
Malam hari itu juga aku dan Berto segera memacu mobilnya ke tujuan pertama kami, yaitu Guild MonsterHunter, guild peringkat tiga di Singapura. Ketua Guild MonsterHunter merupakan rival kapten Long Bai. Sejaka dulu kapten Long Bai dan ketua guild MonsterHunter selalu bersaing mengenai siapa yang terhebat didunia pemburu di negara SIngapura. Rivalitas mereka pun berlanjut sampai Kapten Long Bai dan ia masing-masing memiliki guild sendiri, mereka saling bersiteru mengenai guild mana yang telah berhasil menutup banyak dungeon setiap tahunnya.
Disepanjang perjalanan hati ku sunggug tidak tenang sama sekali mengingat kematian Long Bai. Amarah dan kesedihan menenggalamkan ku begitu saja. Aku masih tidak mempercayai kalau kapten Long Bai akan pergi secepat ini.
"Jujur... aku merasa kalau guild-guild yang bersiteru dengan guild BrotherHood bukan lah pelakunya.."
Aku menoleh kepada Berto setelah ia mengatakan itu.
"Apa yang membuat mu berpikir seperti itu?" Tanya Ku heran.
"Secara logika, jika ada salah satu orang masuk, maka ia akan ketahuan..." Berto berspekulasi sambil memegang kemudi.
"Jadi maksud mu?! Ada yang berkhianat?!"
"Mungkin.."
Perkataan Berto membuka mata ku, kenapa aku ini sangat bodoh? Kenapa itu tidak terpikirkan oleh ku? mungkin saja benar dengan apa yang Berto katakan kalau diantara kita ada yang berkhianat? Aku dibutakan oleh amarah dan kepanikan yang mana membuat ku tidak bisa berpikir jernih. Lagipula, reaksi dari pada anggota yang lain mengenai kematian kapten seperti orang yang tidak peduli, hanya ketakutan semata saja.
"Berto, Ayo kita kembali!"
"Heh?!" Ia terkejut karena keputusan ku yang mendadak.
"Mungkin perkiraan mu benar, mungkin saja ada yang berkhianat..Jadi, cepat ayo kita kembali"
Berto segera menyetujui apa yang kukatakan, ia dengan spontan memutarkan mobilnya tanpa memperdulikan mobil-mobil yang berlalu-lalang, karena aksinya itu kami dihujani klason dari mobil - mobil yang terhenti mendadak karena ulahnya. Awalnya aku merasa kalau kita berada dijalan yang seharusnya mengarah ke markas guild. Tetapi jika aku cermati, mengapa jalan yang diambil Berto berbeda seperti yang biasanya.
"Mau kemana kita?! Tanya ku heran.
Berto tidak menjawab pertanyaan ku dan tetap saja membawa mobil tersebut kejalan yang berbeda arah.
"Berto, apa maksud mu?!" Tanya ku sambil meninggi.
Tidak kusangka, Berto seketika tertawa terbahak-bahak setelah beberapa saat diam. Aku tidak mengerti dengan apa yang ia tertawakan. Tetapi entah mengapa, aku sangat kesal mendengar ia tertawa seperti itu. Ia bukan seperti Berto yang kukenal, aku merasa kalau ia mulai menjadi orang lain setelah sekian lama keluar dari guild.
"Berto...Jangan bilang kau.." Aku mulai mengerti dengan apa yang dia tertawakan.
Aku terkejut setelah berto mengacungkan sebuah pistol tepat didepan muka ku, ia mengacungkan pistolnya seperti orang yang sudah terbiasa menggunakannya sambil mengemudi.
"Hoi.. ini tidak lucu... apa pistol seperti itu masih bisa berguna terhadap pemburu top seperti ku?" Aku mencoba untuk menggertak secara halus.
"Apa kau ingin mencobanya?" Tantangan dari Berto membuat ku sedikit ragu.
"Aku masih tidak mengerti.. apa maksud mu begini? Bukankah kita akan kembali ke guild BrotherHood untuk menangkap pembunuh Long Bai?" Aku mencoba untuk mengulik sesuatu dari dirinya.
