
Dari kejauhan pada desa yang sedang ramai akan produktifitas warganya. Terlihat dua pleton yang berisikan 40 orang tiap pletonnya berdiri disinari cahaya matahari. Seorang pria paruh baya yang sedang membajak sawah menggunakan traktor modern, berhenti sejenak karena melihat barisan orang yang samar karena terhalangan cahaya matahari. Ia mencoba untuk menyeka silaunya matahari dengan memposisikan tangannya diatas kedua alisnya. Dahi yang mengkerut karena mencoba untuk memfokuskan penglihatan seketika berubah menjadi sebuah kepanikan.
"I-itu!" Wajahnya terkejut.
Ia pun segera berlari sambil meneriaki "Serangan" Didalam desa dan membuat para warga yang lain menjadi sangat was - was.
"Apa?! Serangan?!"
"Serangan?!
Panik para warga yang berada disebuah pasar tradisional namun dengan sedikit sentuhan futuristik pada bagian stand penjual. Akibat kegaduhan yang disebabkan oleh satu orang membuat seisi desa mulai tidak kondusif, mereka berlari kesana kemari untuk menyelamatkan anak mereka masuk kedalam rumah. Para pria yang diduga sebagai kepala desa ditemani oleh beberapa pria mencoba untuk keluar dan melihat pasukan ras mana yang menyerang.
"A-apa?! R-ras demigod?! Bagaimana bisa mereka bisa sampai disini tanpa ketahuan sistem deteksi yang telah ditanam para petualang kita?!" Kepala desa terperangah melihat pasukan tersebut berjalan perlahan mendekat.
"Cepat hubungi ibukota dan minta bantuan kepada desa!" Lanjut perintahnya kepada seorang pria berpakaian petani.
"Si- siap!" Ia pun berlari dengan tergesa - gesa.
Pria itu masuk kedalam balai kota yang tidak jauh dari tempat mereka memantau pasukan tersebut. Pria itu segera menuju kesebuah ruangan yang memiliki meja dengan sebuah tombol darurat didalam sebuah kotak kecil. Ia dengan panik menekan tombol tersebut dan sebuah alarm darurat berbunyi di gedung monitor pada ibukota dimana Rado baru saja menyelesaikan pelantikannya. Ruangan yang semulanya putih benerang menjadi tertutup oleh cahaya merah dengan suara yang begitu nyaring.
"Sinyal darurat! Sinyal darurat!" Teriak salah satu pria yang sedang memonitoring.
"Ada apa?! Cepat jelaskan!" Kata pria yang memakai pakaian petugas berwarna hitam.
"Desa Fuso dibagian utara mengirimkan sinyal darurat kepada kita!" Kata petugas yang memonitoring.
"Sambungkan cepat!" Perintah kepala petugas.
Setelah petugas itu menyambungkan gedung pusat dengan desa Fuso, monitor besar yang menjadi monitor utama diruangan tersebut, akhirnya tersambung dengan pria yang menekan tombol darurat didesa tersebut.
"Tolong kami!" Katanya dengan suara teriakan dan gemuruh sebagai latar suaranya.
Para petugas yang berada didalam ruangan itu terkejut sambil mendengarkan monitor dengan garis penangkap suara yang bergelombang mengikuti frekuensi suara petani.
"Jelaskan apa yang terjadi disana?!" Tanya kepala petugas.
"Kami diserang!" Kata petani.
"Diserang?! Dibagian utara?! Bagaimana bisa?! Itu adalah daerah yang tidak berbatasan dengan ras manapun!" Kata kepala petugas.
"Kami juga tidak tau! Mereka datang secara tiba - tiba!" Jawabnya dengan panik masih dengan latar suara jeritan dan kericuhan desa.
"Tolong kami! Kami diserang oleh ras demi- Akkhhhhhh!!!!!!!" Teriaknya sebelum menjawab secara utuh dan memutuskan sambungan mereka.
Ruangan itu mendadak hening dengan suara bising yang terpancar dari mic monitor tersebut. Keringat dari para petugas pun mulai mengalir dari kening mereka karena kejadian yang tidak terduga - duga itu.
"Tu - tuan Kajol...." Toleh petugas yang berada didepan monitor tersebut kearah kepala petugas yang sedang terperangah di lantai atas ruangan tersebut.
"Demi?! Apakah de-demigod?!" Tebaknya dalam hati dengan gelagapan.
"Cepat infokan masalah ini kepada Archon baru kita! Ini keadaan yang sangat genting!" Perintahnya resah sambil membentangkan satu lengannya melintang.
"Si - siap!" Petugas pria tersebut segera beralih kembali kearah monitor didepannya dan mulai menghubungkan dirinya kepada petugas yang saat itu sedang berada didekat Rado saat ini.
