
"Tuan Achilles.." Tunduk Juliver dengan rambut putih panjang dengan jirah silver mengkilau.
"Hm?" Toleh Achilles saat ia sedang memperhatikan pancuran ditaman istana.
"Sepertinya api yang anda mulai sudah merambat.." Kata Juliver.
"Hooo... Jadi, bagaimana hasilnya?" Tanya Achilles sambil memainkan air kolam pancuran.
"Ras manusia telah berhasil menundukan ibukota Lorien.." Lapor Juliver.
"Apa?! Langsung ibukotanya?!" Achilles terkejut dan menoleh kepada Juliver.
Wajah terkejutnya pun berubah menjadi senyuman yang misterius.
"Menarik.. Untuk sekarang kita biarkan mereka menaklukan satu sama lain.." Katanya sambil beralih kembali menatap kolam.
"Baik.." Juliver pamit dari dirinya.
"Aku tidak sabar menunggu penantang dari keempat ras itu.. Siapa yang akan menang dalam permainan penaklukan ini?" Senyum Achilles dengan wajah yang tercermin dikolam yang tidak tenang.
Keesokan paginya.
"Lapor!!!" Kata Dwarf berjanggut coklat panjang kepada Folk sang archon dwarf yang sedang membuat sesuatu senjata diruang pandai besi milik bangunan utama ibukota Dwarf, Moria.
Mereka yang sedang berada didalam satu ruangan bersama Folk, berhenti melakukan kegiatan mereka dan menoleh serentak kepada dwarf yang baru saja datang itu.
"Hoooo, Remi..." Sapa Folk sambil membuka kacamata tebalnya.
"Folk.. Ada yang harus kau ketahui..." Ujarnya tergesa - gesa.
"Hei - hei santai lah... Apa yang sedang terjadi?" Folk terlihat ceria.
"Wilayah elf... Wilayah elf telah jatuh ke tangan ras manusia...!" Lapornya.
"Heeee... Mereka hebat sekali.. Wilayah mana yang ditaklukan?" Kagum Folk.
"Wilayah tebing putih..!" Jawab Remi.
Tetapi laporan itu tidak membuat yang lain merasa kagum ataupun senang seperti Folk. Suara dentingan dari alat penempa yang dijatuhkan oleh para dwarf secara bergantian saling menyaut. Mereka begitu terkejut dengan laporan yang baru saja diberitakan oleh Remi.
"Hei ada apa dengan kalian?" Tanya Folk Ceria.
"Folk... Kita harus bergegas untuk menyelesaikan persenjataan, ras lain sudah mulai bergerak... Apa kau ingin penyerangan yang dilakukan oleh ras demigod terjadi lagi?! Wilayah elf itu sangatlah dekat dengan kita! Kalau manusia sudah bsia mengalahkan elf.. berarti mereka juga bisa mengalahkan kita..!" Ucap Dwarf berkumis panjang dengan memakai topi pilot dengan kacamata yang terpajang diatasnya.
"Hahahahaha tenang lah Gerg... Sebentar lagi kita juga akan siap untuk melangkahkan kaki kita... Dengan tiga pulu ribu persenjataa yang sudah kita buat dalam seminggu ini.. Aku yakin, mereka akan terkejut bila berhadapan dengan kita.." Kata Folk dengan ceria menatap keseluruh ruangan yang berisikan tumpukan senjata yang menggunung.
"Beritahu seluruh negeri kalau kita akan melakukan pergerakan!" Perintah Folk dengan wajah cerianya.
"Hoooo!!!!!!" Para Dwarf mengangkat tangannya.
"Kemana kita akan menyerang Folk?" Tanya Gerg setelah para Dwarf menurunkan tangan mereka.
"Aku tidak tau~" Jawabnya polos.
"Heeeeeee~~?" Seluruh Dwarf melongo dengan jawaban Folk.
"Aaaaaaa...... Lalu mengapa kau menyuruh kami untuk mempersiapkan diri untuk sebuah pergerakan?" Tanya Gerg terheran.
