The Archon

The Archon
Pesta yang Tertunda



Didalam black dungeon yang terdapat di negara timur tengah, dimana medan api kota terbakar sudah padam sepenuhnya, lalu disusul dengan keberhasilan Rado dalam mengalahkan Shenlong yang memiliki kemampuan regenerasi cepat. Sebuah sorakan dari para pemburu yang masih bertahan hidup menghiasi keheningan serta kesedihan yang mendalam akibat kehilangannya teman maupun sahabat perjuangan.


Keputusasaan disaat-saat terakhir berhasil mereka lewati dengan hadirnya Rado sebagai harapan untuk bertahan hidup bagi mereka semua. Beberapa pemburu terutama mereka yang tergabung dalam guild White Lotus segera berlari menghampiri Rado dengan rasa rindu yang mendalam. Rado hanya bisa melihat mereka datang menghampiri dirinya dengan senyuman seperti biasa.


"Sobat!!!" Teriak Geraldo menghampiri Rado dengan wajah berseri dan mantan anggota partynya sekarang ini berkumpul semua didepan Rado.


"Kalian..." Rado menyambut kehadiran mereka dengan senyum.


"Bos, kau masih saja hebat! Aku.. aku" Guren menutup matanya karena ia tidak bisa membendung tangisnya.


"Oi-oi Guren.. Apa kau tidak malu menangis dengan tubuh dan muka sangar?" Ejek Gai kearah Guren.


"Diam kau!"


"Kapten Rado... selamat atas keberhasilan mengalahkan bos dungeon" Selica yang mewakili perkataan semua anggota White Lotus yang hadir pada saat itu.


"Hei.. aku ini sudah bukan kapten kalian, jadi-"


Sebelum ia menyelesaikan perkataannya, Rudy, Levi dan Rrossi datang menghampirinya dengan senyuman.


"Sudah lama tidak bertemu, apakah ini sudah sebulan atau lebih?" Tanya Rudy kepada Rado.


"Aku tidak tahu sudah berapa lama aku pergi, tapi... terimakasih telah menjaga mereka" Rado tersenyum menatap Rudy.


"Kau tau?! Orang-orang bodoh ini sangat sulit dikendalikan! Kau harus membayarnya" Kata Levi protes kepada Rado karena telah meninggalkan mereka begitu saja.


"Terimakasih.. aku akan membalas lain waktu"


"Kau bertambah kuat.." Kata Rossi memuji.


"Sudah seharusnya begitu agar tidak menjadi umpan lagi bukan?" Rado sedikit menyentil kejadian lampau.


"Ahahahaha" Rossi hanya tertawa kecut dibuatnya.


"Sobat... Aku.." Geraldo seperti sulit mengatakan apa yang ingin ia utarakan dengan wajah Rado yang sedang tersenyum menunggu perkataannya. "Bagaimana keadaan mu?!" Ia mengganti topik pembicaraan secara langsung.


"Seperti yang kau lihat.. aku baik-baik saja" Rado berkata dengan kondisi baju yang sudah terkoyak, serta beberapa luka bakar yang tidak terlalu serius akibat ledakan saat melawan Shenlong.


Disaat perbincangan saling rindu itu, beberapa pemburu yang lain mulai datang menghampiri mereka dengan gemuruh sorakan kearahnya. Rado dan para guild White Lotus pun segera menoleh kearah mereka untuk menyambut kedatangan mereka, juga tidak ketinggalan para pemburu dari Indonesia datang menghampirinya dengan wajah yang begitu serius.


"Terimakasih!" Itu yang terucap dari mulut mereka semua kepada Rado.


Saat ini Rado dikerubungi oleh para pemburu yang sangat bersyukur atas kehadirannya disaat terakhir, semua isi hati yang mereka pendam saat didalam dungeon seperti kematian mereka lontarkan semua ke Rado dalam bentuk rasa Terimakasih. Kan dan para pemburu Indonesia yang lain pun mendekat secara berkelompok. Kan yang saat itu berada didepan semua pemburu Indonesia terlihat seperti tidak suka dengan semua ini, wajahnya begitu serius tanpa ada garis senyum ia perlihatkan, dan karena kondisi seperti inilah sebuah kecanggungan terjadi.