"Hah... kenapa aku harus berbicara seperti itu tadi.. Seharusnya kita terus saja dan ketempat dimana aku sudah menyiapkan kematian mu dengan sempurna.. Kau benar-benar sudah berubah ya Wen Li, kau cepat mengambil keputusan, namun tetap saja bodoh..." Katanya sambil tersenyum dengan pistol yang masih mengarah kepada ku.
Rasanya seperti tersambar petir mendengar Berto berbicara seperti itu. Jantung ku berbedar sangat cepat karena situasi yang sangat menyudutkan ku ini.
"Apa yang harus ku lakukan?! Meskipun aku seorang pemburu hebat, tetap saja kalau kepala ku ditembak oleh pistol model lama, aku akan tetap mati!' Pikir ku mencari cara untuk lari dari mobil tersebut.
Aku hanya bisa terdiam melihat kearah Berto yang masih mengemudikan mobil ini dengan tujuan yang tidak ku ketahui.
"Apa aku akan mati menyusul kapten? Tapi mengapa Berto melakukan ini?! Ini aneh..tapi.."
Aku mulai tersenyum karena tidak ada pilihan lain, memberontak pun tidak menjami aku bisa menang dari Berto.
"Tembak saja... Aku sudah siap untuk itu.." Tantang ku dengan penuh kepasrahan.
Tapi tidak disangka-sangka Berto malah menurunkan pistolnya dari wajah ku.
"Aku tidak bisa.." Katanya setelah menurunkan pistol itu.
Aku merasa lega setelah ia menurunkan pistolnya tetapi sekaligus juga heran, mengapa ia tidak malakukannya?
"Aku tidak sanggup membunuh mu.." Kata Berto dengan nada sedikit melunak.
Melihat kesempatan ini, aku segera memberontak dan membelokan kemudi kearah samping kiri dan menyebabkan kecelakaan. Mobil yang kami tumpangi menabrak sebuah pohon dan menyebabkan kap mobile mengeluarkan asap putih. Kepala ku sedikit pusing karena membentur dashboard mobil dan terluka. Demikian juga Berto, ia juga terbentur kemudi dan mengakibatkan pelipisnya berdarah.
Tanpa berpikir panjang, aku segera memukulnya berkali-kali didalam mobil dan memaksanya untuk berbicara.
"Apa maksud mu tadi?! Kau berniat membunuh ku?! Apa kau juga yang membunuh kapten?!" Kesal ku sambil menatapnya dengan marah.
Berto yang awalnya masih lemah akibat kecelakaan tadi, mulai sadar dan membalikan pukulan ku dengan balasan yang amat menyakitkan. Ia memfokuskan force ketinjunya dan memukul ku dibagian ulu hati. Pukulannya itu serasa seperti sebuah godam besar, aku tersentak dan merasakan sakit serta mual dengan pukulan yang diarahkan tepat pada bagian itu.
Aku tidak tau dengan keadaan diluar mengenai kecelakaan kami dan keributan yang terjadi, tetapi saat ini aku merasa kesal dengan dirinya. Aku hanya bisa terduduk menyender dipintu bagian dalam sambil melihat kearahnya, aku lemas dan tidak berdaya karena syok setelah Berto mengatakan itu.
"Hah... Rasanya aku ingin mati saja..." Dalam pikir ku saat ini.
"Kau... meskipun kau kuat dalam segi kekuatan.. tetapi mental mu tetap saja lemah.." Ia berbicara sambil terengah-engah.
"Bukan aku yang membunuh Long Bai" Sambungnya.
"Apa kau sedang menipu ku?" Aku tidak percaya begitu saja kali ini.
Berto segera duduk seperti semula di kursi mobilnya, "Aku mengatakan yang sesungguhnya.."
"Lalu siapa yang membunuh kapten?" Tanya ku masih dalam keadaan lemas.
"Entah... tapi kau juga dalam bahaya Wen Li, kalau kau mengikuti Long Bai menentang orang itu.."
