The Archon

The Archon
Pertemuan part 2



Bergeser ke distrik ekonomi menengah dimana tempat pelatihan militer berdiri ditengah distrik tersebut, Rado yang menyembunyikan dirinya mencoba untuk masuk kedalam pelatihan yang seperti penjara tersebut. Tembok - tembok besar yang mengelilingi tempat pelatihan yang berbentuk persegi terlihat megah dengan dua pintu jeruji besi utama yang terdapat pada bagian depan dan belakang. Rado memilih untuk memasuki pintu bagian barat untuk memulai kegiatannya dipelatihan tersebut.


"Kau...! Mau apa kau kemari?" Tanya penjaga yang berada dipos gerbang kepada Rado yang mendekat ke gerbang tersebut.


"Ah.. Aku ingin mengikuti pelatihan ini.. Dapatkah aku masuk kedalam?" Tanya Rado baik - baik dari dalam maskernya.


"Ah... Pendaftaran militer sudah ditutup! Pergilah!" Usir penjaga itu.


Rado pun mengambil sebuah gulungan kertas yang sudah disiapkan sebelumnya oleh Albert dan ia segera memberikannya kepada penjaga pos tersebut. Salah satu penjaga itu mengambil gulungan kertas tersebut dengan wajah yang dingin. Ia membaca isi gulungan tersebut dan beralih menatap Rado yang berdiri didepan pos.


"Kau! Dihari pertama pelatihan, kenapa kau terlambat?! Asal kau tau, tuan Martinez itu sangat keras.. Cepat lah bergegas masuk.." Kata penjaga yang membaca surat tersebut.


"Baiklah.. Terimakasih.." Senyum Rado dalam balik maskernya.


Gerbang jeruji besar itu pun terangkat perlahan dengan getaran diarea tanah sekitar gerbang itu terangkat. Setelah setengah jeruji besar itu terangkat, Rado segera melangkah maju kedalam.


"Hei! Kenapa kau memakai masker?" Tanya penjaga pos tersebut.


"Ah.. Ini hanya sebuah luka yang tidak ingin ku perlihatkan..." Toleh Rado.


Jeruji besi pun turun kembali bersamaan dengan tatapan Rado yang tidak terputus menatap penjaga pos tersebut. Setelah lorong yang menjadi pintu masuk itu berubah menjadi gelap karena tidak ada cahaya yang masuk, Rado kembali melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam. Lorong pendek itu berakhir dalam beberapa langkah saja dan mengantarkan Rado pada lapangan yang luas berbentuk persegi dikelilingi dengan sebuah bangunan - bangunan yang dipergunakan oleh para murid sebagai kelas mereka.


Setelah melewati lorong yang gelap, Rado disambut oleh matahari yang mulai terbenam. Ia pun kembali melangkahkan kakinya kedalam lapangan tersebut dan melihat para prajurit baru dengan perlengkapan militer dasar mereka sedang berbaris dalam posisi istirahat ditempat menghadap salah satu instruktur yang dimiliki kamp pelatihan tersebut. Rado pun mencoba mendekat kepada mereka untuk bergabung bersama mereka. Akan tetapi, karena keterlembatannya yang sangat terlambat, mereka semua menoleh kearah Rado yang baru saja tiba itu.


Rado pun bergerak perlahan dan tersenyum dibalik maskernya karena ia merasa canggung telah ditatap oleh ratusan orang. Seorang pria matang berkulit kecoklatan dengan rambut cepak dan mengenakan pakaian instruktur berwarna hitam menatap kearah Rado.


"Lihatlah... Ada prajurit yang terlambat dihari pertama pelatihan...." Senyumnya dengan kumis tebal yang ikut tertarik saat ia merenggangkan otot mulutnya.


Setelah instruktur menyindir Rado, semua prajurit yang sedang menatap Rado tersenyum menyindir.


"Maafkan aku telah terlamabat.." Rado meminta maaf.


"Hei... Apa yang kau lakukan? Sesi hari ini sudah selesai... Lebih baik kau berputar dan kembali ke kediaman yang nyaman mu.." Kata salah satu murid dengan rambut cepak merah dan anting yang menggelantung di daun telinga kirinya.


