The Archon

The Archon
Pergerakan



Dalam pos tiga dimana Kenny diberikan kepercayaan sebagai pemimpin tunggal oleh Kan yang saat ini sedang dihadapkan dengan serangan aneh yang berasal dari kumpulan monster dari dalam hutan. Benteng pos tersebut berbentuk segitiga dengan pintu pertama gerbang berada disudut yang mengarah kehutan tersebut dan pintu kedua berada ditengah diantara dua sudut belakang. Disetiap sisi dan sudut tembok yang yang berbentuk segitiga itu terdapat masing - masing satu tower untuk memantau pergerakan dari segela sisi, tower yang berada dipintu pertama memiliki lubang untuk para prajurit belalulalang keluar masuk benteng, karena tower tersebut berdiri tepat didepan pintu masuk tersebut.


Serangan aneh yang dimaksud saat ini adalah mengenai pergerakan para monster tersebut, baru kali para monster yang berbeda spesies menyerang bentek secara serentak. Para monster yang sedang menuju benteng pos 3 antara lain adalah spesies tumbuhan, hewan buas dan juga monster roh yang mampu mengeluarkan serangan elemen.


Prajurit yang saat ini berada di pos 3 kurang lebih berjumlah 70 prajurit saja. Kenny memilih untuk tidak mengabarkan markas pusat yang berada di ibukota terlebih dahulu karena mengingat jumlah monster yang menyerang belum masuk dalam kode merah.


"Kalian para petarung jarak jauh! Persiapkan senapan, panah, tongkat sihir ataupun itu untuk menyerang mereka dari kejauhan..." Kata Kenny berbicara didepan mereka.


"Para petarung jarak dekat berkumpul di pintu gerbang pertama untuk menghabisi sisa monster yang hidup..." Sambungnya.


Wajah para prajurit terlihat sangat siap dengan serangan dadakan tersebut.


"Mari kita tunjukan pada tuan Kan kalau pos 3 bisa bertahan!" Semangat Kenny kepada pra prajurit.


"Yaaa!!!!!" Teriak para prajurit.


Kenny pun berbalik memunggungi para prajurit sambil mempersiapkan dua pistol miliknya dari sarung pistol tersebut.


"Ini akan menjadi sebuah perburuan yang menyenangkan..." Kata Kenny dengan senyuman.


Menjelang larut malam Rado yang baru saja kembali, segera melompat dari jendela ke jendela mencapai ruangannya yang berada di lantai teratas. Disaat ia mencapai jendela ruangannya yang memang tidak tertutup, Rado segera masuk kedalam ruangannya yang gelap.


"Siapa itu?!" Tanya Rado waspada tiba - tiba.


Lampu pun menyala terang dan terlihat Yoga sedang berdiri sambil menekan tombol saklar yang berada diruangan tersebut.


"Ternyata kau..." Hela napas Rado dan segera duduk dikursi favoritnya lalu melepas masker.


"Darimana kau?" Tanya Yoga.


"Berkeliling.." Jawab Rado singkat.


"Sampai semalam ini?" Sambung Yoga dengan cetus.


"Ya..." Acuh Rado sambil mengambil salah satu berkas dan ia terkejut dengan berkas yang sudah terstampel.


"Kami sudah menyelesaikannya untuk mu.." Jelas Yoga menjawab keterkejutan Rado.


Rado menaruh kembali berkas tersebut diatas mejanya, ia berdiri dari kursinya dan segera ingin melompat kembali melewati jendela. Yoga yang merasa kesal segera menggapai pundaknya dan menahannya untuk melarikan diri.


"Mau kemana kau?" Tanya Yoga dengan wajah gelap.


"Aku hanya ingin mencari udara segar.." Jawab Rado menoleh dengan senyuman tanpa bersalah.


"Kembalilah..." Kata Yoga meminta dengan dingin.


"Ok..." Terima Rado dengan santai.


Dalam ruangan itu, Rado dan Yoga berkesempatan untuk berbincang berdua sama seperti jaman mereka berada di bumi.


"Kenapa kau melakukan itu?" Tanya Yoga berdiri didepan Rado yang sedang terduduk kembali dikursinya.


"Aku hanya ingin bertemu dengan kakek dan Silvi.." Jawab Rado sambil melepas penat di kursinya.


"Hah.. Setidaknya kau bilang pada ku..." Hela napas yang kedua kalinya dari Yoga.


"Maaf.... Lalu bagaimana dengan Albert?" Tanya Rado bersandar santai dikursi dengan pandangan mengarah kepada langit - langit ruangan.


