
Sehari setelah perundingan dari para otak dibaliknya kudeta yang akan terjadi pada ibukota De Hoorn. Pemilik industri - industri besar mulai melancarkan rencana mereka untuk menutup usaha mereka. Hal ini mengundang banyak pertanyaan dari para pekerja yang tiba - tiba diberhentikan begitu saja dengan tanpa alasan yang jelas.
Ternyata penutupan berskala besar itu tidak mencakup pada industri besar saja.
Para serikat tersebut memaksa para pemiliki industri kecil yang berada di nauangan para penguasa sektor perindustrian untuk menutup tirai mereka untuk menyempurnakan gerakan tersebut. Para orang kaya yang memiliki lahan diluar ibukota pun juga menutup lahan mereka yang biasa dipergunakan untuk sektor pertanian dan juga peternakanan.
Akibat hal itu membuat lonjakan angka pengangguran yang terjadi pada kalangan bawah dan juga warga yang berprofesi sebagai petani dan sebagainya. Saat ini di distrik menengah ibukota De Hoorn, para pekerja berkumpul didepan industri konveksi terbesar yang terdapat di kota tersebut, industri yang mana dimiliki oleh Ray, ketua serikat dagang yang terdapat di ibukota.
"Kenapa tiba - tiba pabrik ini tutup?! Biarkan kami menanyakan hal itu kepada tuan Ray!" Tanya salah seorang pria lusuh dengan mendesak pada beberapa prajurit keamaan dengan ban lengan berwarna merah di tangan kanannya.
"Maaf untuk saat ini pabrik ditutup karena suatu alasan tertentu yang tidak bisa kami publikasikan.." Jawab prajurit itu dengan jelas.
"Bagaimana dengan kita yang mencari nafkah dari pabrik ini?! Mereka tidak memberitahu kami mengenai penutupan tersebut!" Sambung pria lusuh tersebut.
Para prajurit itu hanya berdiam diri didepan pintu pabrik dengan pedang yang melingkar di pinggangnya. Prajurit keamanan kota itu diperintahkan oleh Barley hanya untuk menjaga pabrik - pabrik besar yang tutup tanpa memberitahu alasan yang jelas. Sebagai bawahan yang memiliki loyalitas tinggi, mereka menyetujuinya tanpa bertanya lebih lanjut mengenai penutupan tersebut.
"Biarkan kami masuk!" Berontak pria usuh tersebut diiringi dengan pekerja yang lain.
Mereka mencoba untuk menerobos masuk kedalam pabrik, namun para prajurit yang bertugas untuk menjaga pabrik tersebut segera mengambil langkah tegas dengan mendorong mereka dengan sedikit kekuatan. Para pekerja yang cukup ramai itu bukanlah tandingan mereka, karena dorongan yang disertai sedikit kekuatan force membuat para pekerja jatuh tersungkur kebelakang.
"Kalau kalian berani untuk menerobos kedalam... Aku sebagai yang bertanggung jawab dalam operasi ini akan membunuh kalian satu persatu.." Kata seorang pria berambut hijau ketuaan dengan sebuah pedang bersarung hitam keemasan dipinggangnya keluar dari dalam pabrik.
Para pekerja yang melihat sosok pria tinggi langsing berwajah sombong itu, begitu ketakutan.
"Tu - tuan Kayle.." Kata pria lusuh yang sedang jatuh terduduk sambil melihatnya.
"Kalian para warga miskin jangan mencoba untuk memberontak... Kalau kalian tidak ada pekerjaan, pulanglah dan hidup dengan tenang bersama keluarga kalian di rumah..." Kata Kayle tersenyum jahat.
Sementara itu pada gedung utama militer dimana Rado berada. Rado yang saat itu sedang memeriksa laporan masuk, dikejutkan oleh datangnya Yoga tanpa mengetuk pintu.
"Rado!" Kata Jaquile mengejutkan dirinya.
Rado segera menatap kearahnya dengan keritan dahi yang menumpuk.
"Hei.. Bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu?" Kata Rado menghimbaunya.
