
Rado dan timnya akan keluar dari ruangan bos tersebut dan melewati lorong-lorong penghubung tiap ruangannya. Disaat mereka melewati tempat para pemburu beristirahat, sebuah pemandangan yang mengerikan tidak bisa mereka hindari, tubuh yang bercerai-berai tanpa kepala menjadi makanan bagi mereka saat ini. Wajah histeris tanpa suara pun terpancar dari mereka, beberapa dari mereka muntah seketika saat melihat praktek mutalasi yang diterapkan oleh bangsa Orc.
"Ini Sungguh kejam!" Kata Bobby yang mencoba untuk mendekat kearah mayat tersebut.
"Bawa mereka" Rado memerintahkan kepada para pemburu dan poter untuk membawa jasad mereka keluar dari dungeon tersebut.
Mereka perlahan dengan gestur ngeri dan jijik melihat tubuh yang tak utuh itu mencoba untuk melaksanakan perintah dari Rado. Yoga yang sedang dirangkul oleh Peter untuk berjalan mengikuti Rado, menatap dengan penuh pertanyaan kearahnya.
"Rado?"
"Hm?" Rado menoleh kearah Yoga dengan wajah flatnya.
"Apa ada yang terjadi?" Dengan wajah penuh harapan kalau dia akan memberitahu apa yang terjadi.
"Tidak..tidak ada apa-apa" Dia melempar senyum seperti biasa.
Rado segera mengalihkan wajahnya dari Yoga kearah depan, Wajah menjadi serius memikirkan langkah apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Rombongan Rado pun berhasil keluar dari sana dan disambut dengan meriah oleh para pemburu dan wartawan. Namun, sorakan itu berubah seketika saat melihat keadaan para pemburu yang penuh dengan luka dan terdapat beberapa korban yang ditutupi oleh jubah pemburu.
Rado pun dihujanin oleh pertanyaan dari wartawan, tetapi ia tidak menggubrisnya sedikit pun dan meninggalkan mereka. Pertanyaan pun terlontarkan dari jari para netizen yang menanggapi kesulitan dari dungeon tersebut.
"Hei apa kau sudah melihat mayat dari para pemburu yang mati didalam dungeon waktu itu?"
"Belum, apa kau punya?"
"Aku punya, teman ku yang mengikuti raid tersebut sempat memfotonya.."
"Lihat!"
Foto korban dan rumor mengenai Bangsa Orc pun tersebar luas dimedia sosial, mereka membicarakan itu sampai beberapa hari kedepan setelah dungon itu terlah selesai. Cerita mengenai pertarungan sengit antara Rado dengan pemimpin monster itu pun menjadi perbincangan hangat hampir diseluruh dunia. Pada hari yang sama pemerintahan negara Genosha dihujani pertanyaan mengenai kebenaran bangsa Orc yang berhasil difoto oleh salah satu pemburu dan tersebar luas.
Kejadian itu membuat para pemburu menjadi mawas diri akan dungeon sekarang, pergerakan dungeon mulai sulit ditebak dengan konsentrasi yang berubah-ubah setiap dimasuki. Itulah mengapa diberbagai belahan dunia, dungeon breakdown sekarang menjadi sebuah makanan sehari-hari. Permintaan atas jasa pemburu berlisensi dari negara lain melejit diberbagai dunia karena kekurangan pemburu untuk menangani dungeon yang muncul lebih banyak dari sebelumnya.
"Rado.. apa kau bisa jelaskan apa yang terjadi?" Tanya Gozie kepada Rado yang sedang duduk di sofa ruangannya sambil menyenderkan kepalanya sambil menatap langit-langit ruangan.
"Sepertinya pergerakan dunia dimulai.." Sambil melihat langit-langit.
"Apa maksud mu?!"
"Tidak.. bukan apa-apa" Ia beranjak pergi dari ruangannya sambil memakai tudung hoodienya.
Gozie terlihat kesal atas tingkah laku Rado yang semakin lama semakin semaunya, "Anak itu!!!"
Saat Rado ingin keluar dari ruangannya, Goro pun menatapnya dengan sini sampai ia keluar dari ruangan itu dan segera beralih kearah bosnya.
"Dia sudah mulai sulit dikendalikan, padahal dia baru saja dinegara ini! apa yang harus kita lakukan tuan?" Goro mendekat kepada Gozie.
"Kita berikan waktu kepada dia, kalau dia masih tidak mendengarkan ku.. bunuh dia diam-diam" Gozie dengan senyum lebar merencanakan pembunuhan. [Dia mirip sekali seperti dirimu Silva... Sulit dikendalikan!]