"Tuan Rado! Tuan Rado!" Panggilnya resah.
Saat itu Rado yang sedang dikawal oleh tiga orang lainnya pun menoleh kearah petugas yang mengejarnya disebuah lorong gedung tersebut.
"Hei! Bisakah kau lebih sopan sedikit didepan Archon?!" Albert sedikit geram.
"Maafkan aku! Tetapi ini sangat gawat!" Katanya panik.
"Apa yang gawat?" Tanya Jaquile dan Rado pun hanya terdiam penasaran.
"Desa.. Desa Fuso telah diserang oleh dua pleton prajurit ras demigod!" Lapornya.
Seketika Albert terkejut mendengar kabar penyerangan ras demigod yang tidak sama sekali terduga itu.
"Apa kata mu?!" Bagaimana bisa?! Desa itu berada di bagian selatan yang tidak berbatasan dengan ras manapun! Mana mungkin ras demigod bisa menyerang desa itu!" Sangkal Albert yang masih mencoba untuk memakai logikanya.
"Kami tidak tau, tetapi laporan ini datang dari salah satu penduduk disana!" Jawab petugas tersebut.
Albert pun terdiam tanpa kata apapun, hanya sebuah keterkejutan yang ia perlihatkan saat ini. Rado yang sudah mendengar laporan itu segera memegang pundak Albert dan sentuhan itu membuat Albert sadar dan menoleh.
"Tuan Rado..." Panggilnya saat menoleh dengan raut panik.
"Siapkan para prajurit yang bisa segera ke desa tersebut... Kalau tebakan ku benar.. mereka hanya melakukan permulaan.." Kata Rado dengan wajah penuh dengan keseriusan.
Setelah Rado memerintahkan hal tersebut, Albert segera mengumpulkan para prajurit yang berada di ibukota. Terlihat mereka mulai berkumpul dan berbaris disebuah lapangan untuk menunggu sebuah intruksi dari Rado. Rado yang saat itu berada didepan mereka melirik dari ujung - ke ujung untuk memperkirakan jumlah dari mereka semua.
"Sekitar enam puluh orang.." Benak Rado sambil menghitung prajurit.
Terlihat yang mengisi barisan depan adalah orang yang Rado kenal, dimulai dari barisan paling kanan diisi oleh Jason lalu Nagatomo, Kan, Hawl, Rudy dan Julie. Sisanya berada dibarisan belakang seperti Geraldo dan yang lain. Sementara itu Yoga terlihat seperti sedang mencari seseorang dan itu membuat Rado bertanya kepadanya.
"Kau mencari dirinya?" Toleh Rado.
"Yah... kenapa dia tidak ada disini.." Dengan wajah sedikit murung.
"Mungkin dia sedang berada ditempat lain..." Jawab Rado berspekulasi.
Rado segera menatap kembali para pasukan yang sudah bersiap diberikan perintah oleh Rado. Dengan wajah yang penuh dengan ketegangan karena akan melawan para ras demigod mereka coba tutupi dengan wajah yang gagah berani dan juga tekad perang. Julie yang sedang berada dibarisan paling kiri dipercayai sebagai unit prajurit perempuan yang mengetuai mereka para pemburu wanita indonesia.
"Julie... apa kau merasa gugup?" Tanya Karen berbisik dibelakang Julie.
"Sedikit... ini pertama kalinya aku menjadi seorang kapten.."
"Tenang saja.. aku akan melindungi mu.." Kata Watz yang berada dibarisan Kan dan dibelakang Kenny tersenyum kearah Julie.
Julie yang menoleh tersenyum kearahnya.."Kalau begitu aku merasa lega.." Mereka saling tersenyum sama lain sampai diputuskan oleh perkataan pertama Rado.
"Mungkin kalian sudah mendengar kabar mengenai desa Fuso dibagian utara dimana mereka dijajah oleh ras demigod..." Rado menatap mereka.
Rado segera mengetahui hanya dengan sekali lirik, mana mata yang kurang percaya diri dari mereka karena tekanan lawan yang akan mereka hadapi.
"Apakah sebegitu takutnya mereka menghadapi ras demigod, sampai moral mereka jatuh sebelum bertempur?" Tanya Rado dalam benaknya.
"Mungkin ini akan menjadi pertarungan yang sangat berat mengingat lawan yang akan kita hadapi.. akan tetapi aku bisa memastikan kemenangan kita! Bangunlah dari mimpi dan menatap kenyataan! Kita ras yang tidak kalah sempurna! Leluhur kta pernah mengalahkan ras mereka! Itu tidak menutup kemungkinan kalau kita juga bisa mengalahkan mereka!" Rado mencoba untuk menaikan moral mereka kembali.