"Dia memulai operasi pembangunan kamp militer di distrik bawah..." Lapor Yoga.


Rado tersenyum lega mendengar itu.


"Sepertinya ia akan berubah sedikit demi sedikit..." Senangnya.


"Maksud mu?" Tanya Yoga penasaran dengan perkataan Rado.


"Dia itu.... Masih harus belajar menghargai status seseorang... Untuk mencapai negara yang menjunjung kesataraan aku ingin mengubah mereka yang berada diatas terlebih dahulu, meskipun itu tidak akan mudah..." Senyum Rado.


"Kau ini... Meskipun ini dunia fana, tetapi kau tetap memikirkan mereka..." Senyum Yoga.


Wajah Rado berubah seketika menjadi lebih serius.


"Menurut ku ini bukanlah dunia fana. Sudah beberapa lama kita berada disini, aku merasa kalau manusia yang hidup disekeliling kita diluar manusia yang tertransfer dari bumi, mereka juga memiliki emosi, cinta dan juga bisa menghadapi kematian..." Jelas Rado.


Yoga terdiam dan menatapnya dengan sungguh - sungguh.


"Yoga... Kalau kau menganggap mereka adalah ilusi, kau salah..." Sambung Rado dan menatap Yoga dengan tajam.


"Apa kau lupa kalau lawan kita adalah dewa? Bisa saja dewa keparat itu menciptakan manusia asli layaknya kita sekarang ini.." Tegasnya kepada Yoga.


Yoga terdiam tidak menyangkal sedikitpun perkataan dari Rado.


"Kau benar.. Maafkan perkataan ku..." Kata Yoga.


"Sebelum itu, ada laporan dari utusan tim Joon yang mengintai wilayah para dwarf.. Ia menyampaikan kalau para dwarf sedang merencanakan sesuatu.." Lapor Yoga.


"Merencanakan sesuatu?!" Tanya Rado cepat.


"Mereka terlihat memasukan banyak muatan yang ditutupi selimut... Tim Joon tidak dapat memastikan, apa yang berada didalam gerobak pengangkut tersebut.. Menurut mu, apa mereka merencanakan sesuatu?" Tanya Yoga.


"Aku masih belum mengerti dengan maksud mereka melakukan hal seperti itu, apa ada yang aneh akhir - akhir ini?" Tanya Rado setelah beberapa saat berpikir.


"Untuk sekarang ini belum ada laporan yang aneh lagi dari para divisi dua selain tim Joon..." Jawab Yoga.


Rado kembali berpikir dikursinya dan kali ini ia memegang dagunya.


"Kalau begitu katakan pada tim Joon untuk meluaskan pengintaian mereka pada wilayah dwarf.." Perintah Rado.


"Baiklah.. Aku akan mengatakannya kepada tim Joon sebelum ia kembali" Kata Yoga dan pergi dari ruangan Rado.


Kembali ke pos 3 dimana Kenny sedang menghadapi serbuan para monster.


"Tembak!" Seru Kenny.


Serangan jarak jauh dari para prajurit didelam benteng mulai dilepaskan. Berbagai macam sihir force, anak panah dan juga peluru menghujani serbuan para monster tersebut. Para monster yang berada digaris depan terkena serangan itu secara telak, namun tidak ada tanda - tanda perlawanan dari para monster itu. Seperti yang diketahui oleh para semua ras, kalau monster roh memiliki kekuatan untuk menembakan sihir mereka kepada musuh, akan tetapi kali ini tidak ada tanda - tanda mereka melakukan hal tersebut.


"Tuan Kenny! Serangan pertama berhasil merubuhkan garis depan para monster..!" Teriak prajurit yang berada ditower pintu pertama.


"Bagus! Tembakan yang kedua!" Seru Kenny sekali lagi dan hujan serangan pun kembali dilepaskan.


Serangan itu kembali menghujani serbuan monster dan berhasil menumbangkan beberapa dari mereka sekali lagi. Jarak antara gerbang dan serbuan monster mulai memasuki jarak yang tidak bisa dijangkau oleh serangan jarak jauh yang berada didalam benteng, kecuali mereka yang berada ditower depan.


"Bersiap!" Aba - aba Kenny kepada para petarung jarak dekat yang sudah bersiap dibalik gerbang.


"Tuan Kenny!" Teriak prajurit yang memantau pergerakan para monster.


Kenny yang mendengar itu menoleh kebelakang terlebih dahulu untuk melihat kesiapan mereka, setelah ia sudah memastikan kalau para prajurit sudah siap secara mental, ia beralih kembali kedepan dan mengusungkan salah satu pistolnya.


