
Waktu sudah tepat menunjukan jam 7 PM. Ellios yang baru saja menggunakan kekuatan super berlarinya kini terlihat mulai berhenti berlari tepat di dekat sebuah lapangan basket di kampus Todai.
Yeap, Ellios sedikit datang terburu-buru untuk menemui Kakei sang kapten dari tim basket di kampusnya, karena hari ini tiba-tiba saja Suzuna menghubungi Ellios untuk datang ke kedai ayam krispi-nya dan meminta tolong kepada Ellios untuk mengantarkan beberapa pesanan untuk pelanggan.
Yeap, karena ada kurir pengantar yang kebetulan sedang tidak bisa masuk bekerja hari ini, akhirnya Suzuna sedikit keteteran hari ini. Hingga akhirnya terpaksa Suzuna menghubungi Ellios dan meminta bantuan dari putranya.
Beberapa lighter berwarna putih terlihat sudah menyala dan menerangi ruangan lapangan basket yang sebenarnya sedikit tertutup ini. Karena lapangan basket ini sebenarnya berada di dalam sebuah ruangan.
Ellios mulai melenggang dan memasuki lapangan basket itu. Terlihat Kakei yang sudah berlatih bersama Arata, Fuma, Haru maupun beberapa mahasiswa lainnya yang juga sudah mengenakan seragam basket berwarna hitam perpaduan merah.
Mungkin beberapa pemuda yang lainnya selain pemain inti adalah para pemain cadangan yang saat ini sedang ikut berlatih bersama. Karena pertandingan final melawan Universitas Fuji hanyalah tinggal esok. Dan Kakei harus menemukan satu pemain yang bisa menggantikan Sano sebagai posisi shooting guard.
"Wah ... mereka semua bermain dengan sangat bagus. Begitu keren dan pergerakannya juga sangat gesit. Mereka mampu melewati lawan dan memasukkan bola ke dalam ring dengan sangat akurat. Bahkan pada bagian pertahanan mereka juga sangat bagus dan kuat." gumam Ellios merasa takjub bukan main saat melihat permainan dari beberapa mahasiswa itu.
"Argh ... apakah aku bisa mengimbangi permainan mereka? Dan apakah Kakei akan menerimaku untuk bergabung di dalam tim basketnya kali ini? Dan apakah Kakei akan memberikan kesempatan untukku untuk bisa bermain esok dalam pertandingan final itu bersama dengan mereka?" guma Ellios mulai ragu-ragu kembali karena merasa minder.
"Lovely, rasanya itu sungguh tak masuk akal sekali. Mengapa misi-misi dari sistem ini selalu saja sangat tidak mungkin rasanya?" celutuk Ellios membenarkan gendongan ransel pada bahunya kembali karena ransel itu hampir saja terjatuh.
[ Tenang saja, Tuan Ellios. Lakukan saja misi kali ini. Dan semua akan berjalan dengan baik. Tuan hanya perlu menanamkan rasa percaya diri dan keyakinan dalam hati tuan Ellios. Seperti saat tampil di atas panggung beberapa saat yang lalu. Selamat berusaha dan semoga berhasil ...]
Ucap Lovely memberikan semangat untuk Ellios yang selalu saja minim akan rasa percaya diri dan selalu merasa dirinya tak memiliki potensi dan keberanian lebih selain dalam hal belajar.
Kakei yang menyadari kehadiran Ellios kini mulai menghentikkan permainannya dan memegang sebuah bola basket dengan tangan kirinya. Sepasang netranya menatap Ellios dari kejauhan.
Sementara Ellios yang menyadari jika dirinya sedang diperhatikan oleh Kakei, kini mulai melenggang dengan langkah lebarnya dan semakin mendekati mereka semua.
"Maaf aku sedikit terlambat. Karena aku harus membantu ibuku terlebih dulu tadi di kedai ayamnya." ucap Ellios dengan jujur dan tentunya Ellios juga merasa bersalah karena membuat Kakei sudah menunggu.
