The Archon

The Archon
Permulaan



Didekat pesisir pantai aura hitam pekat menyelimuti tubuh Rado yang dikuasai rasa amarah atas kematian Nara yang telah dibunuh oleh Vasco didepan matanya. Para pemburu yang menjadi lawannya sekarang merasa terkejut akan kehebatan aura tersebut. Wajah panik disertai takut terpampang jelas di wajah mereka saat ini. Vasco yang telah melakukan kesalahan fatal tidak menduga kalau Rado akan menjadi seperti itu.


"Kekuatan macam apa itu?!" Tanya Baldrik dengan wajah panik.


Semua penonton juga ikut terkejut dengan kekuatan dahsyat dari Rado.


"Raja!" Seru seorang penonton disebuah kota.


"Raja?" Tanya salah satu orang disekitarnya.


Beberapa saat mereka mereka terpukau akan kekuatan yang maha dahsyat serta lambang dari demicles yang menarik perhatian. Akhirnya mereka semua kompak menyerukan kata Raja untuk Rado. Berita diseluruh platform menampilkan headline yang serupa, yaitu lahirnya sang Raja.


"Raja! Raja! Raja!" Teriak semua orang yang sedang menyaksikan.


Dilain sisi, didalam markas yang telah membunuh Mye. Salah satu orang juga sedang tertelan oleh amarah. Yoga yang saat itu dibutakan oleh amarah pun berteriak sekuat tenaga hingga memacu lambang demiclesnya bertransformasi lagi menjadi lebih besar.


"Wakapten?!" Seru Lucy terkejut melihat Yoga yang saat ini menangisi Mye.


Lucy dan yang lainnya saat menyaksikan itu tidak kalah terkejutnya, misnteri dari lambang tersebut masih menjadi sebuah pertanyaan bagi mereka yang awam. Hanya Rado dan mereka - mereka yang menyandang lambang tersebut tau akan resiko dan peran mereka dimasa mendatang.


Jaquile yang berada didalam markas tempat Nara disekap merasakan dua aura yang sama namun berbeda kekuatan.


"Perasaan ku tidak enak!" Kata Nagatomo yang baru saja dibebaskan.


"Cepat ayo kita keluar!" Perintah Jaquile kepada mereka yang lain.


Disebuah tempat yang berbeda, Julie dan para kapten dari guild Indonesia pun juga merasakan aura yang sama.


"Aura apa ini?!" Tanya Rudy yang gelisah.


"Arahnya dari luar!" Kata Kan.


Mereka pun segera berlari keluar dengan wajah panik akan kekuatan misterius ini, tim Julie dan Jaquile pun bertemu kembali disebuah persimpangan.


"Kalian?!" Jaquile terheran dengan pertemuan mereka.


"Apa kau merasakannya?!" Tanya Rudy.


"Ya ini kekuatan yang besar!" Kata Jaquile.


"Ayo cepat kita keluar!" Kata Rudy mengajak mereka.


Setelah mereka berhasil keluar dan bertemu kembali dengan teriknya matahari, mereka pun tertegun mendapati Rado yang sudah dalam balutan force kehitaman serta mata yang menyala keunguan.


"Rado?!"


Sontak Jaquile dari kejauahan, Julie yang melihat Rado seperti itu pun juga tidak kalah terkejutnya.


{Awakening Aktif}


Aktifnya skill tersebut membuat Rado menjadi lebih kuat, ditambah dengan skill Combat Mastery yang masih aktif membuat dirinya mendapat sebuah kekuatan tambahan sebesar 70% Attack Power, Kecepatan 40% dan 90% Kritikal dalam kurun waktu 40 detik.


Tanpa membuang waktu Rado pun berjalan perlahan kearah mereka dengan tekanan aura yang sangat mengintimidasi. Para pemburu yang ketakutan dipaksa ragu untuk mendekat, insting mereka mengatakan kalau mereka melawan dirinya sama saja dengan mati.


