
Berulangkali Kakei terlihat sedang memeriksa wajah Ellios dengan meraih dagu tirus Ellios dan mendongakkannya beberapa kali ke kanan dan ke kiri. Raut wajahnya masih terlihat dipenuhi dengan rasa khawatir.
"Sudah kami katakan padamu bukan, Kakei? Jika kami baik-baik saja! Bahkan para berandalan itu tiba-tiba saja ketakutan dan segera menyerahkan diri mereka ke kantor polisi sebelum aku memberikan palajaran untuknya. Ahaha ..." ucap Ken dengan gaya duduk yang begitu santai. "Apakah wajahku sungguh terlihat menyeramkan?" imbuhnya sambil melihat wajahnya melalui sebuah cermin kecil.
"Sepertinya bukan karena itu, Ken." sahut Jullian.
"Hhm ... kau benar, Jullio ... eh ... maksudku Jullian! Mana mungkin mereka takut pada wajah tampanku? Ini sungguh tidak masuk aka sekali bukan?l!" gumam Ken dengan kening berkerut dan masih menatap cermin.
"Tapi aneh juga ya. Mengapa tiba-tiba saja mereka segera pergi begitu saja setelah Oichi memerintahkan merekq untuk pergi? Mengapa mereka begitu patuh kepada Oichi ya? Apakah jangan-jangan para berandalan itu ..." ucap Jullian yang sempat membuat Ellios merasa seketika tegang, karena khawatir teman-temannya akan mulai mencurigai Oichi.
"Atau jangan-jangan para berandalan itu juga begitu mengidolakan Oichi ya?" lanjut Jullian menyimpulkan.
Nah loh ... sebuah kesimpulan dari Jullian seketika membuat Ellios menepuk keningnya sendiri. Namun Ellios juga mulai bernafas dengan lega, karena itu artinya Jullian tidak mencurigai Oichi yang sebenarnya memiliki kekuatan sistem.
"Itu tidak mungkin, Jullian!" tandas Kakei tiba-tiba. "Anak buah atau pesuruh dari Dream Group pasti akan sangat profesional dan berhati-hati di dalam melakukan segala hal. Dan semua pergerakannya pastinya sudah diperhitungkan sejak dari awal, yaitu sejak rencana itu mereka susun. Dan alasan karena mereka tiba-tiba menyerahkan diri ke kantor polisi karena mengidolakan Oichi adalah sangat tidak logis, Jullian."
"Lalu bagaimana menurutmu, Kakei? Bukankah hal itu sedikit aneh?" tanya Jullian tak mengerti dan masih terlihat kebingungan.
"Ya, sangat aneh! Setelah mendengar perintah dari Oichi mereka segera melakukan semua itu dengan begitu patuh. Hhmm ..." Ken bergeming dan masih terlihat sedang memikirkan sesuatu. "Jangan-jangan Oichi bisa menghipnotis orang ya ..."
"It-itu tidak mungkin, Ken!" ucap Ellios dengan cepat menyanggah pemikiran Ken dengan sepasang mata yang sedikit membulat sempurna.
Padahal ucapan Ken adalah benar, namun tentu saja Ellios tak ingin teman-temannya mengetahui rahasia terbesar dari Oichi. Karena selama ini hanya Ellios yang mengetahui rahasia yang dimiliki oleh Oichi. Begitu pula sebaliknya, hanya Oichi yang mengetahui rahasia dari Ellios.
"Benar kata Ellios. Itu sangat tidak mungkin bukan? Oichi memang sudah cantik, jadi untuk apa lagi dia menggunakan ilmu sihir untuk menghipnotis seseorang?" celutuk Kakei dengan polosnya.
"Hehe ... kamu benar sekali, Kakei! Aku setuju denganmu." Ellios menyauti sambil meringis menatap Kakei.
"Hhm!! Aku juga setuju dengan mereka!! Dewi Oichi-ku mana mungkin memiliki ilmu hitam seperti itu." sahut Jullian juga merasa tak terima disaat sang idolanya di-judge buruk oleh Ken.
"Ahaha ... kalian ini kompak sekali! Aku kan hanya bercanda. Aku sangat mengenal Oichi kok. Dia memang luar biasa dan banyak sekali yang menyukainya." sahut Ken dengan tawa kecil.
