
Didalam kamar yang luas itu semua aktifitas pertarungan terhenti, saat ini Rado hanya bisa terkejut mendengar fakta kalau dia memiliki seorang kakak perempuan yang selama ini tidak ia ketahui. Sosok kakak yang membekas dikepalanya hanya kevin saja, tetapi hari ini ia merasa bingung dengan keadaan yang sedang ia hadapi.
"Kau berbohong! Ibu dan ayah ku memberitahu ku kalau aku adalah anak satu-satunya" Tepis Rado akan fakta tersebut.
Silvi segera beranjak dari tempat ia dijatuhkan dan melindungi Martinez dari Rado.
"Kumohon jangan bunuh kakek... hidupnya sudah menderita setelah kepergian ayah" Kata Silvi sambil menitikan air mata.
"Ayah? Ayah kata mu?! Aku tidak akan terbuai oleh mu!" Hal yang sama mulai terjadi pada dirinya seperti sebelum-sebelumnya. Bila menyangkut hal yang emosional seperti keluarga akan membuat dirinya menjadi lepas kendali.
Rado perlahan maju kearah mereka berdua dengan mata yang menyudutkan, force yang ia keluarkan saat ini tidak teratur, barang-barang yang ada disanapun mulai bergeser dan bergetar. Lucy Cs yang saat ini berada diluar saat merasakan force yang sudah tidak asing bagi mereka segera berlari kedalam mansion tersebut.
"Ini aura force kapten!!! apa yang terjadi padanya?!" Tanya Lucy..
"Kita harus cepat!" Kata Bobby menjawab Lucy.
Mereka bertiga berlari menyusuri lorong mansion menuju force yang mereka rasakan. Saat itu aura force Rado keluar dari salah satu ruangan, semakin mereka mendekat tekanan force tersebut mulai membuat mereka sulit untuk masuk kesana.Mereka terus mencoba untuk masuk kedalam ruangan itu dan pada akhirnya ia melihat kaptennya itu sedang meluapkan kekesalannya. Wajahnya sangat kesal karena suatu hal yang belum mereka ketahui penyebabnya.
"Jangan membohongi ku!" Rado membentak sekali lagi.
"Aku sedang tidak membohongi mu.." Dengan santai Martinez menjawab pertanya Rado.
Saat itu Lucy mencoba untuk menenangkan Rado dan mencoba untuk mendekat, "Kapten.."
"Diam!" Rado menoleh kearah Lucy yang mendekat dengan amarah yang meluap.
"Selama ini aku hidup sendiri setelah kematian mereka! Apa kau mengerti perasaan ku? Hidup ku sulit dan hampir terbunuh disetiap raid yang aku ikuti... Lapar, keputuasaan dan kesepian menjadi suatu yang harus aku terima selama bertahun-tahun..."
Mereka semua terdiam mendengar Rado mengoceh.
"Aku sudah bersusah payah untuk mencapai ketitik ini dengan tekad ku sendiri! dan pada akhirnya aku menemukan seorang paman yang ku kira dia menerima ku tulus, tetapi ia hanya ingin memanfaatkan ku... Setelah aku mencoba untuk tidak percaya siapa-siapa lagi.. kau datang dan mengatakan kalau kau itu kakak ku?! Jangan berbicara omong kosong!"
"Tapi.." Silvi mencoba untuk menenangkannya.
"Tapi apa?! Cukup! lebih baik kau mati seperti keluarga Alavonte yang lain"
Saat Rado ingin membunuh Martinez dan Silvi, Silvi segera melompat kearahnya dan memeluk Rado. Ia memeluk Rado dengan erat dan menangis ditubuhnya.
"Bau ini..?"
Sekilas Rado mencium bau ibunya dari Silvi dan juga sekilas ada ingatan semasa ia kecil mengenai seorang perempuan dengan wajah samar menggenggam erat tangan Rado kecil.
"Ibu... siapa nama adik kecil ku ini?" Kata perempuan kecil itu.
"Dia Rado... dia adik mu yang baru saja berumur 2 tahun"
"Wah.. dia tampan" Kata perempuan itu sambil memandangi wajah Rado kecil.
"Nona Silvi.. waktunya sudah habis, ayo kita kembali" Kata pria berjas yang saat itu mendampingi SIlvi.
"Eeee... tapi aku ingin tinggal di Indonesia!" Rengek Silvi.
"Tidak bisa.. dinegara ini sangat berbahaya untuk nona, tuan Martinez berkata kalau kau hanya boleh sehari disini"
Saat Silvi merengek, ibunya menghampiri dan mengusap kepalanya.
"Silvi.. bersabarlah, saat konflik antara keluarga ini selesai.. kita akan bersama lagi"
"Baiklah.." Silvi menerima bujukan dari ibunya dengan sedih.
Rado yang saat itu masih kecil hanya bisa melihatnya dengan ketidaktahuan anak-anak. Setelah mengingat kejadian tersebut Rado baru tersadar kalau apa yang dibilang oleh Martinez kakeknya adalah benar.
