
Saat ini Rado yang melarikan diri bersama tim pengintai yang diketuai oleh Devian berhasil berteleportasi pada koordinat diluar wilayah Utara dimana suhu hangat yang tidak asing lagi mereka rasakan. Rado sengaja membawa Rhea keluar dari wilayah itu demi menyelamatkannya dari kekangan Achilles. Ia dengan tubuh yang terluka segera menurunkan Rhea perlahan ke rerumputan yang bersebelahan dengan wilayah salju lalu terjatuh dengan darah yang berserakan.
"Hei kau!" Kata Rhea dengan tubuh yang babak belur khawatir dengan Rado yang terjatuh setelah menurunkannya.
"Tuan Rado!" Kata Devian khawatir.
Mereka segera mengerubungi Rado yang jatuh terlentang dengan tangan yang direntangkan lebar di rumput, wajahnya tertutup poni rambutnya yang panjang dan ia tersenyum dalam keadaan yang sangat tidak baik.
"Hahahahahaha" Ia tertawa seperti habis menadapatkan sesuatu yang menarik.
"Di - dia tertawa?" Tanya Rhea dengan wajah heran.
"Tuan Rado?" Tanya Heran dari Devian.
Mereka semua terheran melihat Rado yang tertawa meskipun baru saja berhasil menghindar dari kematian.
"Devian.. Tolong ambilkan beberapa ramuan didalam tas ku.." Kata Rado meminta.
Devian segera membuka sabuk yang menyangga tas kecil miliknya, Devian yang saat itu dalam keadaan khawatir segera merogoh tas tersebut dan mengambil beberaa botol berukuran sedang sebanyak 3 botol.
"Ini.." Kata Devian memberikannya kepada Rado.
Rado dengan perlahan bangun dari tidurnya dan segera meraih botol tersebut, tidak perlu menunggu lama ia segera meminun ketiga botol tersebut dengan lahap. Setelah ia menghabiskan ketiga botol ramuan tersebut Rado segera membuang botol itu kesembarang tempat. Beberapa saat kemudia reaksi yang dihasilkan oleh ramuan itu mulai bekerja.
Rado meringkih kesakitan seiring dengan tubuhnya yang mengeluarkan asap, mereka semua yang melihat Rado kesakitan mencoba untuk meraihnya, namun Rado mengehentikan mereka.
"Jangan mendekat! Aku tidak apa - apa.." Katanya sambil meringkuk menahan sakit dari proses penyembuhan.
Mereka semua pada akhirnya hanya dapat melihat Rado yang terus - terusan mengubah posisi ringkukannya selama penyembuhan tersebut. Beberapa saat kemudian, luka sayatan dan tusukan pun mulai menutup kembali meskipun tidak terlalu sempurna karena menyisakan bekas luka tersebut.
Mereka semua terkejut, karena luka dari Rado menutup dengan cepat berkat ramuan yang berhasil dikembangkan oleh Zowie, akan tetapi kelemahan dari ramuan itu, tidak dapat menyembuhkan tulang yang remuk maupun mengembalikan darah yang sudah terbuang. Rado pun mencoba berdiri dengan wajah yang pucat karena kekurangan darah. Ia berjalan sempoyongan dan sesekali ingin terjatuh kembali.
Rhea yang saat itu berada didekatnya pun segera memberikan sebuah rangkulan kepadanya, dan itu membuat Rado tersenyum melihat kearahnya.
"Terimakasih.." Katanya kepada Rhea yang membantunya berdiri.
Rhea yang saat itu menoleh kearah Rado, begitu tersipu malu karena kedekatan wajah mereka yang berada pada jarak satu jengkal tangan saja, karena wajahnya memerah ia pun segera mengalihkan pandangannya kearah depan untuk menikmati wilayah luar dari bagian Utara.
"Sudah lama aku tidak keluar dari Olympus..." Kata Rhea dengan wajah gugup.
Rado yang saat itu tersenyum segera menoleh kedepan.
"Selamat datang.." Jawabnya singkat.
Namun, ada sebuah perbedaan pendapat yang ditunjukan oleh Devian dan timnya. Mereka segera melakukan pergerakan waspada mengingat Rhea adalah seorang demigod.
"Tuan Rado! Mengapa anda membawa demigod itu?!" Tanya Devian sambil mengacungkan sebuah pistol kearahnya.
