The Archon

The Archon
Rado Vs Demigod



Dibagian Utara dunia Antares Rado dan tim Devian yang memasuki selaput sihir yang menutupi wilayah milik ras demigod, mereka telah disambut oleh teriknya cahaya matahari yang berada di titik teratas. Mata Rado yang sejak tadi terbiasa oleh gelapnya badai salju dibuat menyipit karena sinar yang menyilaukan tersebut. Devian dan timnya pun segera melepaskan jubah hangat mereka dan meletakannya tepat dimana mereka sedang berdiri.


Rado yang saat itu baru menginjakan kakinya di wilayah demigod segera memasang alat komunikasi yang ia bawa dari ibukota. Ia mencoba menghubungi seseorang yang berada di ibukota untuk memberi tahu sekaligus mencari tau sedang apa mereka disana.


"Riko?" Kata Rado memulai percakapan.


"Tu ~ an~ Ra~ Do?" Riko terkejut dengan suara terputus - putus.


"Suara mu sangat tidak jelas.." Kata Rado.


"Ka ~ U ma ~ sih ~ hi~~~ dup?!" Kata Riko.


"Ya aku masih hidup..." Jawab Rado.


"Su ~ a  ~ ra mu ti~ dak ter ~ la ~ lu Ba ~ ik... tuan se ~ dang di ~ mana?" Tanya Riko.


"Aku sedang di bagian Utara.. Dan sedang ada badai disini" Jawab Rado tersenyum.


Alat transmisi yang disebar oleh Devian terlihat terombang ambing di udara karena badai salju tersebut.


"U ~ tara? Se ~ dang ~a ~ pa tu ~ an di ~ sana?" Tanya Riko kembali.


"Sedang melakukan sesuatu, bagaimana keadaan disana?"


"Greg akan membawa seluruh pasukan menuju ke wilayah elf untuk meminta bantuan demi menahan pergerakan pasukan orc.." Lapor Riko dengan suara terputus - putus.


"Ia bergerak secepat itu?!" Rado terkejut namun dengan senyuman.


"Yah.. Ia sangat percaya diri dengan kekuatan yang ia dapat dari anda... Tunggu, brati rumor yang mengatakan kalau ia mendapat kekuatan anda itu tidak benar?!" Tanya Riko baru menyadari.


"Dugaan mu tidak sepenuhnya salah, ia hanya memiliki sedikit dari kekuatan ku.." Jelas Rado.


"Bagaimana bisa?" Tanya Riko.


"Itu akan menjadi penjelasan yang panjang, Apa kau sedang berada dibarisan?" Tanya Rado.


"Tidak.. Aku sedang berada di lab.." Jawab Riko sambil menatap layar hologram di depannya.


"Baguslah kalau begitu... Apa Yoga membawa salah satu alat komunikasi?" Tanya Rado.


"Ia membawa satu setelah sekembalinya ia dari Moria.." Jawab Riko.


"Baguslah.. Berikan aku kode jalur komunikasinya kepada ku dan tetap rahasiakan status ku yang masih hidup kepada yang lain.." Kata Rado meminta kepada Riko.


"Baik tuan.. Aku akan mengirim kode komunikasi milik tuan Yoga kepada alat transmisi mu.." Kata Riko.


Komukasi pun terputus dan beberapa saat kemudian, alat yang seperti stick kecil pun diambil oleh Rado dari sakunya. Ia menekan salah satu tombol yang terdapat pada alat itu dan layar hologram pun keluar. Sebuah kombinasi nomor dan huruf pun tertara di layar hologram tersebut dan Rado segera menekannya untuk menyambungkannya kepada alat komunikasi miliknya.


"Yoga?" Sapa Rado.


Yoga yang saat itu sudah mengenakan alat komunikasi tersebut pada telinganya di buat terkejut.


"Tu - " Yoga terkejut tiba - tiba ada transmisi masuk ditengah - tengah perjalanannya menuju Lorien.


"Jangan bereaksi berlebihan dan jangan menjawab! Aku tau kau sedang berada dalam barisan... Dengarkan aku baik baik.." Kata Rado ingin memberi perintah.


