
"Berhenti!"
Sontak suara itu mengganggu pertarungan tersebut. Semua orang berhenti dan tertuju kepada seorang pemuda yang berdiri didepan salah satu pintu yang berada di ruang tahta.
"Eh?! manusia?" Yoga terkejut melihat Zowie yang datang menghetikan pertarungan.
Saat ini Zowie sedang mengenakan jubah berwarna merah maroon dengan kudung yang menutupi kepalanya. Ditangannya ia sedang memegang sebuah botol kimia yang sedang ia gunakan untuk meneliti tumbuh - tumbuhan yang nantinya akan menjadi sebuah potion versi dunia baru.
"Kau! Yoga dari aliansinya Rado bukan?!" Zowie dengan wajah terkejut menatap Yoga.
"Bagaimana bisa dia tau kalau aku ini... Hah?! Apa dia jangan - jangan.." Pikir Yoga saat Zowie menbak identitasnya.
"Kau.. Zowie?!" Sambung Yoga bertanya kepada Zowie dengan nada menekan.
"Dia Zowie?!" Tanya Jaquile menatap Yoga.
Semua prajurit yang mendapat misi untuk mencari Zowie, saat ini terkejut dengan dirinya yang berada di ibukota elf.
"Ya! Aku Zowie... Akhirnya... Ada yang memiliki ingatan..." Zowie berkaca - kaca dan segera berlari kearah Yoga dan pasukan lain.
Ketika Zowie ingin menghampiri Yoga, Slyvrin segera merentangkan tongkatnya dan membuat sihir tipe tanah tanaman rambat yang menghentikan lari Zowie.
"Apa yang kau lakukan!?" Teriak Yoga kepada Slyvrin.
"Ratu Slyvrin?" Toleh Zowie melihat Slyvrin yang terlihat tidak menyukai reuni tersebut.
"Diam! Kau sudah menyetujui untuk bekerja dengan para elf! Jangan mencoba untuk berpaling atau kau akan mati!" Ancam Slyvrin kepada Zowie dengan wajah menyeramkan.
Zowie terdiam dengan ancaman tersebut, sebagai manusia yang tidak biasa bertempur dan menghabiskan waktunya sebagai alchemist, ia tidak bisa melawan ataupun bertahan.
"Jangan sakiti dia! Atau aku.." Ancam Yoga.
"Atau apa? Sepertinya manusia ini sangat berarti untuk kalian..." Senyum Slyvrin kepada Yoga.
"Cih! Singkirkan akar itu darinya!" Perintah Yoga kepada Slyvrin.
"Kalau aku tidak mau?" Tantang Slyvrin.
"Jangan main - main dengan ku!" Kata Yoga dengan nada tinggi.
Yoga mengembangkan aura forcenya lebih kuat, hembusan angin tercipta akibat tekanan aura force Yoga yang amat dahsyat. Para prajurit manusia yang berada disekitarnya mencoba untuk melindungi diri dari hembusan angin tersebut. Yoga tersulut emosi karena terget yang selama ini dicari oleh Rado berada didepan matanya namun dipermainkan oleh sang ratu.
"Jangan sentuh dia sedikitpun... Aku tidak peduli meskipun kau ratu sekalipun... Kau buat dia tergores, ku putuskan lengan mu!" Ancam Yoga.
"Heeee... Menarik, kalau begitu.." Slyvrin tersenyum menggoda.
Slyvrin mengarahkan tongkatnya kearah Zowie yang mana membuat tanaman rambat itu melilit seluruh tubuh Zowie dan mengunci pergerakannya.
"Ratu..!" Panik Zowie.
"Dasar Jal*ng!" Marah Yoga.
Yoga segera melesat dengan tangan kosong kearah Slyvrin menerobos barikade para prajurit elf.
"Arrghhhh!" Teriaknya dengan amarah.
