapur.


"Ada di dalam lemari, Jullian. Di dalam ada 2 jenis saus. Jangan sampai salah ya. Khawatir jika ada pelanggan yang tidak bisa menikmati makanan pedas." jawab Ellios mulai mentiriskan beberapa piring yang sudah selesai dicucinya di dalam sebuah tempat khusus.


"Okay!!" sahut Jullian sambil mencari saus itu di dalam lemari persediaan yang berada di dapur lalu segera berlalu lagi.


"Siapa itu yang sedang menggoreng ayam?" tiba-tiba saja Jiu juga sudah datang begitu saja karena mendengar semua ini dari Ken. Dan Jiu juga memutuskan untuk membantu Ellios.


Kakei yang merasa sedang dibicarakan kini mulai berbalik untuk melihat siapa yang datang. Jiu yang menyadari jika pria itu adalah Kakei, kini segera memutuskan untuk merebut spatula dan penjepit dari Kakei. Dan Jiu juga sedikit mendorong tubuh Kakei agar memberinya tempat.


"Apa yang sedang kamu lakukan, Jiu?" protes Kakei tak terima pekerjaannya direbut begitu saja oleh Jiu.


"Kamu kerjakan yang lain saja deh, Kakei! Tidak ada orang yang menggoreng ayam dengan penampilan seperti itu! Mengapa tidak sekalian saja memakai pakaian astronot?!" celutuk Jiu mulai mengangkat ayam itu dari penggorengan dan mulai memasukkan ayam yang sudah dilumuri dengan tepung ke dalam penggorengan itu.


Kakei yang mendengar ucapan Jiu sebenarnya merasa sangat kesal. Namun tiba-tiba saja Ken sudah datang dan menyembulkan kepalanya di pintu. Kini rupanya pemuda keren itu sudah merubah warna rambutnya kembali menjadi pirang.


"Ada seseorang yang bisa membantuku untuk memindahkan beberapa alat musik? Aku tidak bisa melakukannya sendirian. Date juga belum datang." ucap Ken menatap Ellios dan Kakei secara bergantian.


"Baiklah. Aku akan membantumu." sahut Kakei mulai melepaskan masker, kerudung hodie dan kacamata stylish-nya.


"Baru kali ini aku melihat karyawan kedai ayam krispi setampan kamu, sekeren kamu dan seunik kamu, Kakei! Ahahaha ..." ucap Ken dengan tawa renyah.


"Ckkk ... diam atau aku tak akan membantumu!" ucap Kakei merasa kesal.


"Okay!! Sory!! Ayo bergegas ..." sahut Ken setelah tawanya mereda.


Ellios yang melihat semua hal ini hanya tersenyum penuh binar. Sangat tidak disangka jika teman-teman barunya akan bersuka rela untuk membantu kedai makan sang ibu disaat sangat ramai seperti ini.


Karena selama ini Suzuna hanya mempekerjakan 2 orang saja untuk membantunya berjualan. Dan kini 2 orang itu sedang melayani para pengunjung kedai di bagian depan.


"Ellios! Ada beberapa mobil mewah mulai melakukan parkir di depan, Sayang. Coba lihatlah, barangkali mereka adalah temanmu yang akan menyanyi itu." kini Suzuna yang sejak tadi sibuk membuat bumbu untuk ayam krispinya di ruangan sebelah mulai datang menghampiri Ellios di dapur.


"Baik, Ibu. Jiu aku akan ke depan dulu." ucap Ellios mengusapkan tangannya yang masih masah pada sisi samping celemek hitam khas dari kedai ayam krispi ini.


"Hhm. Okay, Ellios!" sahut Jiu mulai membalik ayam krispi yang masih berada di dalam penggorengan itu.


"Jiu, jika sudah merasa lelah dan pegal katakan saja kepada bibi. Biar bibi yang menggorengnya saja. Kebetulan bibi sudah selesai meracil bumbunya." ucap Suzuna merasa tak enak kepada teman-teman Ellios.


Karena di mata Suzuna, teman-teman Ellios adalah bukan orang biasa, mereka terlihat begitu wow dan berkelas. Lalu mengapa mereka mau melakukan semua pekerjaan buruh seperti ini? Terkadang Suzuna sangat tidak mengerti dengan semua ini.


Ditambah lagi sekarang Ellios memiliki seorang kenalan seorang bintang penyanyi papan atas seperti Oichi yang dengan bersuka hati mau melakukan sebuah performance secara cuma-cuma di kedai ayam krispi miliknya.


Ditambah lagi Oichi juga dengan mudahnya menyerahkan hak milik kedai ini untuk Ellios dan Suzuna. Sungguh semua itu sangatlah membuat Suzuna tak mengerti.


Sementara itu ...


Seorang gadis berkacamata hitam yang begitu cantik dan anggun terlihat mulai turun dari sebuah mobil sport super mewahnya yang berwarna merah menyala. Dia mengenakan blouse terusan press body berwarna cream lembut.


Pakaian lembut yang membalut tubuh rampingnya yang memiliki panjang sejengkal di atas lutut itu, membuatnya terlihat begitu mempesona, simple namun tetap terlihat elegan dan berkelas.


Semua orang terlihat berkerumun dan sangat antusias untuk menyambut kehadiran sang dewi Oichi yang begitu mereka kagumi dan sangat mereka idolakan. Namun pengawalan begitu ketat, sehingga mereka tak akan bisa menyentuh Oichi.


Kini Oichi mulai melepaskan kacamata hitamnya yang sejak dari tadi sudah bertengger manis di atas tulang hidungnya. Pandangannya mulai beralih menatap Ellios yang sudah berdiri tak jauh darinya.


Senyum manisnya mulai menghiasi wajah ayu itu. Perlahan Oichi mulai melenggang dengan anggun mendekati Ellios. Ritme dari hentakan sepatu hak tingginya terdengar begitu teratur.