"Tenanglah.. Dia bukan musuh.." Jawab Rado.
"Tapi dia sebelumnya telah melawan anda..." Kata Devian kembali.
"Itu hanya sebuah salam.." Rado menoleh kearah Devian tersenyum.
Devian yang mendengar itu dengan perlahan menurunkan pistolnya namun dengan wajah yang masih belum mempercayai Rhea seutuhnya. Rhea dengan wajah yang datar pun menoleh kearahnya.
"Aku bisa memastikan kalau aku tidak ada niatan sekalipun untuk melawan kalian... Dan untuk mu, kenapa kau membawa diri ku? Sudah sewajarnya kalau ras mu tidak mempercayai aku yang seorang demigod dan juga sejujurnya aku sedikit risih berada didekat ras rendahan seperti kalian.." Kata Rhea ketus.
"Apa kau bilang?!" Kata Devian dengan geram dengan perkataan Rhea.
Rado pun kembali tersenyum dengan wajah yang sedikit tertunduk.
"Kalau ku biarkan kau disana... Apa kau bisa menikmati hidup mu sebagai seorang demigod? Hiduplah bersama kami dan turunkan rasa diskriminasi mu itu.. Kalau kau risih, apa perlu aku mengalahkan mu disini untuk mengetahui siapa yang lebih superior?" Senyum Rado menoleh kepada Rhea.
Rhea kembali menoleh kepada Rado, ia pun kembali tersipu malu dan segera mengalihkan pandangannya kembali dengan wajah kesal.
"Ka - kalau kau berkata begitu, aku tidak akan berkata seperti itu lagi..." Katanya dengan nada lembut namun berwajah kesal.
"Baiklah... Semua masalah terselesaikan.." Senyum Rado.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang tuan Rado?" Tanya Devian kepada Rado mengenai langkah selanjutnya.
"Sepertinya kita harus pergi ke Lorien untuk bertemua dengan Zowie.. Aku ingin menyembuhkan luka yang tidak bisa disembuhkan oleh ramuannya itu, tetapi untuk sekarang ini kita melakukan pergerakan secara perlahan... Karena aku tidak ingin bertemu dengan Greg dengan cepat.." Senyum Rado.
"Sepertinya kita tidak bisa melakukan perjalanan yang lambat.. Karena ku yakin Achilles sudah mulai melakukan pergerakan ke seluruh penjuru darata ini.. entah dimana dan kapan.." Kata Rhea.
"Kenapa kau bisa berkata seperti itu?!" Tanya Devian merasa khawatir dengan perkataan Rhea.
"Karena wanitanya sudah ku bawa lari..." Jawab Rado tersenyum.
Rhea yang mendengar itu tidak menggubris ejekan dari Rado dan segera melangkahkan kakinya dengan kasar yang membuat Rado kesakitan karena guncangan yang mengakibatkan tulang rusuk bergeser.
"Untuk sekarang ini kita harus pergi terlebih dahulu dari sini sebelum terlambat... Apakah ada portal lain disekitar sini?" Tanya Rhea.
"Kami menanam beberapa portal disekitar hutan dekat sini.. dan koordinat yang dituju adalah... De Hoorn..." Jawab Devian sambil menoleh kearah Rado.
Rado pun terdiam dengan wajah tertunduk setelah mendengar tujuan koordinat tersebut. Rhea yang melirik kearah Rado merasakan sesuatu setelah Devian mengucapkan nama De Hoorn.
"Ada apa dengan tempat yang bernama De Hoorn?" Tanya Rhea penasaran.
"Itu..." Saat Devian ingin menjelaskan, Rado memotongnya.
"Tak apa.. Ayo kita ke De Hoorn... Aku tidak menyangka kalau akan kembali dalam waktu singkat... Hubungin Riko dan persiapkan tempat untuk bersembunyi.." Kata Rado.
"Ah.. Mengenai itu, alat anda pada saat anda bertarung seperti menyala.." Lapor Devian.
"Berikan kepada ku.." Kata Rado meminta dalam rangkulan Rhea.
Devian pun memberikan alat komukasi tersebut kepada Rado, dan Rado segera mengenakannya pada telinga dimana telinga tersebut berada didekat Rhea. Rado hanya cukup menekan tombol kecil yang ada pada alat tersebut untuk menyambungkan ke code yang terhubung sebelumnya, beberapa saat ia menunggu komunikasi pun terhubung dengan Slyvrin.