Disini Rado hanya terdiam saja menerima sindiran mereka semua.


"Sudah cukup!" Kata instruktur tersebut.


Setelah para murid mulai terdiam, instruktur tersebut kembali terfokus kepada Rado.


"Kau! Kemarilah..." Panggil Instruktur tersebut.


Rado pun melangkah maju kedepan diikuti oleh mata para murid yang tidak putus menatapnya dengan senyuman menyindir.


"Apa yang membuat mu terlambat?" Tanya instruktur tersebut.


Dihadapan instruktur itu, Rado seperti pemuda biasa lainnya yang mendaftarkan diri untuk menjadi prajurit ras manusia. Tidak ada hal istimewa dari Rado, hanya masker hitamnya saja lah yang mengundang rasa penasaran instruktur tersebut.


"Aku harus menjemput ibu ku dari sebuah pabrik.." Jawab Rado sengaja memberikan alasan yang mengundang sesuatu.


"Apa dia bilang?! Pabrik?! Hei apa kau tidak salah tempat?!" Teriak pemuda berambut orange cepak.


Setelah mendengar teriakan itu, para murid yang lain juga mulai menggunjing Rado.


"Hei...! Apa yang dilakukan masyarakat bawah disini?! Kau tidak perlu mengikuti pelatihan ini, cukup pakai armor, lalu segera pergi ke medan tempur dan mati sebagai sampah.." Teriak pria berambut kuning panjang sebahu mengejek Rado sambil meletakan tangannya di bahu pemuda cepak.


Rado hanya terdiam tanpa menggubris mereka, ia terus menatap instruktur yang berada didepannya yang juga sedang menatapnya tanpa ekspresi apapun.


"Aku sudah mendengarnya dari tuan Martinez, kalau pemimpin kita yang terhormat ingin membangun tempat pelatihan militer untuk kalangan bawah juga... Jadi, bukankah sebaiknya kau menunggu bangunan itu direalisasikan? Atau kau bisa ikut dengan orang - orang dari kalangan bawah lainnya yang segera dikirim kelapangan?" Sindirnya secara halus.


"Maaf... Meskipun aku dari kalangan bawah, akan tetapi kekuatan ku  melebihi murid - murid yang sedang berada disini sekarang. Jadi aku merasa cocok ada disini" Jawab Rado dengan senyuman yang tertutup oleh maskernya.


Semua tertawa mendengar jawaban dari Rado, tetapi tidak dengan instruktur yang saat ini sedang berhadapan dengan Rado, Sang instruktur bisa merasakan kalau kata yang terlontar dari mulut Rado tidaklah main - main.


"Bagaimana mungkin kalangan bawah bisa menyamai kita yang berada diatas ini? Hei! Apa kau tau? Force yang kami miliki tidaklah sama dengan kalian para kalangan bawah! Jadi berhentilah berangan dan berguyon mengenai kesetaraan kekuatan dengan kami!" Ujar pemuda cepak disertai tawa para murid.


"Pernyataan yang keliru... Kau tau darimana kalau kapasitas kekuatan force dapat diukur dari kasta masyarakat saja? Aku tidak akan pernah mempercayai itu... Menurut ku, kalian hanya sedang menekan mental mereka agar tidak bangkit dan mengambil kekuasaan negeri ini dari kalian para masyarakat atas. Dan kedok yang pas untuk meyakinkan mereka adalah dengan kapasitas kekuatan itu.." Toleh Rado kepada pemuda itu dengan senyuman.


"Apa kau bilang?!" Geram pemuda tersebut.


Perkataan Rado mengundang emosi dan kebencian dari semua para murid tersebut. Mereka merasa kalau kata - kata yang baru saja diucapkan oleh Rado sangatlah menghina mereka karena mengaitkan kasta mereka dengan masyarakat bawah. Pemuda cepak itu maju kearah Rado seperti ingin menghajarnya, namun dihentikan oleh instruktur.


"Berhenti!" Tegas terucap dari mulutnya dan seketika kericuhan itu berubah menjadi keheningan.


Semua kembali tertuju kepada instruktur yang berdiri didepan mereka.