"Kau..." Tangannya bergetar setelah mengingat hal itu dan ingin sekali memeluk kakaknya itu, namun ia mengurungkan niatnya.
Dalam dirinya sekarang ada rasa penyesalan karena hampir membunuh keluarga satu-satunya yang tersisa.
"Maafkan aku.."
Setelah kata maaf keluar dari Rado, SIlvi menarik wajahnya dari tubuh Rado dan tersenyum kepada adiknya yang sudah besar itu.
Force yang semula berkecamuk itu menyusut kedalam tubuh Rado, ia mulai tersenyum dan bertekad akan melindungi keluarganya yang tersisa.
"Rado..." Martinez memanggil. "Jadilah jembatan untuk menyatukan keluarga yang bersiteru ini, mungkin diluar sana masih ada keluarga Morctis yang dendam terhadap keluarga ku ini, tapi jika kau mengemban nama kedua keluarga ini, mungkin ini akan menjadi keluarga yang kuat"
Rado menatap dalam kearah mata kakeknya itu, "Keluarga Alavonte merupakan penjahat dunia yang bersembunyi dalam bayangan, mungkin setelah berita mengenai runtuhnya keluarga ini, maka sisa keluarga ini akan diburu"
"Tidak.. itu tidak akan terjadi bila kau yang mengambil alih keluarga ini, dulu keluarga Alavonte memang terkenal atas kejahatannya, tetapi ada fakta yang sebenarnya harus kau ketahui.. beberapa tahun yang lalu sebenarnya keluarga Alavonte sudah berniat untuk meninggalkan bisnis kotor ini karena taring keluarga kita yaitu ayah mu menemukan seorang wanita idamannya saat misi dan mulai melunak"
"Aku juga sempat lelah dengan semua ini, dan ingin mengubah keluarga menjadi lebih baik.. dalam dunia mafia seorang bapak akan merasa sedih bila anak-anaknya terbunuh oleh peperangan.. tetapi Gozie menentangnya, ia berkata kalau kita tidak bisa meninggalkan bisnis yang sudah bertahun-tahun dijalankan"
"Pada akhirnya, ayah mu pergi meninggalkan keluarga dan aku dikurung dikamar ini karena dianggao sudah tidak becus menangani keluarga, beberapa bulan kemudian, Silva datang kembali kerumah diam-diam membawa seorang anak perempuan yang cantik, dia adalah Silvi.. jadi selama ini ayah dan ibu mu sudah mempunyai hubungan gelap jauh dari yang kita tau, setelah ia memberikan Silvi pada ku.. ia pergi untuk menikah dan tak pernah kembali"
Rado terkejut mendengar cerita yang sebenarnya dari kakeknya itu, dan saat itulah Rado mulai bertekad untuk menciptakan dunia yang nyaman demi kehidupan keluarganya.
"Baiklah.. aku akan mengemban tanggung jawab mu itu"
Rado mulai tersenyum dengan bahagianya, Lucy Cs dan beberapa orang didalam ruangan itu juga ikut bahagia saat melihat keluarga yang terpisah itu mulai bersatu. Setelah mereka keluar dari mansion itu, rumor tersebar dengan cepat mengenai runtuhnya kediktatoran keluarga Alavonte dan sorakan warga Italia menyambut datangnya era baru dinegara tersebut.
Ting~~~ Suara Sistem berbunyi..
Status transfer 47%
-Point Skill-
Close Range 79/100
Ranger 23/100
Aura Kepemimpinan 49%
Drttt-- Drrttttt...
Smartphone miliknya bergetar dan nomor milik telepon ruangan kerja Gozie memanggil.
Rado menerimanya, "Hallo.."
"Tuan.." Suara Goro memanggil.
"Hmm kalau kau bisa menelpon diruangannya, brati kau sudah berhasil membereskannya?" Rado tersenyum.
"Seperti yang anda mau"
"Bagus... disini juga sudah selesai"
"Selamat atas pencapaian anda..." nada Goro terdengar ikut senang.
"Bagaimana dengan dungeon itu?" Tanya Rado mengenai Black Dungeon.
"Saat ini saya sudah menyerahkannya pada Wen Li.."
"Wen Li... yah.. aku tenang kalau dia yang memimpin, kalau begitu sampai nanti"
"Baik"
Telepon pun terputus.
Sementara itu pemburu yang sejak tadi mengintai, mengeluarkan telepon genggamnya dan menghubungi seseorang.
Telepon itu pun tersambung, "hallo?"
"Ah.. tuan Richard.. sepertinya pemuda itu berhasil menenggulingkan Italia" Kata pemburu tersebut.
"Hahahaha kalau begitu, tunggu disana... kami akan terbang kesana sekarang"
Telepon pun dimatikan dan para petinggi PPMD mulai siap terbang ke negara Italia untuk memetik buah yang sudah matang.