The Archon

The Archon
Akademi Part 3



Dalam kelas dimana unit 5 sedang berhadapan dengan instruktur kejam. Julius terkenal dikalangan para murid sebagai instruktur paling kejam yang pernah ada. Suasana menjadi hening setelah ia menghajar salah satu murid yang bertanya kepadanya.


"Dia instruktur Julius.. Dari yang ku ketahui dari kakak ku setelah ia lulus dari akademi ini, instruktur Julius adalah instruktur yang amat kejam... ia tidak segan - segan memukul mu bila dia tidak suka dengan tindakan mu.." Bisik salah satu murid yang duduk didepan Rado kepada murid disebelahnya.


Setelah Julius menulis dasar - dasar dalam militer, ia berbalik kepada para murid dan menjelaskan maksud dari apa yang ia tulis.


"Baiklah... Karena ini adalah kelas dasar dari semuanya, aku ingin membahas mengenai dasar - dasar force yang berada didalam diri kita ini. Force sudah bersemayam dari jaman leluhur kita yang mana bisa kita tingkatkan jika kalian melatihnya... Sekarang ini aku akan memperihatkan kepada kalian tingkatan force yang dapat dikeluarkan oleh manusia pada umumnya.." Kata Julius lalu berdiri didepan meja.


Semua menyimak dengan apa yang akan Julius tunjukan. Pertama, ia menutup mata untuk berkonsentrasi, setelah ia membuka mata, kumunculan force pun terlihat dengan berwarna jingga disekitar tubuhnya. Force tersebut menyelimuti tubuhnya dalam diameter kecil dan terlihat hanya seperti uap saja.


"Ini tahap satu... Tahap ini sudah cukup untuk memperkuat ketahanan tubuh kalian dan juga memperkuat serangan dengan konsumsi tenaga yang kecil"


Setelah menjelaskan tahap satu, Julius menambahkan aliran force yang lebih besar dibandingkan sebelumnya hingga membuat diameter force yang menyelimutinya menebal, namun masih berantakan seperti uap.


"Ini tahap dua... Pada titik ini adalah setengah perjalanan menuju ke titik dimana force kalian akan menjadi sempurna.." Jelasnya.


Julius mengambil nafasnya dan force yang semulanya keluar dari tubuhnya perlahan masuk kedalam, lalu keluar kembali dengan menyelimuti dirinya dengan rapih.


"Ini adalah tahap akhir dimana kalian benar - benar sudah menguasai force dalam diri kalian sebagaimana kalian gunakan untuk melakukan pertempuran.." Lanjutnya.


"Kalian harus bisa mengendalikan force dalam kurun waktu seminggu, cara termudah untuk melatih force kalian adalah dengan melatih pernafasan, konsentrasilah dan rasakan bagaimana force itu keluar lalu menahannya dalam tubuh kalian... Mungkin diantara kalian sudah menguasainya karena terlahir dari keluarga militer... akan tetapi dengan latihan ini, kalian bisa memperkuat force kalian untuk menjadi tebal.." Jelasnya dengan wajah datar.


"Dan yang terakhir... Ini adalah tahap dimana force kalian bisa mengintimidasi lawan hanya dengan merasakannya saja..." Kata Julius.


Julius kembali mengambil nafasnya dalam - dalam, matanya pun tertutup sebelum ia mengerahkan tahap selanjutnya tersebut. Semua terdiam sambil menunggu apa yang akan Julius tunjukan. Beberapa saat kemudia, Julius membuka matanya secara spontan dan aura force yang berada didalam dirinya pun keluar seperti cahaya terang yang meluap sampai menutupi seisi ruangan.


"Apa ini?!" Kata Rega saat berada didalam kelasnya ketakutan.


Tidak hanya unit 5 saja yang merasa ketakutan karena intimidasi dari Julius, akan tetapi kelas yang lain juga merasakannya. Para instruktur yang lain terlihat tenang karena mampu mengantisipasinya, saat aura Julius menakuti para murid, hanya ada satu orang saja yang masih terlihat tenang ditengah - tengah murid yang sedang bergidik ketakutan.


"Dia..." Lirik Julius kepada Rado.


