The Archon

The Archon
Manusia Vs Troll Part 3 - Datangnya Mereka



Dimalam hari disalah satu kota di Amerika tidak jauh dari tempat para pemburu dan Troll bertempur, Yoga berlari mengikuti pasukan pemburu yang sedang melarikan diri sambil menggendong Mye. Mereka terus berlari menelusuri kota untuk mencari tempat bernaung untuk sementara. Jalanan kota sangat sepi, berkat kecekatan dari Yoga yang segera mengevakuasi sebagian warga kota tersebut, angka kematian warga sipil tidaklah 100% dikota tersebut.


Kota yang gelap karena listrik padam membuat daerah tersebut seperti bak kota hantu, sepi tak berpenghuni. Berkat Devian dan beberapa pemburu yang tinggal untuk menghambat para Troll, saat ini mereka berhasil berlari tanpa halangan apapun.


"Tuan Yoga..!" Teriak salah satu pemburu saat berada didepan pintu masuk hotel pada kota tersebut.


Yoga yang sedang berlari segera menoleh kearahnya dan segera menghampiri dirinya. Para pemburu yang berlari dibelakangnya pun juga mengikutinya masuk kedalam hotel tersebut. Mereka berkumpul di lobby hotel untuk menerima perintah dari Yoga terkait langkah selanjutnya. Sekarang ini tubuh mereka mengigil ketakutan dan raut wajah yang was-was menghiasi lobby pada saat ini.


"Coba siapkan satu kamar untuk Mye, dan tolong periksa bagian dapur untuk persedian makan kita... ini sudah hampir seharian kita bertempur dengan para monster itu" Yoga memberikan sebuah perintah dengan keadaan masih sambil menggendong Mye layaknya seorang tuan putri.


"Siap..!" Kata dua pria pemburu dan mereka segera memeriksa hotel yang sudah sepi itu.


"Apa kau bisa berdiri?" Tanya lembut Yoga kepada Mye.


Mye hanya menggelengkan kelapanya dengan wajah yang ia benamkan ditubuh Yoga tanda ia tidak bisa berdiri.


"Baiklah kalau begitu" Yoga mengerti maksud dari gestur tubuh tersebut.


Setelah Yoga mendapatkan kunci salah satu kamar di hotel tersebut, ia segera membawa Mye ke kamar tersebut dengan tujuan mengistirahatkannya. Ia membaringkan tubuh lemah Mye diatas kasur yang megah dengan perlahan.


"Bagaimana keadaan mu?" Tanya Yoga berdiri disamping kasur itu.


"Aku merasa lebih baik.." Bala Mye sambil berbaring menatap Yoga.


Yoga pun tersenyum lega mendengar itu, "Kalau begitu aku akan membantu Devian.."


"E..." Mye mencoba untuk menahan Yoga yang ingin pergi dari kamar itu.


"Apakah ada sesuatu?" Yoga menoleh kembali kearah Mye yang mencoba untuk bangun.


"Tidak.. bisakah kau kemari sebentar saja?" Dengan lembut Mye meminta.


Yoga tanpa berpikir yang aneh segera menghampiri Mye yang sedang terduduk itu, "Ada ap-"


Sebelum ia menyelesaikan pertanyaannya, tiba-tiba tangan Yoga ditarik paksa yang membuat tubuh Yoga sedikit membungkuk kearah Mye, Mye dengan cekatan segera mencium bibir Yoga tanpa berbicara sedikitpun. Yoga terkejut dengan tindakan spontan yang dilakukan oleh Mye, matanya terbuka lebar sambil melihat mata Mye yang sedang tertutup menikmati ciuman yang sedang mereka lakukan. Suasana hotel yang remang dengan lampu tidur menyala membuat kesan romantis diantara mereka semakin mendukung.


Tangan Yoga terlihat gemetar menghadapi perlakuan Mye yang terlalu spontan itu. Dalam keadaan yang memungkinkan, terlintas didalam pikiran Yoga untuk memeluk tubuh kecil Mye yang menawan, tangannya pun ia gerakan kearah tubuh Mye untuk segera memeluknya. Tetapi ia mengurungkan niatnya untuk melakukan itu dan menjuntaikan kembali lengannya kearah bawah.