"Entahlah.. Aku hanya ingin berpetualang saja dekat - dekat ini Hahahahahaha..." Tawa Folk.
Sementara itu di ibukota ras Orc, Tirith. Dogol Khan yang sedang duduk pada kursi yang terbuat dari kulit binatang dan tulang belulang sedang dihadapkan dengan Frago dan juga Laguun yang sedang dalam pemulihan akibat luka yang diberikan oleh Frago bertekuk hormat kepada Dogol. Dekorasi ruangan itu layaknya seperti sebuah ruangan suku jaman dulu dimana api yang menjadi penerangan dimalam hari dan dekorasi dari kepala hewan buruan yang terpajang disetiap sisi.
Beberapa prajurit Orc yang memegang sebuah tombak berdiri kedua sisi Dogol, wajah mereka yang seram dengan gigi taring bawah yang menjulang keatas bibir mereka menandakan kalau mereka adalah prajurit yang gagah.
"Apa yang membuat mu sampai seperti ini, Laguun?" Tanya Dogol dengan suara serak berat.
"Ini karena orc bodoh ini menyerang ku.." Jawab Laguun menyalahkan Frago.
"Menyerang mu? Apa yang membuat mu menyerang Laguun, Frago?" Tanya Dogol dengan tenang.
"Maafkan aku tuan Dogol.. Itu karena tuan Laguun ingin menghalangi pertempuran ku..." Jawab Frago masih dalam keadaan menunduk.
"Hah... Ini sangatlah bodoh! Bagaimana bisa kalian menyerang satu sama lain dan gagal mendapatkan wilayah itu?!" Dogol berteriak bangkit dari kursinya dan berjalan kedekat mereka berdua.
"Sebaiknya ada alasan yang bagus untuk membuat kalian bisa selamat dari amarah ku.." Tatap Dogol dengan mata hitam dengan pupil merahnya.
Mereka berdua berkeringat karena sudah membuat Dogol marah besar.
"Itu... Itu karena ras manusia datang menganggu pertempuran kami.." Jawab Laguun dengan sangat hati - hati.
Tidak ada jawaban dari Dogol, ia malah kembali kekursinya dan duduk setelah mendengar laporan dari Laguun mengenai penyebab kekalahan mereka.
"Haha... Hahahaha.... Hahahahahahahaha!!!!!!!!" Tawanya dengan sangat keras hingga mendongak keatas.
"Tuan?" Tanya Laguun mengangkat kepalanya.
Frago pun juga mengangkat kepalanya dan ikut tersenyum melihat Dogol tertawa.
"Hahahahaha..... Bagaimana kekuatan mereka sekarang?" Tanya Dogol dengan senyuman yang menyeringai hingga gigi tajamnya terlihat.
"Mereka sangat menghibur tuan! Terutama si pemegang perisai dan tombak emas!" Jawab Frago dengan cepat.
"Pemegang perisai? Tombak emas? Siapa mereka?" Tanya Dogol tertarik dengan cerita Frago.
"Pemegang perisai yang dimaksud oleh Frago adalah pendamping yang kita lihat waktu di dungeon, kalau si pemegang tombak, sepertinya ia adalah pendamping barunya.." Jelas Laguun kepada Dogol.
"Hooo... Sepertinya rubah itu sudah beranjak dewasa dan mencari kawanan..." Dogol termesem senang.
"Lalu apa orang itu ada disana?" Sambungnya bertanya.
"Kalau manusia itu, dia tidak hadir disana.. Sepertinya ia hanya memerintahkan para pendampingnya saja.." Jawab Laguun.
"Hei.. Hei.. Siapa yang anda maksud tuan?" Tanya Frago.
"Diam Frago!" Bentak Laguun menoleh kepada Frago yang terlihat senang sambil menatap Dogol.
"Hahahaha Laguun.. Jangan terlalu keras dengannya..." Bela Dogol kepada Frago.