"Ku sudah mendengar rencana Greg dari Riko, kalian saat ini sedang menuju ke Lorien untuk melakukan gabungan demi melawan pasuka orc bukan? Ini sebuah peringatan bagi mu kalau saja Slyvrin menolak kalian secara mentah - mentah karena rumor kematian ku, dan yang ku minta pada mu adalah beritahu kebenaran tentang ku kalau aku masih hidup dengan cara apapun... Lalu berikan alat transmisi mu kepada Slyvrin setelah kalian bertemu.." Rado memberikan arahan.


Yoga tidak menjawab dengan sepatah katapun karena dilarang memberikan respon oleh Rado.


"Ku anggap kau mengerti.." Kata Rado lalu menutup komunikasinya.


Rado pun kembali melepas alat komunikasi itu dan memberikannya kepada Devian.


"Bila led lampu di alat itu berkedip beritahu aku.." kata Rado.


"Baik.. Lalu apa yang anda lakukan sekarang tuan?" Tanya Devian mengenai kelanjutannya.


"Membuat mereka keluar.." Kata Rado dengan tenangnya.


"Apa?! Apa anda bercanda?! Kita hanya berenam dan mereka bisa saja berjumlah ratusan atau mungkin ribuan..!" Devian menunjukan rasa khawatir.


"Tenang saja... Aku hanya menyapanya saja.. Jadi kalian tidak perlu turun dalam hal ini.." kata Rado tersenyum kepada Devian.


Devian dan timnya hanya menyetujui perkataan dari Rado dengan memasang wajah khawatir sekaligus takut. Rado melangkahkan kakinya diatas rerumputan hijau, ia mengeluarkan kedua pedangnya dan memutar - mutarnya untuk melemaskan pergelangan tangan.


"Sudah lama aku tidak menarik kedua pedang ini secara bersamaan..." Kata Rado sambil melihat kearah dua pedangnya.


Setelah cukup berada jauh dari Devian dan timnya, Rado pun berhenti untuk melangkah lebih jauh dan menatap kearah bangunan seperti kastil yang berada di puncak stuktur kota yang bertingkat. Bila De Hoorn memiliki sturuktur layaknya sebuah terasering dan bernuansa futuristik, sedangkan wilayah demigod bernuansa era Medieval yang dibalut oleh lingkungan yang masih terlihat asri dengan air terjun yang turun dari gunung yang terletak ditempat kastil utama berdiri.


Kota - kota yang berada dibagian bawah kastil, terlihat mengelilingi struktur yang memanfaatkan gunung berbentuk landai sebagai struktur utama mereka.


"Aku tidak menyangka kalau tempat mereka tinggal seperti ini..." Senyum Rado.


"Kalau begitu ayo kita mulai.."


Rado pun segera mengudarakan demiclesnya ke udara dengan cepat. Demicles yang memiliki sayap sejati berjumlah 3 sayap itu mengudara dan menerangi langit dengan bernuansa keunguan. Tubuhnya diselimuti oleh force dengan instensitas yang besar, tanah disekitar bergetar dan angin pun bertiup disekelilinginya.


Rhea yang saat itu sedang tertidur tanpa busana diranjang milik Achilles bersama para demigod perempuan yang lain, terbangun karena merasakan aura intimidasi dari demicles milik Rado. Rhea pun segera beranjak dari ranjang tersebut lalu melihat keluar jendela tanpa terdapat helai benang sekalipun ditubuhnya. Wajahnya dihiasi dengan kegelisahan, ia pun berencana untuk segera menghampiri orang dibalik semua ini, namun ia dikejutkan oleh Achilles yang terbangun dari tidurnya.


"Hahahahahahahaha!" Achilles tertawa dan terbangun dari tidurnya.


"Tuan Achilles!" Rhea menoleh kearahnya.


Achilles menghentikan tawanya, wajahnya menunjukan kalau ia terkejut sekaligus ada rasa senang dengan kenekatan yang ditunjukan oleh Rado.


Setelah beberapa saat lambang demicles milik Rado mengudara, gemuruh dari dalam hutan pun terdengar. Devian beserta timnya pun mulai menunjukan rasa khawatir yang amat dalam dengan keadaan yang sedang terjadi.