Rado hanya tersenyum sambil menatap Julius yang sedang mengeluarkan aura forcenya, ia tidak merasakan intimidasi sedikit pun karena menurutnya aura yang dikeluarkan oleh Julius bukanlah sesuatu yang mengancam. Setelah merasa cukup mendemonstrasikan tahap - tahap force, Julius segera meredakan force miliknya kembali dan suasana kelas menjadi kondusif kembali.


"Itulah tahap - tahap yang harus kalian kuasai... Pelajaran yang ku berikan cukup sampai disini saja, aku harap kalian bisa mengusainya dalam kurun waktu seminggu dan melaju ketahap pemilihan kelas.. Sampai bertemu diminggu berikutnya..." Kata Julius sambil beranjak pergi dari tempatnya.


Semua murid masih dalam keadaan syok akibat aura dari Julius, mereka terlihat menghela nafas dengan keringat dingin yang cukup banyak. Sebelum Julius meninggalkan ruangan tersebut, ia terhenti sejenak dan menoleh kembali kepada para murid yang membuat mereka terdiam tegang sekali lagi.


"Aku lupa mengatakannya, kalau kalian seminggu ini tidak dapat menguasai sampai tahap ketiga, maka aku akan meminta kepada tuan Martinez untuk mengeluarkan kalian..." Ancamnya lalu pergi meninggalkan mereka.


"Apa?!" Semua murid terkejut.


Mereka mulai ricuh dengan syarat keberlanjutan mereka di akademi tersebut.


"Bagaimana ini?! Aku baru saja bisa sampai tahap satu.." Kata salah satu murid.


"Hahahaha aku sudah bisa sampai tahap tiga.." Kata salah satu murid berambut pirang dengan sombongnya.


Semua murid segera mengerubunginya karena pernyataan tersebut.


"Hei bagaimana cara mu bisa mencapai tahap itu?!" Tanya mereka kepada anak tersebut.


"Hahahaha seperti yang instruktur bilang... latih lah pernapasan mu.." Dengan senyuman sombong ia mengajari.


"Towlowng Awjari Kamiw.." Kata mohon anak yang dipukuli Julius.


"Hmph! Kalau kalian ingin aku mengajari kalian... Panggil aku tuan Oscar terlebih dahulu.." Mintanya sambil bergaya lebay dengan mawar yang ia gigit.


Semua murid melihatnya seperti sebuah cahaya harapan dikelas tersebut.


"Tuan Oscar!!!!!" Teriak mereka serentak.


"Yosh ... Yosh... Baiklah para pengikut ku.. Mari kita cari tempat yang lebih luas.." Kata Oscar turun dari bangkunya.


Semua murid pun mengikuti jejaknya untuk mencari tempat untuk berlatih. Sma seperti Julius, sebelum ia meninggalkan kelas tersebut, Oscar berhenti dan menoleh kearah Ranbu dan Rado.


"Apa kalian tidak ingin ikut?" Tanyanya.


"Ah... Aku ingin bersantai diatas pohon..." Kata Ranbu.


"Kalau aku akan berlatih sendiri.." Jawab Rado.


"Ok, Baiklah.. semoga kalian berhasil.. Hahahahaa" Katanya sambil meninggalkan kelas.


Saat dikelas itu menyisakan mereka berdua, Rado berdiri untuk pergi dari kelas tersebut.


"Mau kemana kau?" Tanya Ranbu.


"Aku hanya ingin mencari udara segar.." Kata Rado.


"Bagaimana kalau kita makan terlebih dahulu?" Ajak Ranbu.


Mendapat ajakan dari Ranbu, ia baru teringat kalau sudah seharian ini ia belum memakan apapun.


"Baiklah..." Terima Rado.


"Bagus.. Ayo kita ke kantin.." Kata Ranbu.


Saat diperjalanan menuju kantin kamp pelatihan, Ranbu menanyakan mengenai ajakan Oscar yang ditolak oleh Rado.


"Mengapa kau tidak ikut dengan pembelajaran Oscar?" Tanya Ranbu.


Sementara itu terlihat Oscar dan murid yang lain sedang berada ditaman belakang gedung sedang melakukan pelatihan mandiri.


"Aku sudah mengusainya.." Jawab Rado.