Yoga melesat dengan cepat sampai lantai yang menjadi pijakan kakinya terangkat, ia menerobos ratusan prajurit elf tanpa pandang bulu, Adelfo yang saat itu tepat berada dijalur penerobosan Yoga dibuat hingga terpelanting bersamaan dengan prajurit elf yang lain. Barisan pertama yang berisikan prajurit biasa tidak dapat menahan kekuatannya, Yoga terus melaju tanpa hambatan menuju lapisan selanjutnya yaitu barisan para pendamping, tetapi penerobosan itu tidak berjalan sesuai apa yang ia inginkan.
Sekali lagi Hamdall menghadangnya, tetapi kali ini ia menggunakan gada kebanggannya yang memiliki gagang panjang dengan kepala gada yang panjang dengan dua sisi yang rata. Gada itu hamdall lesatkan kearah Yoga dan memukul Yoga yang tidak berperisai kebelakang. Yoga terseret hingga terguling dilantai akibat menerima serangan dari Hamdall. Tangannya serasa mati rasa karena menahan gada dari Hamdall, kalau saja ia tidak cekatan bertahan, mungkin tulang rusuknya akan remuk.
"Tangan ku..." Kata Yoga dalam benaknya.
Kedua tangannya berjuntai kebawah dengan posisi tubuh yang sedikit membunguk sambil menatap tajam kearah Hamdall yang dalam posisi menjaga sang ratu. Yoga sangat kesal dengan Hamdall yang menganggunya untuk memukul sang Ratu.
"Yoga! Jangan gegabah!" Kata Jaquile.
"Tapi Zowie ada didepan sana!" Jawab Yoga.
"Ya aku tau! Tapi bagaimana kita menjangkaunya dengan keadaan seperti ini?!" Bentak Jaquile kepada Yoga mengenai kecerobohannya.
Yoga melihat kearah Jaquile yang menatapnya dengan wajah serius, ia melihat juga kearah para prajurit yang saat ini sedang menatapnya dengan cemas. Pada akhirnya ia mencoba untuk menutup mata dan mengambil nafas dalam - dalam untuk menenangkan pikiran sejenak. Setelah tenang, wajah datarnya kembali lagi, ia menatap kearah Hamdall yang berdiri jauh didepannya saat ini.
"Maafkan aku yang bertindak karena emosi.." Toleh Yoga kepada bawahannya.
Dengan pernyataan yang diucapkan oleh Yoga, mereka semua menjadi lebih tenang setelah ketegangan melanda. Yoga pun juga beraih menatap kepada Zowie yang sedang terkunci di akar yang merambat diseluruh tubuhnya.
"Tunggulah sebentar.. Aku akan mencoba mencari cara untuk menolong mu.." Kata Yoga kepada Zowie.
"Ya... Ya.... Tolong cepatlah!" Kata Zowie dengan panik dan air mata serta ingus yang keluar.
Yoga kembali beralih kepada Slyvrin.
"Bersiaplah.." Kata Yoga sambil menunjuk kearah Slyvrin.
Slyvrin tersenyum mendengar kegigihan yang ditunjukan Yoga kepada dirinya. Disaat peperangan didalam ruangan tersebut aku dimulai, pintu utama pun didobrak secara paksa oleh suatu pasukan.
"Jenderal!" Teriak Levi dengan regu pengintainya membawakan beberapa senjata milik mereka dan menerobos masuk ke lingkaran pengepungan.
"Levi?!" Rudy terkejut.
"Ba - Bagaimana bisa dia melewati penjaga diluar sana?" Slyvrin terkejut dalam benaknya melihat pasukan tambahan yang dibawa oleh Levi.
"Ku duga kalau akan menjadi seperti ini.. Aku datang membawa senjata kalian.." Sambil memberikan senjata kepada mereka semua..
"Kau memang penyelamat.." Senyum Yoga.
"Tapi bagaimana bisa kau masuk kesini?!" Tanya Rudy.
"Waktu kami sedang berada diluar ruangan, para prajurit yang berada disekitar kami berlarian masuk kedalam, sebenarnya aku sudah mengawasi pos penyitaan senjata sejak tadi untuk menyikapi kalau saja nanti terjadi sesuatu dengan kalian... " Jawab Levi sambil menatap tajam kearah Albert yang ia yakini sebagai penyebabnya.