"Tuan Rado! Sepertinya ini bukanlah yang dinamaka menyapa! Tetapi..." Kata Devian berteriak dengan gugup kearahnya.


Rado tidak menggubrisnya dan terus fokus pada apa yang sebentar lagi akan datang dihadapannya. Gemuruh itu semakin dekat dan Rado masih terlihat tenang menunggu sesuatu dibalik gemuruh tersebut. Beberapa saat kemudian dari dalam hutan muncul lah ratusan prajurit demigod beserta Juliver dan juga Aslav. Mereka membawa seluruh perlengkapan senjata mereka dan memasang wajah marah.


"Beraninya kau menantang kami dengan mengudarakan lambang busuk mu itu!" Kata Juliver geram.


Rado yang berdiri sendiri didepan ratusan para demigod hanya tersenyum menggenggam kedua pedangnya.


"Dimana dia?" Tanya Rado merujuk pada keberadaan Achilles.


Juliver tersennyum.


"Kau tidak akan bisa bertemu dengannya.. Karena kau akan mati disini!" Kata Juliver mengancam.


"Begitu? Baiklah... Ayo kita cari dia" Senyum Rado lalu mencondongkan tubuhnya dengan kedua pedang diarahkan kebelakang.


Melihat Rado mengambil sebuah ancang - ancang, Aslav dan Juliver pun segera mengudarakan kedua demicles berwarna emasnya.


"Jangan sombong kau manusia!" Teriak Juliver dan Aslav pun terlihat waspada.


"Tuan Rado! Jangan gegabah!" Kata Devian memperingati.


Rado sekali lagi tidak menggubris perkataan dari Devian. Dengan senyumnya, Rado menyebutkan nama skill yang sudah lama tidak ia sebutkan.


[Flash Attack]


Rado pun dengan cepat melesat bagaikan cahaya dan tiba - tiba sudah berada didepan wajah Juliver dan Aslav. Juliver yang terkejut segera bereaksi menaikan tombaknya untuk menahan Rado, demikian juga Aslav. Kedua tombak yang disilangkan oleh Juliver dan Aslav mampu menahan serangan cepat dari kedua pedang Rado. Mereka saling bersinggungan dan menyebabkan sebuah ledakan aura force yang besar diantara mereka.


Rado mengambil langkah mundur dengan keadaan dua pedangnya yang mengeluarkan asap akibat panas yang dihasilkan dari kekuatan yang besar. Ia tersenyum melihat Juliver dan Aslav yang terlihat waspada saat menghadapinya.


"Aku tidak menyangka kalau kalian bisa menahan ku.. Ku kira demigod adalah sekumpulan ras lemah.." Ejek Rado.


"Apa kau bilang?!" Juliver tersulut emosi.


"Kalian! Bunuh manusia itu!" Perintah Juliver kepada ratusan demigod yang sudah bersiaga.


Ratusan demigod itu pun menyerbu kearah Rado secara bersamaan melewati Aslav dan Juliver. Disisi lain, Rado hanya terdiam berdiri sambil tersenyum menunggu kedatangan lautan sejata menghampiri dirinya.


_____________________________________


Kembali sesaat suara Rado sudah menghilang dari alat komunikasi, Yoga mengubah wajahnya dengan masam.


"Sepertinya ia sudah sampai di Utara, Suara yang ditangkap oleh alat ini tidak begitu jelas.. Tetapi untung saja aku mengerti dengan apa yang dia katakan.." Dalam benak Yoga bergumam, lalu ia menghela nafas.


Pasukan pun diberhentikan oleh Greg sesaat sebelum memasuki hutan dimana Lorien berada. Ratusan jumlah prajurit yang dibawa oleh Greg merupakan jumlah seluruh militer yang dimiliki oleh ras manusia. Para kapten dan pendamping terlihat menatap lurus kedalam hutan tersebut dan Greg pun tersenyum melihat sebuah gerbang pembuka sebelum melakukan pertempuran.


"Ayo kita masuk.." Kata Greg, melanjutkan perjalanan.


