The Archon

The Archon
Orc Memulai Pergerakan



Beberapa saat kemudian didalam ruangan kerja milik Rado. Ia baru saja mengejutkan para pendamping persoalan dirinya ingin pergi ke kediaman para demigod.


"Apa kau gila?! Biarkan aku menemani mu!" Kata Jaquile khawatir.


Rado tidak menggubrisnya dan segera bersiap - siap untuk melakukan perjalanan yang berbahaya tersebut.


"Jaquile benar... Biarkan kami menemani mu.." Kata Yoga mendukung perkataan Jaquile.


Rado terus diam sambil tersenyum dan memasang sarung pedangnya di punggung.


"Tidak perlu.. Aku kesana hanya memberikan salam hangat pada Achilles atas tombaknya beberapa hari lalu.. Setelah itu aku akan kembali secepatnya.." Kata Rado menoleh kearah belakang saat menuju pintu keluar.


"Tapi mengapa kau begitu ingin kesana dalam sekarang?!" Tanya Yoga sekali lagi.


"Ntah, aku tidak mengerti.. Saat aku merasakan force yang berada dalam tombak itu, darah ku seperti mendesir memanggil ku untuk menemuinya sekali lagi..." Jawab Rado sambil berbalik arah menatap mereka.


Para pendamping tidak bisa berkata - kata lagi setelah melihat mata yang penuh kesiapan tersebut.


"Bagaimana kalau tuan tidak kembali?" Tanya Albert dengan sangat khawatir.


Rado pun tersenyum tenang, "Aku pasti akan kembali... Jadi ku titipkan bagian sini kepada kalian untuk sementara.." Katanya menjawab pertanyaan Albert dan segera berlalu meninggalkan para pendampingnya untuk sementara waktu.


Rado pun menutup pintu ruangannya dengan sangat pelan, ia berjalan menelusuri lorong yang sepi menuju elevator yang sudah menunggunya di ujung lorong. Ia tersenyum karena membayangkan bahaya seperti apa yang menunggunya nanti.


"Ini sulit diprediksikan.." Senyumnya dan pintu elevator pun tertutup.


Setelah Rado dengan menghilangkan keberadaannya sementara waktu, rombongan dari komplotan Greg pun masuk kedalam dan memergoki Albert serta Yoga yang sedang terduduk sedih. Pada saat itu Jaquile juga pergi kesuatu tempat untuk memperlancar skema yang telah dibuat.


"Greg!" Albert terlihat kesal dan segera bangun dari sofanya untuk menantang Greg.


Albert berhadap - hadapan dengan Greg yang sedang tersenyum dan melihatnya dengan pandangan rendah.


"Kau berani menantang orang yang berdiri dipuncak?" Tanya Greg dengan sombong.


"Dengan kekuatan yang sekarang ku miliki kau bukanlah tandingan ku... Dan bukankah kau seharusnya menghormati ku karena akulah sekarang yang memegang kekuatan leluhur?" Imbuh Greg kepada Albert.


"Cih!" Albert segera memberi jalan Greg yang ingin menuju ketempat kursi yang biasa diduduki oleh Rado.


Para komplotannya pun juga mengiringi perjalannya menuju kursi tersebut. Nimus, Barley, Ray terlihat tidak melepaskan sedikitpun senyuman kemenangan mereka. Watz yang terlihat diam melirik kearah Yoga yang menatapnya dengan tatapan marah dan Watz pun membalasnya dengan senyuman merendahkan.


Greg pun duduk dikursi itu dengan senyum lebar. Ia merasakan kehangatan atas tahta yang baru saja ia raih. Para pengikutnya pun berjajar di kedua sisi layaknya seorag penjaga.


"Kemana mereka berdua?" Senyum Greg mulai merasa berkuasa.


"Jaquile membawa tubuh Rado untuk di makamkan jauh dari ibukota.." Jawab Yoga dengan tatapan yang tajam.


"Hooo... Saat ia kembali dari menguburkan mayat seorang yang tidak berguna, suruh dia menghadap kepada ku... Dia masih ada hutang atas perbuatan sebelumnya..." Kata Greg.


"Kau..!!" Mendengar Greg menyebut Rado tidak berguna, Albert merasa geram.


"Hooooo.... Jangan membuat tuan Greg takut seperti itu... Tuan Albert" Kata Nimus berjalan mendekat kedepan Albert.