"Kau... Sebaiknya kau menunjukan kemampuan mu kepada kami... Ku harap omongan mu bukan lah omong kosong saja.." Kata instruktur menatap kearah Rado.


"Baiklah...." Senyum Rado.


"Kalau begitu biar aku yang memberi pelajaran kepada orang miskin ini.." Kata pemuda cepak tersebut tersenyum meremehkan.


Formasi barisanpun berubah menjadi lingkaran dan ditengah - tengah mereka terdapat Rado dan pemuda yang menjadi lawannya. Pemuda itu diberikan sebuah senjata yang terbuat dari kayu sebagai alat latih tanding.


"Kalian boleh mengalirkan force kedalam pedang kayu tersebut... Peraturan dalam pertarungan ini sangat simpel, bagi dirinya yang tidak bisa melanjutkan pertarungan ataupun menyerah akan dianggap kalah.. Apa kalian mengerti?" Ucap instruktur yang berada diantara mereka.


Dilorong bawah gedung tempat biasa dilewati para murid dan juga orang - orang di kamp pelatihan, Martinez dan instruktur lainnya melewati lorong tersebut. Mereka terhenti sejenak melihat kerumunan yang sedang terjadi dilapangan sore hari.


"Ada apa?" Tanya Martinez menoleh kearah lapangan.


"Sepertinya ada pertandingan..." Kata salah satu intruntuk yang mengenakan kacamata berambut hitam tersisi kebelakang.


"Siapa?" Tanya kembali Martinez.


"Hmmm....." Instruktur itu menekan kacamatanya untuk melihat jelas siapa yang sedang bertanding.


"Itu anak dari tuan Nimus.., Rega..." Jawab instruktur tersebut.


"Lalu, dengan siapa dia bertanding?" Lanjut pertanyaan dari Martinez.


Intruktur kembali menekan kacamatanya, "Itu... aku tidak mengetahuinya, ia mengenakan masker.."


"Hooo.... Kita saksikan terlebih dahulu untuk hiburan sejenak.." Kata Martinez.


"Baik" Kata Instruktur berkacamata tersebut.


Sementara itu dari gedung yang berlawanan pada lantai dua, Silvi yang mengenakan pakaian kamp militer sedang menyaksikan dari dalam ruangan kelas.


"Silvi.. Kau sedang apa?" Tanya perempuan berambut panjang berwaja oriental.


"Sepertinya sedang ada yang ingin bertarung.." Jawabnya tersenyum.


"Bertarung? Di penghujung kelas?" Heboh beberapa gadis lainnya.


Dilain sisi juga ada kelompok kecil murid yang ingin segera meninggalkan kamp pelatihan terhenti akibat pertarungan tersebut.


"Dari unit mana itu?" Tanya Salah seorang pemuda berambut hitam dengan rambut belah tengah pendek dan mimik wajah super serius.


"Sepertinya itu dari unit 3 dan Rega sedang bertarung" Kata pemuda berambut hitam klimis.


Dipohon dekat lapangan terlihat pemuda berambut jabrik berwarna kebiruan sedang santai diatas pohon.


"Sepertinya ada yang menarik" Ujarnya sambil tersenyum lebar menyaksikan pertarungan.


Kembali kearah Rado dan Rega yang sedang saling berhadapan. Rado seketika membuang pedang kayunya dan melemaskan kedua tangannya.


"Hei.. Hei.. Apa kau yakin membuang satu - satunya benda untuk melindungi mu?" Senyum lebar Rega.


"Ya.. Aku yakin.." Kata Rado sambil melemaskan pergelangan tangan.


"Hmm.. Ku tunggu.." Rado tersenyum setelah selesai melakukan peregangan.


Rega terlihat kesal dengan sikap yang ditunjukan oleh Rado.


"Baiklah... Kau yang meminta..." Rega pun menoleh kearah Instruktur.


"Instruktur... Kalau aku tidak sengaja membunuhnya apakah itu menjadi sebuah pelanggaran...?" Tanya Rega.


"Selama itu unsur ketidaksengaja mungkin itu tak mengapa, terlebih ayah mu tuan Nimus adalah kepala administrasi militer.. Mungkin kasus ini tidak akan terekspos.." Kata Instruktur tersebut dengan senyum kecil.