"Maafkan aku.." Kata Laguun, lalu beralih melirik Frago dengan geram.
"Kau ingin tau siapa orang yang ku maksud? Dia adalah salah satu makhluk yang mampu membuat tubuh ku tergores.." Dogol memberitahu Frago sambil berjalan kearahnya.
"Melukai anda?! Apakah ada makhluk yang ****** melukai anda sekarang ini?!" Tanyanya sangat antusias.
"Ya.. Ya... " Jawab Dogol sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Frago.
"Dia sangat kuat dan bisa melukai ku... Dia adalah Archon dari ras manusia... Apa kau bisa memburu kepalanya untuk ku?" Bisik Dogol kepada Frago dengan gigi yang terlihat tajam.
"Hahaha.. Hahahahahahahaha...." Tawa keras Frago hingga membuatnya puas, ia merentangkan tangannya dan menatap kearah langit - langit akibat tawa yang berlebihan.
"Dengan senang hati, aku akan memburu kepalanya..." Senyum Frago setelah ia berhenti tertawa.
Didaratan yang berbeda, Dikamar tidur yang cukup besar Rado terbangun dari tidurnya dengan mata yang terbuka secara tiba - tiba. Sinar matahari yang menyinari sebagian kamarnya pun menghangatkan dirinya untuk pertama kali. Ia terbangun dan menatap kakinya yang berotot, lalu bergegas bangun dari tempat tidurnya. Setelah ia sudah bersiap - siap mengenakan pakaian yang biasa ia kenakan, Rado keluar dari kamarnya dan ia menuju keruangan kerjanya.
"Tuan.." Tunduk para penjaga yang berada disana.
Rado hanya tersenyum dan segera membuka pintu ruangannya dan sudah terdapat Kirisaki, Hawl, Rudy dan Albert dengan pakaian dinas mereka. Rado sedikit terkejut dengan hadirnya Kirisaki yang baru saja menunjukan dirinya.
"Apa yang membuat kalian kemari?" Tanya Rado sebagai ucapan selamat pagi mereka.
"Ah.. Tuan Rado... Perkenalkan, dia adalah Kirisaki, prajurit berpotensi lainnya... Aku kesini hanya ingin merekomendasikannya sebagai salah satu kapten di divisi satu.." Kata Hawl.
"Aku Kirisaki... Senang bisa bertemu dengan anda.." Sapa Kirisaki kepada Rado.
"Baiklah.. Aku menerimanya.." Cetus Rado tanpa pertimbangan karena sudah mengetahui Kirisaki.
"Eh?! Apa anda menyetujuinya begitu saja?!" Tanya Albert.
"Aku sudah mengetahui kemampuannya hanya dengan melihatnya.." Jawab Rado tidak ingin repot dan duduk dikursi empuknya.
"Lalu.. Apa yang ingin kau lakukan disini?" Sambung Rado bertanya kepada Rudy.
"Aku kesini untuk membicarakan mengenai pembagian setengah pasukan ku kepada Kirisaki..." Jawab Rudy.
"Apa kau yakin?" Tanya Rado.
"Yah.. Aku ingin memberikan adik ku dan teman - temannya kepada Kirisaki agar mereka bisa lebih memiliki waktu untuk belajar mengenai medan pertempuran.. Lagipula anggota ku sudah lebih dari cukup tanpa mereka" Jelas Rudy mengenai pembagian tersebut.
"Selain itu?" Tanya Rado mengetahui maksud lain mengenai hal itu.
Rudy sedikit ragu untuk mengatakannya, tetapi beberapa saat ia mempersiapkan hatinya untuk berbicara, Ia pun menatap Rado dengan tegas.
"Aku merasa tidak nyaman dengan kehadiran mereka terutama adik ku Geraldo, mungkin karena aku terlalu peduli dan khawatir kepada mereka, itu juga membuat aku selau tidak membawa mereka dalam pertempuran seperti pertepuran kemarin.. AKu hanya saja tidak ingin menghambat perkembangan mereka, jadi lebih baik mereka berada di tim lain agar terhindar dari ku yang selalu memikirkan mereka.." Kata Rudy.