"Ah.. sekarang aku mengerti...." Dalam benak ku setelah mendengar Berto berbicara.
"Yah.. Kalau kau masih terlihat berpihak kepada Long Bai... Tapi nyatanya aku tetap tidak bisa membunuh mu"
"Hahahahaha... apa jangan-jangan orang pemerintahan itu hanya formalitas?"
Pertanyaan ku itu hanya dijawab dengan anggukan oleh Long Bai. Aku tidak bisa berhenti tertawa setelah mengetahui fakta yang baru saja terungkap ini.
"Saat itu setelah operasi pembunuhan Long Bai dimulai, aku juga ditugaskan untuk segera menjemput mu di menara dan memperhatikan mu, bila kau acuh terhadap kematiannya.. maka kau selamat, bila sebaliknya.. maka kau harus ikut mati"
"Kenapa aku juga harus ikut mati?"
"Karena kau sama berbahayanya dengan Long Bai.." Berto menoleh kearah ku dengan tatapan serius.
"Apa kau tunduk sekarang dengannya?" Tanya ku kepada Berto.
"Dia adalah penguasa di asia tenggara... tidak ada yang bisa kita lakukan untuk melawannya, daripada aku mati sia-sia.. lebih baik mengikuti perintahnya.." Berto dengan wajah terlihat pasrahnya.
"Apa itu insting dari seorang yang cerdik?" Tanya ku sedikit mengejek.
"Yah.. itu insting ku untuk bertahan hidup, aku masih belum boleh mati karena masih banyak hal yang harus kulakukan, dan kumohon lebih baik kau juga ikuti perintahnya agar tetap bisa hidup" Pintanya kepada ku.
"Hah! Lebih baik aku mati saja daripada harus menjadi Anj*ing orang itu... Kau ini bukan Berto yang ku kenal dulu.. sekarang ini kau hanyalah seorang pengecut yang takut oleh satu orang saja" Aku terbangun dari lemas ku dan kembali meninggi.
Berto tersenyum kepada ku, "Kau tau mengapa Long Bai memberikan misi kepada mu secara tiba-tiba?" Tanya Berto.
"Eh?! Bagaimana kau ta-" Tanya ku yang tidak sempat ku selesaikan kepadanya.
"Tunggu dulu?! Dia bisa menjemput ku pas setelah aku mendapat kabar kematian kapten, itu sudah aneh bukan?" Aku sedikit terkejut dan menatapnya.
Ia tersenyum lagi kepada ku, "Yah.. kami sudah memata-matai kegiatan kalian dari seminggu yang lalu dengan mengirim penyusup yang berada didalam guild kalian.."
"Penyusup?! bagaimana bisa?!" Tanya ku lagi.
"Penyusup itu adalah anggota kalian sendiri yang kami khasut dan kami iming-imingi sebuah hal yang bagus untuk kedepannya"
Aku tertawa seperti orang gila mendengar fakta tersebut, aku tidak menyangka kalau benar-benar ada pengkhianat didalam guild BrotherHood. Sementara itu aku merasa kalau orang-orang mulai berdatangan kearah kami karena asap dari mobile tidak kunjung hilang.
"Satu pertanyaan lagi! Apa Kapten melindungi ku?" Aku menghentikan tawa ku.
"Yah.. dia melindungi mu.." Berto tersenyum lagi pada ku.
"Sialan.. kenapa dia keren sekali..." Aku mendongak keatas sambil tersenyum.
"Jika menyangkut firasat, sepertinya aku tidak bisa mengimbanginya" Kata Berto tersenyum.
Aku mulai sedikit bingung dengan jalan yang akan ku ambil setelah ini, aku merasa kalau kapten Long Bai ingin aku tetap hidup. Tetapi disisi lain, aku tidak ingin menjadi seorang anj*ing dari orang keji seperti orang itu. Ini adalah sebuah pilihan yang sulit, kesenangan dalam diri ku sudah mulai hilang, aku seperti orang yang sudah tidak memiliki nyawa namun tetap sadar.
