
Setelah Rado hadir dan mengancam keselamatan Slyvrin, ras elf pun menjadi panik dan terdiam kaku. Rasa bimbang yang menusuk hati pun terus menyambangi dirinya mereka semua mengenai pertimbangan untuk melakukan sesuatu demi menyelamatkan ratu mereka. Rado tersenyum menatap Slyvrin yang sedang terkejut karena pedang yang tiba - tiba sudah menodong dagu miliknya. Ruang tahta yang semulanya sangat ricuh menjadi hening. Hamdall yang sangat setia kepada Slyvrin mencoba untuk menjauhkan Rado dari ratunya. Tetapi, satu langkah dari kakinya mengundang lirik tajam dari Rado kearahnya dan itu membuat Slyvrin menyadari akan suatu hal yang membahayakan.
"Hamdall..! Jangan bergerak!" Kata Slyvrin segera.
Hamdall terdiam kembali karena perintah dari Slyvrin, para ras elf pun semakin bimbang dan bingung dengan keadaan sekarang. Mereka tidak menyangka kalau Rado dapat menjangkau ratu mereka secepat itu tanpa sepengetahuan mereka.
"Tapi nona..." Hamdall dengan panik mencoba untuk meyakinkan tindakannya.
"Kau bergerak sedikit saja bisa membuat diri ku terbunuh... Manusia ini benar - benar tidak main - main..!" Kata Slyvrin memberitahu situasinya.
Rado kembali beralih menatap Slyvrin yang sedang dalam keadaan terdesak oleh ujung pedangnya.
"Sepertinya kau mengetahui situasi mu saat ini... " Senyumnya sambil menatap Slyvrin dari bawah.
"Fufufufu... Sepertinya aku lengah sampai membiarkan mu bisa mendekat sedekat ini.." Senyum Slyvrin mencoba untuk tidak panik.
"Mungkin bisa ku bilang ini sangat bodoh dimana seorang ratu dengan kelas mage dibiarkan tanpa perlindungan dari seorang prajurit.." Kata Rado.
"Aku tidak mengerti dengan perkataan mu mengenai mage, tetapi mungkin kau ada benarnya. Pendamping ku terpancing untuk mengurusi salah satu orang mu dan membiarkan ku tanpa penjagaan.. Apa ini salah satu strategi mu?" Senyum Slyvrin bertanya.
Rado hanya tersenyum saja mendengar pertanyaan tersebut, ia merasa malas untuk menjawab pertanyaan tersebut.
"Rado!" Teriak Zowie saat didalam jeruji akar.
Rado pun menoleh kearahnya dengan cepat.
"Ah.. Disitu kau rupanya.." Toleh Rado kepada Zowie.
"Bagaimana kalau dimulai dengan melepaskan teman ku?" Kata Rado menatap Slyvrin.
"Kalau aku melepaskannya, apa yang akan kau lakukan setelahnya..?" Tanya Slyvrin kembali.
"Kita akan membicarakan ini secara baik - baik.." Jawab Rado.
"Meskipun orang - orang mu sudah ada yang terbunuh..?" Tanya Slyvrin tersenyum.
Rado menoleh kearah belakang melihat beberapa prajurit yang terbenuh.
"Ya... Itu lah pertempuran, bila ada yang terbunuh itu hal yang terbiasa.." Kata Rado menanggapi pertanyaan Slyvrin.
"Baiklah... Aku akan melepaskan dia.." Kata Slyvrin menyetujui permintaan Rado.
Rado pun menurunkan pedangnya dengan senyuman. Namun disaat Rado melepaskan Slyvrin, Slyvrin melirikan matanya kepada Hamdall dan Hamdall melesat cepat kearah Rado. Rado yang saat itu sedang berdiri tegap dengan wajah tertutup rambut, terlihat seperti orang yang belum siap untuk menerima serangan kejutan.
"Rado!" Teriak Yoga kepada Rado karena jarak antara Hamdall dan Rado tinggal selangkah lagi.
Slyvrin tersenyum karena melihat Rado yang dipastikan akan terkena hantaman dari Hamdall yang mana akan membalikan keadaan pertempuran seperti semula.