"Ini gawat! Para pemilik industri memilih menutup pabrik - pabrik mereka dan para pekerja dibuat tidak memiliki pekerjaan dan sudah mulai terjadi kerusuhan dijalan - jalan.." Kata Jaquile panik melapor.
Rado terdiam dengan raut wajah seriusnya setelah mendengar laporan dari Jaquile.
"Dimana Yoga?" Tanya Rado.
Saat ini Yoga sudah berada didepan pria lusuh yang dijatuhkan oleh para prajurit keamanan yang menjaga pabrik konveksi milik Ray. Ia berdiri didepan Kayle tanpa membawa senjata apapun dan melindungi pria tersebut.
"Hei bisakah kau bersikap lembut terhadap mereka yang lemah..." Kata Yoga geram.
"Oya.. oya... Siapa ini? Selamat pagi tuan Yoga.." Hormat Hayle menunduk kepada Jaquile sambil tersenyum.
"Ada apa ini?" Tanya Yoga.
"Kami sedang bertugas menjaga pabrik yang tutup dan menghalau orang - orang ini untuk memberontak masuk kedalam pabrik, sudah semestinya bagi kami para prajurit keamanan kota untuk menjaga ketentraman ibukota bukan?" Jawab Kayle dengan senyuman.
"Lantas apa yang membuat pabrik - pabrik ini tutup? Sudah beberapa kali aku melihat pabrik di distrik ini tutup saat aku melintas... Apa ini sebuah rencana?" Tanya Yoga curiga.
"Aku tidak tau mengenai itu... Disini kami hanya bertugas menjaga keamaan kota saja agar para warga yang lusuh dan bau itu mendekat.." Jawab Kayle menohok.
"Kau...." Geram Yoga mendengar Kayle.
"Maafkan kekasaran ku ini tuan.." Kayle kembali menunduk sambil tersenyum.
Yoga yang tidak bisa melakukan apapun, memilih untuk berbalik kearah para pekerja yang sedang bingung sekaligus takut.
"Kalian pulanglah terlebih dahulu... Untuk saat ini biar kami menelusuri sebab mengapa para pabrik tutup.." Kata Yoga menenangkan.
Mendengar ucapan dari Yoga, para pekerja pun memilih untuk pulang pada hari itu. Setelah kondisi sudah mulai kondusif, Jaquile pun memilih untuk pergi meninggalkan Kayle dan para prajuritnya tanpa menoleh sedikit pun.
"Terimakasih atas bantuan anda tuan Yoga hahahahaha" Tawa Kayle sambil memberi hormat.
"Khek!" Yoga berdecak kesal mendengar suara Kayle.
Saat ini para prajurit dibawah perintah Rado sedang mengunjungi beberapa tempat pabrik berskala besar maupun berskala kecil untuk menenangkan kondisi yang sedang memanas ini. Setiap mereka menanyakan motif dibalik pabrik yang tutup, para kapten yang bertugas saat itu mendapatkan jawaban yang sama seperti apa yang didapat oleh Jaquile.
Setelah mereka berkeliling untuk menyurutkan kerusuhan yang terjadi akibat rencana para pemberontak, Para kapten kembali berkumpul di ruangan tempat Rado berada. Saat ini mereka berbaris didepan Rado yang sedang terduduk memasang wajah serius.
"Jadi apa yang terjadi.." Tanya Rado langsung pada intinya.
"Dari yang ku dapat, mereka mengatakan kalau mereka tidak mengetahui motif tutupnya pabrik - pabrik di distrik menengah maupun distrik bawah.." Lapor Nagatomo.
"Hal sama juga dikatakan oleh divisi keamanan kepada kami saat kami datang untuk mencoba untuk menenangkan kerusuhan.." Imbuh Jason.
Mereka yang lain pun juga mengatakan hal yang sama, ini membuat tanda tanya besar terhadap Rado mengenai tutupnya seluruh industri.
"Bagaimana dengan industri kecil?" Tanya Rado.