Tapi, Sepertinya pengorbanan dari kapte Long Bai harus diapresiasi oleh ku. Kalau aku mati, sama saja aku membiarkan kapten Long Bai mati dengan sia-sia.
"Baiklah aku akan mengikuti saran mu.."
Berto pun tersenyum setelah mendengar keputusan ku, dan kami pun memutuskan untuk minggalkan mobil, lalu beralih menggunakan transportasi umum. Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan apa yang telah aku putuskan dan semoga ini bukanlah suatu keputusan yang salah. Tetapi, dibalik itu semua ada rasa dendam yang amat mendalam kepada orang itu, karena telah membunuh orang yang sangat berarti untuk ku.
Kami pun turun ditengah perkotaan dan segera menuju kesebuah gedung yang diduga milik orang tersebut. Saat kami berjalan masuk, kami ditahan terlebih dahulu oleh dua orang penjaga dengan jas rapih yang mereka kenakan.
"Apa kau tidak membawa senjata?" Tanya penjaga itu kepada ku.
"Ah...tidak" Jawab ku singkat karena kecerobohan ku yang meniggalkan dua kapak ku didalam bagasi mobil milik Berto.
Kami pun dipersilahkan masuk kedalam dan ada seorang mengenakan jas dengan kacamata hitam sudah menunggu kami.
"Aku Goro.. Tuan Gozie sudah menunggu kalian.." Kata orang berjas itu kepada kami.
Kami pun diantar olehnya kesebuah lantai teratas digedung tersebut. Kami berjalan didalam sebuah lorong panjang yang dihujung lorong tersebut ada sebuah pintu yang cukup mewah. Setelah kami sampai didepan pintu tersebut, orang yang mengantar kami dengan segera membukakan pintu ruangan itu dan kami pun dipersilahkan masuk.
Didepan kami sudah ada seorang pria yang mengenakan jas dengan cerutu yang sedang ia hisap. orang itu memiliki aura yang hebat dan jika dibandingkan oleh kapten Long Bai, mungkin dia lebih kuat darinya. Orang yang mengantar kami bergegas berjalan dan berdiri dibelakang pria itu layaknya seorang pengawal.
"Tuan Gozie.." Sapa Berto yang berada disamping ku.
"Heh?! Jadi dia orang yang bernama Gozie itu?!" Aku terkejut.
Orang itu beberapa saat masih menatap kami sebelum membuka pembicaraan.
"Jadi kau yang bernawa Wen Li... Kalau kau masih hidup, berarti kau memilih untuk menjadi orang ku bukan?" Tanyanya dengan logat yang sedikit seperti seorang bos mafia.
"Y-yah... aku akan menjadi bawahan mu.." Jawab ku dengan singkat.
Disela keheningan itu, aku merasa kalau orang itu sedang bertatap-tatapan dengan Berto. Entah apa yang mereka bicarakan lewat kontak mata itu, tetapi bagi ku tidak penting sekarang. Sekarang ini yang aku pikirkan hanya satu. Bagaimana membunuhnya kelak.
"Bagus... kalau begitu kau boleh keluar.." Perintahnya kepada ku.
"Eh?" Aku terheran karena hanya begitu saja, "Lalu apa gunanya aku dibawa kesini?" Sambung ku dalam benak.
Berto melirik kearah ku dan memanggut, aku pun mengerti dengan maksudnya dan segera keluar dengan keadaan heran.
"Dasar om-om ga jelas... hanya begitu saja?! Buang-buang waktu ku saja.. tapi.." Aku mengeluh dalam hati sambil berjalan meniggalkan ruang itu.
Tetapi saat aku baru beberapa langkah keluar dari ruang tersebut, aku merasa seperti mendengar sebuah tembakan yang diredam. Tetapi aku hanya berpikir positif, mungkin itu hanya bayangan ku saja dan aku terus melanjutkan langkah ku untuk meninggalkan gedung ini. Namun, entah mengapa, setelah pertemuan ku dengan orang bernama Gozie itu, sampai detik ini aku tidak pernah bertemu dengan Berto lagi.
"Mungkin dia sibuk" Pikir ku sebelum memulai Raid yang baru ini.