Mye pun melepaskan bibirnya dari bibir Yoga, ia menjauh dan tersenyum melihat Yoga yang masih terbingung dengan tindakannya tersebut.


"Berjuanglah.." Senyum Mye dengan wajah merahnya.


Yoga yang masih mengalami eror mulai terbangun dari lamunannya dan berbicara sedikit gugup sambil menggaruk rahang bagian kanannya dengan jari telunjuk.


"B-baiklah.." Yoga tersenyum kaku sambil melirikan matanya kearah lain.


Ia pun segera meninggalkan kamar hotel itu dengan keadaan bingung, sedangkan Mye hanya bisa tersenyum diatas kasur sambil memegangi bibir tipisnya itu sambil tersipu malu mengingat kejadian yag baru saja terjadi. Yoga yang berjalan di lorong hotel terlihat seperti tidak memiliki pikiran, ia masih terngiang-ngiang dengan apa yang baru saja ia alami.


"Tuan Yoga?" Sapa salah satu pemburu yang tadi mendapat perintah dari Yoga.


Yoga yang sedang berjalan kearah lobby tidak menggubris sapaan dari pemburu tersebut, pemburu itupun memanggilnya terus menerus sampai ia tersadar.


"Ah.. iya? Maafkan aku.. aku melamun sepanjang jalan.." Yoga yang tersadar dan segera menanggapi pemburu tersebut.


"Apakah ada sesuatu yang menggangu anda?" Tanya pemburu tersebut.


"A-aaaa.. tidak hahaha..., bagaimana dengana dapur?" Balas Yoga mengalihkan pembicaraan.


"Bagian dapur memiliki jumlah bahan makanan yang cukup melimpah untuk kita semua, dan juga sekarang ini para pemburu sudah memasuki kamar hotelnya masing-masing" Lapor pemburu tersebut.


"Baiklah.. berikan makanan yang layak untuk mereka semua.."


"Siap!"


Setelah perbincangan tersebut Yoga berjalan menuju pintu keluar hotel, "Apa boleh kita melakukan ini seenaknya?" Dalam benaknya ia mempertanyaan tindakan mereka terhadap hotel tersebut.


"A... Aku tadi mau apa ya? Sial! gara-gara Mye aku jadi linglung" Yoga kesal dalam benaknya karena tidak fokus dengan apa yang ingin dia lakukan.


"Ah.. Devian! Aku sampai lupa!" Yoga ang baru saja tiba didekat pintu keluar segera masuk kembali dan menghampiri pemburu yang sedang berada di lobby tersebut.


"Hei... bisakah pinjamkan aku perisai dan senjata mu, serta potion yang tersisa?" Yoga yang datang menghampiri beberapa pemburu yang sedang terduduk lemas.


"Ah..ini tuan Yoga" Sambil memberikan persenjataan dan potion yang tersisa dari beberapa pemburu tersebut.


Yoga pun segera mengambil persenjataan dan potion itu, lalu mempersiapkan diri. "Terimakasih"


Melihat Yoga yang sedang bersiap-siap untuk bertempur membuat para pemburu itu penasaran dengan apa yang ingin Yoga lakukan. Setelah Yoga merasa dirinya sudah siap, dia mulai melangkahkan kakinya menuju pintu keluar hotel sekali lagi.


"E... tuan Yoga, anda mau kemana?" Tanya cemas pemburu tersebut saat Yoga beranjak pergi.


"Aku? Aku akan kembali ketempat itu dan membantu Devian.." Yoga berhenti sambil berbalik kepada mereka.


"Kembali?! Apa anda sudah gila?! Tetap lah disini bersama kami! Jika anda berada disini, kami merasa tenang!" Pemburu tersebut dengan nada sedikit meninggi dan kecemasan memohon kepada Yoga untuk dirinya tetap tinggal bersama pemburu yang lain disana.


Hentakan perkataan dari Yoga membuat mereka diam seribu bahasa. Apa yang dikatakan oleh Yoga menusuk langsung dibenak mereka, perkataan yang baru saja ia lontarkan kepada Yoga membuatnya tersadar kalau apa yang baru saja ia bicarakan adalah sesuatu yang tidak pantas untuk diucapkan oleh pemburu yang baru saja lari dari pertempuran seperti dirinya.


"Maafkan aku" Pemburu itu menunduk menyesal.