"Hahh.... Aku sudah memberikan kau keringan.." Senyum Rado dari balik rambutnya dan Slyvrin pun seperti terkejut saat melihat mata Rado yang mengeluarkan sinar ungu.
Rado membalikan ninjatonya kearah belakang dan secepat kilat menusuk Hamdall yang datang menghampirinya tanpa melihat sedikit pun. Perut Hamdall tertusuk pedang Rado dan ia pun memuntahkan darah didepan sang ratu. Semua histeris dan meneriakan namanya. Melihat Hamdall telah roboh tersungkur, sisa dari para pendamping elf geram dan mencoba untuk menyerang Rado. Mereka melesat secara bersama, namun Rado segera menyandara Slyvrin sekali lagi. Ia dengan cepat bergerak kebelakang Slyvrin dan menempatkan bilah pedang pada lehernya.
Sekapan Rado kepada Slyvrin sangat erat, Tangan kirinya ia tempatkan tepat dibawah payudara Slyvrin dan tangan kanannya sibuk menggores sedikit lehernya hingga mengeluarkan sedikit darah. Slyvrin mendongak dan tersenyum karena situasi yang sedang ia hadapi.
"Tolong.. Jangan lakukan itu.." Pinta Slyvrin memohon.
"Mengapa aku harus mendengarkan mu?" Tanya Rado sambil mengencangkan sekapannya.
"Uhh..." Slyvrin mengerang.
Karena situasi yang kembali mendesak ratu mereka, para pendamping kembali terdiam dan mati kutu. Hamdall yang masih sadarkan diri, mendongak keatas dengan posisi kesakitan.
"Lepaskan ratu!" katanya.
"Hooo ternyata kau masih bisa berbicara.." Rado tersenyum.
"Maafkan aku.. Baiklah.. aku akan melepaskan teman mu.." Kata Slyvrin sambil mengangkat tongkatnya kearah Zowie.
Akar belukar yang menahan Zowie pun segera menghilang, Jaquile yang saat itu berada didekatnya segera melompat dan membantu Zowie berdiri.
"Rado! Zowie telah diamankan.." Lapor Jaquile.
Rado menoleh kearahnya dan mengangguk, Setelah itu Rado mendekatkan dirinya kepada kuping Slyvrin dan berbicara didekatnya.
"Jadi..." Kalimat pertama yang diucapkan oleh Rado.
"Ahh.." Slyvrin terkejut dengan suara dengan tambahan nafas yang berada dekat dikupingnya.
Tubuhnya bergetar karena perlakuan Rado yang tidak semestinya.
"Apa yang akan kau berikan kepada kami setelah apa yang kau perbuat?" Tanya Rado tidak peka dengan keadaan Slyvrin saat itu.
"Hah?! Kau bilang apa?" Tanya Slyvrin karena tidak fokus akan pertanyaan Rado.
"Jangan membuat ku mengulang perkataan ku..!" Bentak Rado sambil menegaskan perlakuannya.
"Hah...." Erangnya sekali lagi.
"Ratu?" Tanya heran bawahannya melihat ratunya yang bertingkah aneh.
Tubuh Slyvrin yang disekap erat oleh Rado merespon dengan sebuah kesalahan, tubuhnya memanas dan bisa terlihat dari wajahnya yang memerah dan berkeringat hingga ketubuhnya. Nafasnya mulai tersenggal - senggal dan berbicaranya pun mulai bergetar.
"Ba~ Baiklah... Ayo kita bicarakan secara baik - baik.." kata Slyvrin menyetujui permintaan Rado sebelumnya.
Setelah Rado merasa kalau Slyvrin tidak akan melakukan tindakan yang beresiko, ia segera melepaskan Slyvrin dengan perlahan dan memasukan kembali pedangnya. Slyvrin yang telah dilepaskan oleh Rado segera menoleh kearah Rado dengan tatapan manja.
"Apa?" Tanya Rado sinis.
"Ah.. Tidak.." jawab Slyvrin segera membuang wajahnya malu saat melihat mata Rado.