"Sekarang!" Seru Kenny.


Prajurit yang berada didalam benteng pun berlari keluar setelah pintu gerbang terbuka. Mereka dengan gagahnya menabrakan diri kekumpulan para monster yang sedang menyerang pos tersebut. Pertarungan yang berat sebelah itu dengan mudah dimenangkan oleh ras manusia tanpa korban sedikit pun. Bagian tubuh monster yang telah prajurit manusia bunuh, mereka manfaatkan dengan sangat baik sesuai dengan kegunaannya. Telebih bagian tubuh dari monster roh sangat lah berharga dalam berbagai bidang selain teknologi yang dikembangkan.


"Huft... aku kita akan menjadi suatu yang merepotkan.." Tawa lega salah satu prajurit.


"Hahahahaha atau.. mungkin kita yang sudah menjadi lebih kuat?!" Saut prajurit yang lain.


"Hei... Kalian jangan mengobrol... cepat bereskan monster - monster ini.." Senang Kenny kepada mereka.


"Hahaha sepertinya ini debut yang baik untuk anda tuan Kenny.." Ejek prajurit tersebut.


"Hahahaha ini belum seberapa..." Senyum Kenny.


Para prajurit mulai membersihkan sisa - sisa tubuh monster yang berserakan disana. Didepan Holy Essence yang mengelilingi benteng pos 3 tersebut, matahari mulai menunjukan eksistensinya kepada dunia. Burung - burung mulai saling bersautan menyambut datanganya pagi.


"Huuft... Karena banyaknya monster yang telah kita bunuh, membuat kita bekerja ekstra sampai pagi hari.." Keluh salah satu prajurit.


Untuk membunuh rasa lelah yang melanda mereka smeua, Kenny mempunyai sebuah usulan.


"Setelah ini bagaimana kalau kita berpesta dengan bahan makanan ini?" Usul sebuah Ide dari Kenny.


Semua prajurit terlihat senang dengan usulan yang diberikan oleh Kenny ditengah lelahnya mereka.


"Itu ide bagus tuan.." Jawab satu persatu prajurit menanggapi usulan tersebut.


"Dan juga jangan lupa melapor kepada markas pusat mengenai perkara ini.." Sambung Kenny tersenyum dengan kondisi lusuh penuh darah monster karena membersikan bangkai mereka.


"Baik tuan Kenny" Saut prajurit.


Setelah para prajurit kembali masuk kedalam benteng pos 3 dan gerbang utama tertutup. Dari dalam hutan dimana asal para monster muncul. Terdapat kelompok kecil yang sedang mengintai mereka dengan sebuah teropong panjang.


"Hei bagaimana hasilnya?" Tanya Dwarf dengan rambut jabrik kecoklatan.


"Sepertinya mereka telah menyelesaikannya.." Kata dwarf bertubuh gemuk sambil melepas teropong dari matanya.


"Lalu?" Tanya Dwarf muda tersebut.


"Sepertinya didalam benteng itu hanya terdapat puluhan prajurit dan tidak ada satupun dari mereka yang mengancam, Ayo kita kembali base dan melapor pada tuan Folk" Ajaknya


Kelompok kecil itu pun menarik diri dari hutan tersebut dan  berpindah menggunakan portal yang mereka tanam untuk memasuki hutan dibagian barat wilayah manusia. Jauh didalam hutan diperbatasan wilayah manusia dan elf, Folk membangun sebuah perkemahan didalam lebatnya hutan tersebut. Perkemahan itu didirikan dalam kurun waktu satu hari dengan kecepatan para Dwarf yang dikenal sebagai pengrajin dan petualang handal.


"Tuan Folk...! Barge telah kembali" Teriak salah satu Dwarf.


Kelompok kecil yang mengintai telah kembali ke perkemahan tersebut dengan sebuah senyuman.


"Bagaimana Barge?" Sambut Folk dengan senang.


"Sepertinya mereka tidak menyadarinya..." Lapor Barge, dwarf betubuh gemuk.


"Hahahahaha dasar bodoh mereka..." Tawa Folk.


Saat mereka sedang berbincang, kelompok dwarf yang lain mendekat membawa hadiah untuk Folk.


"Tuan Folk, kami membawa oleh - oleh untuk mu.." Kata dwarf berjenggot panjang hitam sambil melempar seorang manusia.


Orang tersebut adalah Joon yang tertangkap saat mengintai wilayah dwarf, ia terborgol dengan keadaan yang sudah berdarah - darah.


"Heee ternyata manusia memata - matai kita ya..." Senyum lebar Folk melihat tawanan tersebut.