
Bergeser sementara ke negara Brazil dimana Jaquile berada. Saat ini diwaktu yang sama pada detik-detik terjadinya breakdown di Amerika, Jaquile dan yang lainnya juga sedang menunggu didepan black dungeon persis seperti yang dilakukan oleh para pemburu di Amerika Serikat. Mereka sudah bersiaga sejak tadi untuk menyambut datangnya para monster, para pemburu mengelilingi portal tersebut dengan menodongkan senjata lengkap mereka kearah mulut dungeon. Kecemasan yang dirasakan oleh para pemburu di Brazil sama seperti yang dirasakan oleh para pemburu di Amerika Serikat.
"Jaquile.." Kolo menoleh kerah Jaquile untuk meredekan takutnya.
"Tenang saja.. kita akan baik-baik saja.." Jaquile mencoba memberikan ketenangan kepada dirinya.
"Bagaimana nasib Yoga disana? Tanya Bobby saat sedang berjaga didepan anggota aliansi dengan perisainya.
"Aku yakin dia pasti baik-baik saja.. percayalah dengannya, Wakapten akan berhasil menahan mereka" Kata Lucy berjalan kearah Bobby.
Seluruh dunia saat ini sedang menunggu detik-detik breakdown dikedua negara tersebut, kecemasan dibalik layar Tv pun terpampang dengan jelas dari wajah mereka. Di Italia,Peter sedang ditugaskan untuk menjaga Silvi dan Martinez dalam mansion yang beberapa waktu lalu baru saja Rado taklukkan.
"Apakah mereka akan baik-baik saja?" Cemas Silvi saat menonton tayangan tv.
"Tenang saja, mereka akan baik-baik saja.." Peter mencoba untuk optimis.
"Tetapi... Aku terkejut melihat Rado mampu menyelesaikan dungeon itu" Silvi tersenyum kearah Martinez dan Peter.
"Hahahaha... itu lah Kapten Rado, dia memang kuat..." Peter merasa bangga saat memuji Rado.
"Kakek sudah tidak heran ketika ia berhasil melakukan itu, Dia adalah cucu ku dan juga anak dari Silva" Martinez tertawa puas.
Dalam perbincangan kecil itu mereka mulai kembali fokus kearah Tv dimana pembawa berita menginformasikan mengenai intensitas dungeon tersebut. Dungeon yang berada di Brazil mulai menunjukan tanda-tanda portal akan terbuka dan para pemburu semakin bersiaga mengenai itu. Jaquile pun menggenggam erat tombak keemasannya dengan wajah tegas.
Black dungeon pun terbuka, sekilas seperti ada sebuah penghalang yang hancur dari dalam dungeon tersebut. Para pemburu yang sudah bersiaga didepannya, terus mempertahankan kesigapan mereka sampai monster yang berada didalam sana keluar menyerang.
"Kapten!" Teriak salah satu anggota aliansi kepada Jaquile, ia melihat sebuah siluet beberapa monster dari dalam sana ingin menuju keluar kedunia manusia.
"Bersiap!!!!" Jaquile memberikan perintah kepada para pemburu.
Kumpulan monster Lycan itu akhirnya keluar dari dalam dungeon dan mulai menginvasi dunia manusia, para Lycan berlari lurus kearah barikade yang sudah siap menahan mereka kapan saja. Tetapi sebelum mereka mencapai para tanker, sebuah sihir force berjenis Es keluar dari dalam dungeon tersebut dan membunuh sekiranya 3 sampai 4 Lycan. Para pemburu yang sudah menunggu bentrokan terjadi, terlihat bingung dengan darimana asal force tersebut datang.
Ditengah kebingungan mereka, seorang pria Jepang berlari dengan cepat membawa sebuah katana dan menebas beberapa Lycan. Tidak sampai situ, seorang wanita berambut silver dengan pakaian serba hitam super ketat, bermanuver diatas langit sambil menembakan peluru dari dua pistolnya. Aksinya tidak sampai situ saja, dalam keadaan masih diatas langit ia mampu mengganti senjatanya dari pistol ke senjata laras panjang dengan cepat, lalu menembakkannya kearah mereka yang masih tersisa.
Aksi wanita cantik itu membuat para pemburu yang berada diluar sangat terkesima, mata mereka seperti tidak ingin berpaling dari keindahan dunia tersebut dan karena merasa diawasi oleh banyak orang, wanita itu menoleh kearah mereka dengan tatapan judesnya.