"Hei apa yang kalian tunggu?! Serang!" Perintah Baldrik.


Perintah dari pemimpin mutlak yang tidak bisa disangkal membuat pasukan khusus dan beberapa pemburu yang lain maju dengan rasa putus asa. Mereka menyerang bersamaan kearah Rado dengan jumlah 500 orang.


"Baldrik tunggu! Ini gawat!" Kata Richard merasakan sesuatu.


"Tuan Vasco! Kita harus mundur!" Panggil Steven yang berada disampingnya.


"Mundur?! Sejak kapan kau menjadi pengecut? Kita akan menyerang nya bersama yang lain!" Kata Vasco tersenyum.


"Tapi-"


Sebelum Steven berhasil menarik mundur Vasco, pandangannya menjadi bergetar bersamaan dengan Vasco yang terdiam kaku. Perlahan pandangannya jatuh kebawah padahal ia tidak rubuh. Beberapa saat sebelum otaknya mati, matanya masih merekam apa yang terjadi. Ternyata dalam hitungan detik itu Rado dengan cepat sudah menebas dirinya, Vasco dan 500 orang lainnya.


Mereka serentak jatuh dalam waktu yang hampir bersamaan. Rado yang tak terlihat itu sudah berdiri beberapa meter dekat dengan garis pasukan selanjutnya, ia berjalan santai sambil memegang dua senjatanya yang berlumuran darah.


"A-"


Mereka semua terkejut melihat kemampuan yang tidak bisa dikuti mata tersebut telah membunuh 500 orang dengan mudahnya. Jaquile dan mereka yang menyaksikan itu tidak kalah terkejutnya, sampai - sampai mulut mereka tidak bisa menutup karena aksi yang sulit dicerna oleh nalar.


"Hei a-apakah itu kapten mu?" Tanya Jason kepada Jaquile.


"Dia memang Rado.. tapi aku tidak tau apa dia Rado yang aku kenal.." Jawab Jaquile.


"Iblis! Telah datang, selamatkan diri kalian!" Ringkuh ketakutan dari Nikolai yang sedang berada di sel tahanan.


"Tembak! Tembak!!!!" Teriak Baldrik cemas.


Para Ranger dan juga mage segera mengarahkan serangan mereka dengan berbagai elemen force dan berbagai jenis amunisi yang mereka punya. Namun kombinasi serangan dari begitu banyaknya ranger dan mage bukanlah hal yang menyudutkan Rado. Ia memang terkena hujan dari serangan tersebut akan tetapi ia masih berdiri kokoh ditempat ia berdiri sekarang ini dengan aura yang masih mengintimidasi mereka.


"Tidak mungkin!" Kejut Richard dan Baldrik.


Dan terlihat para pemburu yang tersisa mulai merasa terancam.


{Awakening akan berakhir dalam 20 detik}


Rado pun bersiap kembali untuk menebas mereka yang tersisa. Para pemburu yang lain semakin takut dan mulai meninggalkan senjata mereka untuk mencari perlindungan kebarisan belakang dimana para petinggi berdiri.


"Apa yang kalian lakukan?! Kembali! Kembali! Teriak Baldrik dengan kepanikan" Melihat pasukan berlari kearahnya.


"Devian! Pergilah! kau masih terlalu muda untuk mati" Kata sang kakek kepada cucunya.


"Tidak.. Aku akan tetap bersama mu!" Tolak Devian.


"Lucero... Jangan berpikir untuk lari.." Kata Bernardo.


"Tapi..." Tatap Lucero kepada Bernardo.


"Apa kau takut?!" Tatap Bernardo kesal.


Disaat yang bersaman Jaquile yang sudah berada di belakang bersiap untuk menghadang rute pelarian mereka.


"Kalian!" Toleh Baldrik melihat Jaquile dan yang lainnya hadir dibelakang mereka.


"Kita terkepung!" Kata Richard sambil melirik kedua sisi.