Albert merasa terhentak dan sedikit mundur karena merasa Levi menatapnya dengan tatap menyudutkan.
"Ternyata pengawasan ku tidak sia - sia.. Saat para elf berlarian masuk, aku segera memerintahkan mereka untuk membekukan penjaga dan mengambil senjata kalian kemari" Sambungnya.
"Ini jauh lebih baik.." Kata Yoga sambil mengenakan perisai dilengan kirinya.
Jaquile memainkan tombak emasnya, Jason, Nagatomo, Jason dan Rudy pun juga sudah bersiap - siap.
"Albert... Ambil tongkat mu! Aku tidak ingin penyelesan mu membahayakan kami semua... Tebus kesalahan mu dengan membawa kami keluar hidup - hidup beserta Zowie" Kata Yoga dengan tegas kepada Albert.
Albert tertegun dengan ucapan yang diberikan Yoga kepadanya, ia merasa rasa bersalahnya itu tidak bisa ditebus hanya dengan kemurungan saja. Api semangat dalam dirinya pun kembali menyala dan kepercayaan dirinya juga hadir kembali.
"Baiklah.." Katanya lalu mengambil tongkatnya yang telah diberikan oleh salah satu bawahan Levi.
Setelah mereka sudah bersiap dengan perlengkapan mereka, Yoga pun berjalan kearah Slyvrin dan para pendampingnya.
"Jason.. Urus bagian belakang bersama Rudy dan Levi, lalu buatkan jalur pelarian, untuk bagian depan biar kami yang menahannya.." Perintah Yoga kepada Jason.
"Baik tuan.." Kata Jason tersenyum lebar.
"Kalian! Kalian sudah dengar bukan apa kata jenderal Yoga?! Ayo kita beri mereka pelajaran!" Teriak Jason sambil memukul - mukul perisainya dengan pedang miliknya.
"Tidak perlu kau katakan, aku pasti akan menjatuhkan mereka.." Senyum Rudy membawa busurnya.
Levi hanya tersenyum mendengar pernyataan tersebut, mereka bertiga berjalan paling terdepan mengepalai setengah pasukan untuk membereskan bagian belakang. Hal ini dikarenakan, elf terkuat hanya berada didekat ratu dan lawan yang cocok bagi mereka adalah para jenderal. Saat ini meskipun ras manusia sudah mendapatkan kembali senjata mereka, tetapi tetap saja mereka kalah dalam jumlah.
"Hmph! Hanya mendapatkan senjata kalian, kalian berani mengambil resiko?! Sadarkah kalian? Kalian ini hanya seperti semut yang dipakaikan jirah saja.. tetapi tetap saja kalian adalah semut dihadapan gajah!" Sarkas Slyvrin sambil tersenyum.
"Semut? Ya, kami memang seekor semut... Semut yang sendiri memang lah rentan, akan tetapi bila seekor semut bersatu dengan koloninya dan melawan bersamaan... Seekor gajah pun bisa ditumbangkan... Apalagi kami semut yang dipakaikan jirah.." Jawab Yoga atas perkataan Slyvrin.
Slyvrin yang tidak bisa menjawab perkataan Yoga hanya tersenyum dan segera memerintahkan semua pasukannya untuk menghabisi mereka semua.
"Habisi mereka!" Kata Slyvrin sambil menunjuk menggunakan tongkatnya.
Para prajurit elf mulai berlarian dari segala arah, Jason yang memimpin bagian belakang pun juga mulai berlari untuk menerjang para elf yang berada didepannya. Rudy melesatkan anak panahnya dan Levi melompat sambil menebaskan pedangnya. Dibagian depan hal yang dilakukan para elf adalah melepaskan tembakan sihir force kearah pasukan garis depan. Hujan force pun di tertuju kepada pasukan tersebut, Yoga yang berada didepan segera memasang kuda - kuda dan menempatkan perisainya menutupi seluruh tubuhnya.
