
Didalam pesawat jet yang sudah disiapkan oleh pemerintah timur tengah untuk memberangkatkan Rado dan beberapa pemburu penting bersamanya, Rado yang terlihat duduk disebelah jendela sedang memeriksa status Archonnya. Saat ini ia sedang terdiam heran melihat tabel status miliknya.
"Apakah ini sebuah candaan?!"
Status Transfer 72%
-Point Skill-
Point Skill Close Range 87/100 point
Point Skill Ranger 30/30 point
Aura kepemimpinan 75%
Ketahanan Fisik 100%
-Ketahanan Elemen-
Air 75%
Api 100%
Tanah 75%
Angin 79%
{Anda telah memperoleh Skill Awakening dari 80 poin Close range dan skill Accurate dari 30 poin ranger}
-Awakening = Buff aktif, menambah 50% attack power, Move Speed 40%, Crit 80% selama 40 detik.
-Accurate = menambah akurasi serangan jauh 20%.
Rado tersenyum semeringah menatap tabel yang hanya bisa dilihat oleh dirinya, "Skill awakening ini mungkin bisa membuat ku sebanding dengan Orc itu! Tetapi.. skill accurate ini... apa akan berguna untuk ku?"
Disaat ia sedang berfokus pada statusnya, Julie yang berada satu pesawat dengannya segera duduk tanpa permisi disamping Rado.
"Eh?!" Tabel status itu tertutup dengan sendirinya bersamaan dengan Rado yang spontan menoleh kearah Julie.
"Boleh aku duduk disini?" Tanya Julie menatap dekat kearah Rado.
"Kau sudah duduk bukan?" Rado mencoba untuk acuh kepada dirinya dan berpaling keluar jendela pesawat.
"Huh...." Julie terlihat kesal karena jawaban Rado yang dingin.
"Kenapa dia dingin sekali?! Apa aku kurang menarik?!" Dalam benak Julie yang terlihat kesal dikursi sebelah Rado, "Tetapi..." Julie mengingat kejadian ia memeluk Rado didalam dungeon yang mana membuat wajahnya merah seketika.
Rado hanya melirik kearahnya karena tingkah laku Julie yang aneh, "Sejak kapan dia menjadi agresif seperti ini..?" Pikir Rado melirik Julie.
Sementara itu dikursi yang lain, para wanita terlihat gusar dengan Julie yang tiba-tiba mengambil alih bangku sebelah Rado. Hanya orang yang peka seperti Rudy, Rossi dan Levi saja yang mengerti akan situasi yang memanas antar wanita tersebut. Kalau ketiga kapten Indonesia yang lain hanya sibuk dengan kegiatannya masing-masing, seperti Kan yang sibuk dengan dumbellnya, Kenny sibuk dengan pistolnya dan Watz yang sedang merasa kesal karena Julie lebih memilih duduk disebalh Rado.
Dipesawat yang berbeda namun satu jalur menuju Amerika Serikat. Kirisaki, Lucero dan Joon Sung berada disatu pesawat mewah yang dimilik oleh PPMD. Pesawat itu memiliki bar serta bilik kamar yang mewah, didalam pesawat itu hanya ada mereka bertiga dan beberapa pemburu yang bertugas mengawal selama perjalanan. Dari wajah mereka ada sebuah kekesalan dan sebuah kesedihan dimana Aamber yang tewas lalu mengenai Rado yang tiba-tiba muncul dihadapan mereka.
"Bagaimana menurut mu tentang orang itu?" Tanya Joon Sungg sambil duduk santai di kursi pesawat yang mewah itu.
Lucero pun terbangun dari posisi santainya, "Dia sangat kuat" Dengan ekspresi yang penuh pikiran.
"Apa dia lebih kuat dari Kuhler?" Lanjut Joon Sung.
"Aku tidak tahu.. tetapi aku tetap memihak kepada Kuhler" Balas Lucero.
Sekilas kenangan masa lalu Lucero yang bertemu pertama kali dengan Kuhler disebuah kontes pemburu pemula kala itu. Pertahanan milik Lucero tidak mampu membentung kekuatan sihir milik Kuhler yang sangat kuat, ia dibuat bertekuk lutut hanya dengan 5 kali serangan. Ditambah dengan adanya Jason dan Nagatomo yang selalu bersamanya, Kuhler seperti seorang mage yang tak bisa disentuh oleh siapapun. Itu pun sudah disaksikan oleh Lucero saat mencoba untuk berburu dengan mereka 1 tahun lalu.