Disituasi ini Baldrik merasa gelisah. Dia harus mencari jalan keluar dari pertempuran ini karena ia merasa kalau Rado bukan lagi seorang yang bisa ditangani oleh mereka. Dengan tidak hormat setelah ia memerintahkan pasukannya untuk tetap tinggal, Baldrik malah memlih lari kebelakang dan mencoba untuk menerobos melewati Jaquile.


"Aku belum boleh mati! Aku harus pergi dan mencari cara untuk mengalahkannya lain wakut" Dalam benaknya ia berlari kebelakang.


"Baldrik?!" Panggil Richard yang terkejut melihat Baldrik melarikan diri.


Karena melihat Baldrik meninggalkan komando, maka tidak ada lagi yang menghentikan pelarian para pemburu yang sudah terjadi itu. Richard yang masih berdiri teguh mencoba untuk menghentikan lautan para pemburu yang sedang berlari kearahnya. Namun sekali lagi, didepan matanya, Richard melihat para pemburu yang sudah tidak ada niat untuk bertempur, kembali tewas mengenaskan hanya dengan sekali hentakan dari seorang Rado.


Sekitar 1500 pasukan sudah dihabisi begitu saja oleh Rado. Sekarang ini didepan para petinggi yang tersisa ada  sesosok iblis dengan wadah manusia berdiri tegap menatap tajam kearah mereka. Tenggorokan yang mengering itu Richard paksakan untuk menelan air liurnya, ia merasa kalau ajalnya akan menghampirinya sebentar lagi. Rado pun kembali berjalan perlahan kearah barisan para petinggi yang sudah tidak ada penjagaan. Dilain sisi Baldrik yang lari terluntang - lantung kearah belakang dengan segera menyiapkan force sihir untuk membubarkan barisan yang menghadang.


Sihir Api yang sangat kuat pun dilepaskan oleh Baldrik, namun ternyata Yoga yang datang tiba - tiba segera menghalau api tersebut dengan sangat mudah, terlebih lagi tanpa menunggu jeda ia segera maju dan menusuk Baldrik dengan cepat. Baldrik yang tidak menyangka kalau seorang tanker bisa bergerak secepat itu pada akhirnya tidak bisa menghindari itu dan membiarkan bilah pedang tersebut bersarang ditubuhnya.


Dengan darah yang keluar dari mulutnya dan nafas yang mulai tersenggal - senggal Baldrik berteriak. "Kalian semua keparat!!!!!!" Teriakan terakhir dari pemimpin PPMD itu sambil menyiapkan sebuah bom bunuh diri.


Yoga yang terkejut pun segera melompat kebelakang dan meninggalkan pedangnya. Ledakan yang besar pun terjadi dengan jarak yang sangat dekat. Tetapi sekali lagi, force yang diberikan oleh Rado melindunginya dengan sangat baik, Ia mampu bertahan dibalik perisainya yang sudah diperkuat oleh force sang pendamping.


Setelah kepulan asap yang disebabkan oleh bom bunuh diri itu, Jaquile segera berteriak kepada Yoga.


"Yoga! Cepat hentikan Rado! Kalau tidak, dia akan membunuh semua orang yang berada didepannya!" Panggil dan peringatan dari Jaquile.


Yoga yang menoleh kearah Jaquile segera beralih melihat kedepan.


"Devian?!" Serunya terkejut melihat Devian dalam bahaya.


Rado pun mulai mencondongkan tubuhnya kembali untuk melancarkan serangan terakhirnya sebelum efek Awakening habis. Melihat itu Yoga pun juga ikut bereaksi dengan cepat dan segera berlari kearah mereka yang tersisa.


Rado pun melesat. Para petinggi yang berdiri tanpa persiapan hanya bisa terdiam kaku menunggu ajal mereka. Rado yang saat itu sudah mantap untuk membunuh sisa - sisa orang PPMD pun harus dihentikan oleh seorang Yoga yang datang menghalau menghentikannya dengan perisai. Sebuah ledakan force yang diakibatkan oleh benturan pedang dan perisai pun hingga membuat sebuah lubang disekitar mereka.