"Kalau kalian tidak berhenti menatap ku.. Aku akan mencongkel bola mata kalian" Sambil mempersiapkan diri dengan memegang bayonet yang berada dipaha kanannya.
Sontak ancamanya itu membuat para pemburu memalingkan wajahnya kearah manapun selagi mereka bisa.
"Woi-woi kita sepertinya salah orang.." Kata salah satu pemburu ketakutan.
"Apa yang kau maksud?" Balas pemburu yang juga sedang memalingkan wajahnya.
"Dia itu Nikolai Osha, dia adalah pemburu top 10 peringkat 6 dan juga seorang mata-mata Rusia"
"Eh.. jadi dia wanita yang disebut sebagai...."
Disamping pembicaraan dari kedua pemburu yang belum selesai itu, Jaquile tidak mengantisipasi dirinya sendiri terhadap Nikolai dan dengan tenang menghampiri Nikolai untuk menyapa.
"Hahahaha aksi mu sungguh keren" Jaquile berjalan kearah Nikolai, lalu mencoba untuk memperhatikan wajahnya dari jarak yang cukup dekat. "Hmm.. ternyata kau seksi jug-"
Sebelum Jaquile menyelesaikan perkataannya yang terakhir, ia lantas menerima serangan langsung pada sebuah telur yang ia miliki.
"NutCracker.." Pemburu yang sedang bergosip itu akhirnya menyelesaikan perkataannya.
"Auuuuu~" Teriak panjang dari Jaquile sambil terbaring kaku kesakitan.
Dibelakang Nikolai yang baru saja menumbangkan Jaquile hanya dengan sekali tendangan, terlihat Kuhler, Jason dan Nagatomo mendekat. Jaquile yang tersungkur memalukan segera berdiri dan kembali kedirinya yang semula.
"Hahahahaha kau terlalu berlebihan Nikolai.." Tawa Kuhler melihat perusakan organ masa depan tersebut.
"Hmph" Nikolai membuang mukanya dan beranjak pergi kebelakang tiga orang tersebut.
"Sedang apa kalian disini?" Kuhler melihat kearah pemburu yang sudah bersiaga, "Ha... Jangan bilang kalau kalian sedang bersiaga karena takut dungeon ini mengalami breakdown?"
Mendengar hal demikian para pemburu sedikit terkejut, "Eh?! Jangan bilang kalau dungeon sudah-" Jaquile yang sedang terkejut mengkonfirmasi status dungeon tersebut.
"Ya! Kami telah berhasil menggagalkan breakdown!" Kuhler dengan tegas memberitahu pada mereka semua.
Sorak gembira dari mereka setelah mendapat kabar baik dari pemburu top dunia. Mereka tidak lagi perlu takut dan mengorbankan nyawa lagi. Para stasiun Tv pun juga mengkonfirmasi keberhasilan tim Kuhler dalam menangani black dungeon di Brazil. Korban tewas yang diperkirakan berjumlah hampir 150 pemburu pun terekspose di Headline setiap berita. Terlihat anggota tim yang berjuang bersama Kuhler satu persatu keluar dari dungeon dan melambaikan tangan mereka layaknya seorang yang baru saja berhasil menyelamatkan dunia.
"Hei Jason.. dimana pedang mu?!" Tanya Nagatomo disamping sambutan mereka.
"Ah? bukankah aku tadi membawa sebuah kapak?" Jason terlihat bingung dengan senjata apa yang ia kenakan.
Jaquile terlihat tidak ikut memeriahkan keberhasilan dalam selesainya black dungeon di Brazil karena mengingat akan identitas mereka.
"Kalian ini adalah anjing PPMD kan?" Cetus Jaquile secara tiba-tiba.
"Hoi-hoi apa kau bilang?! Kuhler menghentikan lambainnya kepada kamera dan segera meminta kejelasan atas ucapan Jaquile.
"Ku bilang, kalian ini-"
Sebelum Jaquile menyelesaikan perkataannya, Nagatomo secara tiba-tiba sudah berada didepan Jaquile dengan posisi yang lebih rendah karena kuda-kuda yang ia lakukan. Nagatomo pun segera menarik Katana yang berada dipinggang bagian kiri dan bermaksud untuk menghentakan perut Jaquile dengan gagang ujung katanannya saja. Namun, Jaquile segera bereaksi dan menahan tangan Nagatomo yang sudah sempat menarik setengah katana dari sarung pedang miliknya.
