To Be An Immortal Human By System

To Be An Immortal Human By System
Sebuah Perpisahan Abadi ?



Ruangan ICU, Yokohama Hospital.


Seorang wanita paruh baya terlihat sedang terbaring lemah dan masih tak sadarkan diri di atas brankar. Beberapa anggota tubuhnya terlihat masih terlilit dengan selang dan perban. Wajahnya juga terlihat begitu pucat.


Ellios mulai berjalan mendekati brankar dengan suasana hati yang sudah tidak menentu. Rasanya begitu membuatnya sesak dan nyeri ketika melihat sang ibu terbaring lemah dan tidak berdaya.


Bahkan tak terasa sepasang mata Ellios sudah terlihat mulai berkaca-kaca. Hingga akhirnya air mata hangat itu mulai terjatuh dan membasahi pipinya. Kini Ellios mulai duduk di kursi samping brankar dan meraih jemari hangat sang ibu, menandakan jika masih ada kehidupan disana.


"Ibuuu ..." ucap Ellios lirih dan terdengar begitu memilukan. "Aku mohon ... ibu harus segera bangun ... hiks ... ibu harus kuat! Jangan pergi dan meninggalkan aku sendirian, Ibu ... hiks ... alu tidak mau sendirian, Ibu ... hiks ..." ucap Ellios begitu parau dan mulai memeluk tubuh sang ibu.


Nemun setelah beberapa saat akhirnya Ellios mulai mengingat sesuatu, jika Ellios memiliki sebuah kekuatan keren yang bisa menyembuhkan luka seseorang. Dengam cepat Ellios segera duduk kembali dengan tegap.


"Lovely aktifkan kemampuan tembus pandangku sekarang juga! Aku akan melihat kendala yang membuat ibuku koma dan belum tersadar hingga sampai saat ini." titah Ellios sambil menyeka air matanya dengan cepat.


[ Baik, Tuan Ellios. Kemampuan mata tembus pandang akan segera diaktifkan. ]


DING ...


[ Kemampuan mata tembus pandang telah berhasil diaktifkan, Tuan. ]


Ucap Lovely menyauti dan melaporkan pengaktifan salah satu kekuatan sistem yang dimiliki oleh Ellios.


Kini Ellios mulai melihat bagian kepala dan tubuh Suzuna untuk melihat dan mencari tau penyebab yang membuat Suzuna koma dan belum sadarkan diri. Setelah beberapa saat mengamati, akhirnya Ellios mulai menemukan sesuatu.


"Cedera otak traumatik ini terjadi ketika adanya kekuatan eksternal, seperti hantaman atau pukulan yang keras yang bisa menimbulkan luka tertutup atau tidak menembus. Cedera kepala ini berpotensi menimbulkan gangguan fungsi otak. Benturan keras yang langsung mengenai kepala sangat memungkinkan untuk terjadinya cedera kepala." gumam Ellios pelan.


Ellios sedikit mengetahui hal itu karena Ellios memang pernah membaca beberapa buku kedokteran.


"Lovely, aktifkan kemampuanku untuk menyembuhkan luka orang lain!" ucap Ellios mulai memberikan titahnya untuk Lovely.


[ Baik, Tuan. Kemampuan untuk menyembuhkan orang lain mulai diaktifkan. Silakan tuan mulai memfokuskan energi tuan pada satu titik dan segera lakukan penyembuhan. ]


DING ...


Sahut Lovely diiringi oleh sebuah bunyi notifikasi.


"Pembedahan darurat untuk dekompresi otak yang cedera dan meminimalkan kerusakan pada otak maupun jaringan lainnya telah mereka lakukan. Evakuasi pembekuan darah untuk mengurangi tekanan pada otak juga sudah dilakukan. Semoga kekuatan dari sistem ini bisa menyelamatkan ibu ..."


Gumam Ellios lalu mulai menempelkan kedua telapak tangannya pada bagian kepala sang ibu selama beberapa saat. Ellios masih berusaha untuk fokus dan menguatkan dirinya.


Karena 2 kemampuan dari sistem itu sangatlah menguras energi dari Ellios. Dan menggunakan 2 kemampuan sistem tersebut secara berturut-turut pastinya sangat membuat energi Ellios terkuras hingga membuatnya sedikit tak berdaya.


Beberapa saat berlalu begitu saja, hingga akhirnya Ellios sudah mulai merasa tak sanggup lagi dan mengakibatkan tubuh Ellios ambruk dan terjatuh begitu saja di atas lantai.