"Kalau itu mau mu, aku menyetujuinya... Bagaimana dengan Kirisaki?" Tanya Rado kepadanya.
"Aku sangat berterimakasih dengan tuan Rudy bila memang ingin memberikan ku beberapa prajurit.." Kirisaki membungkuk kepada Rudy.
"Ok kalau begitu, aku akan menyerahkan pemindahan anggota kepada kalian berdua.." Kata Rado menyudahi pembicaraan mereka.
Setelah itu Hawl, Kirisaki dan Rudy pun beranjak pergi dari ruangan Rado, ruangan itu sekarang hanya meninggalkan Albert dan Rado saja. Rado yang tidak memerlukan apapun lagi, segera mengambil berkas yang berada dimejanya.
"Tuan?" Panggil Albert beberapa saat kemudian.
"Apa?" Saut Rado sambil membaca berkas.
"Anda tidak ingin mengatakan apapun terhadap tindakan saya sebelumnya?" Tanya gugup Albert cemas.
"Aku tidak mempermasalahkan kebodohan mu yang kemarin.. Hanya saja, jangan diulangi lagi.." Jawab Rado.
Mendengar Rado tidak mempermasalahkan tindakannya, Albert tidak merasa lega, ia merasa kesal dan frustasi. Tubuhnya bergetar disertai wajah yang penuh penyesalan.
"Kenapa anda tidak menghukum ku?!" Bentak Albert.
"Eh?" Rado terkejut.
Dibalik pintu ruangan Jefry yang ingin masuk kedalam ruangan Rado segera dihentikan oleh Yoga dan ia menggelengkan kepalanya untuk menahan Jefry yang ingin masuk.
"Mengapa anda tidak menghukum ku?! Karena tindakan ku, hampir saja kita gagal total dalam melakukan aliansi bersama ras elf..." Kesal Albert.
Rado berhenti melakukan pekerjaannya dan hanya memperhatikan Albert yang sedang frustasi.
"Aku merasa frustasi karena seperti tidak bisa melakukan apapun! Dulu selama aku masih menjadi seorang pemimpin bagi ras ini, aku belum bisa memenangkan pertempuran manapun untuk ras... Dan sekarang... Aku juga merasa tidak bisa melakukan apapun!" Kesalnya meluap sambil menatap Rado.
"Aku memang seorang jenderal seperti Yoga dan Jaquile... Tetapi aku merasa kalau aku sudah tertinggal jauh oleh mereka dalam segi apapun..." Ia menunduk menahan malu.
"Setidaknya biarkan aku menyelesaikan sesuatu dan memberikan suatu jasa bagi ras..." Nadanya melemah setelah meninggi.
"Hmm.. Begitu.." Acuh Rado dengan curarhan hati Albert dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Merasa kesal di acuhkan oleh Rado, Albert dengan sakit hati meninggalkan dirinya dan segera keluar dari ruangan tersebut. Saat Albert membuka pintu dengan wajah berantakan, ia berhenti sejenak melihat Jefry dan Yoga yang sudah berada dibalik pintu tersebut sambil menatap dirinya dengan tatapan penuh simpati. Merasa malu dan kesal karena pembicaraannya telah didengar oleh mereka berdua, Albert segera melewati mereka dengan tergesa - gesa.
Yoga dan Jefry pun masuk kedalam untuk menemui Rado setelah menatap Albert pergi meninggalkan mereka.
"Apa kau tidak berlebihan?" Tanya Yoga.
"Apa yang harus ku berikan kepada orang yang sudah mengakui kesalahannya? Hukuman? Yang seperti apa? Mungkin dengan memperlakukannya seperti itu bisa membuatnya bisa berpikir dengan lebih bijak kedepannya... Lagipula, jika memang dia sudah mengerti maka ia akan kembali dengan pola pikir yang berbeda.." Cuek Rado menanggapi pertanyaan Yoga.