Rado berhasil dihentikan dengan susah payah oleh Yoga yang saat itu juga terdorong karena tidak sepenuhnya bisa menahan serangan tersebut dan para petinggi yang selamat hanya bisa menatap kedua orang tersebut sedang melakukan kontak senjata.


"Yoga!" Panggil Devian cemas.


Yoga pun menoleh kearah Devian. "Larilah kalian dari sini!" Pinta Yoga, namun mereka hanya memandanginya saja.


"Yoga minggir.." Perintah Rado.


Yoga beralih kembali menatap Rado. "Tidak! Kau sudah kelewatan, sadar lah Rado!" Yoga mencoba menyadarkannya.


"Ku bilang minggir!" Rado menendang perisai Yoga dan membuatnya terpental kedepan para petinggi tersebut.


Yoga yang masih mampu berdiri mencoba sekali lagi untuk menghadang Rado.


"Kau kenapa?! Kenapa kau terlihat seperti orang yang berbeda?!" Tanya Yoga berterteriak.


Rado tidak menjawab pertanyaan itu.


"Kalau kau tidak ingin minggir aku akan membunuh mu juga!" Rado memperingatkan dirinya.


Saat itu medan pertempuran menjadi sangat tegang dengan Rado yang tidak bisa dikendalikan oleh kata - kata. Julie yang sejak tadi hanya berdiam diri, memlih untuk berlari kearah Rado dengan nekat.


"Julie!" Teriak Watz yang saat itu tidak sempat menggapai tangannya.


Julie terus berlari tanpa gentar untuk menghentikan Rado yang saat ini sedang ditutupi rasa amarah.


"Apa yang membuat mu begini?" Tanya Julie dalam hatinya.


"Ini bukan seperti dirimu.." Sambungnya lagi.


Disaat bersamaan Rado sudah melesat kearah Yoga dan dua pedang yang sudah disiapkan dirinya pun mulai diayunkan. Yoga dengan ragu mencoba untuk menahannya namun itu hal yang sia - sia, meskipun Yoga memiliki kekuatan dari force yang sama, Yoga masih belum bisa menandingi kekuatan Rado. Ia terpelanting jauh kebelakang hingga melewati barisan para petinggi. Lambang demiclesnya pun redup setelah ia terbaring ditanah, dengan tekad yang tersisa dan juga darah yang keluar dari mulutnya, Yoga mencoba bangkit.


"Rado!!!!!" Teriaknya dari kejauahan.


"Masih ingin melawan perintah ku?" Tanya Rado dengan tatapan sinis.


"Baiklah.. aku tinggal mencari seorang pendamping yang lain.."


Mata hatinya dibutakan oleh amarah hingga ia rela memilih untuk membunuh orang kepercayaannya selama ini. Rado pun segera melesat keara Yoga sekali lagi.


"Matilah Yoga..." Rado melesat mengacuhkan barisan petinggi dan segera mengarah ke Yoga.


Semua yang berada disana memanggil nama mereka berdua namun tidak tergubris sedikit pun, Jaquile yang telat bertindak segera mencoba untuk menghentikan Rado, namun itu terlalu jauh. Disaat terakhir ia akan menebas Yoga, terlintas kenangan dirinya dan Yoga. Tawa senyum dan perjuangan mereka berdua mengingatkan Rado akan kesetiaann Yoga dalam hidupnya, tetapi itu harus berakhir karena sebuah perintah yang tidak didengar. Raut wajah Rado sempat berubah ragu karena merasa berat untuk mengakhiri Yoga.


Yoga yang terlihat melambat dipandangannya menyempatkan diri untuk tersenyum ikhlas akan tebasan yang sudah terlanjur Rado hempaskan.


"Khhh..." Rado mulai ragu akan melanjutkan tebasannya itu.