Yoga kembali berjalan menuju pintu keluar meninggalkan mereka yang sedang menyesal.


"Tolong jaga mereka yang sudah tidak bisa bertempur sebagai pengganti ku" Sambil berjalan Yoga memberikan pesan kepada mereka.


"B-baik.." masih tertunduk menyesal para pemburu itu menerima pesan tersebut.


Saat itu hujan tiba-tiba turun deras, Yoga yang baru saja menginjakan kakinya keluar hotel segera melihat keatas langit dan menutup mata merasakan derasnya hujan yang mengenai wajahnya. Jirah yang ia kenakan basah seketika, setelah ia menarik panjang nafasnya, ia membuka mata dan segera berlari menuju Devian berada.


"Tunggu aku Devian.. Bertahanlah sampai aku datang!"


Sementara itu, para pemburu yang menemani Devian bertempur saat ini sudah dibunuh oleh para Troll. hanya Devian yang tersisa disana dengan kondisi tubuh yang mulai lelah. Saat salah satu Troll pengawal datang menyerangnya, ia segera melompat menjaga jarak sambil menembakan pistolnya. Ia bertarung seorang diri dengan strategi hit and run dimana ia bertarung sambil menjaga jarak.


Strategi ini membuat dirinya mudah lelah karena ia tidak ada waktu untuk mengistirahatkan diri dengan bergerak terus menerus. Jumlah yang sangat tidak seimbang membuat Devian sangat kewalahan, ia yang seorang diri harus melawan puluhan Troll yang tersisa termasuk Troll pengawal, mulai menunjukan batas pada tubuhnya.


"Sepertinya aku sudah hampir mencapai batas" Gumamya dalam hati merasakan kalau ia mulai tidak kuat melanjutkan pertarungan.


"Tapi..." Ia melompat menjaga jarak kembali setelah salah satu Troll datang menghampiri, dan ia segera menembakan kedua pistolnya kearah kepala Troll prajurit tersebut.


Tembakanya berhasil menumbangkan salah satu Troll prajurit, setelah membunuhnya Devian mulai bertekuk lutut dengan nafas yang tersenggal-senggal. Ia terbatuk karena oksigen yang ia hirup mulai menipis, ia menatap kearah langit yang saat itu sudah turun hujan.


"Aah.... apa aku akan mati disini?" Tanya Devian pada dirinya sendiri sambil menutup mata.


Getaran disekitarnya menandakan kalau ada salah satu Troll mendekat, Troll itu sempat berdiri didepan Devian beberapa saat sebelum ia bersiap untuk melancarkan pemukulnya kearah Devian yang sedang bertekuk lutut. Pemukul itu pun ia kerahkan dengan cepat sampai membelah rintikan deras dari hujan.


"Sepertinya aku menyerah saja.." Dalam hati Devian sambil menunggu ajalnya.


Tetapi tiba-tiba terlintas ia mendengar suara Yoga yang memanggil. "Devian! Bertahanlah!" Kata Yoga yang sedang datang kearahnya dalam imajinasinya.


Karena imajinasi mengenai Yoga yang datang, membuat Devian membuka matanya, lalu menghindari serangan itu dengan cepat.


"Sepertinya aku belum boleh menyerah disini... firasat ku mengatakan kalau si bodoh itu akan datang kesini" Devian tersenyum atas firasatnya yang kebetulan benar.


Troll itupun mengangkat kembali pemukulnya yang meleset mengenai Devian.


"Hahahaha apa kau kira aku akan menyerah?!" Ejek Devian kepada Troll tersebut.


Provokasi dari Devian membuat para Troll kembali menghampiri dirinya secara bersamaan, Devian pun membohongi tubuh lelahnya dan bersiap kembali untuk melakukan pertarungan yang entah sudah berjalan berapa lama.


"Datanglah kalian para kepar*t!" Tantang Devian kepada mereka.


Namun, goncangan yang sangat besar tiba-tiba terjadi. Sontak membuat pertarungan mereka terhenti sesaat karena goncangan tersebut. Devian yang terlihat bingung mencoba untuk mencari darimana asal goncangan tersebut. Goncangan itu berasal dari sebuah hentakan kaki dari seekor monster yang berasal dari arah dungeon. Semakin ia mendekat, goncangan itu semakin terasa dan membuat Devian mulai mengetahui arah darimana asal goncangan tersebut.