Setelah semua sudah mereda, mereka berpindah tempat kesebuah ruangan yang cukup besar untuk menampung puluhan orang. Tempat itu seperti sebuah ruangan yang memang dikhususkan untuk menghadap kepada sang Ratu dimana ada sebuah sofa yang diperuntukan bagi sang Ratu untuk merebahkan tubuhnya, sebuah hordeng menjadi sebuah dekorasi disetiap sudutnya dan suasana hijau menjadi dasar warna dalam ruangan itu. Slyvrin kali ini duduk terlebih dahulu, alu diikuti dengan Rado yang berdiri didepannya. Ras manusia berbaris dibelakang Rado dengan samping kiri dan kanannya diapit oleh barisan ras elf.
Hamdall yang sudah diobati juga terlihat berdiri dibelakang Slyvrin sebagai penjaganya. Sedangkan pendamping yang lain terlihat berbaris dibagian samping kiri Slyvrin, termasuk Sarka.
"Jadi.. Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Slyvrin membuka perbincangan.
"Aku tidak suka bertele - tele.. ada tiga tuntutan yang ingin ku berikan kepada mu.." Cetus Rado.
"Tiga katamu?!" Sontak pendamping dark elf meninggi menanggapi permintaan Rado.
"Kita dengarkan apa mau dari Archon manusia.." Senyum Slyvrin menatap Rado dan itu mengundang perhatian Hamdall mengenai sikap Slyvrin.
"Yang pertama.. Aku ingin kalian mengembalikan Zowie kepada kami.." Syarat pertama Rado.
"Kenapa kau ingin dia?" Tanya Slyvrin.
"Aku tidak perlu menjawabnya.." Senyum Rado.
Mendapat jawaban yang menohok, Slyvrin hanya memejamkan mata sambil tersenyum.
"Baiklah.. Lalu?" Sambung Slyvrin.
"Kedua.. Aku ingin kita beraliansi.." Kata Rado.
"Beraliansi? Bukan ide buruk... Untuk memenangkan pertempuran ini sepertinya beraliansi dengan ras lain merupakan salah satu pilihan yang bijak.." Senyum Slyvrin dan mulai merebahkan tubuhnya kearah samping dengan tangan sebagai pangkuan kepalanya.
"Lalu yang ketiga?" Sambung Slyvrin.
Rado tersenyum kepada Syvrin, "Aku ingin seluruh wilayah yang dimiliki ras elf menjadi milik ras kami.." Ujarnya tanpa beban sedikit pun.
"Apa?!" Slyvrin segera terbangun dari tidurnya karena sakin terkejutnya.
Semua ras elf menjadi marah dan bersiap untuk menyerang Rado. sedangkan para prajurit manusia juga bersiaga setelah ada tindakan yang dilakukan oleh ras elf.
"Ee... Rado.. Apa kau tidak salah berbicara?" Tanya Jaquile sambil mengsungkan tombaknya kearah prajurit elf.
Rado masih tersenyum menatap Slyvrin, "Tidak.. Aku tidak salah berbicara.."
Slyvrin yang terkejut setelah mendengar ucapan dari Rado, mengangkat tangannya untuk menghentikan percobaan penyerangan prajuritnya kepada ras manusia. Para prajurit elf pun menurunkan senjata mereka dan kembali berbaris namun tanpa penurunan siaga kepada Rado.
"Nona Slyvrin.." Panggil Hamdall mengenai permintaan ketiga Rado.
Slyvrin juga menghentikan Hamdall dengan tangannya dan setelah semua mulai kondusif kembali, Slyvrin baru membuka suaranya.
"Apa itu tidak berlebihan? Kau sudah tau jawabannya bukan?" Senyum Slyvrin.
"Yah.. Mungkin permintaan terakhir ku adalah permintaan yang tidak mungkin dikabulkan, tetapi.. aku siap untuk merampasnya dari mu sekarang.." Kata Rado dengan percaya diri.
Saat mengatakan hal demikian Rado juga mengeluarkan setengah kemampuan demiclesnya dan mengudarakannya. Lambang dengan ukuran yang sangat besar dan tekanan dari aura forcenya membuat semua yang berada disana dibuat takjub akan kekuatan tersebut. Rasa sesak pada mereka yang lemah mulai membuat prajurit elf mundur perlahan. Para pendamping pun dibuat tidak berkutik dan hanya bisa melihat dengan keringat yang mulai muncul diwajah mereka.