"Baiklah.. Kau sudah dengar bukan? Kau tidak mau memohon bersujud, sebelum terbunuh?" Tanya Rega.


"Apa kau masih ingin mengoceh?" Tanya Rado tersenyum.


Semua mulai geram dengan tingkah Rado, Instruktur pun memberika aba - aba dimulainya pertarungan.


"Mulai!"


Rega tanpa mengambil waktu lama segera mengeluarkan aura forcenya yang berwarna kehijauan dengan eksistensi besar. Rega dikenal sebagai murid unggulan diantara mereka yang terpilih dan statusnya sebagai anak dari kepala administrasi membuatnya seperti tidak tersentuh di kamp tersebut.


"Si bodoh itu sepertinya ingin membunuh pemuda itu..." Kata pria berambut belah tengah.


"Kalau itu terjadi, tindakannya sangat tidak terpuji di awal pelatihan ini.." Kata pemuda rambut klimis.


Pemuda yang diatas pohon dan gadis - gadis yang sedang menyaksikan hanya terpaku melihat force yang dipancarkan oleh Rega.


"Hei apa itu Rega? Dia keren sekali.." Kata Salah satu gadis.


"Apa lawannya akan baik - baik saja? Hei Silvi?" Tanya gadis berwajah oriental.


"Hmmmm aku tidak tau.." Senyumnya.


Dibagian para instruktur.


"Tuan Martinez, apa ini tidak berlebihan?" Tanya instruktur berkacamata.


"Hmmm... Kalau sudah gawat, pergi dan hentikan.." Perintah Martinez.


Setelah Rega puas mengeluarkan force dan menanamkannya kedalam pedang kayu tersebut, pedang itu dikelilingi oleh aura force yang solid dan tajam. Rega segera melesat kearah Rado yang masih berdiri tersenyum dibalik maskernya. Rega segera mengambil ancang - ancang dengan menarik pedangnya kearah belakang untuk menebas Rado.


"Matilah!" Teriak Rega tersenyum mengincar leher Rado.


Rado tanpa mengeluarkan sedikit force, dengan cepat dan akurat memukul tulang hidung Rega dan membuatnya terpental jauh.


"Eh?!"


"Apa?!"


Semua yang sedang menyaksikan hal tersebut dibuat amat terkejut dengan serangan Rado yang sulit diikuti mata. Rega sudah terbaring dengan wajah yang membiru dan darah keluar dari hidungnya. Rado berjalan perlahan kearah Rega bertujuan untuk melancarkan serangannya sekali lagi. Mereka yang sedang menyaksikan masih belum mengetahui langkah apa yang ingin Rado lakukan selanjutnya. Mereka saat ini hanya bisa terperangah setelah menyaksikan One Punch dari Rado.


Namun, tidak dengan Martinez, Saat ia melihat Rado sedang tersenyum kearah Rega ia segera memerintahkan intruktur tersebut untuk menghentikannya.


"Julius! Hentikan pemuda itu cepat!" Teriak Martinez.


Julius tanpa berkata apa - apa segera bergerak kearah Rado. Sementara itu Rado yang sudah berada didekat Rega, segera menarik tangannya untuk memukul Rega sekali lagi.


"K-kau! Kalau kau membunuh ku, ayah ku akan mencari mu... Dan kau tidak akan lolos dari semua ini.." Ucap Rega dengan berlumuran darah.


"Coba saja.. Aku tinggal membunuh semua keluarga mu.." Dengan senyuman Rado menjawab.


Rega mulai menyadari satu hal setelah melihat senyuman Rado yang saat ini tepat berada diatasnya, raut wajahnya mulai berubah menjadi mimik wajah ketakutan. Ia seperti merasakan aura yang besar dan mengintimidasi yang amat berat dari Rado.


"K-kau.... Iblis..." Ucapnya gemetar.


Saat Rado melancarkan pukulannya kearah wajah Rega sekali lagi, Julius yang tepat waktu segera menghentikan pukulan sebelah kanan Rado dengan menghentikan pergerakan bahunya dengan menangkap otot bicep Rado menggunakan tangan kirinya. Akan tetapi karena kekuatan yang Rado memiliki membuat bahu kiri Julius tergeser.