Ia menoleh kearah goncangan itu berasal dan anehnya para Troll hanya terdiam seperti menunggu sesuatu. Devian yang merasa kalau para Troll itu tidak akan menyerang dirinya beberapa saat, segera memutar tubuhnya kearah goncangan itu berasal. Semakin goncangan itu terasa olehnya, ia juga semakin waspada dengan apa yang akan ia hadapi, Devian segera menyiapkan senjatanya menunggu wujud yang menyebabkan ini terjadi muncul.


Beberapa saat ia penasaran dengan sosok tersebut, akhirnya sosok itu menunjukan dirinya dari arah balik gedung kota. Tubuhnya hampir 10x dari ukuran manusia normal. Devian sampai terkejut dengan ukuran dari makhluk tersebut.


"Jangan bilang kalau dia.." Devian sambil terkejut mencoba untuk menerka mengenai sosok itu.


Devian menoleh kearah para Troll yang sedang terdiam untuk mengkofirmasi tebakannya itu. Benar saja, para Troll pengawal yang memiliki akal terlihat bertekuk lutut untuk menyambut datangnya sosok yang diduga sebagai raja Troll. Devian segera beralih kembali kearah Raja Troll setelah ia mengkonfirmasi tebakannya itu.


"Hahahaha akhirnya dia keluar" Tawa Devian dengan wajah lelah.


"Maju lah!!!" Tantang Devian kearah Raja Troll yang semakin dekat.


Goncangan terus terjadi dan semakin kuat seiring Raja Troll didekatnya, Devian terus menunggu sampai Raja Troll berada di jangkauan dimana ia bisa menyerang kearah yang diyakini dapat berakibat fatal. Setelah jarak yang ia anggap ada jarak jangkauannya, Devian segera menodongkan kedua pistolnya kearah Raja Troll sambil berteriak sebelum ia menarik pelatuk pistolnya.


Secara bersamaan, Raja Troll juga sudah bersiap untuk menyerang Devian dengan sebuah pemukul yang sangat besar. Pemukul itu mampu menghalangi hujan yang deras turun kearea dibawahnya, Devian pun segera melepaskan tembakannya kearah Raja Troll, namun sisa force yang ia milik sangat sedikit yang mana membuat serangannya itu tidak mempan dan tidak mampu menggagalkan laju pemukul tersebut.


Devian terlihat mendongak keatas dengan wajah terkejut sambil menunggu datangnya pemukul besar itu kearahnya. Matanya sampai tidak mampu berkedip karena mau yang sebentar lagi menghampiri dirinya, Tetapi didetik-detik pemukul itu meratakan dirinya, sebuah force dengan ledakan yang kuat mengenai wajah Raja Troll dan menggagalkan serangan tersebut. Raja Troll terdorong kebelakang dan segera memegangi wajahnya yang baru saja terkena serangan mendadak tersebut.


Devian yang sudah pasrah dengan keadaan segera menoleh kebelakang untuk mencari tahu siapa yang datang menyelamatkannya.


"Ah... kenapa lama sekali?"


Senyum lega menghiasi wajah lelah Devian, setelah melihat orang-orang yang sudah tidak asing lagi baginya. Disamping suara derasnya hujan yang turun saat itu, suara langkah kaki dari kerumunan orang terdengar samar didalamnya.


"Hahahaha... sepertinya kau sedang kesulitan.." Kata Kuhler yang datang bersama pengikutnya.


Raja Troll yang mulai kembali sadar, segera melancarkan serangannya sekali lagi kearah Devian yang sedang terbuka, namun dengan cekatan Jason segera melesat dan menahan pemukul tersebut sampai membuat lengan Raja Troll memantul kembali.


"Devian... sepertinya kau sudah diambang batas.." Kata Jason melirik kerah Devian.


"Yah.. sepertinya begitu" Balas senyum Devian kepada Jason yang berada didepannya.


"Baiklah.. Biar aku yang mengambil alih misi terakhir ini" Kata Kuhler sambil memasukan tangan kedalam saku celananya.


Datangnya Kuhler dan pasukannya diwaktu yang tepat membuat Devian terselamatkan dari maut, pertarungan kedua dengan pergantian tim dari kubu manusia dimulai!