"Ini mungkin belum sempurna, karena aku baru melatihnya beberapa kali.. Tapi mungkin ini saatnya untuk mencoba teknik itu.." Dalam benak Yoga dibalik perisainya.
"Shield!" Teriaknya.
Forcenya mengalir dari tubuh dan tertanam keseluruh perisainya, setelah itu force tersebut keluar kembali dan mengembang besar. Sekarang ini bagian depan pasukan manusia telah dilindungi oleh dinding force besar yang berasal dari teknik baru Yoga.
"Wa! Ini! Teknik jenderal Yoga!" Kata para bawahannya akan kehebatan Yoga.
"Si sombong itu.. Aku tidak menyangka kalau dia mempunyai teknik seperti ini" Kata Jaquile memuji Yoga.
Sekarang ini mereka telah ditutupi cahaya ungu yang berasal dari dindin force yang melindungi mereka dari serangan sihir layanya sebuah perisai. Tidak hanya ras manusia saja yang terkejut, tetapi juga ras elf ikut terkejut melihat teknik dari Yoga. Serangan dari mage para elf terhenti dan meledak saat mengenai dinding force yang dibuat oleh Yoga menggunakan perisainya. Yoga sama sekali tidak bergeming sedikit pun meskipun diledakan bertubi - tubi.
"Heeee....." Hamdall tersenyum dan mata sipitnya terbuka.
"Menarik sekali, menarik sekali... Slyvrin.. Boleh kah aku mencobanya?" Toleh Hamdall kepada Slyvrin.
"Lakukan apa yang kau mau.." Jawab Slyvrin.
"Dan Lefti.. Kau pergilah kebelakang mereka.. Sepertinya mereka ingin melarikan diri.." Perintah Slyvrin kepada pendamping perempuan yang mengenakan tongkat.
Lefti pun berjalan meninggalkan barisannya yang berada didekat Slyvrin, sebelu itu ia menoleh terlebih dahulu kepada Sarka yang masih terduduk menunduk.
"Dasar hama!" Celetuknya dengan wajah jijik.
Sarka terdiam begitu saja mendengar dirinya telah dihina. Melihat Lefti yang mulai melesat kearah belakang, Yoga memberikan perintah kepada Albert.
"Albert.. Sepertinya salah satu dari mereka ada yang mengincar bagian belakang.. Bantu lah mereka.." Perintah Yoga.
"Tapi aku.." Kata Albert seperti tidak yakin.
"Cepatlah! Aku serahkan kepada mu... Kami bergantung kepada mu untuk menghentikannya.." Potong Yoga meyakinkan dirinya.
Albert yang semulanya seperti tidak yakin, menjadi yakin setelah mendengar ucapan dari Yoga.
"Baiklah.. Aku akan menghentikannya.."
Albert pun berlari kebelakang untuk membantu Jason dan yang lain. Disaat fokus Yoga sedang teralihkan kearah belakang, ia dikejutkan oleh Hamdall yang tiba - tiba melesat dan memukulkan gadanya ke dinding force tersebut.. Benturan itu mengakibatkan getaran pada dinding tersebut dan menipiskan ketebalannya.
"Hei.. Bagaimana kau bisa membuatnya?" Tanya Hamdall.
"Sial.. Kau mengejutkan ku.." Balas Yoga dengan wajah datar.
Lefti yang baru saja tiba dibagian belakang pun menghadang terobosan dari Jason.
"Langkah kalian cukup sampai disini.." Kata Lefti.
"Woahh...! Itu sang jenderal musuh!" Kata para prajurit saat melihat lambang demicles Lefti.
Lefti pun mengeluarkan sihirnya yang berupa elemen angin seperti sayatan, disaat serangan itu hampir mengenai pasukan bagian belakang. Albert pun juga mengeluarkan sihirnya secara tepat.
"Tidak semudah itu!"
Albert mengeluarkan sihir yang menciptakan dinding tanah yang berasal dari lantai ruangan tersebut, serangan angin yang dilancarkan oleh Lefti pun berhasil dihentikan berkat Albert.