Akibat adu kekuatan tersebut membuat force mereka saling beradu dan tumpah keseluruh area tersebut yang membuat para pemburu menjadi tegang saat melihat kejadian tersebut.
"Kenapa kalian cepat emosi? Apa kalian tersing-" Lagi, sebelum ia menyelesaikan kata-katanya. Kali ini Nikolai lah yang mencoba untuk menyerang leher Jaquile dengan bayonet miliknya.
Jaquile pun segera menjaga jarak dari mereka semua dengan melompat kebelakang.
"Wakapten!" Kekhawatiran dari Kolo, Bobby dan Lucy serempak.
Jaquile segera menggemingkan daratan dengan tombak miliknya, "Hei... itu tadi bisa membunuh ku loh.." Jaquile tersenyum.
Menanggapi hal itu, Kuhler yang sedang mengenakan setelan jas dengan kalung emas yang melingkar dilehernya, maju kebagian depan.
"Apa kau ini dari aliansi sampah itu?" Senyum Kuhler mengejek.
"Ho... lumayan juga" Jaquile segera mundur kebelakang kembali.
Ketegangan didepan black dungeon yang sedang perlahan menutup itu semakin menjadi, karena kondisi dimana Jaquile akan melawan empat orang pemburu top dunia sekaligus, merekapun mulai mengeluarkan aura force mereka untuk saling mengintimidasi. Lambang demicles yang ia dapat dari Rado pun muncul diatas kepalanya, yang mana membuat mereka semua terlihat penasaran dengan apa yang berada diatas kepala Jaquile.
"Lucy.. bukankah itu lambang yang dimiliki oleh kapten Rado pada saat melawan para Orc waktu itu?!" Tanya Bobby terkejut.
"Kau benar.. itu persis seperti milik kapten Rado, tapi bagaimana ia juga memiliki itu?!" Balas Lucy tidak kalah terkejut.
Namun, disaat situasi mulai memanas. Salah satu reporter datang menghampiri dan memberitahukan sesuatu mengenai black dungeon di Amerika Serikat.
"Eh... maaf tuan-tuan... ada sesuatu yang harus kalian ketahui" Dengan rasa gelisah reporter itu mencoba untuk masuk kedalam pertempuran itu.
"Hah?!!" Kuhler dan Jaquile meninggi sambil menoleh kearah reporter tersebut.
"Hiii... maafkan aku, tetapi situasi saat ini sangat genting.. Du-dungeon yang berada di Amerika Serikat mengalami breakdown"
"Apa?!"
Sontak membuat para pemburu yang berada disana terkejut tidak percaya akan kejadian tersebut.
"Bagaimana bisa?! Bukankah disana Devian, Mye dan Ashwin sedang menangani itu?!" Tanya Kuhler seperti tak percaya akan kegagalan mereka.
"Lalu bagaimana keadaan disana?!" Tanya Jaquile kepada reporter tersebut.
"Sekarang ini seorang pemburu kelas tanker sedang mencoba untuk menahan mereka menyebar keseluruh kota"
"Siapa orang itu?" Nagotomo juga menyumbangkan sebuah pertanyaan.
"Kalau tidak salah, identitas orang itu adalah Yoga Gavriel.." Reporter itu mencoba memberitahu nama pemburu itu dengan ragu.
"Tidak mungkin?! Wakapten sendirian menahan para monster black dungeon?" Lucy dengan mata bergetar terkejut setelah mengetahui identitas pemburu tersebut.
"Bagaimana bisa dia sendirian?! Bukankah seharusnya disana banyak pemburu yang juga sedang bersiaga?!" Kesal Jaquile.
"P-para pemburu melarikan diri sebelum bertempur" Reporter itu mulai ketakutan.
"Cih" Jaquile segera beranjak dari sana, "Kalian! Ayo cepat kita terbang ke Amerika sekarang!" Perintah Jaquile menggerakan para pemburu aliansi.
Saat Jaquile sedang berjalan menuju bandara, ternyata Kuhler Cs juga mengikuti jejaknya, "Mengapa kau mengikuti ku?!" Jaquile menoleh kepada Kuhler dengan nada kesal.
"Mengikuti mu? Hmph jangan kepedean kau... Aku juga ingin ke Amerika untuk menuntaskan apa yang tidak bisa diselesaikan oleh orang-orang ku" Kuhler dengan nada sombongnya membalas.
