
Kini Tubuh Ellios kembali bergetar hebat setelah menyaksikan apa yang ada di hadapannya saat ini. Bahkan tubuh Ellios mulai ambruk dan terduduk begitu saja di atas lantai saking tak berdayanya.
Kini tangisnya mulai pecah kembali tak peduli dengan pandangan dan tatapan dari orang lain yang akan melihatnya sebagai seorang pemuda yang sangat lemah karena menangisi kepergian sang ibu.
Alisha yang masih berdiri di belakang Ellios juga merasa tak kuasa lagi untuk menahan air matanya, hingga akhirnya air mata hangat itu mulai membasahi pipi putihnya yang mulus begitu saja.
"Ibu ... hiks ... mengapa ibu pergi secepat ini? Hiks ... aku tidak mau sendirian, Ibu ... hiks ... aku tidak mau, Ibu! Ibu adalah satu-satunya yang aku miliki saat ini ... mengapa ibu pergi? Hiks ... kembalilah, Ibu ... hiks ... aku tidak mau sendiri!" Ellios kembali menangis dan merasa begitu terpuruk karena kehilangan cahaya hidupnya saat ini.
Alisha yang merasa sesak dan sedih kini juga mulai duduk bersimpuh di dekat Ellios. Meskipun bukan ibu kandungnya, namun Alisha juga merasa begitu kehilangan atas kepergian dari Suzuna, karena selama ini Suzuna sangat baik dan sangat menyayangi Alisha seperti putrinya sendiri.
Alisha memberanikan dirinya untuk meraih dan memeluk tubuh Ellios hingga menyandarkan kepala Ellios di dekat dadanya, berharap akan membuat Ellios sedikit merasa lebih tenang.
"Alisha ... ibuku ... ibuku sudah pergi ... aku begitu lemah dan tak bisa menyelamatkannya. Hiks ... aku tidak berguna, Alisha! Sama sekali tidak berguna! Aku begitu lemah dan bodoh! Hiks ..." ucap Ellios dalam isak tangisnya.
Alisha mengusap dan menepuk-nepuk lembut punggung Ellios dan mulai menyandarkan dagu indahnya di atas kepala Ellios.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri Ellios. Semua ini adalah sudah takdir. Bagaimanapun, sekeras apapun kita berusaha untuk menghindarinya, semua yang sudah menjadi takdir akan tetap terjadi." ucap Alisha berusaha untuk menghibur dan menenangkan Ellios.
"Tidak, Alisha ... andai aku bisa lebih kuat dan bisa bertahan sebentar lagi saar mengobati ibu ... pasti ibuku bisa selamat. Hiks ... tapi kenyataannya aku sangatlah lemah dan tak bisa diandalkan!" ucap Ellios terdengar begitu parau.
"Hhm. Bagiku ... kamu adalah pemuda yang paling kuat yang pernah aku temui. Kuat adalah bukan hanya soal fisik saja, namun juga hati. Kamu harus tetap kuat, Ellios!" hibur Alisha.
Ellios berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri, meskipun sebenarnya semua itu masih sangat berat untuknya. Namun tiba-tiba saja pintu kamar mayat mulai terbuka, menandakan ada seseorang yang mulai memasukinya. Namun Ellios dan Alisha tak menghiraukannya sama sekali dan masih dengan posisi yang sama, yaigu Alisha yang masih memeluk Ellios.
"Alisha, Ellios ... apa yang sedang kalian lakukan disini?" tiba-tiba saja mulai terdengar suara seorang pemuda yang begitu tak asing, yaitu suara Jullian.
"Dari tadi aku mencari kamu Ellios. Rupanya kamu malah disini bersama Alisha. Apa tidak ada tempat lain untuk berduaan selain di kamar mayat?" imbuh Jullian yang seketika membuat suasana menjadi canggung.
Alisha segera melepaskan pelukannya. Bahkan kini Ellios mulai menghentikan tangisnya dan menyeka air matanya.
"Apa maksudmu, Jullian? Apa kamu benar-benar tidak memiliki hati? Dan mengapa kamu begitu tega berkata seperti itu kepada Ellios?" ucap Alisha kini mulai berdiri dan segera membantu Ellios untuk berdiri.