"Hmmm.. Sepertinya ada penganggu disini.." Kata Lefti tersenyum.
Sementara itu, Jaquile yang melihat kesempatan untuk menyerang Hamdall segera melesat dari arah samping perisi force Yoga, ia segera melompat dan melancarkan seranganya.
"Kena kau ****!" Kata Jaquile yang sudah tepat berada dikepala Hamdall.
Namun serangan kejutan dari Jaquile berhasil dihentikan oleh dark elf pendamping dengan pedangnya.
"Jangan ganggu dia.." Kata Dark elf tersebut.
"Tidak buruk.." Senyum Jaquile saat serangannya dihentikan.
Beberapa saat beradu ketahanan diudara mereka melepaskan serangan mereka dan mendarat kearah samping untuk berduel.
"Muka mu jelek sekali.." Ejek Jaquile.
"Disini aku termasuk tampan.." Jawab dark elf tersebut.
"Diam kau! Aku benci dengan orang yang mengaku tampan.." Geram Jaquile.
"Hahahaha dasar pendek" Ejek Dark elf itu kepada Jaquile.
Setelah saling mengejek Jaquile dan dark elf itu kembali melesat dan beradu senjata. Setelah hujan sihir telah selesai, perisai force Yoga pun menghilang dan para pasukan elf bersenjata jarak dekat mulai menyerbu mereka. Pertemperun yang tidak seimbang dalam jumlah barulah dimulai.
Sementara itu digedung pusat ibukota manusia De Hoorn. Julie yang baru saja kembali setelah misi pencarian Zowie betermu dengan Kan yang juga baru saja kembali dari misi yang sama.
"Ah Julie.. Kau baru saja kembali juga.." Sapa Kan.
"Hahaha Bagaimana dengan mu? Sudah mendaptkan hasil?" Tanya Julie kepadan Kan.
"Aku belum menemukan tanda - tanda dari orang bernam Zowie itu.." Jawab Kan.
Ditengah perbincangan mereka, para petugas dan beberapa prajurit berlarian kalang kabur keluar masuk gedung dan itu membuat Kan dan Julie merasa penasaran.
"Hei, kenapa sangat ribut sekali.. Apa yang terjadi?" Tanya Kan kepada salah satu prajurit yang berlari keluar dari gedung pusat.
"Tuan Rado! Tuan Rado pergi ke ibukota elf!" Jawabnya sambil terengah - engah.
"Apa?!" Mereka berdua terkejut.
"Sejak kapan?!" Tanya Kan kembali.
"Sudah beberapa waktu yang lalu... Kami sekarang ini ditugaskan untuk pergi kesana juga, karena tidak ada kabar dari beliau.." Kata prajurit tersebut.
Setelah prajurit itu pergi meninggalkan mereka berdua, Julie dan Kan saling melihat satu sama lain.
"Ayo kita kita kesana juga!" Ajak Kan kepada Julie dan Julie hanya mengangguk.
Beberapa saat kemudian setelah pertarungan intense yang telah dilakukan oleh Yoga, hasil mulai terlihat dengan kekalahan ras manusia yang kembali terpojok dibagian tengah. Mereka kembali membuat formasi lingkaran dan berada ditengah - tengah pengepungan prajurit elf.
"Yoga, maafkan aku.. mereka sangat banyak dan wanita itu cuup kuat.." Lapor Albert saat bertemu kembali dengan Yoga.
"Sepertinya elf hitam itu juga bukan main.." Kata Jaquile kesulitan.
Yoga melihat kearah sekitar, sudah beberapa dari ras manusia yang telah tumbang. Yoga kembali terpojok dan wajahnya menunjukan kekesalan karena situasi yang sulit ini.
"Tuan Yoga, apa yang harus kita lakukan?" Tanya para bawahannya secara bergantian.
Yoga semakin dibuat bingung dengan situasi yang sudah terpojok ini. Keringatnya berjatuhan karena panasnya ruangan tersebut, para elf pun tidak berhenti bergerak untuk menggempur mereka.