"Aneh? Bisa kau jelaskan?" Pinta Rado kepada Julie.
"Ya.. Saat ku tanya kenapa ia memilih untuk menutup gerai tokonya, ia seperti memalingkan wajahnya dari ku dan seperti sedang membuat alasan yang janggal.." Jawab Julie.
Jaquile yang mendengar penjelasan dari Julie segera menembak kejadian tersebut dengan sebuah tuduhan samar.
"Ini pasti sudah direncanakan, Rado! Kita harus mencari dalangnya..!" Kata Jaquile meninggi.
"Mungkin yang dikatakan oleh Jaquile ada benarnya.. Tapi siapa orang yang merencanakan ini?" Pikir Yoga sambil memegang dagunya.
"Mungkin kita bisa mendatangi Ray Houston.." Albert menimbrung.
"Ray Houston?" Tanya Rado kepada Albert.
"Ya.. Dia adalah seorang yang disebut - sebut sebagai ketua serikat dagang di ras ini, hampir seluruh jalur perdagangan ada pada serikat yang ia dirikan dengan beberapa orang lainnya... Mungkin ia bisa menjawab mengapa seluruh industri tutup.." Kata Albert.
"Baiklah.. Ayo kita ke kediamannya.." Kata Rado.
Saat ini Rado yang ditemani oleh Albert dan Yoga menuju ke kediaman Ray yang berada didistrik atas dimana tempat orang - orang kaya berkumpul. Rumah itu sangat megang dengan pagar yang tinggi. Terlihat didepan gerbangnya dijaga oleh prajurit keamanan kota yang ia bayar dengan uangnya sendiri. Saat Rado mendekat kearah pintu gerbang milik Ray, ia dijegat oleh prajurit tersebut.
"Hei! Apa - apaan kalian... Dia adalah pemimpin ras kita!" Kata Albert geram.
"Ma - maafkan kami... Tapi tuan Ray tidak ingin ditemui oleh siapa pun.." Gugup prajurit tersebut.
"Meskipun pemimpin ras yang ingin bertemu dengannya?" Tanya Yoga mengintimidasi.
Kedua prajurit itu saling melihat satu sama lain karena keraguan mereka mengenai situasi yang serba salah itu.
"Biarkan ia masuk.." Suara Ray yang keluar dari pengeras suara yang terpasang didepan gerbang.
Pintu gerbang pun terbuka dengan sendirinya, Rado dan yang lainnya pun segera memasuki perkarangan rumah tersebut. Didepan pintu utama kediaman Ray sudah terlihat beberapa pelayan yang menunggu mereka bertiga untuk memasukin kediaman yang megah tersebut.
"Aku tidak menyangka.. Ternyata ada kekuatan besar lain di ibukota ini.." Senyum Rado dalam pikirannya.
Rado dan yang lainnya dipersilahkan masuk lalu diminta menunggu diruang tamu yang super mewah dengan rak buku - buku yang mengelilingi meja teh yang saat ni berada didepan mereka. Tidak lama mereka menunggu Ray pun masuk kedalam dan menyapa mereka bertiga.
"Senang bisa bertemu dengan penguasa baru ras ini.." Kata Ray dengan tenang.
"Senang bisa bertemu dengan mu.." Sapa Rado yang terduduk diatas sofa empuk.
Ray duduk disofa depan mereka dan menuangkan sebuah teh pada cangkir mereka bertiga. Rasa hormat yang diberikan oleh Ray kepada Rado terasa berbeda dengan warga distrik lainnya. Warga yang berada didistrik atas, lebih tepatnya distrik puncak, dahulunya adalah keturunan raja dan juga bangsawan. Namun beberapa tahun yang lalu gelar itu mulai memudar dan puncaknya saat kepemimpinan Rado, gelar itu dihapus sepenuhnya.
"Aku tidak menyangka kalau kau bisa menyewa prajurit keamanan kota.." Kata Rado tersenyum.