"Ka-Kau hebat.." Terbata-bata Kan memuji dengan memalingkan wajahnya.


Rado sedikit memiringkan kepalanya karena merasa aneh dengan tingkah Kan yang tidak ia duga, "Apakah dia tipe Tsundere?" Dalam benak Rado saat melihat Kan.


"Rado!!" Dari arah belakang Julie menerobos menghampiri Rado dan segera mendaratkan pelukannya kepadanya.


Rado agak sedikit terkejut dengan perlakuan Julie terhadapnya. Dengan wajah heran yang Rado perlihat, ia segera melirik kearah teman perjuangannya dulu dan ada sebuah kebingungan tersirat pada ekspresinya itu. Namun, mereka semua hanya tersenyum menggoda kepada Rado karena kejadian tersebut.


"Hoo... sejak kapan kau dekat dengan wakil kapten guild Nova, sobat?" Geraldo tersenyum menggoda.


"Hei apa maksud mu Geraldo! Ini semua salah paham" Rado mencoba untuk menyangkalnya.


"Kapten..." Selica terlihat berkaca-kaca melihat mantan kaptennya dipeluk oleh perempuan lain dan ia segera berlari merengek seperti anak kecil dari kerumunan tersebut.


"Julie!!!!!!! Keparat kau, jauh kan dirimu dari wakil kapten ku yang cantik!" Watz terlihat ingin memberontak, namun tubuhnya ditahan oleh Kenny dengan memeluknya dari belakang agar tidak mengganggu moment tersebut.


"Hei Watz santai lah! Woi!" Kenny yang kesulitan menahan Watz.


"Hahhh... Sepertinya kita tidak ada kesempatan untuk itu" Kata Din dari belakang tersenyum melihat adegan tersebut.


"Ternyata kita sudah didului oleh Julie" Karen yang juga pasrah akan saingan cintanya.


"Hmph... Baiklah.. lagi pula dia juga bukan tipe ku!" Kimberly terlihat kesal.


Mereka saat ini sedang melihat adegan yang cukup romantis dimana Julie membenamkan wajahnya ditubuh Rado, Rado yag awalnya merasa bingung, pada akhirnya menerima perlakuan tersebut dengan mengusap kepala Julie sebagai langkah awalnya. Julie pun menarik wajahnya dari tubuh Rado dan memandangi Rado yang saat ini tersenyum kepadanya dengan jarak yang cukup dekat.


"Mengapa kau pergi begitu saja?! Saat kau pergi, Aku.. aku.." Dengan mata yang sembab dan air mata Julie menanyakan maksud dari kepergiannya itu secara tiba-tiba.


Rado mencoba untuk mengusap air mata tersebut sebelum berbicara, "Aku hanya meninggalkan kalian sementara untuk melakukan sesuatu"


"Eh kalau begitu apa kau akan kembali ke Indonesia?!" Geraldo segera bertanya setelah mendengar ucapan Rado tersebut.


Rado menoleh kearah Geraldo dan teman-teman pemburu Indonesia yang lain, ia menyadari kalau wajah-wajah yang sedang menatapnya itu adalah wajah keingintahuan akan jawaban yang nanti ia utarakan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Rado pun juga beralih menatap Julie yang saat ini sedang melihat kearahnya dengan wajah cantik serta harapan akan jawaban yang positif.


"Aku.... Aku tidak akan kembali ke Indonesia.." Rado yang menoleh kembali menatap Geraldo setelah memandangi wajah Julie.


"Mengapa?!" Tanya Geraldo meninggi, disertai para wajah mereka yang juga kecewa akan jawaban Rado.


Rado pun segera melepaskan diri dari pelukan Julie yang terkejut atas jawaban dari dirinya.


"Kau tahu... sekarang ini aku adalah seorang presiden dari sebuah negara, maka dari itu untuk sekarang ini aku tidak bisa kembali ke Indonesia" Kata Rado menjelaskan.


"Kalau begitu ajak aku bersama mu, kalau kau tidak bisa kembali ke Indonesia" Spontan Julie mengatakan demikian dengan mata penuh tekad.