Jullian yang mendengarkan ucapan dari Alisha merasa kebingungan dan mengkerutkan keningnya menatap Alisha dan Ellios secara bergantian.
"Tentu saja aku memiliki hati, Alisha. Dan hatiku sudah dipenuhi dengan Oichi." jawab Jullian konyol.
Namun belum sempat terjadi percakapan lagi diantara mereka bertiga, kini beberapa petugas rumah sakit mulai memasuki kamar mayat ini dan segera mendekati brankar yang sudah berisi dengan jenazah seseorang itu.
Lalu kedua pria perawat itu segera berniat untuk membawa jenazah itu untuk ke dipindahkan di ruang lainnya. Dengan cepat Ellios segera menghalangi mereka.
"Kami akan segera melakukan proses kremasi sesuai dengan permintaan dari keluarga jenazah, Tuan." jawab perawat pria itu dengan ramah.
"Apa? Kremasi? Tapi aku bahkan sama sekali belum menyetujuinya!" sahut Ellios dengan tajam karena merasa tak dihargai, karena Ellios-lah satu-satunya keluaga dari Suzuna saat ini.
"Tapi, Tuan. Pihak keluarga sudah memutuskan dan sudah menandatangani semua berkas rumah sakit." jawab pria perawat itu lagi.
"Keluarga yang mana? Akulah satu-satunya keluarga yang dimiliki oleh ibuku!" ucap Ellios semakin kesal dan dipenuhi amarah menghadapi kedua perwarlt pria itu.
"Ellios, tenanglah. Mungkin telah terjadi salah paham disini." ucap Alisha menenangkan.
"Ellios!! Apa yang sudah kamu katakan? Memang siapa yang meninggal itu?" kini Jullian mulai bertanya karena kebingungan sejak dari tadi Ellios bersikap aneh.
Belum sempat Ellios menjawab pertanyaan dari Jullian, kini tiba-tiba saja ada beberapa rombongan datang dan menangis tersedu-sedu.
"Ayah ... hiks ... mengapa ayah pergi secepat ini? Hiks ..." ucap seorang gadis dalam isak tangisnya mulai mendekati brankar.
"Ayah?" gumam Ellios semakin kebingungan.
"Benar, Tuan. Jenazah ini adalah ayah dari nona Airi yang baru saja mengalami sebuah kecelakaan di jalan tol." jawab sang perawat pria itu. "Maaf, kami harus segera melakukan proses kremasi. Permisi, Tuan." imbuhnya mulai mendorong brankar berisi jenazah itu lagi.
Beberapa rombongan itu mulai mengikutinya dan kini ruangan ini hanyalah menyisakan Ellios, Alisha dan Jullian saja.
Ellios menatap kepergian mereka dengan raut wajah begitu kebingungan, lalu kini Ellios mulai beralih menatap Jullian. Namun Jullian yang memahaminya mulai menarik Ellios dan Alisha untuk segera meninggalkan kamar mayat ini.
"Ellios! Makanya jangan asal pergi begitu saja! Kamu begitu terburu-buru dan tidak bisa berpikir dengan jernih ya disaat menyangkut bibi Suzuna. Padahal saat ini bibi Suzuna ..."
"Dimana ibuku, Jullian?!" potong Ellios sudah tak sabaran.
"Bibi Suzuna ada di ruangan rawat VIP. Beberapa saat yang lalu perawat mulai memindahkannya sesuai dengan permintaan dari Kakei." jelas Jullian.
Tanpa menjawabnya lagi, kini Ellios mulai berlari untuk menuju ke ruangan VIP dan sudah menjadi semakin tak sabaran. Lorong demi lorong di rumah sakit ini dilewati dengan begitu cepat dengan kecepatan alami Ellios yang sudah semakin meningkat.
Sementara Alisha yang masih tertinggal bersama Jullian di depan kamar mayat, kini mulai bertatapan dengan aneh. Alisha yang merasa sedikit malu dan kikuk karena mengingat dirinya sedang memeluk Ellios beberapa saat yang lalu di hadapan Jullian, kini memutuskan untuk segera meninggalkan Jullian dan mulai menyusul Ellios.
"Uhm ... kalau begitu ... aku juga akan melihat bibi Suzuna dulu ..." ucap Alisha sedikit kikuk lalu melangkah cepat meninggalkan Jullian.