Julie pun segera menyiapkan busurnya dan menembakan beberapa panah tepat kearah Rado. Ketiga anak panah yang dilesatkan oleh Julie tepat mengenai tubuh Rado dan membuatnya meleset dalam menebas Yoga. Sebuah force hitam yang keluar dari tebasan itu mampu membelah pantai hingga air laut didepannya. Setelah beberapa saat kemudian, air laut itu menyatu kembali dan Rado begitu terkejut dengan serangan Julie yang datang secara tiba - tiba pada waktu yang tepat.


Meskipun Rado tidak terluka karena pertahanan forcenya, tetapi ia begitu lega karena tidak jadi membunuh Yoga.


{Awakening telah berakhir}


Force hitam itu pun menyusut masuk kedalam tubuh Rado. Mata yang berwarna ungu itupun juga berubah kembali menjadi hitam dan juga lambang demiclesnya kembali ke warna semula. Disaat itulah, pikirannya dapat ia kendalikan lagi setelah amarah yang terbalut force hitam tersebut hilang. Meskipun dalam dirinya masih menyimpan amarah, tetapi kali ini bisa ia kendalikan.


"Force apa itu? Aku seperti tertelan oleh sebuah kegelapan.." Rado yang heran sendiri dengan kemampuan Awakening dan force berwarna hitam tersebut.


"Rado..!" Panggil Yoga.


Rado pun menoleh kearah Yoga yang saat ini didepannya dan hampir terbunuh karena amarahnya tersebut.


"Maafkan aku.." Dengan wajah penuh penyesalan Rado meminta maaf.


Disaat kondisi yang sudah mulai kondusif dan ketegangan para penonton masih menggetarkan jantung mereka. Bernardo mengambil langkah kesempatan dari kurangnya kesigapan Rado. Ia berlari menyerang Rado menggunakan tombak miliknya dari belakang.


"Matilah kau!" Senyum kemenangan ia pancarkan.


Yoga pun segera menoleh kearah tombak itu berasal, dan melihat Jaquile yang tersenyum puas.


"Jaquile!" Sapa Yoga melihat Jaquile yang berlari kearah mereka.


"Rado...Kau tidak apa - apa?" Panggil Jaquile cemas.


"Aku tidak apa - apa.." Jawabnya sambil melirik kearah Julie.


Rado pun menatap Yoga dan Jaquile yang saat itu berada didepannya, lalu ia beralih menatap kearah para petinggi yang berada dibelakangnya.


"Apa kalian masih ingin melawan?!" Tanya Rado.


"Ti-tidak... kami menyerah" Setelah beberapa detik berpikir Richard memutuskan untuk menyerah.


Disaat semua sudah lega dengan keputusan Richard, tetapi Rado berubah pikiran.


"Tidak... sepertinya aku harus membunuh kalian semua sebagai pengganti Nara.." Rado berjalan kearah mereka sambil menyiapkan pedangnya.


Richard, Devian dan Lucero pun mulai merasa terancam kembali.


"Tu-tunggu.. kami sudah menyerah!" Kata Richard.


"Rado! Mereka sudah tidak ingin bertarung, maafkan lah mereka!" Kata Yoga namun tidak didengarkan.


Disaat Rado masih melangkah, Julie dengan cepat menghadang dan menampar Rado dengan sangat keras. Suara tamparan yang keras diiringi suara ombak laut membuat mereka yang menyaksikan tertegun.


"Dia sudah mati! Apa pembunuhan masal seperti ini akan menghidupkannya kembali?!" Tanya Julie dengan marah.


Rado yang tidak berpaling sedikit pun meskipun terkena tamparan keras, menatap tajam kearah Julie.


"Apa kau belum puas membunuh banyak pemburu?!" Tanya Julie sekali lagi.


"Diamlah!" Bentar Rado.


"Aku tidak ingin diam! A- Aku... Aku..." Julie kembali memeluk Rado yang masih belum melunak sedikit pun.


"Nara tidak akan senang kalau kau membunuh banyak orang.." Julie menangis dalam pelukan Rado.