Kamu salah, Ken. Dan kamu tidak sepenuhnya memahami Oichi. Karena dia benar-benar memiliki kemampuan seperti itu. Dan dia bisa menyihir dan menakhlukkan siapapun yang dia inginkan, termasuk kamu.
Batin Ellios menatap ketiga temannya yang kini mulai tertawa bersama.
"Dan kamu, Kakei ... tumben sekali kamu mengatakan seorang gadis cantik. Ahaha ... jangan katakan jika kamu juga menyukai Oichi! Ahahaha ..." ucap Ken dengan tawa, karena mendengar ucapan dari Kakei yang menurutnya sangat langka itu.
Ucapan dari Ken rupanya membuat Jullian sedikit tak terima dan mulai merasa insecure. Tentu saja! Karena Kakei adalah pemuda yang lebih sempurna jika dibandingkan dengan Jullian.
Selain Kakei tampan, Kakei juga seorang kapten basket di universitas Todai yang begitu populer di kalangan para gadis. Ditambah lagi Kakei adalah seorang tuan muda di dalam keluarganya yang.cukup terpandang dan sangat kaya raya.
Namun belum sempat mereka menjawab ucapan dari Ken, tiba-tiba saja Ellios mulai melihat sosok Alisha yang kebetulan sedang melenggang melewati mereka berempat yang sedang duduk di sebuah bangku di kantin kampus Todai.
Dengan cepat Ellios segera berpamitan dengan teman-temannya dan mulai menyusul Alisha yang kini sudah meninggalkan kantin dan melenggang di sebuah koridor kampus.
"Alisha!!" panggil Ellios masih berusaha untuk mengejar Alisha.
Namun belum sempat Ellios menyusul Alisha, kini tiba-tiba saja seorang pemuda terlihat sudah menghampiri Alisha. Bahkan sepertinya Alisha juga tak mendengarkan panggilan dari Ellios.
Alisha dan pemuda itu terlihat begitu akrab dan sedang membicarakan sesuatu yang cukup serius, namun Ellioa tak bisa mendengarkannya, karena jarak mereka masih cukup jauh.
Ellios yang melihat semua itu akhirnya mulai mengurungkan niatnya kembali dan membiarkan mereka berdua. Namun tiba-tiba saja seseorang mulai menepuk bahu lebarnya.
PUKKK ...
"Hei!! Melamun saja!! Temani aku yuk!" suara seorang gadis yang terdengar begitu nyaring kini mulai terdengar oleh Ellios, membuat Ellios mulai beralih kesisi samping dimana gadis itu sudah berdiri di sampingnya.
Kini terlihat seorang gadis yang terlihat begitu cantik, stylish dan fashionable sudah berdiri di samping Ellios. Setelan pakaiannya semakin memberikan kesan kalem, rapi namun tetap elegan dan berkelas.
"Jiu. Temani untuk apa?" tanya Ellios dengan kening berkerut.
"Ayo!!" bukannya menjawab pertanyaan dari Ellios, kini Jiu malah segera meraih tangan Ellios dan menariknya meninggalkan tempat itu begitu saja.
Dan rupanya Alisha mulai menyadari hal itu. Senyuman Alisha perlahan memudar disaat Alisha melihat Ellios yang sudah pergi bersama dengan Jiu.
Meskipun Alisha begitu memahami dan mempercayai Ellios, namun tetap saja ketika melihat hal seperti ini akan membuat gadis manapun sedikit cemburu.
"Alisha. Ayo kita segera pergi ke perpustakaan untuk mencari bahan ..." ajak pemuda itu yang tak lain adalah senior Alisha.
"Hhm. Baik, Senior Kimy."
...⚜⚜⚜...
Sementara itu ...
Rupanya Jiu mengajak Ellios untuk pergi ke ruangan labolatorium kimia. Karena hari ini Jiu sedang mendapatkan tugas dari seorang profesor untuk memeriksa beberapa peralatan dan bahan yang akan digunakan untuk pratikum pada kelas berikutnya.
"Karena aku hanya ditugaskan seorang diri, maka aku minta tolong sama kamu untuk mempersiapkan semua alat, Ell. Aku takut aku akan salah jika melakukannya sendirian." ucap Jiu menjelaskan.
"Hhm. Baiklah. Mari kita lakukan bersama, Jiu!" Ellios menyauti dengan ramah seperti biasanya dan mulai melakukan sesuatu untuk mencari beberapa alat yang akan digunakan untuk pratikum lalu mempersiapkannya di atas masing-masing meja.