"Julie!!!!" Watz yang tidak sudi Julie pergi.


"Watz, diamlah sebentar.." Kenny mencoba untuk menenangkan Watz.


Rado menoleh kepada Julie, "Tidak bisa... Aku tidak bisa membawa mu"


"Kenapa?! Apa aku akan menghambat mu?!" Tanya Julie sedikit meninggi dan Rado hanya memandanginya karena tidak ingin menjawab.


"Hei.. bisakah kalian diam dan biarkan dia menjelaskan alasanya?" Kata Kan mulai menyilangkan kedua lengannya.


"Kau bilang untuk sekarang.. brati ada kemungkinan kau akan kembali bukan?" Rudy tersenyum dari arah tempat Geraldo berdiri.


"Sobat jadi maksud mu, kau akan..???" Geraldo yang awalnya kecewa kembali bersemangat.


"Yah.. aku akan kembali tetapi tidak untuk sekarang"


Mendengar kejelasan maksud dari perkataan Rado sebelumnya, membuat mereka semua lega. Sementara itu Lucero, Joon Sung dan Kirisaki yang berada didepan para pemburu yang tersisa dibelakang, akhirnya juga ikut bergabung dengan mereka. Mereka datang tidak untuk berterimakasih kepada Rado, melainkan mereka melakukan protes dan menyalahkan Rado atas gugurnya para pemburu.


"Kenapa kalian terlihat senang?! Apa kalian tidak merasa sedih atau berkabung dengan pemburu yang gugur?!" Kata salah satu pemburu memulai perselisihan.


"Kau juga! Kau itu musuh para pemburu dan masyarakat yang telah menghadapi musibah ini!" Cetus seorang pemburu pria yang mengarah kepada aksi Rado yang menumbangkan keluarga Alavonte bersamaan dengan musibah black dungeon.


"Ya itu benar.. kalau saja dia tidak mementingkan diri sendiri mungkin teman kita tidak banyak yang terbunuh" Sorakan yang dituju kepada Rado untuk memojokannya.


Pemburu yang sudah pro kepada Rado terlihat hanya bisa diam dan mencoba untuk membela Rado sebisa mungkin, tetapi mereka kalah suara dengan yang memojokan Rado, sedangkan Rado sendiri dia hanya bisa diam mendengarkan mereka melakukan protes.


"Kalian tenanglah terlebih dahulu.." Kirisaki mencoba untuk menenangkan para pemburu tersebut, ia terlihat kebingungan dengan sisi yang berselisih itu.


"Mengapa kau bisa ada disini?" Tanya Lucero yang juga menghentikan sorakan para pemburu.


"Pertanyaan yang bodoh..." Rado tersenyum dengan nada yang sedikit meremehkan.


Mendengar hal itu, Lucero dan mereka yang kontra terhadap Rado terlihat sangat kesal. Mereka merasa omongan yang mereka utarakan itu seperti tidak didengar sama sekali oleh Rado.


"Apa kata mu?! Apa kau tidak malu dengan apa yang kau lakukan?! Disaat dunia sedang terkena musibah kau malah mengusik salah satu negara yang dilindungi oleh PPMD.. sekarang ini kau datang kesini dan mengambil peran sebagai pahlawan... Dasar tidak tahu malu!" Lucero meninggi emosi.


"Ka-kalau saja kau tidak egois dan ikut bersama mereka saat raid pertama, maka.. maka... Aamber tidak..." Joon Sung terlihat kesal mengingat kematian Aamber sambil membuang wajahnya kesamping.


"Dasar tidak tau malu! Mati saja kau!" Para pemburu yang kontra terhadap Rado kembali memojokannya.


Dikeadaan sekarang Kirisaki dan pemburu yang pro terhadap Rado tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu Rado. Sorakan yang dituju kepada Rado itu semakin membuat dirinya kesal, ia mencoba untuk menahannya sejak tadi. Tetapi mereka semua tetap memojokan Rado hingga tali kesabarannya habis. Rado segera mengeluarkan aura forcenya dengan spontan dan membuat mereka semua terdiam seketika akibat tekanan intimidasi yang menakutkan dari Rado. Aura force itu seperti hembusan angin yang kencang dan menghilang begitu saja, tetapi efek dari tekanan force itu sangat berpengaruh kepada mereka.