"Uhk!! Ini kah kekuatan tuan Rado yang sebenarnya?!" Tanya Albert sambil terkejut.
"Tidak.. Dia masih menahan kekuatannya.." Kata Yoga.
"Apa?!" Albert menoleh dengan mata terbuka lebar.
Setelah meliaht kemampuan Rado, Slyvrin masih dapat tersenyum namun berbeda dengan hatinya yang sedang gugup.
"Kekuatannya..." Dalam benaknya mulai gundah.
Setelah aura milik Rado mulai menyusut, Slyvrin kembali berbicara.
"Dilihat dari kekuatan mu, bisa dibilang aku tidak akan bisa mengalahkan mu.." Kata Slyvrin.
"Nona!" Hamdall mencoba untuk menegur Slyvrin yang merendahkan dirinya.
"Lalu?" Tanya Rado tersenyum.
"Mungkin didunia baru ini, Archon telemah adalah diri ku karena semasa didunia sebelumnya, aku tidak terlalu ikut campur dalam membasmi monster... Baiklah.. aku akan menyetujuinya, namun dengan satu syarat!" Senyum SLyvrin.
"Ratu!" Sontak semua ras elf terkejut dengan pilihan Slyvrin.
"Baiklah.. Apa syarat yang kau berikan pada ku?" Tanya Rado dan aura forcenya pun ia hilangkan.
"Kau harus menjadikan ku sebagai istri mu.." Senyum dan tatapan tajam dari Slyvrin kepada Rado.
Semua prajurit dari kedua ras pun terkejut dengan syarat yang diberikan oleh Slyvrin, selama ini tidak belum pernah terjadi pernikahan antar ras.
"Tuan Rado... Sebaiknya anda tidak menerimanya.." Usul Albert.
"Benar yang dikatakan manusia itu.. Ratu, Apa anda akan melawan leluhur dengan mencampur darah kita?" Kata Lefti.
"Diam!" Aku tidak butuh perkataan kalian.." Bentak Slyvrin.
"Jadi.. Apa jawaban mu?" Sambung tegas slyvrin.
Rado dan Slyvrin saling bertatap - tapan satu sama lain, senyum diantara mereka berdua sedikitpun tidak luntur dalam pembicaraan negosiasi tersebut.
Dilain sisi Julie dan Kan yang baru saja tiba diportal wilayah elf tebing putih. Saat pertama kali kedatangan mereka, hal pertama yang ditunjukan oleh mereka berdua dan pasukannya adalah keterkejutan dimana banyak mayat elf yang terpotong - potong akibat sayatan sebuah pedang.
"Ini sungguh mengerikan.." Kata Julie sambil menutupi mulutnya.
Dalam keterkejutan mereka, beberapa prajurit manusia yang berjaga disana menghampiri Julie dan Kan.
"Selamat datang.. Apa anda adalah bala bantuan tuan Rado?" Tanya prajurit tersebut.
"Ya kami adalah bala bantuan tuan Rado.." Jawab Kan.
Setelah ia menjawab pertanyaan dari prajurit tersebut, Kan menoleh kearah mayat para elf.
"Siapa yang melakukan ini semua?" Tanyanya.
"Ini semua... adalah perbuatan tuan Rado.." Jawab prajurit tersebut.
"Eh?!" Semua pasukan yang baru hadir disana tertegun dan beberapa dari mereka ada yang muntah karena melihat organ yang berserakan.
Julie pun memalingkan wajahnya karena tidak kuat melihat potongan tubuh yang berserakan.
"Sebaiknya kita harus bergegas menuju ibu kota elf.." kata Kan.
"Ayo Julie.." Sambung ajakan Kan kepada Julie.
Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka kearah ibukota Elf Lorien.
Kembali kedalam ruangan dimana Rado dan Slyvrin sedang bernegosiasi. Rado terlihat terdiam sebelum menjawab persyaratan dari Slyvrin, kedua ras yang menunggu jawaban dari Rado memiliki ketegangan yang sama karena hal yang belum pernah terjadi akan terjadi. Ruangan itu menjadi hening tanpa suara pun dan beberapa saat kemudian Rado membuka mulutnya.
"Baiklah.. Aku menerimanya.." Jawaban Rado pun membuat seisi ruangan itu terkejut,