Hampir semua serangan yang mengarah kepada Kuhler selalu dapat diatasi oleh Jason, lalu sebagai pembantu serang dari Kuhler, Nagatomo selalu bertindak secara brutal kepada para musuh yang berada pada jangkauan katananya. Ditambah dengan daya kerusakan yang disebabkan oleh Kuhler membuat kombinasi dari mereka menjadi kombinasi pemburu yang ditakuti dan mampu menduduki puncak bertahun-tahun lamanya.
"Kalau aku boleh berpendapat.. aku akan memilih orang itu dibanding Kuhler.." Celetuk Kirisaki ikut nimbrung bersama mereka.
Mereka berdua pun segera menoleh kearah Kirisaki, "Apa maksud mu?! Apa kau membela dirinya?!" Tanya Lucero sedikit meninggi.
"Mungkin dulu Kuhler adalah mage yang ditakuti, record pertandingan jaman dulu dimana kontes pemburu masih ada, ia merupakan Mage yang cerdik sebelum bertemu dengan Jason dan Nagotomo... tetapi sekarang ini menurut ku ia mulai melemah karena sudah terbuai dan sudah merasa aman karena selalu dilindungi oleh mereka berdua" Jelas Kirisaki.
"Tapi-" Sebelum Lucero ingin menyangkal perkataan Kirisaki, Kirisaki segera memotongnya dan melanjutkan penjelasannya.
"Apakah kau pernah berfikir bagaimana seekor singa yang dulu gagah perkasa dan berburu sendiri, mendapat sebuah partner yang selalu melakukan apapun yang seharusnya menjadi bagiannya?"
Lucero hanya bisa menatap Kirisaki dengan wajah risih.
"Dia akan tumpul.." Joon menjawab pertanyaan dari Kirisaki.
"Yah.. kau benar, Singa itu akan menjadi seeokor kucing rumah yang hanya bisa menunggu dan melakukan pekerjaan mudah. Lalu, jika kau memperhatikan orang itu bertarung pada saat itu... kau akan melihat seekor harimau yang haus akan pertarungan... Jadi ku rasa Kuhler yang sekarang tidak akan bisa menandinginya"
"Bagaimana dengan Jason dan Nagatomo?!" Sambung Lucero dengan spontan.
"Aku tidak tau... Orang itu penuh dengan misteri" Kirisaki menutup pembicaraan itu sampai mereka sampai ke Amerika Serikat.
Kembali ke Amerika Serikat dimana Yoga, Devian dan Mye sedang bertarung dengan para Troll yang menyebar diseluruh kota. Ledakan yang berasal dari senjata api milik Devian menumbang Troll prajurit, Yoga yang berlari diantara ledakan itu mencoba untuk meraih Troll yang sedang mencoba untuk lari dari mereka.
"Hei bodoh berikan perisai mu!" Kata Devian sambil melompat kearahnya.
"Hah?!!" Yoga dengan spontan segera memposisikan perisainya diatas kepala untuk dijadikan sebuah tumpuan Devian untuk melompat.
Devian pun segera bermanuver diatas langit dan berputar dengan kepala dibawah, ia menembakan kedua pistolnya dengan lihai sambil berputar-putar diatas langit. Peluru yang ditembakan oleh Devian selalu berhasil mengenai kepala para Troll yang ia bidik. Setelah ia mendarat didepan Yoga, Yoga pun mencoba untuk menebasnya dengan pedang yang sedang ia genggam.
"Hoi?! Kau ingin membunuh ku?!" Kata Devian kesal setelah menghindari serangan tersebut.
"Itu karena kau beraninnya menginjak perisai ku bodoh!"
Kedua orang itu memulai pertengkarannya lagi, sementara itu Mye dengan senjata kipasnya mengibas kesana kemari sambil mengeluarkan sihir tipe angin. Sihir itu seperti sebuah benda tajam yang sangat membunuh, setiap kepala Troll yang dilintasi oleh sihir Mye, akan segera terbang dari tubuhnya. Keanggunan yang diperlihatkan Mye disetiap gerakannya bisa membuat siapa saja terpana akan tubuh putihnya.
