
Disebuah negara Timur Tengah, para pemburu dari Indonesia yang baru saja tiba untuk melakukan raid yang fenomenal itu, terlihat terkejut dengan mulut terbuka akan kedahsyatan dari Black Dungeon tersebut. Para pemburu dari Jepang juga mulai berdatangan dan mendekat untuk bergarbung bersama pemburu dari Indonesia.
Pembatas mulai dipasang oleh polisi setempat untuk memberikan ruang untuk para pemburu yang akan menyelamatkan dunia. Masyarakat di kota itu mulai berdatangan dan mengabadikan saat-saat mereka masuk kedalam dungeon tersebut.
"Tolong mundur! Para pemburu akan melakukan operasi penutupan black dungeon" Kata seorang polisi setempat.
"Tolong selamatkan negara ini dari dungeon itu tuan pemburu" Teriak harapan seorang wanita dari belakang pembatas.
Disamping itu para pemburu Indonesia dan Jepang hanya bisa tersenyum kearah mereka demi menutupi kecemasan mereka. Dungeon berwarna hitam yang super besar itu membuat para pemburu harus mendongak untuk melihatnya. Aura force yang dipancarkan oleh dungeon itu mampu mengetarkan lutut para pemburu dalam segejap.
[Jadi ini Black Dungeon, dungeon satu-satunya yang muncul secara acak tidak didalam menara.. aura yang dipancarkan sungguh hebat.. kaki ku seperti tidak memiliki tulang...] Rudy dalam benaknya mengomentari dungeon yang berada dihadapannya saat ini.
"Julie.. tetaplah didekat ku" Kata Watz menoleh kearah Julie yang sejak tadi diam tanpa gairah.
"Baik" Dengan lesu ia menjawab.
"Tetaplah hidup agar kau bisa menghajarnya kelak" Kata Watz setelah beralih menatap dungeon dan Julie menoleh kearahnya dengan tatapan harapan.
Saat ketegangan terjadi ditengah para pemburu dari beberapa negara yang sudah berkumpul, seorang pria Jepang maju kedepan mereka sambil membelakangi dungeon tersebut.
"Eeeto.. mohon perhatiannya.. Aku Kirisaki Takuya, seorang pemburu dari Jepang"
Pria dengan rambut hitam dengan bandana putih yang menyikap rambutnya kebelakang, Perisai besar dan sebuah pedang satu tangan yang terpajang dipunggungnya menandakan ia seorang tanker. Ia berdiri memberikan instruksi sambil memegangi helm miliknya, para pemburu yang lain mulai memusatkan perhatian kearahnya.
"Mungkin ini hal yang tidak sopan karena pemilihan ketua pada raid ini sangat egois, yaitu dengan pemilihan secara sepihak. Aku ditunjuk oleh para petinggi untuk menjadi ketua utama pada Raid kali ini, apakah ada yang keberatan?"
Para pemburu hanya diam tanda mereka tidak masalah akan hal itu.
"Baik, aku mengapresiasi kerjasama kalian yang tidak mengeluhkan kepetusan ini, bisakah setiap negara mengirimkan perwakilan untuk memberitahu ku mengenai pasukan kalian?"
Setelah mendengar itu Kan yang ditunjuk sebagai ketua tim 1 untuk negara Indonesia maju melapor kepada Kirisaki.
"Aku Kan dari Indonesia, Indonesia mengirim pemburu sebanyak 120 orang dengan pembagian secara 6 tim. Tiap tim berisi 20 orang dan berisikan perpaduan pemburu rank Anchor dan Saxon"
"Bagus.... selanjutnya"
"Aku sudah mengetahui keseluruhan dari kalian semua, aku akan menjelaskan strateginya setelah kita masuk dan mengetahui medan apa yang kita dapat, jadi ayo kita masuk terlebih dahulu..."
Setelah mengatakan itu mereka semua mulai melangkah masuk perlahan kedalam dungeon tersebut, setiap langkah mereka diberikan dukungan oleh para warga setempat dan doa dari mereka yang menyaksikan lewat televisi.
Debaran jantung dari Geraldo yang ikut serta dalam raid kali ini tidak bisa ia kontrol dengan baik, kecemasan dan ketakutan mulai menelannya setiap ia melangkah maju mendekat ke bibir dungeon tersebut. Tidak hanya Geraldo saja yang merasakan demekian, semua para pemburu juga memberikan mimik wajah ketakutan yang tertahan, keringat yang mulai membasahi pelipis mereka pun mulai terlihat.
Semakin mereka mendekat, udara disana semakin menyesakan nafas karena tekanan force yang kuat. Beberapa dari mereka mulai berjatuhan karena tidak kuat melawan aura force saat mulai mendekat.
"Tinggalkan mereka yang tidak bisa melanjutkan langkahnya... kita harus tetap berjuang demi mereka juga" Kata Kirisaki sambil melawan dorongan aura force tersebut.
Langkah kaki mereka mulai terasa berat, kaki mereka seperti dijerat oleh sebuah bola besi yang dikaitkan. Namun karena menyangkut dengan kelangsungan umat manusia, mereka memaksakan diri dan terus menerobos masuk kedalam.
Beberapa dari mereka mulai menembuh portal tersebut dan tertelan olehnya. Rudy yang juga mulai masuk kedalam merasakan hal yang berbeda dari dungeon yang biasanya, saat ia didekat bibir dungeon, Rudy seperti terhisap masuk dengan kuat dan segera berpindah tempat kedalam dungeon tersebut yang akhirnya ia ketahaui kalau medan yang dihadapi adalah medan api dengan runtuhan sebuah kota yang terbakar.
Satu persatu para pemburu mulai masuk dalam dungeon tersebut, Kirisaki yang memasuki dungeon tersebut pertama kali segera menganalisis medan yang akan mereka hadapi. Setelah beberapa saat berfikir ia segera berbalik dan menatap mereka semua.
"Ok.. cukup banyak yang tidak bisa melanjutkan langkahnya kedalam sini, itu sungguh disayangkan"
Mereka semua menatap Kirisaki dengan tegang.
"Sebelumnya, aku belum pernah menyelesaikan black dungeon... jika seandainya mereka (Kuhler, Jason dan Nagatomo) bersama kita mungkin akan bisa mengurangi resiko... yah tapi tenang saja.. tuan Nagatomo pernah berkata kepada ku, kalau sebenarnya black dungeon tidaklah berbeda dengan dungeon yang lain.. hanya saja---"
Sebelum Kirisaki menyelesaikan perkataanya, sekumpulan dragonoid yang sudah siap berperang menghadang mereka, dan hal yang tidak terduga adalah seekor naga putih yang berada dibelakang mereka memiliki ukuran tubuh sebesar gedung 40 lantai.
Mereka semua terkejut karena langsung dihadapkan oleh bahaya yang hadir. Aura force yang dipancarkan oleh Dragonoid itu bukan main, tekanan yang mereka pancarkan mampu membuat pemburu dengan force yang sudah melemah, muntah segera saat merasakan tekanan dari mereka. Kirisaki segera berbalik kearah mereka dan tersenyum cemas.
[Ah... kalau mereka yang mendatangi kita.. untuk apa aku menyusun strategi disetiap kemungkinan?] Dalam benaknya ia menggerutu.
Kirisaki segera memakai helmnya dan mengambil senjatanya dan memasang kuda-kuda bertahan, "Kalian semua.. cepatlah ke mode bertempur!!!!!!!"
Teriakan dari Kirisaki dicerna baik oleh para pemburu, mereka segera menyiapkan senjata mereka untuk menghadapi sekumpulan Dragonoid. Para Dragonoid pun mulai berlari menghampiri mereka, semakin mereka mendekat, semakin juga rasa takut yang menyelimuti para pemburu. Tidak heran bila beberapa pemburu pada akhirnya memilih untuk mundur dan berlari kearah portal dungeon yang berada dibelakang mereka untuk melarikan diri.
Namun sayang, mereka tidak bisa meninggalkan dungeon tersebut seperti yang mereka mau. Dungeon itu menyengat dengan percikan kilat yang menyambar saat para pemburu mendekatinya. Karena hal itu, ketakutan akan kematian perlahan menenggelamkan mereka akan keputusasan dalam bertempur.