"Dengan senang hati tuan" Goro ikut tersenyum jahat saat menerima perintah tersbeut.
Rado yang saat itu keluar dari ruangan Gozie, segera disambut oleh Yoga yang sejak tadi menunggunya diluar.
"Bagaimana keadaan mu?" Tanya Rado kepada Yoga.
"Aku sudah mulai baikan semenjak aku menerima kontrak force dengan mu"
"Syukurlah..."
Saat setelah mereka pulang ke Genosha, Rado segera menjelaskan secara detail mengenai apa yang ada pada Yoga diruangannya. Yoga pun terkejut mengetahui kalau dia adalah salah satu yang terpilih oleh sistem Rado. Hal yang tidak terduga bagi Rado adalah saat ditengah perbincangan mereka, sebuah tabel sistem keluar ketika mereka saling bertatap muka.
{Yoga Morctis dinobatkan sebagai pendamping, apa anda akan menerimanya?} Tanpa berfikir panjang Rado segera berkata "Ya!"
"Rado?" Yoga pun bingung karena Rado mengatakan Ya tanpa alasan apapun.
Perlahan tubuh Yoga menguap dan semakin menguap, ia panik sambil melihat sekujur tubuhnya karena fenomena ini, "Rado!!!! ada apa ini.. tolong aku!"
"Tenang lah, ini bagian dari proses"
Mendengar itu Yoga bisa lebih tenang dan menatap Rado yang terlihat serius. Perlahan uap yang berada dari tubuhnya berubah menjadi force berwarna ungu ciri khas milik Rado, sebuah lambang demicles berukuran kecilpun juga muncul diatas kepala Yoga.
"Ini?!" Ia melihat kearah tangannya dan merasakan kekuatan yang mengalir.
"Selamat kau telah berhasil menjadi seorang menteri" Rado tersenyum kepadanya.
"Menteri?"
Kembali kepada mereka yang berada digedung pusat negara Genosha, mereka berjalan berdampingan sambil berbisik akan suatu hal.
"Bagaimana progres mu?" Rado bertanya kepada Yoga dengan hati-hati.
"Aku berhasil mengumpul setengah dari keluarga Morctis dan mereka juga bersedia mengikuti mu" Yoga terlihat senang memberitahukan itu kepada Rado.
"Tahap selanjutnya?" Yoga bertanya atas maksud dari perkataanya.
"Yah.. tahap selanjutnya" Rado tersenyum tipis dengan mata tajamnya.
__________________________________
Di negara Indonesia sendiri juga sedang krisis pemburu dimana mereka juga meminta bantuan dari pemburu negara lain untuk membantu negara mereka, meskipun harus membayar pajak transit yang mahal. Perkumpulan kudeta pemerintah sedang berkumpul di markas Guild White Lotus. Mereka juga sedang membahas mengenai bangsa Orc yang dilawan oleh Rado.
"Apa benar dia selamat melawan makhluk sebanyak itu?!" tanya Karen kepada semua orang yang duduk dimeja tersebut.
"Yah kalau Rado, mungkin benar selamat" kata Rudy menimpal segera.
"Sampingkan dahulu tentang itu, bagaimana dengan rencana kita?" Kan segera mengubah topik.
"Semua sudah siap.. kita tinggal menjalankanya besok" Kata Watz memberitahu mengenai progres mereka.
"Baiklah.."
Watz menoleh kearah Julie yang sedang melihat berita di Smartphonenya, ia tidak fokus akan rapat hari itu melainkan ia fokus pada seseorang yang berada dalam berita itu.
_________________________
Dibelahan dunia, ketiga pemburu teratas dunia berada disatu tempat seperti biasanya.
"Hei apa kau sudah melihat berita di tv Australia?" Tanya Jason Adam.
"Ha?? Ooo maksud mu mengenai orang asia yang bilang kalau dia adalah pemburu terkuat?" Kuhler menanggapi Jason.
"Berhentilah menggunakan kata Asia! Yah.. aku juga tertarik ingin bertemu dengannya dan mencoba untuk beradu pedang" Kata Nagatomo yang sedang merawat katananya.
"Bukan cecunguk itu yang sedang ku bicarakan, tapi mengenai bangsa Orc yang menjadi lawan mereka" Jason mengklarifikasi pertanyaan.