"Hmm... sepertinya kalian mulai akrab.." Ejek Mye kepada Devian dan Yoga.
"Siapa yang kau bilang akrab!!!" Teriak mereka bersamaan kepada Mye.
"Hah! Lihat siapa yang menyusahkan..." Ejek Yoga kepada Devian sambil tersenyum.
"Cih... Sebenarnya aku sudah mengetahuinya!" Balas Devian tidak ingin mengakui.
Mereka segera saling memunggungi satu sama lain untuk menahan serangan yang datang dari kedua sisi mereka. Yoga menahan dengan perisainya dan Devian menembakan Troll yang berada disisinya dengan cepat. Mye pun segera melancarkan serangan anginnya kepada Troll yang sedang ditahan oleh Yoga. Setelah kedua Troll itu tumbang mereka segera melakukan regrup kembali untuk menentukan arah yang akan mereka tuju setelah membersihkan area tersebut.
"Sepertinya kalian benar-benar cocok" Celoteh Mye tiba0tiba saat baru menghampiri mereka.
Mendengar hal itu Devian dan Yoga saling melihat namun tidak menunjukan ekspresi apapun, mereka hanya saling memandang beberapa saat lalu tersenyum setelahnya.
"Hmph Kuakui kau cukup hebat" Sombong Devian kepada Yoga.
"Kau juga... meskipun tadi sempat menghambat.." Yoga membahas kejadian tadi.
"Kalau kau ingin masuk PPMD, akan ku persilahkan dirimu untuk menjadi kacung ku" Devian menawarkan sebuah ajakan.
"Heh.. terimakasih! Tetapi aku sudah nyaman di aliansi bersama-" Yoga tiba-tiba pundung mengingat kejadian Rado yang membiarkan Wen Li dan Mye yang mengetahui hal itu segera mengubah arah pembicaraan.
"Baiklah... kita harus kembali kepertigaan.. Aku yang akan menentukan kemana kita akan pergi agar tidak terjadi pertengkaran bodoh diantara kalian..."
Devian dan Yoga menyetujui usulan Mye, lalu bergegas kembali kepertigaan dimana mereka bertengkar menentukan jalan sebelumnya. Disaat perjalanan menuju sana Yoga melihat kearah Devian tanpa mengedip sedikitpun.
"Heh... kau kenapa? Apa kau sudah mempertimbangkan ingin menjadi kacung ku?" Tanya Devian mengetahui ia sedang ditatap dari belakang oleh Yoga.
"Jangan bermimpi! Aku tadi hanya sempat berpikir untuk menebas mu dari belakang" Yoga mengelak dari pertanyaan Devian.
Beberapa saat kemudian mereka mulai sampai dipertigaan dimana semua bermula.
"Kita akan kenan.." Kata Mye memerintah.
"Baik!" Jawab mereka berdua.
Disaat mereka ingin berbelok kearah kanan, sontak Yoga segera melesat untuk melindungi Mye yang berada dibagian kanan dekat pertigaan tersebut. Sebuah pemukul dari besi yang dipenuhi duri tiba-tiba menyerang dari balik gedung dan mengarah ke Mye, namun berhasil ditahan oleh Yoga dengan cepat menggunakan perisainya. Kekuatan yang sangat besar dari pukulan itu memaksa Yoga sampai harus bertekuk lutut karena kurang kesiapannya dalam mengambil kuda-kuda bertahan.
Mye masih syok dibelakang Yoga sambil melihat punggung Yoga yang mulai bergetar, Devian pun segera menembakkan pistolnya kearah wajah Troll yang menyerang secara tiba-tiba tersebut, namun tidak terlalu mempan seperti Troll sebelumnya. Troll itu tersentak kebelakang karena wajahnya tertembak dan mengendurkan tekanan pemukulnya dari perisai Yoga. Mereka segera mengambil langkah mundur untuk mencari jarak aman dari para Troll yang tidak terprediksikan kedatangannya.
"Kau tidak apa-apa?!" Mye mencoba menanyakan keadaan Yoga yang sudah menyelamatkannya.
"Ahahaha aku tak apa, berkat force yang melindungi ku sebelum benturan itu terjadi membuat ku aman" Yoga menoleh kearah Mye dengan keringat yang membasahi wajahnya.