"Tetapi saat itu mereka telah beraliansi.." Kata Kan menanggapi pidato tersebut.
"Hmph... Kau tau? Mengapa Archon diciptakan disetiap ras? Itu karena ras tersebut memiliki keseimbangan dan juga kesetaraan kekuatan... Lalu kekuatan itu bisa kalian tingkatkan denga sebuah tekad, maka besarkan tekad kalian untuk mengalahkan mereka!" Bual Rado demi menaikan moral.
Karena sedikit bualan itu, mata dari para prajurit tersebut menjadi berapi - api kembali. Moral mereka kembali naik setelah mendengar kata - kata yang Rado lontaran. Disisi lain Yoga dan Jaquile saling melihat disisi Rado karena mereka cukup senang karena Rado dapat mengembalikan moral yang sudah down tersebut.
"Tiap dari mereka berdua akan memimpin tiga puluh prajurit dalam melakukan pembersihan ras demigod, jadi kuharap kalian mengikuti instruksi dari mereka di medan pertempuran nanti.." Sambung Rado.
"Apa anda tidak akan ikut?" Tanya Hawl.
Rado menoleh kearahnya, "Tidak! Dalam pertempuran kali ini aku hanya ingin melihat kemampuan kalian saja.."
"Tapi-" Hawl seperti ingin melakukan protes.
"Apa kau tidak yakin dengan kedua orang yang telah kupercayakan kekuatan demicles?" Rado menatap tajam kearahnya.
"Tidak.. maafkan aku.." Hawl terdiam menunduk.
"Baiklah.. Kalau begitu.. semoga para leluhur bersama kalian.." Tutup Rado.
"Baik!" Serempak mereka lalu menuju portal perpindahan.
Sementara itu didesa Fuso, kerusuhan mulai mereda dengan rumah - rumah yang sudah terbakar. Mayat - mayat manusia dari pria, wanita, anak - anak dan lansia semua tidak luput dari kekejaman ras demigod. Teriakan yang semulanya terdengar sangat ribut mulai tidak terdengar lagi.
"Tuas Aslav... apa yang harus kita lakukan sekarang? Misi ini sungguh membosankan karena tidak ada perlawanan sama sekali.." Kata salah satu prajurit demigod berambut kuning kepada Aslav yang sedang duduk dengan memeluk tombaknya.
"Kau benar.. apa masih ada yang hidup?" Tanya Aslav.
"Yah... kami membiarkan beberapa hidup untuk dijadikan sebuah hiburan.." Kata prajurit itu.
"Hooo sepertinya seru.." Senyum Aslav berdiri dari duduknya.
Ia pun menangkal sinar matahari yang menyilaukan dirinya dengan telapak tangannya yang berada dikeningnya.
"Hmm? Aha!"
Aslav segera bersiap - siap memposisikan diri untuk melempar tombaknya kesebuah target yang baru saja ia temukan dikejauhan. Setelah tubuhnya sudah tertarik kebelakang dan mantap untuk melepaskan tombaknya, ia pun melesatkan tombak itu kearah terget yang ia temukan. Seketika tombak itu terbang membelah angin kesebuah titik yang sudah ia perkirakan.
Terlihat seorang ibu yang berlari keluar desa bersama anaknya sedang dikejar oleh beberapa prajurit demigod dibelakang mereka.
"Hayo lari lah lebih cepat ****.." Ejek salah satu prajurit demigod.
Ibu dan anak berambut hitam itu berlari sekuat tenaga, tangan si anak pun ia tarik sekuat tenaga agar tidak terlepas dari dirinya. Sang ibu berlari dengan keadaan lelah dan panik demi menghindari kejaran tersebut.
"Ibu! Ibu! Tangan ku sakit!" Rengek anak tersebut.
"Cepat nak kita tidak bisa berhenti!" Panik sang ibu.
Disaat mereka sedang lari dari kejaran tersebut, tiba - tiba sang ibu tertusuk oleh sebuah tombak yang telah dilemparkan oleh Aslav dari kejauhan. Sang ibu seketika mati disaat itu juga setelah tombak panjang tersebut menembus dadanya dan menancap ketanah.
"Ibu!!!!!!" Teriak sang anak melihat ibunya mati seketika.
Para prajurit yang sejak tadi mengejar segera terhenti dan merasa kesal dengan orang yang telah mengambil mainan mereka.
"Hoi siapa yang mengganggu kami?!" Toleh salah satu prajurit demigod diikuti yang lain.
"Aku.." Aslav yang secara tiba - tiba sudah berada didekat mereka tersenyum lebar.