Raut wajah Rado yang tidak menunjukan ekspresinya saat mengeluarkan aura mematikan itu membuat mereka merasa kalau Rado adalah orang yang berdarah dingin.


"Apa kalian sudah puas mengocehnya?!" Rado membuka pendapatnya setelah situasi menjadi tenang.


"Aku Egois?! Hah..! Jangan bercanda! Aku tanya kepada mu... saat tahu black dungeon muncul, kau dan pemburu top 10 yang lain kemana?" Rado mencoba untuk membalikan keadaan dengan bertanya kepada Lucero.


"A-aku.." Lucero tersentak mendengar itu.


"Apa?! Kau hanya menunggu saja di negara mu? Dan pemburu top 5 hanya diperintahkan untuk menjaga investor PPMD karena takut kehilangan uang bukan?" Rado seolah-olah sudah mengetahui hal tersebut.


Mendengar perkataan Rado, membuat semua pemburu terkejut akan fakta yang menghantui mereka mengenai alasan pemburu top 5 tidak ikut dalam raid kali ini dan sekarang mereka mulai berbisik mengenai fakta yang baru terungkap tersebut.


"Kami mendengar kalau pemburu top 5 akan bersiaga untuk disaat-saat genting saja.." Kan terkejut setelah mengetahui faktanya.


"I-itu tidak benar! Buktinya kami telah bergerak! Persoalan Investor itu tidak benar!" Lucero mencoba untuk membantah serta melindungi nama 5 orang tersebut.


"Apa kau mengatakan yang sebenarnya? Kalau begitu mengapa kau tidak ikut langsung saja dalam operasi raid yang pertama dan mencegah terjadi banyaknya jatuh korban? Apa kau ingin bilang karena kau tidak diizinkan untuk turun oleh PPMD atau yang lain? Kalau memang seperti itu adanya.. Apa yang kau pikirkan? kau tidak berhak memojokan ku dan menyebut ku egois ataupun sampah sekalipun... Lihat dirimu! Kau malah lebih terlihat seperti seekor anjing yang tidak bisa bergerak bebas karena seorang majikan yang diperdaya oleh uang.."


Perkataan dari Rado seperti sebuah skakmat untuk Lucero, ia begitu sulit untuk membalas perkataan dari Rado. Disisilain para pemburu yang kontra terhadap Rado mulai bungkam dibuatnya.


"Dan untuk kalian semua... Aku bergerak sesuai dengan kemauan ku sendiri karena aku tidak pernah merasa menjadi bagian dari kalian yang dinaungi oleh PPMD... Lagipula... kenapa kalian protes seperti itu? Jika saja kalian kuat maka persentase kegagalan atau kematian para pemburu tidak akan besar... ini semua murni kesalahan kalian karena kalian itu LEMAH! Berhentilah mengeluh dan melempar kesalahan kalian pada orang lain...!"


Rado pun berjalan melewati mereka setelah membungkam mereka semua dengan perkataannya, ia juga meminta tolong kepada mantan anggotanya untuk membawakan mutiara yang ia temukan didalam Shenlong. Sebuah renungan pun terlintas dibenak mereka setelah Rado membentak mereka. Penyesalan yang amat mendalam tersirat diwajah mereka semua. Kepalan tangan yang digenggam erat menunjukan kekesalah akan ketidakmampuan mereka dalam menghadapi bahaya.


Gai dan beberapa orang lainnya yang sedang mencoba untuk membawa mutiara tersebut keluar dari dungeon, menyempatkan diri untuk melirik Lucero dan para pemburu yang lain dibelakang mereka.


"Kapten Rado.. apa kau tidak keterlaluan berbicara seperti itu?" Tanya Gai saat mengikuti Rado menuju portal keluar.


"Menurut itu harus dilakukan agar mereka tidak selamanya berada di zona aman" Tanpa menoleh Rado berkata.