...⚜⚜⚜...


Beberapa jam sudah berlalu dengan begitu cepat. Kini seorang pemuda terlihat sedang duduk di sebuah kursi di samping brankar yang sudah berisikan dengan seorang pemuda dengan pakaian kasual terbaring di atasnya.


Mereka berdua adalah Jullian yang sedang menunggu Ellios yang terbaring di atas brankar. Karena setelah menggunakan 2 kekuatan supernya secara berturut-turut, tubuh Ellios tiba-tiba saja ambruk begitu saja karena kehabisan energi.


Setelah beberapa saat, akhirnya perlahan Ellios mulai membuka sepasang matanya


"Atap putih?" gumam Ellios masih mengamati sekitar.


Namun setelah mengingat kembali saat-saat terakhirnya sebelum Ellios pingsan, kini pemuda itu segera duduk dengan tegap dan melihat sekelilingnya.


"Dimana ibuku?!" tanya Ellios mulai mengingat dan mengkhawatirkan sang ibu lalu mulai terduduk.


"Ellios ... bibi Suzuna ..." ucap Jullian yang terdengar begitu ambigu dan tentu saja membuat Ellios berpikir kemana-mana.


Karena merasa panik dan sangat tidak sabar, akhirnya Ellios segera menuruni brankarnya. Dengan terburu-buru dia segera mendatangi ruangan ICU lagi. Namun rupanya sudah tak ada pasien lagi di dalam ruangan ICU itu.


"Suster!! Dimana pasien yang berada di dalam ruangan ICU sebelumnya?" tanya Ellios kepada seorang perawat yang kebetulan sedang melenggang tak jauh dari Ellios.


"Pasien sebelumnya?" tanya gadis dengan pakaian dinas putihnya itu lengkap dengan bandana ala perawatnya.


"Ya, Suster! Dimana dia sekarang?" tanya Ellios semakin tak sabaran.


Sang perawat mulai mengingat-ingat sesuatu dan akhirnya dia mulai mengatakan sesuatu yang sangat membuat Ellios syok luar biasa.


"Pasien yang menempati ruangan ICU sebelumnya saat ini sedang berada di kamar mayat dan akan segera melakukan proses kremasi karena pihak keluarganya memerintahkan seperti itu." ucap sang perawat.


Jantung Ellios kini sekarang seakan berhenti berdetak begitu saja. Seakan ada sebuah petir yang kembali menyambarnya. Cahaya hidupnya, pelangi hidupnya ... kini sudah pergi dan meninggalkan Ellios untuk selama-lamanya.


Tubuh Ellios bergetar dengan begitu hebat dan sepasang matanya kini sudah berair dan airata hangat itu mulai tumpah membasahi pipinya. Hidupnya seakan menjadi gelap gulita dan hancur begitu saja setelah mendengar kepergian Suzuna.


Dengan cepat Ellios mulai meninggalkan sang perawat dan mulai berlari menuju kamar mayat. Dan rupanya disaat itulah Alisha sudah datang lalu segera menyusul Ellios.


Kini Ellios sudah berhenti dan berdiri lemas dindepan sebuah kamar mayar. Langkah kaki Ellios terasa begitu berat untuk kembali dia langkahkan. Jemari Ellios juga terasa begitu berat dan membeku disaat pemuda itu hendak meraih handle pintu itu.


Namun akhirnya setelah beberapa saat Ellios bisa melakukannya dan mulai memasuki ruangan itu dan segera diikuti oleh Alisha. Di dalam ada sebuah brankar yang di atasnya ada seorang mayat yang sudah ditutupi dengan kain putih. Mayat itu belum diletakkan di lemari pengawet karena mungkij saja memang baru saja meninggal.


Tubuh Ellios kembali bergetar hebat setelah menyaksikan apa yang ada di hadapannya saat ini. Bahkan tubuh Ellios ambruk dan terduduk begitu saja. Tangisnya mulai pecah kembali. Bahkan Alisha yang masih berdiri di belakang Ellios juga tak kuasa lagi untuk menahan air matanya.


"Ibu ... hiks ... mengapa ibu pergi secepat ini? Hiks ... aku tidak mau sendirian, Ibu ... hiks ... aku tidak mau ... ibu adalah satu-satunya yang aku miliki saat ini ... mengapa ibu pergi? Hiks ..." Ellios kembali menangis dan merasa begitu terpuruk.