"Hahahaha... Mungkin karena anda masih baru menjadi penguasa di ras ini, anda tidak mengerti kalau golongan kami bisa mendapat apa yang kami mau, meskipun itu dari militer sendiri.." Kata Ray terang - terangan.
"Hoooo kalau begitu apa sosok ku sebagai penguasa hanyalah sebagai ikonik sebuah ras?" Tanya Rado tersenyum.
"Ya.. Kurang lebih seperti itu.." Kata Ray sambil meminum tehnya dengan tenang.
"Hei! Jaga bicara mu!" Kata Albert geram.
"Tuan Albert? Bukankah dulu pada masa kepemimpinan mu kau tidak merasa, kalau yang mengusungkan mu sebagai pemimpin ras ini adalah golongan kami?" Tanya Ray menaruh cangkirnya.
"Kami mengusungkan mu sebagai pemimpin karena agar kursi itu tidak kosong.. Hanya saja, karena kau memiliki pemikiran yang ambisius terhadap perang saja, kami mulai mengacuhkan mu... Bukankah kau menyadari itu dan kesulitan mendapat dukungan pasokan dalam hal kemiliteran?" Tanya Ray.
Pertanyan itu membuat Albert terbungkam begitu saja.
"Aku tidak mengetahui kalau ada golongan seperti itu di ibukota.." Rado tersenyum tenang.
"Itu karena anda adalah orang luar yang tiba - tiba saja datang membawa kekuatan leluhur yang seharusnya terlahir pada golongan kami.." Kata Ray menohok.
"Pada masanya, militer yang saat ini anda bawahi adalah bekas militer yang dibuat oleh pendahulu kami.. Tapi seiringnya waktu, sektor militer berjalan secara independen.. dan kami berfokus pada sektor perdagangan.. Tetapi itu tidak menutup kalau kami adalah golongan teratas.. Jadi kau bisa maklumi kalau aku bersikap seperti ini pada mu meskipun kau utusan seorang leluhur sekalipun.." Kata Ray.
"Aku bisa memahami itu..." Senyum Rado namun kedua orang lainnya terlihat mulai geram.
"Pada hari itu dimana saat indikator yang menjadi sebuah penanda bangkitnya kekuatan demicles menyala, itu membuat ku sangat gembira... Aku berpikir kalau akhirnya kekuatan leluhur akan hadir kembali kepada kita ditengah krisis wilayah yang menjadi perebutan diantara 5 ras yang ada... Tetapi setelah mendengar kalau orang itu bukanlah dari golongan kami.. Aku sangat merasa kecewa..." Kata Ray kembali mengatakan hal yang menohok.
Setelah mendengar kata - kata yang bersifat menyerang keluar dari mulut Ray, Rado segera bangkit dari duduknya dan meninggalkan Ray begitu saja dengan wajah kesal yang ditutupi.
"Tuan Rado?" Tanya Albert heran dengan kepergian Rado yang secara tiba - tiba.
Yoga pun ikut pergi meninggalkan ruangan itu dan tidak lama kemudian disusul oleh Albert yang mengikuti. Ray yang tersenyum sambil duduk di sofa empuknya sambil menikmati secangkir teh hangat. Ia menutup matanya dan membuka kembali untuk melihat ketiga cangkir teh yang masih dalam keadaan penuh.
"Setidaknya kau minum teh itu sebelum pergi, karena teh itu sangat mahal.." Katanya sambil menyayangkan teh yang tidak terminum.
"Tuan Rado.. Kenapa anda pergi begitu saja?! Bagaimana dengan pertanyaan kita mengenai sektor industri tersebut?!" Tanya Albert terheran.
Rado tidak menjawabnya sama sekali dan terus berjalan menuju pintu keluar, Yoga yang saat itu sedang mengikuti Rado dibelakangnnya, hanya menatap dirinya saja tanpa berkata apapun. Setelah keluar dari kediaman milik Ray dan melewati pintu gerbang yang besar tersebut, Rado baru berbicara.
"Sepertinya kita memiliki musuh dalam sarang sendiri..." Katanya dengan raut wajah yang tidak biasanya.