"Ahhh... Aku sudah tidak terkejut lagi sih, ngomong - ngomong aku juga sudah menguasainya.." Senyum Ranbu sambil menunjuk mukanya.


"Aku tidak tanya.." Jawab Rado.


"Heeee.... Setidaknya kau simpati sedikit dengan ku Raka!' Kesal Ranbu.


"Tapi aku tidak menyangka kalau ada tahapan - tahapan dalam mengeluarkan force.." Tanya Rado terheran.


"He?! Memangnya bagaimana kau mengeluarkan force selama ini?" Tanya Ranbu terheran.


Rado mengingat kembali jauh kebelakang dimana ia masih berada di bumi dan pertama kali mengeluarkan forcenya.


"Hmmm itu keluar begitu saja.." Jawab Rado sambil menatap langit - langit lorong.


"Heee.... Sepertinya aku membenci mu sobat... Jujur aku benci dengan orang berbakat.." Lesu Ranbu.


"Lalu.. Kelas apa yang kau pilih...?" Tanya Rado mencoba mengulik dan memperpanjang pembicaraan.


"Ahhhh tentu saja close range! Shishishsihis" Senyum lebar Ranbu.


"Hooo pedang seperti apa yag kau pakai?" Tanya Rado.


"Hmmm pedang seperti apa? Aku pengguna belati dan aku membawa 5 belati.." Senyumnya.


"Apa?! 5 belati?! Bagaimana kau memakainya?" Tanya Rado terkejut.


"Hmmm empat ditangan ku dengan ku apit diantara sela - sela jari dan satu belati berada dimulut ku.." Jawab Ranbu dengan senyuman.


"Hebat..." Rado tercengang mendengarnya.


"Shishishsi aku masih belum seberapa dibanding ayah ku... Dia sudah bisa menggunakan pedang dalam bertempur... Bagi ku, pedang masih terlalu berat untuk sekarang ini.. Meskipun pedang yang digunakan keluarga ku sudah dibentuk sedemikian rupa agar mudah digunakan sesuai kemampuan 5 pedang miliki keluarga ku, tetap saja aku masih sulit menyesuaikan berat dan panjangnya" Kata Ranbu terlihat pundung.


"Semoga kau bisa menggunakan pedang seperti ayah mu.." Senyum Rado sambil melihat kearah pintu kantin.


Pada hari menjelang sore, kantin tidak begitu ramai. Hanya ada beberapa murid saja yang berada disana untuk menyantap masakan yang telah disediakan dikantin tersebut. Rado dan Ranbu segera mengambil nampan yang telah disediakan dan secara bergantian mengambil makanan yang disajikan secara prasmanan.


Rado dan Ranbu segera mencari meja kosong untuk melahap santapan yang telah mereka ambil. Baru beberapa suap Ranbu melancarkan sendok itu ke mulutnya, ia terheran melihat Rado yang hanya terdiam menatap makanannya saja.


"Kenapa kau tidak makan?" Tanya Ranbu terheran.


"Ah tidak... Sepertinya aku tiba - tiba tidak lapar.." Jawab Rado menghindar.


Wajah Rado menjadi pucat karena lupa kalau ia sedang mengenakan masker, jika saja ia tidak ingat akan hal itu dan membukanya, maka identitas Rado akan terkuak didalam kantin tersebut.


Tiba - tiba regu dari pemuda berambut belah tengah menghampiri mereka berdua.


"Hei.." Sapanya dengan wajah seriusnya.


Ranbu dan Rado terhenti karena merasa terpanggil.


"Siapa?" Tanya Rado menatap pemuda tersebut.


"Jaga ucapan mu! Dia adalah tuan Haris, adik dari tuan Hawl, salah satu kapten divisi satu negara!" Bentak Marco saat mendengar Rado tidak sopan kepadanya.


"Dia adiknya Hawl?! Aku tidak menyangka kalau Hawl memiliki adik yang tampan sepertinya.." Rado terperangah dalam hatinya.


"Kalau begitu, kau pasti adik dari Riko Totti?" Tebak Rado mengasal.


"Eh?! Kau mengenalnya Raka?!" Tanya Ranbu terkejut.


"Apa aku benar?" Rado terheran.