Gai pun tidak menanyakan apapun lagi karena menurutnya perkataan dari Rado ada benarnya juga.


"Lalu kegunaan mutiara ini untuk apa?" Tanya Geraldo sambil melihat mutiara yang besar tersebut.


"Hmmmm mungkin Rudy mengetahuinya" Rado menoleh kebelakang menatap Rudy yang saat ini berada dibelakangnya.


"Kalau tebakan ku benar... ini merupakan inti Force dikelas yang berbeda... mungkin bisa dijadikan sebuah senjata atau pertahanan atau juga bisa dalam hal medis?" Rudy yang masih bingung menentukan fungsi mutiara tersebut.


"Jangan bertanya kepada ku.. kau yang lebih ahli" Rado kembali beralih kedepan dan tersenyum.


"He... kalau begitu bisakah kau membuatkan aku senjata kaka?" Geraldo meminta kepada Rudy.


"Cih.. Kau ini.... kalau kau mau, kau harus membayarnya!" Rudy sedikit jengkel dengan permintaan Geraldo.


"Kau sungguh pelit ka.."


"Lalu bagaimana dengan mayat Shenlong?" Tanya Levi melihat kearah mayat tersebut.


"Hmmm aku tidak tahu... itu urusan kalian" Kata Rado sambil terus berjalan.


Ditengah perjalanan menuju portal keluar, Rado sempat berpikir untuk memeriksa status sistem karena ia belum membukanya sedikit pun setelah pertarungan itu, namun ia mengurungkan niat sekarang dan memilih untuk membuka sistem tersebut diluar dungeon. Setelah ia keluar dari dungeon tersebut, sebuah sambutan meriah pun menunggunya. Para warga pun sudah menunggunya diluar dungeon sejak tadi.


Kemeriahan pun terjadi dengan beribu ucapan kepada Rado atas keberhasilannya menutup dungeon tersebut. Stasiun televisi dan media sosial sekarang ini heboh kembali setelah Rado berhasil menyelesaikan serta menyelamatkan para pemburu yang diduga terjebak didalamnya. Nama Rado menjadi Trending Topic disuatu platform media sosial, mereka mengucapkan rasa terimakasih dan pujian atas dirinya.


Tetapi kemeriahan dan kegembiran itu harus dirusak oleh sebuah telepon dari Yoga. Smartphone yang baru saja mendapat sinyalnya kembali, dihujani dengan sebuah pesan serta getaran terus menerus sesaat Rado baru keluar dari dungeon. Ia segera memeriksa smartphonenya dan terlihat beberapa pesan masuk, serta panggilan tak terjawab dari Yoga dan Jaquile.


"Eh?! Jangan bilang kalau-" ia segera membuka isi pesan mereka berdua.


Pesan itu berkata.


"Black dungeon di Amerika Serikat mengalami breakdown.. Kami semua kewalahan.. tolong cepat kemari!" - Pesan Yoga.


"Rado! Di Brazil sungguh gawat...! Monster yang keluar dari Black Dungeon sangat sulit ditangani! Cepatlah kesini! - Pesan dari Jaquile.


Rado pun terkejut kalau dungeon yang lain mengalami breakdown. Sebelum ia memasuki dungeon di timur tengah, ia menerima kabar dari Yoga dan Jaquile kalau dungeon di dua negara tersebut telah dimasuki para pemburu top 5. Mendapat kabar tersebut Rado pun sedikit lega karena ada kemungkinan dungeon tersebut dapat tertangani, tetapi perkiraannya kali ini meleset. Sebuah bencana yang ditakuti oleh dunia pun terjadi dengan skala yang lebih besar dibanding sebelumnya.


Baru saja dunia senang akan keberhasilan Rado menutup black dungeon di timur tengah, alur berita serta trending topic di media sosial pun berubah dengan informasi mengenai breakdown tersebut. Kesenangan mereka yang sesaat itu berubah menjadi sebuah teror akan ketakutan atas invasi monster dari black dungeon. Disisi lain Rado dipaksa untuk berpikir keras atas pilihan yang sulit, yaitu ia harus memilih cepat mengenai negara mana yang harus ia selamatkan terlebih dahulu.