"Hhm, tidak masalah." jawab Kakei dengan santai. "Baiklah, sebaiknya kita mulai saja langsung karena aku tak punya banyak waktu lagi. Aku akan menerimamu di dalam tim basketku sebagai pemain cadangan, jika kamu bisa melewatiku dan bisa memasukkan bola ke dalam ring sekali saja." imbuh Kakei dengan pelan namun menatap Ellios serius.
Apa? Jika aku bisa melewati ujian dari Kakei kali ini, maka aku hanya akan ditempatkan di dalam bangku cadangan saja? Kalau seperti itu sama saja misiku tak akan berhasil dong! Bagaimana ini? Bagaimana caranya untuk membuat Kakei memasukkan aku ke dalam tim inti?
Batin Ellios menggigit bibir bawahnya dan masih menatap Kakei dengan sepasang matanya yang semakin menyipit.
"Ckk, dia tak akan bisa melewati Kakei. Mimpi kali bisa masuk ke dalam tim basket kampus kita ini secara instant!" kicau salah satu mahasiswa yang belum diketahui namanya.
"Hhm. Kau benar. Selama ini dinding pertahanan dari Kakei selalu kuat. Orang amatiran dalam permainan bola basket seperti kutu buku itu mana bisa melalui Kakei, kapten kita yamg hebat!" timpal Haru sangat meremehkan Ellios.
"Ahh ... i-iya, Kakei! Aku akan segera membelikan minuman untukmu!" Haru dengan cepat menarik lengan mahasiswa itu dan segera meninggalkan lapangan basket ini.
"Bagaimana, Ellios? Kita mulai sekarang?" tanya Kakei lagi karena Ellios sama sekali belum memberikan jawabannya.
"Baiklah. Tapi sebenarnya ... aku ingin sekali ikut bermain esok saat final melawan universitas Fuji. Apakah aku bisa sekali saja ikut bermain bersama dengan kalian besok?" tanya Ellios tiba-tiba
Perkataan dari Ellios rupanya sukses membuat hampir dari semua tim basket yang saat ini sedang berada di lapangan basket melongo, hingga akhirnya mereka semua mulai tertawa terbahak-bahak.
"Gila!! Percaya diri sekali dia bisa mengalahkan Kakei begitu saja? Gyahahaha ..." Arata yang memiliki perawakan paling tinggi dan besar kini tertawa lepas karena baru kali ini dia melihat ada seorang pemuda yang memiliki kepercayaan diri tingkat tinggi untuk mengalahkan sang kapten.
"Aduh! Perutku sakit sekali! Pintar sekali kutu buku Ellios membuat lelucon seperti ini. Gyahahaha ..." celutuk Fuma yang juga mulai tertawa renyah.
Kakei yang mendengar ucapan dari Ellios hanya tersenyum miring tipis.
"Untuk bisa masuk dan bergabung saja dengan tim basket kami, sebenarnya sudah menjadi sebuah keberuntungan untukmu, Ellios. Selama ini kami tidak sembarangan menerima anggota. Terlebih untuk mereka yang sama sekali tidak memiliki pengalaman dan potensi." ucap Kakei dengan tenang.
"Namun jika kamu bisa membuatku takjub akan potensi terpendammu, maka aku akan memikirkannya lagi." imbuh Kakei lagi mulai berbalik dan melakukan dribble.
"Mari kita mulai. Lewati aku dan cetak score! " ucap Kakei saat ini sudah berdiri tepat di tengah-tengah lapangan basket itu.
Ellios yang juga sudah mengekori Kakei, kini sudah berdiri berhadapan dengan Kakei dan hanya berjarak kira-kira 1 meter hingga 2 meter saja darinya.
Kini Kakei mulai melemparkan bola basket berwarna jingga itu ke arah Ellios. Dan Ellios bisa menangkapnya dengan baik dengan kedua tangannya.
Lovely, aktifkan kemampuan bermain basketku dan aktifkan juga kecepatan superku sekarang juga!
Titah Ellios di dalam hati dan berharap Lovely akan mendengarkan dan memahaminya.
[ Baik, Tuan. Kemampuan bermain basket akan segera diaktifkan! ]
Jawab Lovely yang rupanya benar-benar memahami isi hati Ellios.
DING ...