Devian yang merasa aneh dengannya segera mengangkat lengan kanan Yoga.
"Akhh!" Yoga kesakitan saat lengannya diangkat oleh Devian.
"Apakah bahu mu terkilir?" Devian mencoba mengulik rasa sakit yang dialami Yoga.
"Sepertinya sendi ku lepas.."
Setelah lengannya dilepaskan oleh Devian, Yoga pun memegangi lengan kanannya dengan senyum sambil menahan sakit. Mye yang merasa bersalah karena cidera yang menimpa Yoga, segera melakukan sesuatu.
"Kita harus mundur terlebih dahulu!" Usul Mye.
Mereka pada akhirnya mundur kesebuah lobby gedung yang sudah ditinggalkan oleh para karyawannya tidak jauh dari pertigaan tersebut, Yoga segera didudukan disebuah kursi dekat resepsionis penerimaan tamu.
"Cepat rentangkan lengan mu" Kata Devian ingin melakukan sesuatu.
Perlahan Yoga mencoba untuk mengangkat lengannya sejajar, setelah lengannya sudah terangkat lurus kesamping. Devian memegang lengan Yoga dan bahu belakangnya, lalu mendorongnya dengan maksud untuk mengembalikan sendi Yoga yang terlepasa. Suara gesek tulang yang berasal dari bahu Yoga membuat Mye memalingkan wajahnya karena ia merasa ngilu untuk membayangkannya.
"Bagaimana keadaan mu?" Tanya Devian.
Sambil memutar-mutar bahunya, "Aku sudah agak mendingan" Balas Yoga.
"Baiklah kalau begitu"
Mye masih menatap Yoga dengan rasa bersalah, "Maafkan aku, bila saja aku tidak ceroboh"
"Tak apa... bahu ku sudah meningan" Senyum Yoga.
Mye merasa wajahnya panas karena melihat senyum Yoga yang tulus, ia pun segera mengalihkan pandanganya sekali lagi karena rasa yang aneh tersebut. Devian yang menyadari itu hanya menggaruk rambut belakangnya karena ini adalah masalah yang rumit bila terjadi.
"Baiklah.. bagaimana sekarang? Aku tidak menyangka kalau troll pengawal sudah keluar dari dungeon" Devian mencoba untuk mencairkan suasana disana.
"Jadi itu yang kalian maksud Troll pengawal.. Mereka kuat" Yoga mulai terlihat pulih.
"Ya.. mereka lah yang membuat kami gagal dalam menyelesaikan misi, kita baru saja melihat satu Troll pengawal.. selebihnya kita belum mengetahui ada berapa Troll pengawal yang keluar dari dungeon tersebut" Mye yang sudah biasa kembali.
"Ini semakin sulit untuk kita bertiga, Troll prajurit belum bisa kita tuntaskan.. ditambah sekarang Troll pengawal keluar dari dungeon... seandainya para pengecut itu tidak lari.." Devian mengeluh akan keadaan mereka sekarang.
Yoga terdiam sejenak memikirkan sesuatu untuk menyelesaikan masalah tersebut.
"Aku memiliki ide!" Sontak Yoga setelah berdiam diri beberapa saat.
"Hehh... ternyata kau bisa berpikir juga, baiklah ayo kita dengarkan ide mu" Devian mencoba untuk mendengarkan ide dari Yoga.
Yoga pun segera menjelaskan ide yang terlintas dikepalanya tadi lalu mencoba untuk mengkoordinasikan kepada Devian dan Mye.
"Kau gila! Itu terlalu berisiko!" Mye terkejut dengan nada tinggi setelah mendengar ide dari Yoga.
"Tapi ini lah satu-satunya untuk membunuh para Troll itu" Kata Yoga mencoba untuk meyakinkan Mye.
"Tidak.. ini benar berisiko, cobalah untuk menghargai nyawa mu sendiri!" Mye tetap tidak setuju dengan Yoga.
"Mye..." Devian memegang pundak Mye dan mengangguk. "Dia benar.. inilah satu-satunya cara untuk membunuh mereka semua"
Mye pun menoleh kearah Devian dan beralih menatap Yoga yang penuh dengan tekad.
"Terserah kau saja.. Tapi.. kau harus berhasil!" Tuntut Mye kepada Yoga.
"Hmph.. serahkan padaku!" Yoga tersenyum percaya diri.