"Ukh!" Ringkik Julius.


Angin disekitar mereka berhembus meluas, Rado yang dihentikan serangannya segera menoleh kearah Julius yang sedang menahan rasa sakitnya.


"Sepertinya ada sendi yang tergeser.." Senyum Rado sambil menatap wajah Julius.


Julius pun segera melepaskan genggamannya pada lengan Rado dan Rado segera berbalik arah meninggalkan Rega tanpa mengatakan sepatah katapun.


"Sepertinya aku yang menang... Jadi, sampai bertemu esok hari.. Instruktur.." Kata Rado tersenyum dan melewati instruktur yang terlihat geram melihat Rado.


Diantara gadis - gadis.


"Hei - hei Rega dikalahkan hanya dengan satu pukulan? Apa Rega selemah itu?" Tanya salah satu gadis.


"Silvi?!" Toleh gadis oriental tersebut kearah Silvi dengan spontan.


Silvi terdiam terkejut tanpa mengatakan apapun.


"Marco! Cari tau orang itu... Dia bisa menjadi ancaman bagi unit kita!" Kata Pemuda belah tengah.


"He... Sepertinya ada seekor harimau selain diri ku di kamp ini.." Kata pemuda berambut jabrik.


Semua murid sekarang ini dibungkam oleh kekuatan Rado setelah pentolan mereka dijatuhkan dengan satu kali pukulan. Mereka tertunduk saat Rado melewati mereka untuk pergi meninggalkan sesi latihan hari ini. Rega segera dikerubungi oleh teman - temannya setelah Rado sudah meninggalkan lapangan, mereka begitu khawatir dengan kondisi Rega yang sedang pingsan di tengah lapangan tersebut.


Julius yang kembali kepada Martinez dan para instruktur yang lain, menunjukan wajah kesakitan sambil memegangi bahunya.


"Julius, apa yang terjadi pada kau?!" Tanya Martinez khawatir.


"Tuan Martinez.. Pemuda itu sangat kuat.. Bahu ku terkilir saat menghentikannya.." Jawab Julius.


"Apa?! Tank seperti mu bisa terkelir menahan pukulan itu?" Tanya salah satu instruktur disana.


"Ya.. Dan terlebih lagi.. dia tidak menggunakan force sedikit pun..." Tambah Julius kepada mereka semua.


Keterkejutan mereka ternyata tidak sampai situ saja. Pernyataan tanpa force itu membuat para instruktur dan Martinez menjadi tertarik kepada Rado.


"Cari tau pemuda itu.. Aku ingin bertemu dengannya.." Perintah Martinez.


Saat Rado meninggalkan kamp pelatihan, ia dihadang oleh pemuda berambut jabrik. Rado pun terhenti dan menatap pemuda itu.


"Kau.. Jadilah teman ku... Aku akan melindungi dari orang  - orang seperti Rega" Senyum lebar sambil menunjuk kepada Rado.


Rado hanya menutup matanya dan tersenyum, lalu ia melangkah kembali dan mengacuhkan pemuda itu. Karena merasa diacuhkan dengan pose yang masih sama, pemuda itu segera berbalik dan menunjuk Rado sekali lagi.


"Hahahahaha kau sungguh menarik.. Tunggu saja, Aku akan menjadikan dirimu sebagai teman ku!" Senyum Pemuda tersebut karena tertarik kepada Rado.


Rado hanya tersenyum mendengar ucapan pemuda tersebut.


"Ternyata kamp pelatihan cukup menghibur dan banyak orang anehnya.." Kata Rado dalam Hatinya.


Sementara itu, ALbert yang baru saja sampai di ibukota ras Elf, Lorien bertemu dengan Yoga yang sejak tadi sudah menunggu kedatangan Rado.


"Tuan Yoga.." Panggil utusannya sebelum itu.


"Ah Rado akhirnya kau- Hoi sedang apa kau disini?!" Yoga terkejut, karena bukan Rado yang datang, melainkan Albert.


"Albert?! DImana Rado?" Tanya Jaquile.


"Aa... Tuan Rado yang mengutus ku untuk menyelesaikan ini... Kalian tenang saja, semua akan beres.." Senyum Albert dengan kepercayaan dirinya.