Ia menatap wajahnya dalam jarak dekat dan wajah Nimus terlihat sangat menjengkelkan bagi Albert. Albert hampir tersulut emosi atas tindakan yang dilakukan oleh Nimus, akan tetapi ia harus bersikap tenang mengingat amanah dari Rado sebelum ia pergi.


"Sudah lama aku ingin melakukan ini semenjak kau masih duduk di kursi pemimpin... Karena diri mu lah, jalan ku bersama tuan Greg tersendat... Apa aku boleh melakukannya?" Tanya Nimus berbalik kepada Greg.


"Silahkan.." Kata Greg memberi restu atas tindakan yang ingin dilakukan oleh Nimus.


"Terimakasih tuan.." Kata Nimus sambil membungkuk atas restu yang ia dapat.


Nimus dengan spontan berbalik arah kembali kearah Albert namun dengan sebuah tamparan yang keras. Tangan kanannya mendarat pada pipi kiri Albert dan membuat wajahnya terlempar kearah kanan. Dalam keadaan pipi yang memerah, Albert terkejut dengan mata yang bergetar menahan emosi. Tubuh yang masih sigap pun membuat Nimus merasa kesal karena tamparannya tidak membuat Albert terjatuh.


"Kenapa kau masih berdiri!" Nimus mendaratkan tamparannya sekali lagi, lagi dan lagi.


Tamparan demi tamparan Albert terima dari Nimus yang tertawa puas setelah merasa dirinya sudah berada diatas mereka berdua. Yoga dengan wajah kesalnya memilih diam melihat Albert menerima tamparan tersebut.


"Kau tidak berani melawan hah? Kau tidak berani melawan hah? Hahahaha" Kata Nimus sambil menampar Albert terus menerus.


Suara tamparan itu terngiang dalam ruangan tersebut. Greg dan yang lainnya terlihat menikmati atas perlakuan Nimus terhadap Albert. Setelah beberapa kali tamparan yang terus menerus ditujukan padanya, Albert mulai kesal dan segera mengintimidasi Nimus dengan forcenya. Tubuhnya mulai diselimuti oleh force berwarna ungun dan menggetarkan sedikit ruangan.


Nimus terintimidasi segera terjatuh duduk dengan kepanikan saat Albert mengeluarkan rasa amarahnya, tatapan tajamnya pun membuat seisi ruangan itu merasa waspada kecuali Yoga dan Greg. Saat Albert ingin menghajar Nimus, Tiba - tiba dengan percaya dirinya, Greg mengeluarkan kekuatannya dengan ledakan.


"Berhenti! Beraninya kau!" Kata Greg diselimuti aura force yang lebih besar dibandingkan oleh Albert yang baru mengeluarkan sedikit kemampuannya.


Albert yang direndam rasa amarah mulai mencoba tenang dan menutup matanya.


"Maafkan aku..." Kata Albert berpura - pura menyesal.


"Ha - ha - ha... Kau tidak berani hah?" Kata Nimus sekali lagi mengejek.


Mendengar itu Albert sekali lagi melirik tajam kearahnya dan Nimus pun sekali lagi merasa terhentak takut.


"Kau! Kau ku hukum untuk masuk kedalam pengasingan selama sebulan karena memperlihatkan hal yang tidak sopan dihadapan ku!" Kata Greg kepada Albert.


Albert yang terdiam tidak menjawab apa - apa mengenai hukuman tersebut. Namun tiba - tiba, Yoga yang sejak tadi diam mulai angkat bicara.


"Maaf, kau tidak bisa melakukan itu..." Kata Yoga menyangkal.


"Kau? Kau???? Kau memanggil ku dengan sebuatan Kau? Betapa langcangnya diri mu memanggil ku dengan tidak hormat?" Geram Greg.


"Maafkan aku karena berkata lancang... Tapi, anda tidak bisa menghukumnya dalam pengasiangan karena ras orc sudah bergerak.." Kata Yoga memberitahu yang sebenarnya.


"Apa?!" Seluruh pengikutnya terkejut mendengar fakta tersebut.


"Ke - kenapa kami tidak tau mengenai hal itu?" Tanya Barley terkejut.


"Itu karena baru kami lah yang mengetahui masalah ini, dan karena anda adalah pemimpin yang baru, jadi sudah sepatutnya saya memberitahu masalah ini kepada anda.." Kata Yoga dengan sangat berahati - hati.