Rado pun terhentak dengan perkataan dari Julie dan mengingat kembali Nara. Matanya berkaca - kaca karena kehilangan perempuan yang sudah ia anggap sebagai keluarga itu. Ia menatap keatas langit untuk menutupi kesedihannya serta menahan air matanya agar tidak keluar. Setelah ia merasa baikan, Rado menatap Julie yang saat ini berada dibelukannya dan mengelur rambutnya.


"Maafkan aku.." Senyum Rado kepada Julie.


"Hm.." Julie mengangguk dalam pelukannya.


Disisi lain, Kameramen yang hanya bisa terdiam terpukau dengan selesainya pertempuran tersebut, menjauhkan matanya dari lensa kamera.


"Apakah ini sudah selesai?" Tanya kameramen kepada teman disebelahnya.


"Sepertinya begitu.."


Mendengar percakapan dari kedua orang tersebut membuat para warga menelan air liur mereka karena pada akhirnya pertempuran tersebut telah usai.


"PPMD telah usai.." Kata seorang pria yang sednag menyaksikan pertempuran tersebut.


"Aliansi menang!!!!!" Seru salah satu orang yang berada disana.


Semua warga bersorak dengan ketidaktahuan apa yang sedang mereka rayakan, mereka bersorak hanya karena ada seorang pemenang dalam pertempuran tersebut. Seluruh dunia pun terpukau dengan kehebatan Rado di pertempuran itu. Kerabat dekat dan teman yang pernah ia temui pun begitu senang dengan kemenangan mutlak tersebut. Dengan berakhirnya pertempuran tersebut, Aliansi akan menjadi pemegang penuh atas pemburu didunia dan Rado sebagai ketua mereka.


Sorak atas pertempuran dari dua kubu yang bertempur itu meliputi seluruh dunia. Mereka yang awalnya menolak akan adanya aliansi, mulai mengakuinya agar tetap bisa bertahan hidup.


Ting~~~~ Suara sistem pun berbunyi.


Rado Gavriel [The Archon]


Status Transfer 100%


-Point Skill-


Point Skill Close Range 100/100 point


Point Skill Ranger 30/30 point


Aura kepemimpinan 100%


Ketahanan Fisik 100%


-Ketahanan Elemen-


Air 100%


Api 100%


Tanah 100%


Angin 100%


{Status transfer sudah memenuhi syarat, Sang Archon mendapat sebuah anugerah berupa pertahanan dan serangan sebesar 50%}


{Dengan ini, persyaratan ras manusia sudah terpenuhi atas keikutsertaan dalam Ragnarok}


"Apa?!" Heran Rado ditengah sorakan dunia.


"Apa maksudnya ini?!" Sambungnya dalam hati.


{Hitungan mundur pemusnahan masal dimulai}


10...


9...


8...


7...


6...


"Oi apa maksudnya ini?!" Rado bertanya sambil melihat kesana kemari.


5...


4...


3...


2...


1...


{Pemusnahan masal dimulai}


Getaran diseluruh dunia pun terjadi, getaran itu berasal dari menara dungeon yang mulai kembali kedalam tanah. Guncangan tersebut, membuat seluruh umat manusia begitu panik dan mulai berlarian kesana kemari untuk menyelamatkan diri.


"Hei lihat!" Tunjuk salah satu pemburu kepada Menara dungeon yang mulai terserap masuk.


"Apa yang terjadi?!" Salah satu pemburu yang lainnya tertegun melihat menara tersebut.


Rado yang tengah dipeluk oleh Julie pun heran dengan ini semua, para pemburu yang tersisa disana pun juga ikut panik dengan apa yang sedang terjadi saat ini.


"Ada apa ini? Dunia terguncang hebat!" Kata Lucy.


"Kakak!" Panggil Geraldo kepada Rudy yang heran dengan getaran tersebut.


Beberapa saat kemudian, dunia berhenti berguncang. Kepanikan yang sedang melanda seketika berubah menjadi sebuah keheningan dalam kebingungan. Dalam kebingungan tersebut, lubang yang diakibatkan oleh hilangnya menara tersebut mengeluarkan kabut putih yang tebal dan menyebar dengan cepat keseluruh dunia.