"Fufufufu sepertinya kau terpojok kembali... Apanya yang semut bersatu?" Ejek Slyvrin.
"Diam..! Kami belum kalah!" Jawab Yoga dengan kesal.
"Huu.. Aku takut... Kenapa kau sangat kasar sekali dengan wanita seperti ku... Fufufuf, baiklah.. aku akan memberi mu suatu keringanan... Aku akan melepaskan ras mu, akan tetapi kau harus menjadi budak ku.." Kata Slyvrin memberikan suatu tawaran.
"Apa kau bilang!?" Geram Yoga.
"Hmmm Aku suka dengan ekspresi mu itu... Apa kau ingin prajurit mu dihabisi? Dengan kau menjadi budak ku, bawahan mu akan selamat.. Pilih lah wahai prajurit manusia yang perkasa.." Tanya Slyvrin.
Yoga begitu kembali dihadapkan dengan pilihan sulit.
"Ratu! Tolong lepaskan mereka! Aku tidak akan pergi! Jadi ku mohon untuk melepaskan mereka!" Kata Zowie dengan jeruji akar yang masih mengikatnya.
"Diam kau! Aku tidak ingin mendengar ucapan mu!" Bentak Slyvrin kepada Zowiw.
Slyvrin pun beralin kembali kepada Yoga yang terlihat mulai bingung dengan pilihan yang diberikan.
"Bagaimana?" Senyum menggoda dari Slyvrin sambil menyingkap sedikit pakaian bagian dadanya.
"Aku ingin memiliki mu..." Sambung Slyvrin menggoda.
"Jangan Yoga! Kita bisa keluar bersama!" Kata Jaquile menguatkan.
"Tapi... Tapi... ini mungkin satu - satunya cara untuk kalian selamat.." Kata Yoga menatap Jaquile.
"Jenderal! Jangan lakukan itu.. Kami tidak ingin kau menjadi budak!" Teriak Jason.
Yoga masih bingung dengan pilihan yang ada, disatu sisi ia sudah membulatkan tekad untuk berkorban, tetapi disisi lain ia tidak ingin mengecewakan kepercayaan bawahannya.
Yoga menutup matanya sejenak untuk mengambil keputusan dan pada akhirnya ia membuka mata, lalu menatap Slyvrin dengan tatapan penuh kekesalan.
"Baiklah.. Aku akan menerima.."
Sebelum ia melengkapi pernyataannya, pintu utama pun terbuka kembali. Semua orang segera terfokus kepada pintu yang baru saja terbuka itu. Dalam ketegangan akan pilihan yang diberikan oleh ratu elf, wajah ras manusia berubah drastis seketika menjadi wajah suka cita setelah melihat orang pertama yang membuka pintu tersebut.
"Itu..." Kata para prajurit.
"Rado!" Sontak Yoga tersenyum bahagia melihat orang yang ia tunggu - tunggu.
Rado datang membawa beberapa pasukan tambahan tanpa tergores sedikit pun, ia tersenyum saat melewati pintu tersebut dan segera menyapa selurus ras elf dengan auranya.
"Sepertinya ada pertemuan yang telat ku kunjungi.." Senyum Rado.
Setelah itu ia mengeluarkan aura yang amat mengintimidasi dan membuat seluruh elf ketakutan.
"Hiii...!!!" Takut prajurit elf.
Para pendamping ras elf pun juga terlihat mengeluarkan keringat dan menjadi waspada. Slyvrin yang sudah menunggu kedatangan Archon dari ras manusia, mulai turun dari singgasananya dan menyapa Rado.
"Selamat datang dikerajaan para elf... Apa kau archon dari ras manusia?" Sapa manis dari Slyvrin.
"Hmph.." Rado tersenyum dan melesat dengan cepat kearah Slyvrin.
Tanpa diduga - duga, Rado sudah berada didepan Slyvrin dengan mengacungkan ujung ninjatonya kedagu Slyvrin.
"Ya.. Aku archon mereka.." Jawab Rado tersenyum dibawah keterkejutan Slyvrin yang sudah terpojok.