"Hmph! Kalau begitu kita bisa melawan ras jelek itu dengan kehadiran ku sebagai pemegang kekuatan leluhur yang baru... Biar ku tunjukan sebuah kekuatan sejati dari utusan leluhur yang asli!" Kata Greg menyombongkan diri.


Mendengar perkataan yang menenangkan dari Greg membuat keterkejutan itu luntur.


"A - anda benar, dengan adanya anda yang sekarang memiliki kekuatan leluhur.. Ras orc bukanlah apa - apa.." Kata Barley menyanjung.


Pengikutnya yang lain pun juga menyanjung dirinya atas perkataan yang terlontar dari mulut Greg.


"Ada 1 pertanyaan sebelum aku melakukan program militer ku yang pertama untuk menanggapi peperangan yang ada.... Bagaimana cara membuat seorang pendamping seperti diri mu dan kedua orang lainnya.." Tanya Greg tersenyum kepada Yoga yang saat ini sedang berada didepannya.


Keheningan terjadi beberapa saat didalam ruangan itu, Yoga yang menghela nafasnya mulai membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan tersebut.


"Waktu itu tuan Rado hanya mengalirkan forcenya kepada kami..." Jawab Yoga.


"Hoi!" Albert menoleh cepat dengan wajah terkejut karena Yoga membongkar rahasia tersebut.


"Hahahahahahahahaha Kau sungguh lucu... Apa kau sedang mempermainkan ku?" Tanya Greg kembali mengeluarkan aura forcenya untuk mengintimidasi Yoga.


"Tidak... Maafkan aku.." Kata Yoga menutup matanya dengan pelan karena memilih mengalah.


Mendengar permintaan maaf yang cepat dari Yoga, membuat Greg menurunkan tensi aura forcenya kembali normal.


"Aku akan mencari taunya nanti, sekarang kau siapkan seluruh prajurit untuk menghadang para orc yang ku prediksikan akan menyerang wilayah manusia cepat atau lambat... Dan beritahu para elf untuk membantu kita.. Cepat!" Perintah Greg dengan arogan.


"Baik.." Kata Yoga dan segera meninggalkan ruangan bekas Rado bersama Albert.


Saat ia berdua membuka pintu tersebut, Watz terdiam sambil memperhatikan mereka berdua karena memikirkan sesuatu.


Didalam lorong menuju elevator, Yoga dan Albert saling memandang kedepan dengan wajah datar.


"Yoga... Barusan aku meresa ingin membunuh mereka semua dengan cepat.." Kata Albert dengan wajah datar.


"Sabarlah, ini demi Rado..." Jawab Yoga.


Merena berdua pun masuk kedalam elevator tersebut bersamaan dan Yoga segera menekan tombol pada elevator tersebut.


"Aku sempat merasa malu karena tidak bisa berpikir jernih saat Rado sedang menyusun skema.." Kata Yoga sebelum pintu elevator tertutup.


"Aku juga merasakan hal yang sama dengan mu.." Kata Albert menyutujui itu dan pintu elevator pun tertutup.


Keesokan harinya dihutan kabut, tempat dimana berlangsungnya perebutan Holy Essence yang pertama kali Rado lakukan. Hutan berkabut itu memiliki jarak yang lumayan dekat dengan Tirith dan hutan itulah yang menjadi target pertama dari Dogol untuk melakukan pembersihan.


Pasukan orc mulai menelusuri hutan tersebut, tubuh mereka yang tertutup kabut tebal perlahan menunjukan bentuk para orc dengan visual bayangan.


"Tuan.." Panggil Laguun mendekat kearah Dogol yang saat itu sedang menunggunya menyelesaikan penyisiran.


"Ada sekelompok elf yang sedang melawan sekumpulan monster hewan buas.." Lapor Laguun.


"Sekelompok elf?? Apa yang mereka lakukan sampai jauh - jauh kesini?" Tanya Dogol.


"Saya tidak tau tuan.." Jawab Laguun.


"Hmph kerja bagus.. Ayo kita mulai perburuan..!" Kata Dogol tersenyum.


Disisi lain hutan, Zowie yang sedang di kawal oleh Kan dan juga beberapa elf sedang mencari tanaman obat didalam hutan tersebut.


"Ah... Tanaman aneh apa lagi ini?!" Kata Zowie terlihat senang saat melihat tanaman yang memiliki daun berwarna ungu dengan corak hitam.


Zowie terus berpindah - pindah mengambil setiap tanaman aneh yang ia temui.