"Ba - bagaimana kau bisa tau kalau aku adik dari tuan Riko Totti?!" Marco terkejut.


"Hee... Ternyata adik dan kakaknya memiliki takdir yang sama..." Dalam benak Rado mengingat Riko yang selalu mengikuti Hawl kemana saja.


"Ahhh... Aku pernah bertemu tuan Riko dan Tuan Hawl saat mereka ingin pergi keluar ibukota.. dan saat aku melihat mu, kau terlihat mirip dengan tuan Riko..." Rado mengeles.


"Hmph! Baguslah kalau kau mengetahui kakak ku yang hebat... Karena dirinya yang jenius, para prajurit dan petualang manusia menjadi mudah berkat penemuannya.." Kata Marco sifatnya berubah saat membanggakan kakaknya.


"Marco.. Apa ada yang lebih penting?" Tanya sinis Haris kepada Marco.


"Tidak, maafkan aku.." Sifat Marco berubah kembali dengan wajah dan suara yang datar.


Setelah mengatakan hal demikian kepada Marco, Haris beralih kembali kepada Rado dan Ranbu.


"Kau... Aku melihat mu saat mengalahkan Rega... Aku mengakui mu, jadilah bawahan ku.." Kata Haris secara langsung.


Rado menatapnya dengan senyuman, Ranbu yang saat itu berada disamping tertegun dengan ajakan tersebut.


"Raka... Haris mengajak mu masuk kedalam kelompoknya... Ini kesempatan bagus!" Kata Ranbu kepada Rado dengan antusias.


"Kau juga boleh ikut bersama ku.." Kata Haris kepada Ranbu.


"Benarkah?! Baiklah aku ikut!" Jawab cepat Ranbu.


"Apa untungnya aku mengikuti mu?" Tanya Rado tersenyum.


"Sobat!" Ranbu merasa panik sambil menatap Rado.


Haris terdiam menatap Rado dengan tatapan tajam.


"Kau!!!" Geram Marco.


Haris menghentikan kemarahan Marco dan Marco segera meminta maaf kepadanya karena sudah terbawa emosi.


"Kami akan memberikan perlindungan kepada mu disini... Dan setelah keluar dari sini, akan ku pastikan kau akan mendapat tempat yang baik di militer..." Janji Haris.


"Hmph... Sepertinya pembicaraan ini sampai disini.." Kata Rado tersenyum lalu beranjak pergi.


"Sobat!" Panggil Ranbu lalu mengejar Rado.


"Si breng*ek itu!!! Dia tidak menghormati tuan Haris!" Geram Marco.


Dilain sisi Haris hanya menatap Rado yang perlahan berjalan meninggalkannya. Sementara itu Rega dengan wajah yang babak belur diikuti oleh beberapa pengikutnya terlihat memasuki sebuah ruang kelas, didalam kelas itu terdapat kelompok murid pelatihan yang sedang duduk dibarisan belakang atas sambil mengelilingi salah satu pemuda berambut ungu panjang yang sedang tertidur diatas meja dengan mata yang ditutupi oleh lengannya. baru saja Rega dan kelompoknya memasuki ruangan tersebut, ia sudah disambut dengan tidak baik.


"Mau apa kau hah?!" Teriak pemuda cepak dengan wajah mengancam.


Para pemuda itu menoleh kearah kelompok Rega dengan tatapan mengancam, demikian juga kelompok Rega yang tidak ingin kalah dalam tatapan mata tersebut.


"Diam Kau! Ada yang ingin ku bicarakan dengan Ranz!" Bentar Rega.


Rega pun naik keatas untuk menghampiri Ranz yang sedang tertidur. Sesampainya ia didekat Ranz, Ranz mengintip dari celah lengannya.


"Oiya.. oiya... Siapa yang datang ke sarang ku ini?" Senyum Ranz kepada Rega.


"Aku memerlukan bantuan mu..." Kata Rega terlihat serius.


"He...." Ranz terbangun, lalu terduduk diatas meja dan menatap Rega dari jarak yang sungguh dekat dengan tatapan gila.


"Tergantung apa yang kau janjikan kepada ku.." Kata Ranz.


"Itu mudah.." Senyum Rega.