"Slyvrin?" Tanya Rado.
"SEDANG APA KAU DISANA!" Teriak Slyvrin dibalik pembicaraan itu.
Rhea yang mendengar suara wanita keluar dari alat itu memasang wajah penasaran.
"Pasti Yoga menceritakan perjalanan ku pada Slyvrin.." Kata Rado dalam Hati dengan wajah gugup.
"Ahahaha... Aku hanya melakukan perjalanan kecil..." Kata Rado yang segera ditanyai sebuah pertanyaan.
"Bagaimana dengan keadaan mu? Apa kau terluka?" Tanya Slyvrin dengan intonasi yang mulai melembut namun ada sedikit kesal.
"Sedikit..." Jawab Rado singkat.
"Tetapi bukankah mereka ada disana?" Tanya Rado mengenai pasukan Greg.
"Mereka akan pergi esok paginya, bersama pasukan ku.." Kata Slyvrin.
"Apa kau ikut?" Tanya Rado.
"Apa kau khawatir?" Tanya balik Slyvrin.
"Tidak.." Senyum Rado.
"Kau membosankan..." Senyum Slyvrin.
"Kau wanita yang kuat.. Aku tidak akan khawatir mengenai itu, dan juga aku meminta Yoga untuk melindungi mu.." kata Rado.
"Dari penjelasan mu, aku meyakinkan kalau itu sebuah rasa khawatir... Apa kau akan bergabung bersama kami nanti?" Tanya Slyvrin.
"Yah.. ketika luka ku pulih..." Kata Rado.
"Apa aku perlu membunuh orang brengs*k ini?" Tanya Slyvrin.
"Tak perlu... Biar aku saja yang mengurusnya nanti..." Kata Rado.
"Baiklah..." Jawab Slyvrin dan ada jeda keheningan beberapa detik diantara mereka.
"Hei dengar.. Aku..." Baru saja ia ingin memberitahu berita kehamilannya dengan gembira, SLyvrin dikejutkan dengan suarah ricuh didekat Rado.
"Tuan Rado! Itu mereka! Mereka mengejar!" Kata Devian dengan panik.
Rado yang saat itu sedang di rangkul oleh Rhea segera menoleh kebelakang dengan wajah yang geram.
"Slyvrin... Kita akan bertemu di medan pertempuran.. Maaf ada yang harus ku lakukan.." Katanya dan segera mematikan komukasi tersebut.
"Rado! Rado! Apa yang sedang terjadi?!" Tanya SLyvrin khawatir meneriaki alat tersebut.
Slyvrin pun dengan khawatir segera keluar dan ingin memerintahkan seluruh pasukannya untuk menolong Rado, akan tetapi sekali lagi Yoga yang berada disana mencoba untuk menyadarkannya untuk tetap pada skema.
"Apa yang kau mau?! Dia sedang berada dalam bahaya!" Kata Slyvrin kepada Yoga.
"Apa nona tidak mempercayainya?!" tanya Yoga dengan tatapan serius.
Dengan wajah yang geram dan khawatir Slyvrin pun mulai luluh kembali.
"Kalau ada yang terjadi padanya... Akan ku musnahkan seluruh ras kalian!" Ancamnya dengan wajah penuh amarah.
Kembali kepada Rado yang sedang melarikan diri dari kejaran para pasukan demigod, jumlah mereka yang banyak membuat asap yang tebal mengudara.
"Itu mereka!" Kata salahs atu prajurit melihat tim Rado yang sedang berlari pelan.
"Sial, mereka menemukan kita!" Kata Devian sambil menoleh kebelakang.
"Seberapa jauh lagi untuk sampai ke portal tersebut..?!" tanya Rhea panik.
"Itu masih 20 km lagi!" Kata Devian.
"Terlalu jauh.. Baiklah aku akan menaha-" Kata Rhea ingin memperlambat pasukan namun dipotong oleh Rado.
"Kita masuk kedalam hutan disebelah kanan sana..." Kata Rado menunjuk kearah hutan berkabut yang sudah terlihat dari kejauhan.
"Tapi tuan.." Kata Devian yang mengetahui kalau itu ada wilayah ras orc.
"Seingat ku Riko pernah menanam portal dibagian selatan hutan itu saat kami melakukan perebuatan holy essence..." Kata Rado.