Sekarang ini dua kekuatan besar secara bersamaan menuju ke Amerika untuk menumpaskan black dungeon yang mengalami breakdown. Jaquile dan Kuhler Cs dari Brazil, sedangkan Rado dan pemburu Indonesia bergerak dari negara timur tengah.
Sementara itu di Indonesia sendiri, Melly yang baru saja keluar dari ruangan sekapan Nara, segera menuju keruangan Vasco. Terlihat Vasco dan Steven sedang menonton tayangan tersebut dengan suasana ruangan yang sunyi.
"Tuan Vasco.. itu Yoga..." Dengan ekspresi cemas Melly melapor.
Vasco segera mematikan tvnya dan segera memutar kursinya kearah Melly, "Lalu? Kalau dia mati bukankah itu bagus?" Vasco tersenyum tipis menatap Melly.
"Tapi..." Melly mencoba untuk merasa simpati.
"Apa kau memperdulikan pengkhianat?" Tanya Steven tajam kepada Melly.
Melly pun menatap Steven dengan wajah takutnya, lalu menundukan kepala, "Tidak.. maafkan aku" Ia pun segera keluar dari ruangan tersebut dan kembali keruang sekapan dengan pikiran yang dipenuhi oleh Yoga.
"Tuan Vasco.. Bagaimana menurut mu tentang kekuatan baru yang diciptakan oleh Rado? Bukankah ini gawat untuk kita jika ia tahu kalau wanitanya kita sekap?" Khawatir Steven mengenai Rado.
"Hmph... Tenanglah Steven... ia tidak akan berani melakukan hal bodoh.. karena wanita adalah kelemahan terbesar dari seorang pria" Vasco tersenyum licik sambil duduk berputar diatas kursinya.
Kembali beberapa saat kemudian di Amerika dimana Yoga, Devian dan Mye sudah berada dipertigaan tengah kota untuk bersiap melakukan operasi tanpa formasi tersebut.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita kekanan terlebih dahulu.." Kata Devian memerintah.
"Hahhh???? Siapa yang meminta mu memerintah?! Tidak! Kita harus kekiri terlebih dahulu!" Yoga menolak perintah Devian.
"Ku bilang kekanan ya kekanan!" Devian mulai meninggi.
"Ku bilang kekiri ya Kekiri!" Yoga tidak mau kalah.
"Nyari ribut hah?!"
Sementara mereka berdua salah adu urat, Mye menghela nafasnya dan memilih kembali kejalan yang mereka lalui.
"Woi Mye mau kemana kau?!" Noleh Devian kearah Mye dengan nada yang masih meninggi.
"Aku lelah mendengar kalian ribut, lebih baik kita kembali dan mencari jalan lain.. Kalau begini terus, akan banyak korban yang sudah berjatuhan sekarang.." Mye dengan nada lelah.
"Hmph" Mereka berdua segera menarik diri dari pertengkaran yang sia-sia itu dan segera mengejar Mye yang sudah berlari duluan.
"Lihat saja, aku akan membunuh mereka lebih banyak dari kau!" Sebuah percikan tantangan dari Devian.
"Tidak! Aku lah yang akan lebih banyak!" Yoga tidak ingin kalah.
"Hoooo ada orang bodoh disini! Bagaimana bisa seorang tanker mampu membunuh lebih banyak dari seorang damage dealer?" Dengan ekspresi mengejek Devian mampu membuat Yoga kesal.
"Diam lah kalian! Lihat itu!" Bentak Mye sambil memberitahu kalau mereka telah tiba didekat para Troll.
Para Troll saat ini sedang menghancurkan kota dan memakan para manusia yang berhasil mereka temui, diarea yang sudah porak poranda itu, sudah tidak terlihat manusia yang masih hidup. Para Troll itu pun segera menoleh kearah tiga orang yang baru saja datang untuk mengganggu mereka.
"Baiklah ayo kita buktikan siapa yang lebih hebat!" Devian masih menantang Yoga.
"Ok, kubuat mulut mu itu bungkam" Terima Yoga atas tantangan tersebut.
Mereka berdua pun segera melesat dengan cepat melewati Mye dan langsung menyerang kumpulan Troll tersebut.
"Heyaaaaa!!!!!!!!!" Teriak mereka secara bersamaan dengan senjata masing-masing yang sudah siap untuk menyerang para Troll.