Yoga dan Jeffry pun terdiam dengan jawaban yang diberikan oleh Rado.
"Baiklah akalu begitu.. aku permisi.." Kata Yoga pamit.
Jefry pun yang terbingung dengan apa yang harus dia lakukan lagi, segera menaruh kerjaan Rado lalu menyusul Yoga keluar dari ruangannya.
Rado terlihat fokus dengan pekerjaannya kembali tanpa merasakan apapun.
"Aku ingin tahu bagaimana Albert melawan dirinya sendiri... Karena dia harus tau, pencapaian dalam militer itu bukanlah satu - satunya tujuan hidup untuk menjadi seorang manusia yang berguna" Pikirnya dalam hati.
Saat ini Albert berjalan tergesa - gesa ingin meninggalkan gedung utama. Ditengah perjalanannya, ia bertemu dengan Jaquile yang sedang berjalan dengan mulut yang penuh dengan roti.
"Ewh? Hwoi Albwertt!" Panggilnya dengan mulut penuh roti.
Karena suaranya tidak sampai kepada Albert, Jaquile segera memakan semua rotinya dengan cepat.
"Hoi Albert!" Teriaknya dengan keras.
Albert pun menoleh kearah Jaquile dan berhenti untuk menunggunya datang.
"Ingin kemana kau?" Tanya Jaquile tersenyum.
"Aku hanya ingin mencari udara segar.." Jawab Albert mencoba tersenyum.
"Ok... Ayo kita berjalan - jalan sebentar.." Cetus Jaquile.
Mereka berdua berjalan bersama kesebuah taman yang berada digedung utama, dipagi menjelas siang ini masih banyak para masyarakat yang sedang melakukan aktifitas fisik seperti jogging dan sebagainya ditaman tersebut. Pakaian yang mereka kenakan tidak jauh berbeda dengan apa yang menjadi pakaian olahraga dibumi. Sebuah headpond dengan tampilan futuristik, anjing dengan bentuk aneh dan juga kereta bayi dengan tampilan digital mengenai suhu cuaca pun terdapat disana.
"Jaquile.." Panggil Albert.
"Hm?" Sautnya sambil menatap pepohonan ditaman tersebut.
"Apa pendapat mu mengenai tuan Rado?" Tanyanya langsung.
"Rado?! Hmmmm Aku belum terlalu lama mengenalnya tetapi yang ku ketahui, ia adalah orang yang keras sekaligus baik, tetapi yang ku dengar dari Yoga yang sudah lama bersamanya, dia adalah orang yang mencintai keluarganya.. ia bisa hilang kendali bila sudah menyangkut keluarga.. Lalu yang ku dengar dari Yoga adalah Rado memiliki empati dan simpati yang sangat besar terhadap orang - orang lemah dan tidak mampu, mungkin dia terlihat acuh tak acuh terhadap sekitar, tetapi sepertinya ia memiliki jiwa sosial yang tinggi" Jelasnya sambil tersenyum dibawah pepohonan.
"Memangnya ada apa?" Sambung Jaquile menoleh kearah Albert.
Albert terdiam sejenak mendengar penjelasan dari Jaquile.
"Aku merasa kalau aku seperti tidak dibutuhkan oleh tuan Rado..." Kata Albert.
"Kenapa kau berkata seperti itu?" Tanya Jaquile kepada Albert dengan penasaran.
"Selama ini aku tidak pernah mendapat misi seperti kalian... Apa karena aku lemah?" Jawabnya.
"Kalau aku memang lemah, mengapa aku diangkat menjadi salah satu pendampingnya seperti kalian?" Sambung Albert.
Jaquile sedikit tertegun mendengar pernyataan dari Albert yang sedang merasa pundung.
"Hahahahahaha... Apa yang kau katakan? Dasar bodoh.." Tanya Jaquile terbahak - bahak.