"A-ah tuan Aslav... Maafkan kelancangan ku..." Tunduk prajurit tersebut dengan wajah pucat.
Aslav mendekat kearah prajurit yang sedang ketakutan tersebut akibat lisan yang ia lontarkan tadi. Aslav menatap kearah dirinya yang sedang menundukan kepala karena ketidaksopanannya itu. Aslav tersenyum dan memukul keras belakang kepala tersebut hingga ia terjatuh ketanah dengan sangat keras sehingga tanah itu menjadi hancur. Para prajurit lain bergetar ketakutan melihat apa yang diberikan oleh Aslav kepada prajuritnya yang tidak sopan.
Aslav kembali melanjutkan langkahnya kearah tombak yang sedang menancap pada sang ibu. Anak yang bersamanya hanya dapat melihat Aslav dengan wajah pucat ketakutan. Bukan hobi Aslav membunuh anak kecil, ia hanya melewati anak itu dan segera mencabut tombaknya dengan kasar. Tubuh sang ibu pun akhirnya terjatuh sepenuhnya ketanah yang mana sebelumnya tertahan oleh tombak.
Setelah ia mendapatkan tombaknya kembali Aslav pun segera kembali kearah desa dengan senyuman jahatnya.
"K-kau pembunuh!" Spontan kata anak tersebut dengan wajah penuh air mata.
Aslav yang mendengar itu segera berhenti dan menoleh kearah anak tersebut.
"Hee...." Ia tersenyum dan segera menghampirinya.
Anak itu dengan nalurinya melangkahkan sati kakinya kebelakang dengan tetap menatap Aslav. Aslav yang sudah berad didekatnya segera menarik lehernya dan mendekatkan wajah anak itu ke wajahnya.
"Ya! Aku memang pembunuh!" Setelah itu ia membuang anak itu hingga terjungkal ke tanah.
Anak itu merasa kesakitan dengan apa yang dilakukan oleh Aslav, ia mencoba untuk bangun namun rasa sakit itu membebani tubuhnya.
"Sesayang itu kah kau dengan ibu mu?" Senyum Aslav.
Anak itu masih mencoba untuk bangun.
"Baiklah.. karena tuan Aslav ini adalah demigod yang baik.. aku akan mengantarkan dirimu untuk menemui ibu tersayang sekali lagi dengan cara yang sama.." Aslav memposisikan tombaknya untuk dilempar kembali.
Saat tombak itu dilempar, tiba - tiba sebuah force dengan elemen es pun melesat dan mengubah arah tombak itu pergi.
"Hee..." Aslav tersenyum senang.
Dilain sisi prajurit dari ras manusia pun tiba satu persatu dari sebuah portal yang terbentuk akibat alat koordinat. Mereka mulai meramaikan tanah tersebut dengan gagah berani. Sementara itu, para demigod pun mulai berkumpul dengan cepat setelah merasakan aura force dari prajurit ras manusia, mereka berbaris dibelakang Aslav dengan sangat rapih.
Julie yang saat itu baru saja tiba, segera menghampiri anak tersebut dan mengamankannya. Anak itu terus menangis karena apa yang telah ia alami.
"Tenang lah... kau sudah aman" Kata Julie menenangkan namun itu tidak berhasil.
Julie segera mengalihkan anak itu kepada salah satu bawahannya dan ia segera berdiri kembali memimpin barisannya. Albert dan Yoga yang menjadi ketua dari misi tersebut segera memasang badan mereka didepan barisan, mereka menatap Aslav yang sudah siap dengan pasukan demigod yang lainnya.
"Akhirnya kalian datang juga... aku sudah bosan bermain orang - orangan.." Kata Aslav dengan nada mengejek diikuti dengan tawa para prajurit demigod.
"Dasar biadap!" Geram Yoga.
"Oiya?! Aku baru kali ini melihat mu! Apa kau salah satu prajurit terkuat?" Tanya Aslav.
"Cih.. Coba saja kau rasakan sendiri.."
Yoga dengan gagah berani melangkahkan kakinya dengan perisai serta pedangnya.
"Hee..." Aslav pun segera merespon itu dan juga melangkahkan kakinya kearah Yoga.
Semakin lama kian cepat dari kedua langkah orang tersebut, mereka berdua secara bersamaan berlari untuk saling menyambut ditengah dua ras yang sedang berhadapan.
"Heyaa!!!!!" Yoga memposisikan perisainya didepan dengan tangan kiri yang menggenggam pedang siap untuk menusuk Aslav.
"Hahahahahaha" Tawa Aslav dengan mata melebar melompat untuk menusukan tombaknya kearah Yoga.
Pertempuran mereka pun dimulai.