Akan tetapi baru saja mereka melanjutkan perjalanan, di depan bibir hutan terluar terlihat Hamdall, Lefti, Kuluk dan Sarka sudah menunggu mereka beserta beberapa prajurit elf yang lainnya.


"Sepertinya kita sudah disambut.." Kata Greg tersenyum.


"Itu tanda anda disambut oleh mereka tuan.." Kata Nimus terlihat senang.


"Sudah semestinya anda disambut seperti ini.." Kata Barley.


Watz kembali menoleh kearah Julie yang masih terlihat teguh akan pendiriannya mengikuti pertempuran ini. Ia pun beralih kembali ke depan untuk melihat jajaran pendamping dari ras elf. Disisi lain Yoga yang sudah merasakan aura penolakan dari mereka pun mulai waspada dan segera memberitahu kepada Greg.


"Tuan Greg, sepertinya ada yang salah disana.." Kata Yoga memperingati.


"Diamlah!" Tepis Greg atas himbauan dari Yoga.


Mereka terus berjalan mendekat kearah Hamdall dan pendamping yang lainnya. Pada saat mereka bertatap muka Greg dengan senyumannya meminta untuk dipertemukan oleh Slyvrin.


"Dimana ratu kalian...? Aku ingin bertemu dengannya.." Kata Greg dengan nada sombong.


Hamdall dengan kasar segera mengusungkan gadanya kearah Greg.


"Ratu tidak ingin menemui diri mu! Pergilah atau kami akan..." Kata Hamdall memperingati.


Sebelum Hamdall menyelesaikan perkataannya, Greg segera melesat kearah Hamdall yang sedang memperingati dengan pedang emas miliknya. Pedang itu dapat ditahan oleh gada milik Hamdall yang berada ditangan kanannya tanpa bergeming sedikitpun dan ia pun melihat kearah mata Greg yang tingginya hampir mengimbanginya.


"Kau ini pendamping yang tidak sopan.. Aku ini pemimpin dari ras manusia, kalau kau berani melawan ku, aliansi ini akan berakhir dan ras elf akan ku musnahkan..." kata Greg mengancam.


Hamdall yang mendengar itu mulai geram, aura forcenya meningkat dan sinyal bahaya pun sudah ia keluarkan. Yoga yang menyadari akan hal itu segera melesat kearahnya dan segera menggenggam pergelangan tangan Hamdall.


"Kita bicarakan ini secara baik - baik..." Kata Yoga menatap tajam kepada Hamdall.


Hamdall yang menghargai Yoga, segera menurunkan gada beserta kekuatannya. Begitu juga Greg, ia pun menurunkan pedangnya dan segera berbalik arah menuju pasukannya.


"Kuserahkan elf bodoh itu pada mu.." Dengan entengnya ia memberi perintah.


Setelah itu Yoga dan Hamdall melakukan kontak 4 mata dan seluruh apa yang dikatakan oleh Rado disampaikan kepadanya. Hamdall yang mengerti terlihat sedikit terkejut dengan fakta yang ada. Yoga pun segera memberi alat komunikasi itu kepada Hamdall dan masalah mengenai penolakan terhadap ras manusia pun berakhir. Pasukan ras manusia akhirnya diperbolehkan masuk kedalam Lorien dan Greg memiliki kesempatan untuk menemui Slyvrin.


Greg dengan sombongnya membawa seluruh pasukannya masuk kedalam hutan untuk sampai ke Lorien. Namun sesaat ia melewati Hamdall, Greg dengan entengnya mengatakan...


"Dasar elf bodoh... Biar ku perlihatkan bagaimana nanti Ratu mu ku gagahi.." katanya sambil tertawa.


Para pengikutnya pun juga ikut menertawakan ejekan yang terlontar dari mulut Greg dan membuat Hamdall begitu marah, Yoga yang saat itu berada didekatnnya pun memegang gada yang dipegang erat padanya lalu menggeleng tanda untuk bersabar. Lefti yang saat itu bertemu kembali dengan Jaquile mulai bertemu sapa dengan senyuman.


Pada akhirnya, langkah pertama yang dirancang oleh Greg pun berhasil, mereka berhasil memasuki Lorien tanpa terkena masalah meskipun dengan sebuah skema yang tidak ia ketahui.