Orang - orang yang dilalui kabut asap itu seketika jatuh tidak sadarkan diri. Kabut itu pun sampai ketempat Rado, mereka yang melihat kabut misterius itu datang, hanya bisa terpaku menatap kabut itu datang.


Rado pun juga terheran dengan kabut tersebut. Sampai akhirnya, saat kabut itu menutupi mereka, Rado baru sadar dengan maksud sistem tersebut setelah Julie yang sedang memeluknya tiba - tiba tidak sadarkan diri tanpa sebab.


"Julie! Julie!" Panggil Rado sambil menggoyangkan tubuhnya.


Rado mulai panik dan berteriak memeriksa keadaan, namun hanya kabut putih saja yang ia lihat sejauh ini. Beberapa saat kemudian setelah kabut itu mulai menghilang, barulah Rado terkejut melihat kondisi semua orang yang tidak sadarkan diri setelah dilewati kabut tersebut.


"Rado!" Panggil Yoga kearahnya.


"Yoga?! Kau tidak..." Heran Rado kepada Yoga.


"Rado!" Teriak Jaquile.


"Eh?! Rado merasa bingung dengan ini semua.


"Apa yang terjadi?! Mengapa semua orang seperti tertidur dan hanya kita saja yag masih sadar?" Tanya Jaquile.


"Apa ini karena aku mempromosikan kalian sebagai pendamping?" Tanya Rado menduga.


"Kalau begitu berarti..." Yoga mencoba untuk menduga namun tidak sempat.


Sebuah cahaya misterius muncul dalam diri mereka bertiga, dan membuat mereka begitu panik.


"Kenapa ini?!" Tanya Jaquile melihat kedua tangannya mengeluarkan cahaya.


Yoga pun melihat kearah Rado yang sedang bingungun dengan cahaya tersebut.


"Rad-"


Cahaya tersebut menelan mereka dan membawanya kesebuah tempat yang tidak cukup jelas. Perlahan tubuh mereka seperti di teleport kesebuah tempat hampa berwarna putih.


"Rado?" Panggil Yoga yang saat itu tiba bersamaan dengan mereka.


"Dimana kita?!" Tanya Jaquile.


"Aku tidak tau.. tapi..."


Tiba - tiba siluet dari makhluk lain berjalan menghampiri mereka. Terdapat sembilan siluet seperti manusia namun berbeda bentuk per tiga orangnya. Siluet itu berjalan mendekat dan Rado pun memasang badan kearah mereka.


"Akhirnya kau datang.." Kata salah satu siluet bertubuh kekar dan Suara itu terdengar familiar oelh Rado.


"Kau?! Dogol?!" Rado terkejut.


"Hmm... Ternyata kau mengingat ku kha kah kha" Dogol tertawa.


"Sepertinya kau ras terakhir yang telah menyelesaikan tugas awal ini.." Kata siluet dengan Kuping panjang dan terlihat seperti wanita.


"Hmmm... Kau cukup kurus, sepertinya kau lemah" kata siluet dari makhluk pendek bertubuh gempal.


"Jaga bicara mu!" Bentak Yoga.


"Hooo.. sepertinya pendamping mu sangat galak ya.." Kata siluet kecil itu.


Disaat mereka saling berbicara tanpa mengetahui identitas masing - masing. Munculah satu siluet layaknya seperti manusia sambil menepuk tangannya.


"Selamat untuk para Archon yang telah berhasil menyelesaikan tugas kalian.." Kata siluet tersebut.


Mereka semua tertuju kepada siluet yang baru datang itu.


"Siapa kau?! Tanya Dogol.


"Ah aku Achilles, demigod yang akan ikut dalam pertempuran bersama kalian.."


"Pertempuran?" tanya mereka heran.


"Ya.... Pertempuran akhir." Siluet itu tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya.