
Situasi di ruang tahta ratu saat ini sangat kacau. Para penjaga Slyvrin mulai mengelilingi mereka, para pendamping pun juga berada didepan Slyvrin untuk segera menghabisi jenderal ras manusia yang berada disatu tempat. Ras manusia saat ini terhimpit dan tidak bisa melarikan diri akibat pengepungan yang amat ketat dari ratusan elf yang berada disana. Mereka bermunculan dari berbagai pintu yang mengelilingi ruangan tersebut dan akan muncul bila sang ratu memberikan perintah.
Hanya Sarka saja yang masih belum memutuskan untuk ikut serta dalam pengepungan tersebut, karena ada perasaan yang mengganjal mengenai perundungan tersebut. Sarka merasa bimbang, apakah dia harus mengikuti perintah ratunya yang mutlak atau ras tidak enaknya kepada Yoga karena dialah yang membawa mereka ke istana para elf.
"Nona Sarka! Mengapa anda terlihat bingung! Anda itu seorang pendamping!" Kata Adelfo mencoba mengingatkan siapa Sarka.
Slyvrin hanya menatapnya saja dan ketiga pendamping lainnya mulai memberinya sebuah nasehat.
"Sarka.. Kalau kau tidak kesini, kami akan menganggap mu pengkhianat!" Kata Elf perempuan berkulit putih dengan rambut kuning serta sebuah asesoris didahinya, ia terlihat membawa sebuah tongkat digenggamannya..
"Sarka!" Bentak Dark elf pria yang juga seorang pendamping dengan sebuah pedang dipinggangnya.
Sarka semakin terbebani, dia menutup matanya karena keberatan hati dalam memilih. Disaat dalam keraguannya, elf pendamping berambut hitam bertubuh tinggi dengan gada besar dipunggungnya menghampiri Sarka. Karena tubuhnya yang besar, bayangannya pun mampu menutup tubuh Sarka. Aura yang menekan dari elf tersebut membuat Sarka membuka matanya secara tiba - tiba, wajahnya pucat saat menatap wajah elf yang sedang melihat kearahnya dengan mata sipitnya.
"Tuan.. Hamdall~" Sebutnya bergetar.
Hamdall mencoba meraih kepala Sarka dengan telapak tangan besarnya, wajah Sarka sangat ketakutan dengan keringat yang mengucur. Dilihat dari besar bayangan telapak tangannya, tangan Hamdall bisa berukuran satu kepala manusia biasa. Saat telapak tangan itu hampir menyentuh wajah Sarka, Slyvrin segera menghentikan Hamdall.
"Hamdall!" Cegahnya.
Tangan Hamdall pun berhenti mendekat.
"Biarkan dia... Setelah ini biar aku yang mengurus dirinya..." Sambung Slyvrin.
Hamdall adalah elf kepercayaan Slyvrin dan ia sudah mendampingi Slyvrin sejak didunia sebelumnya bersama ke dua elf lainnya yang saat ini sedang ditugaskan Slyvrin untuk keluar dari wilayah elf untuk melakukan sesuatu. Sekarang ini total dari pendamping Archon ras elf berjumlah enam elf. Hamdall sebagai pendamping terkuat selau berdekatan dengan Slyvrin, entah itu dalam bayangan maupun tidak.
Setelah Diberhentikan oleh Slyvrin, Hamdall segera meminta maaf dan melepaskan Sarka yang sudah terkualai lemas akibat tekanan yang ia berikan. Wajahnya pucat dan tidak bisa berkata apa - apa, tubuhnya penuh keringat dan ada tatapan iba serta tatapan rendah dari pendamping yang menyaksikannya.
"Sepertinya elf yang itu sangat berbahaya.." Kata Jaquile tertuju kepada Hamdall.
"Lihatlah perbuatan mu Albert.. Kau harus menyelesaikannya.." Geram Yoga berada di paling depan sebagai seorang tanker.
"Maafkan aku.. Aku tidak menyangka kalau akan sekacau ini.." Jawab Albert terlihat bersalah sekaligus waspada.
"Sudah telat untuk itu...! Senjata kita juga berada diluar! Bagaimana bisa kita melawan tanpa senjata!" Ujar Yoga begitu kesal dan bingung.
"Aku menyimpan senjata... Aku akan membuat waktu untuk kita kabur!" Kata Albert sambil menggerakan lengan kanannya secara perlahan.
Albert mengangkat lengan kanannya dan terdapat sebuah gelang dengan sebuah permata berwarna merah, ia segera mengalirkan forcenya dan terciptalah sebuah serangan api dari gelang tersebut. Serangan api tersebut segera mengarah kepada Slyvrin yang berada dibelakang para pendampingnya. Tetapi dengan cekatan Hamdall segera memasang badan untuk melindungin Slyvrin. Hamdall hanya mengangkat satu tangannya kedepan untuk menghalau serangan tersebut. Hal yang tidak terduga pun terjadi, Hamdal berhasil menghentikan serangan dari Albert dengan mudah tanpa bantuan apapun.
"Apa?!" Albert terkejut.
"Bodoh sekali melawan kami bangsa elf dengan force selama itu..." Kata pendamping perempuan.
"Lemah kata mu?" Tanya Albert kesal karena serangannya diremehkan.
"Kami ini bangsa Elf dengan kapasitas sihir yang sangat memadai... Serangan seperti itu bisa dilakukan oleh ras kami saat masih berumur tiga puluh tahun..." Kata pendamping dark elf pria.
"Kalau begitu.." Albert segera mengudarakan demiclesnya.
"Hah? Aku tidak percaya kalau dia adalah makhluk terpilih seperti kita.." Sambung dark elf pria dengan nada mengejek.
Albert mencoba untuk menyerang sekali lagi namun dengan kekuatan yang berbeda, tubuhnya sekarang ini dialiri force yang amat banyak, ia segera memusatkan kekuatan forcenya kepada gelang tersebut dan menembakan sekali lagi serangan api dengan kekuatan berbeda. Serangan seperti tembakan api itu mengarah cepat kembali ke Hamdall, kali ini Albert tersenyum karena yakin dengan serangan besarnya tersebut.
Api itu terus melaju dengan kecepatan penuh, disaat serangan tersebut sampai ke Hamdall, ia menangkap serangan dari Albert dengan kedua tangannya, lalu ia berputar dan mengembalikan serangan Albert namun dengan kekuatan yang lebih kuat lagi.
"Masa?!" Teriak Jaquile saat melihat pembalikan serangan tersebut.
Albert terkejut dengan datangnya serangan tersebut, ada dua hal yang membuatnya terdiam kaku, yaitu serangannya yang tidak mempan dan serangan yang sangat dahsyat datang kearahnya secara tiba - tiba. Secara sigap Yoga segera berdiri didepan Albert dan merapatkan kedua lengannya didepan wajah hingga tubuh depannya lalu sedikit membungkukan tubuhnya tuntuk menyempurnakan posisi bertahannya. Serangan api yang besar itu menghantam Yoga hingga terpencar hingga kedua sisi karena tidak mampu menembus pertahanan Yoga yang tanpa perisai tersebut.
Tubuh kokohnya itu mampu menahan serangan api secara mentah - mentah, beberapa saat tubuhnya di selimuti api yang panas, ia membuka kedua tangannya dengan spontan untuk menghalau sisa - sisa serangan tersebut dan menyebarkannya kedua sisi tubuhnya. Tubuhnya mengeluarkan uap dan jirah lengannya terlihat menghitam, tubuh Yoga tidak mengalami luka yang serius karena saat dalam posisi bertahan, ia menyelimuti tubuhnya dengan force yang ia miliki.
Para elf dibuat terkejut karena serangan dari Hamdall mampu dihentikan hanya dengan dua lengan saja.
"Apa?! Dia menghentikan serangan balik dari tuan Hamdall dengan tubuhnya?!" Kejut dark elf pendamping.
Hamdall hanya terdiam menatap Yoga yang juga sedang menatapnya dengan mimik mengancam. Ia berjalan kearah Yoga tanpa mengatakan apapun, demikian juga Yoga. Mereka seperti mengerti satu sama lain dan menghampiri satu sama lain. Saat mereka berada di jarak pertempuran, Yoga dan Hamdall secara bersamaan menarik lengan kanan mereka kebelakang untuk memberikan salam pembukaan.
Tinju dari kedua pendamping itu saling menuju kearah titik vital masing - masing, tinju dari Hamdall menuju wajah Yoga, sedangkan tinju Yoga menuju ulu hati Hamdall. Tinju mereka saling menyerempet sebelum menuju titik yang mereka tuju. Sampai akhirnya tinju besar Hamdall mampu mendarat diwajah Yoga hingga menutupi wajahnya dan demikian juga tinju Yoga yang pas mendarat ke ulu hati Hamdall dengan perbandingan ukuran yang berbanding terbalik.
Beberapa detik mereka tidak bergeming dan semua orang yang menyaksikan hanya bisa terdiam dengan mulut terbuka. Sekian lama mereka dalam posisi saling meninju, Hamdall mengerahkan kekuatannya sekali lagi dan mendorong tinjunya lebih kerah yang membuat Yoga terpental kebelakang hingga menyeret dilantai lalu berakhir menabrak tembok sebelah pintu masuk utama.
Setelah mengirim Yoga jauh kebelakang, Hamdall bertekuk satu lutut sambil memegangi ulu hatinya. Ia memuntahkan sebuah air liurnya dan mata sipitnya berubah melebar.
"Tuan Hamdall!" Teriak para elf melihat kondisi Hamdall.
"Hamdall!" Slyvrin khawatir.
Yoga kembali bangkit setelah diterbangkan oleh Hamdall, serpihan batu yang berada ditubuhnya mulai berjatuhan ketika ia berdiri. Ia bangkit dengan wajah yang berlumuran darah akibat serangan telak dari Hamdall namun ia tidak menunjukan rasa sakit yang ia derita.
"Ini tidak sakit sama sekali.." Ujarnya dengan wajah dilumuri darah.
"Jangan berbohong! Mana mungkin kau tidak merasakan sakit dengan wajah seperti itu!" Teriak Jaquile menyangkal pernyataan Yoga.
Disisi lain Hamdall juga mulai berdiri sambil memegangi bagian ulu hatinya.
"Ini tidak terasa sama sekali!" Katanya tidak ingin kalah dari Yoga.
Suasana didalam ruangan itu sangat tegang karena pertarungan antara kedua tank dari masing - masing ras. Mereka meliki sifat yang sama, yaitu keras kepala dan tidak ingin mundur dari pertarungan. Tanker yang berbeda senjata itu juga memegang teguh suatu aturan, yaitu menghormati lawan secara jantan.
"Tuan Hamdall! Gunakan gada anda untuk membunuh manusia itu!" Teriak Adelfo.
"Diam!" Jawab Hamdall menolak usulan dari Adelfo.
Hamdall memilih untuk menjatuhkan gadanya untuk melawan Yoga, ia merasa harus menghormati Yoga dengan pertarungan yang adil.
"Siapa nama mu?" Tanya Hamdall.
"Aku Yoga Gavriel" Jawabnya.
"Yoga Gavriel... nama yang aneh.." Ejek Hamdall tanpa tersenyum.
Beberapa saat mereka saling berkenalan, Yoga terlebih dahulu menyerang kembali kearah Hamdall degan senyap tanpa mengatakan sepatah kata pun, hanya baju jirahnya saja yang mengiringi penyeragannya. Kali ini Hamdall hanya berdiri ditempat sambil menunggu kedatangan Yoga, Yoga mengalirkan forcenya ke tinju kanannya dan melompat untuk mengincar wajah Hamdall. Akan tetapi, Meskipun Hamdall memiliki tubuh yang besar, kecepatan tangannya tidak sama sekali lambat. Ia memanfaatkan posisi Yoga yang berada diatas untuk memukul telak dirinya sekali lagi.
Yoga merasa tertipu dengan gerak Hamdall yang semulanya tidak melakukan perlawanan, secara tiba - tiba Hamdall menatap kearahnya dan meninjunya dengan cepat. Yoga begitu terkejut dan secara cepat segera melakukan pertahanan. Posisinya yang berada diatas membuatnya terpukul telak meskipun berhasil menahan tinju Hamdall, Ia terpental kembali kebelakang namun kali ini ia berhasil mendarat ditanah.
Tanganya gemetar karena rasa sakit yang ia terima dari tinju telapak tangan yang besar, Yoga tidak sedikitpun karena fokus untuk melakukan serangan kepaa Hamdall. Ia melesat kembali ke Hamdall, namun kali ini dia mengincar bagian perut Hamdal sekali lagi. Hamdall yang menyadari itu segera mengarahkan tinjunya kearah bawah untuk mengenai Yoga, perbedaan jangkauan serang diantara mereka menjadi salah satu faktor pembanding dalam keunggulan pertarungan kali ini. Lengan Hamdall yang panjang memungkin dirinya untuk memulai serangan terlebih dahulu, tetapi dengan tangkas Yoga menghindarinya kearah kanan dan mendaratkan tinjunya kearah tulang rusuk bagian kiri Hamdall dan membuatnya terlihat kesakitan.
Hamdall tidak ingin rela terpukul secara telah oleh Yoga, momen akselerasi dari Yoga yang terhenti karena mendaratkan pukulan di tulang rusuknya, membuat Hamdall mendorong sikut lengan kirinya kebawah dan berhasil mengenai pipi Yoga secara telak dan membuatnya terlentang ditanah. Tidak sampai situ saja, Hamdall berniat untuk menginjak Yoga dengan kaki kirinya yang besar.
Karena telat untuk bangun dan berada didekat kaki tersebut Yoga dipastikan akan terkena serangan itu, tetapi Jaquile segera melompat kearahnya dan mencoba untuk menendang Hamdall. Tendang Jaquile berhasil mengenai pipi kiri Hamdall dan membuatnya bergeser kearah kanan. Yoga berhasil diselamatkan dan ditarik mundur oleh Jaquile.
"Kau! Kau mencemari pertarungan antar pria!" Geramnya dengan mata sipit yang terbuka.
Karena sudah merasa dikhianati dalam pertempuran, Hamdall mengambil kembai gada yang ia jatuhkan. Mengetahui itu, para elf yang lain mulai bersiap untuk menyerang komplotan manusia yang terjebak layaknya tikus dalam perangkap.
"Hahaha sepertinya semakin berbahaya.." Tawa Jaquile dengan keringat sambil membantu Yoga berdiri.
"Sepertinya ini akan sulit karena kita tidak membawa senjata.. Ditambah disini ada archon mereka" Senyum Yoga dan darah yang terlihat mengalir dari bibir kiri.
Yoga melepaskan bantuan dari Jaquile dan kembali berdiri didepan pasukan manusia yang saat ini sudah terkepung.
"Albert! Kerahkan kemampuan mu sekarang!" Kata Yoga melihat kearahnya.
Yoga pun mempersiapkan mental dari Rudy, Jason, dan Nagatomo serta prajurit lain yang saat itu berada didalam ruangan bersama mereka. Para prajurit pun mulai berdempetan dan saling menutupi titik buta masing - masing dengan wajah pucat.
"Bersiap lah!" Kata Yoga.
Yoga pun mengudarakan demiclesnya, diikuti oleh Jaquile. Ketiga demicles milik ras manusia pun saling mengudara dan menyinari ruangan itu dengan cahaya berwarna ungu. Tidak ingin kalah dalam hal mengintimidasi, ketiga pendamping dari ras elf pun juga mengudarakan lambang mereka yang berwarna kehijauan dengan logo tongkat, diantara ketiga lambang milik pendamping elf, terlihat lambang demicles milik Hamdall memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan lambang demicles yang lain. Ukuran lambang miliknya dengan Yoga sangatlah tipis, milik Hamdall lebih besar dibandingkan milik Yoga dan itu juga menjawab pertanyaan Slyvrin yang terheran dengan kemampuan Yoga.
"Aku tidak heran lagi kalau dia bisa membuat Hamdall menyentuh tanah" Dalam benaknya.
"Apa ada permintaa terkahir wahai manusia?" Tanya Slyvrin saat berjalan kedepan barisan.
"Persetan untuk kalian semua!" Kata Jaquile spontan.
Mendengar perkataan Jaquile membuat semua ras manusia melihat kearahnya dengan terkejut.
"Kau serius mengatakan itu jenderal?!" Tanya Jason.
"Memang kenapa?" Tanya polos Jaquile.
"Kau memperkeruh suasana.." Jawab Yoga dengan santai.
"Masa?" Tanyanya lagi.
Benar saja, mendapat jawaban seperti itu membuat Slyvrin begitu kesal.
"Baiklah kalau itu mau kalian.. Habisi mereka!" Perintah Slyvrin dengan geram.
Para pasukan elf pun menyerang dari segala arah menuju lingkaran ras manusia yang sudah terpojok. Saat Adelfo yang berlari dengan cepat ingin segera menjadi pertama untuk membuka pertarungan, dari sisi lain terdengar suara orang berteriak.
"Berhenti!" Teriaknya membuat seluruh pasukan tertuju kepadanya.