"Kenapa tanaman disini sangat aneh - aneh.." Kata Zowie tersenyum.


Kan yang mulai merasa waspada mulai menggenggam erat perisainya.


"Zowie.. Apa kau sudah cukup mengumpulkan tanaman obatnya?" Tanya Kan sambil melihat sekitar.


"Sebentar lagi.." Katanya sambil mengambil beberapa tanaman obat.


Didalam hutan berkabut itu sangat hening, Kan dan beberapa elf yang bertugas untuk menjaga Zowie mulai merasa waspada akan suatu hal.


Dalam hutan itu memang terdapat banyak hewan buas yang sewaktu - waktu bisa saja menyerang, sebab itulah ada sekelompok elf yang ditugaskan untuk menghalau hewan - hewan tersebut agar tidak mengganggu proses pengumpulan tanaman obat tersebut.


Tetapi dalam kesunyian yang berlangsung lama itu. Tiba - tiba terdengar suara teriakan yang amat keras dan membuat kelompok yang menjaga Zowie terkejut.


"Apa yang terjadi?!" Kata Kan sambil mempersiapkan diri.


Para elf pun juga ikut mempersiapkan diri setelah mendengar teriakan tersebut. Zowie yang sejak tadi menunjukan rasa senang mulai khawatir dengan situasi didalam hutan tersebut.


"A - apa tadi barusan?" Tanya Zowie gemetar.


"Sepertinya ada yang tidak beres dengan kelompok dua.. Kita harus memeriksanya.." Kata Kan.


Para elf pun saling menatap satu sama lain dan mengangguk tanda mereka akan memeriksa kelompok dua dengan mengikuti jejak sihir alami dalam tubuh mereka.


Sementara itu, terlihat salah satu prajurit elf yang sedang merangkak dalam keadaan kedua kakinya yang sudah terpotong, meringis kesakitan.


Air matanya mengalir dari mata karena rasa sakit sekaligus rasa takut yang sedang membayanginya.


"Hiiiii.. Tolong aku..." Pintanya dengan suara yang hampir habis.


Dibelakangnya terdapat dua kapak yang sudah berlumuran darah sedang mengikuti jejak darah dari elf tersebut.


Dogol yang dalam sekejap menghabisi seluruh elf dan juga sekumpulan hewan buas, menyisakan satu untuk hidup sebagai makanan penutup.


Dogol mengekori setiap kemana elf itu merangkak. Wajah yang menyeramkan itu membuat elf tersebut merasa ketakutan. Karena mulai kehabisan darah dan lelah, elf itu memilih untuk menyandarkan diri pada sebuah batang pohon yang terjatuh.


Ia berbalik dan menatap Dogol yang sedang menuju kedekatnya.


"Tolong ampuni aku.." Mintanya gemetar.


Dogol tidak menjawab permintaannya dan terus berjalan mendekat.


"Tolong jangan bunuh aku.." Pintanya dengan rasa takut yang amat sangat.


Bayangan dari Dogol pun mulai menutupi elf tersebut. Tubuhnya tidak bisa berhenti gemetar saat Dogol sudah berada didekatnya.


"To - tolong.. biarkan aku hidup.." Pintanya sekali lagi sambil mendongak menatap wajah dogol yang tertutup darah.


Tiba - tiba Dogol menjatuhkan kedua kapak dari tangannya dan membuat elf tersebut terkejut sekaligus lega. Menganggap kalau Dogol membiarkannya untuk hidup, elf itu memberikan senyuman namun masih dalan keadaan bergetar.


"Terimakasih.." Katanya dengan wajah pucat.


Dogol pun tersenyum dengan gigi yang penuh taring.


"Sama - sama" Kata Dogol dan ia langsung menerjang muka elf tersebut dengan gigi - giginya.


"Akkkhhhhhhh!!!!" Teriak panjang Elf tersebut.


Dalam keadaan berkabut, terlihat Dogol sedang mengunyah wajah elf tersebut hingga membuat tubuh elf itu mengejang. Para orc yang lain hanya dapat melihat aksi yang dilakukan oleh Dogol dari kejauahan.


Setelah ia puas mengunyah bagian dari wajah elf tersebut, Dogol menarik wajah itu dengan kekuatan gigitannya hingga membuat kepala dari elf tersebut terputus.


Dengan mulut penuh darah, Dogol tersenyum.


"Ayo kita bergerak ke tempat selanjutnya.."