"Hoo.. yah menurut ku itu hanya kumpulan monster lemah... dan yang ku tahu ada banyak jatuh korban dalam tim raid mereka... Brati orang yang bernama Rado Morctis itu lemah karena tidak bisa melindungi timnya hahaha"
Saat perbincangan mereka mengenai kejadian tersebut, tiba-tiba orang berjas hitam datang dengan tergesa-gesa.
"Tuan!! ada panggilan darurat dari perkumpulan!"
"Ha? Hei kau tidak bisa melihat kita sedang santai?" Kuhler dengan nada meninggi kepada orang tersebut.
"Ma-maafkan aku tapi ini sangat genting" Dengan nada terbata-bata ia mencoba untuk mengajak mereka.
"Ha.. baiklah ayo kita dengarkan para kakek-kakek itu"
Mereka berjalan menuju ruangan rapat dipandu oleh orang berjas tadi. Saat mereka masuk kedalam ruang itu, semua mata segera tertuju kepada ketiga orang yang dibilang sebagai pemburu terkuat didunia.
"Hei mengapa kalian sangat serius, para tua bangka" Kuhler tersenyum lebar mengejek.
"Jaga bicara mu Kuhler!" Kata seorang pria berkumis dan berambut blonde, ia adalah ayah dari Kuhler Vorham.. Baldrik Vorham.
"Cih" Ketus kesal dari Kuhler karena ditegur.
"Baiklah, langsung saja" kata pria tua berambut panjang berwarna putih.
Seketika ruangan menjadi hening dan kondusif, "Ini situasi gawat... Black Dungeon muncul.."
"Kalau begitu kami hanya menutupnya saja bukan? yah meskipun mungkin akan banyak yang mati juga nanti hahaha" Jason dengan enteng mengatakan kematian seseorang.
Keegoisan dari ketiga orang ini sudah dimaklumi oleh semua petinggi PPMD karena mereka adalah pahlawan dunia, sepatah kata yang menyinggung humanisasi dari mulut mereka dibiarkan saja. Mereka juga kebal terhadap hukum karena sudah tidak ada lagi yang bisa menangkap mereka karena kekuatan yang melimpah, cara satu-satunya agar mereka mau bekerjasama adalah dengan menuruti kemauan dari tiga pemburu itu.
"Yah.. mungkin kalau satu saja kalian bisa, bagaimana kalau tiga dungeon terbuka sekaligus?" Kata pria tua tadi.
"Apa?! tiga?!"
Ketiga pemburu itu terkejut mendengar laporan tersebut, tiga Black dungeon yang terbuka dibeda negara ini menjadi suatu bencana bagi umat manusia. Laporan ini belum masih dirahasiakan dari mata dunia, hanya perkumpulan dan negara yang bersangkutan saja yang mengetahui hal ini. Perkumpulan juga berniat untuk mendatangkan pemburu-pemburu terhebat untuk menuntaskan bencana yang mungkin bisa mengakhiri kelanjutan ras manusia.
Black dungeon yang terbuka itu mengeluarkan semacam petir dari dalam yang menunjukan konsentrasi yang sangat tinggi. Tampilan dari dungeon itu seperti Black Hole diluar angkasa, para warga setempat pun hanya bisa menatap dengan putus asa saat melihat black dungeon yang hadir di negara mereka. Para aparat juga mulai menghimbau para warga untuk segera mengungsi dari area tersebut.
Saat ini PPMD mempunyai waktu 2 minggu untuk mencari para pemburu yang bersedia untuk menutup black dungeon yang telah mengancam dunia saat ini.
_____________________________-
NOTE : Mulai besok saya bakal slow update karena mau liburan tahun baru sampai tanggal 1. Laptop ga saya bawa, sedangkan kalau nulis di hp itu ga nyaman banget bikin sakit mata. Oiya..Terimakasih juga buat kalian yang udah dukung dan baca novel saya ditahun ini, seneng banget deh pokoknya.
Resolusi saya buat tahun 2020 cuma satu, yaitu menjadi lebih baik dan terus berusaha. Saya orang yang udah berhenti untuk berekspetasi, karena ekspetasi itu cuma sebuah ilusi dan angan-angan mangkanya lebih mengutamakan evaluasi. Jangan lupa juga buat terus bersyukur bro dan sis semua, meskipun pahit itu mungkin sebuah awal dari lembaran baru. Dibawa enjoy aja ga usah dianggap serius ibarat angin lewat yang membawa pelajaran.
Ok itu aja hahahha..
Btw Selamat Natal dan Tahun Baru :) Ciaooo!!