"Tapi hutan itu sangat luas dan kita pun juga tidak mengetahui secara pasti dimana letak portal itu berada.." Jawab Devian.
"Itu lebih baik dari pada harus menahan mereka dalam kondisi seperti ini.. Kita harus mencobanya, berapa jarak yang harus kita tempuh untuk masuk kedalam hutan itu..?" Tanya Rado.
"Kurang lebih 7 km lagi.." Kata Devian sambil menggunakan teropong yang memiliki kalkulasi jarak.
"Lebih dekat 13 km... Hei pinjami aku senjata mu cepat!" Kata Rado meminta sebuah pedang pada bawahan Devian.
Tanpa berpikir panjang dan dalam keadaan panik ia segera memberikan pedang itu kepada Rado. Rado segera melepaskan diri dari Rhea dan memutar balik tubuhnya.
"Tuan Rado?!" Teriak Devian sambil berlari dan menoleh kebelakang.
Rado dengan penuh konsentrasi, memegang pedang tersebut dan mengalirkan force miliknya dengan jumlah yang sangat banyak. Pedang itu sampai mengeluarkan cahaya ungu yang amat terang yang dapat menyilaukan siapa saja yang melihatnya.
"Semoga ini dapat menghentikan mereka beberapa saat" Pikir Rado.
Ia pun melompat dan menebaskan pedang tersebut kearah tanah, sayatan yang terbuat dari force miliknya pun membelah daratan tersebut hingga membuat sebuah jurang dalam yang lebar. Mereka semua terkejut melihat kekuatan Rado yang masih menyimpan kedahsyatan. Rado yang kembali memijakan kakinya segera bertekuk lutut karena menahan sakit pada tubuhnya.
Pedang yang baru saja ia pinjam sampai berubah menjadi abu karena tekanan yang berat dari forcenya. Rhea dengan sigap segera membantunya berdiri kembali dan merangkulnya.
"Kau terlalu sembrono... Pikirkan tubuh mu!" Kata Rhea dengan wajah kesal kepadanya.
Rado hanya melirik kearahnya dengan senyuman. Para pasukan Demigod pun terhenti akibat jurang yang dibuat oleh Rado. Jurang itu sangat lebar yang mana membuat mereka tidak dapat melompatinya sekalipun.
"Cepat memutar!" Kata salah satu prajurit demigod tersebut.
Para demigod pun mengambil sisi samping untuk memutari jurang tersebut untuk mengejar mereka. Disisi lain, karena tubuh mereka yang berbeda dengan manusia pada umumnya, membuat jarak 7 km bukanlah jarak tempuh yang jauh.
Sementara itu, Disebuah perhutanan dekat tebing putih dimana perbatasan antara wilayah orc dan elf. Dogol yang baru saja membunuh seluruh monster yang berada disana mulai mengudarakan demicles yang mulai bertransformasi untuk menumbuhkan sayap sejatinya yang ketiga.
"Aarrrgghhh!!!!!!!!" Dogol berteriak saat proses tersebut.
Seluruh orc terkesima melihat jumlah force yang dikeluarkan oleh Dogol, Force itu seperti terserap kedalam lambang miliknya seperti punya Rado pada saat itu. Beberapa saat ia melalui fase itu, lambang demiclesnya pun terpecah layaknya berganti kulit dan sayap sejati yang ketiganya pun mulai mengepak.
Dogol yang baru saja melewati masa penyiksaan itu, membuka matanya yang memiliki pupil berwarna merah karena transformasi tersebut.
"Hah!!! Ini dia! Kekuatan!" Katanya sangat senang sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Selamat tuan..." Kata Laguun mendekat.
"Laguun...." Dogol menoleh kearahnya dan segera memukul Laguun.
Laguun diterbangkan begitu saja hingga beberapa meter dari tempatnya berdiri, itu dilakukan oleh Dogol untuk mengetes kemampuan yang baru tersebut. Beberapa saat kemudian Laguun terbangun sempoyongan dengan wajah memar dan berdarah.
"Anda sangat hebat.." Pujinya kepada Dogol.
Dogol yang mendengar itu kembali beralih kearah depan dan memerintahkan sebuah invasi baru yaitu...
"Ayo kita taklukan daratan ini.. Dimulai dari kawan lama.." Katanya sambil melihat kearah tebing putih dimana Laguun dan Frago dikalahkan.