"Hei... Rado memang sulit ditebak, akan tetapi dia tidak main - main dalam memilih seseorang untuk menemani perjalanannya ini... Mungkin memang belum saatnya kau diturunkan, tetapi percayalah... dia sangat mengandalkan mu Albert.." Senyum Jaquile.
Saat ia sedang berbicara dengan Albert, ada sebuah pesawat kertas yang melintas diatas kepala mereka dan tersangkut disebuah pohon, Jaquile segera mengambilnya dan seorang anak dengan pakaian lusuh datang menghampiri dirinya. Jaquile sedikit berbicara dan bercanda kepada anak tersebut tanpa membandingkan kalau anak itu berasal dari kalangan mana, Albert yang melihat keakraban Jaquile bersama anak itu seperti menerima sebuah pencerahan. Ia teringat kalau Rado telah memberikannya tugas mengenai pembangunan di distrik bawah, akan tetapi ia mengerjakannya dengan setengah hati.
Disaat itulah Albert tersadar kalau ia merasa lalai dalam menjalankan tugas besar pertamanya. Beberapa saat kemudian, Jaquile pun kembali kepadanya dengan wajah senang setelah bermain bersama anak tersebut.
"Ada apa?" Tanya Jaquile melihat Albert terdiam.
"Tidak apa.. Sepertinya aku harus pergi kesuatu tempat.." Kata Albert segera meninggalkan Jaquile.
"Eh? Ada apa dengan dia?" Heran Jaquile menggaruk kepalanya.
Jaquile segera berlari menuju ke distrik bawah ketempat perencanaan bangunan militer akan dibuat.
"Apakah seharusnya aku tidak mengabaikan ini?! Apa pencapaian pertama ku bukan dibidang militer terlebih dahulu melainkan dalam kemasyarakatan?!" Tanya Albert dalam hati.
"Berhentilah membanding - bandingkan berdasarkan kasta!" Tegas perkataan Rado terlintas di kepala Albert pada saat itu.
"Sial!!! Kenapa aku tidak menyadarinya sejak awal? Umur ku sudah tidak muda lagi.. tetapi kenapa aku tidak peka dengan perkataan seseorang? Apa dia mencoba untuk mengubah pola pikir ku dengan memberikan tugas ini?" Tanyanya sekali lagi.
"Aku harus menyelesaikannya dan mendapat pengakuan dari tuan Rado... Tunggulah, Aku akan menjadi pendamping seperti yang anda mau!" Tekadnya tersirat dimata Albert.
Kembali kepada Rado yang sedang terduduk santai dikursinya sambil melihat keluar jendela, waktu menunjukan pukul 12.06. Saat Rado melihat kearah jam tersebut, ia teringat akan sesuatu.
"Sepertinya untuk menghilangkan jenuh, aku ingin ke akademi kakek.." Idenya.
Rado segera menagganti pakaiannya dan memakai masker untuk menutupi wajahnya. Ia pun berangkat ke distrik menengah untuk pergi ke akademi. Disampainya disana, semua murid dan instruktur yang saat itu sedang berjalan atau sedang ingin latihan dikelas yang berbeda, segera menatapnya serentak. Rado merasa bingung dengan tatapan mereka.
"Ada apa ini? Apa aku membuat kesalahan?" Tanya.
Saat Rado inging memasuki gedung yang ia yakini sebagai gedung kelas, ia telah dijegat oleh Rega dan seorang pria dengan kumis tipis dan berambut coklat. Pakaian yang ia kenakan adalah pakaian militer kota dengan pangkat yang terpajang dipundaknya. Rado terhenti menatap pria tersebut karena menghalangi jalannya.
"Ayah... Dia orag yang menghajar ku!" Adu Rega kepada ayahnya.
"Apa kau seorang anak kecil sampai mengadu kepada ayah mu?" Tanya Rado kepada Rega.
"Apa kau bilang?!" Geram Rega.
"Jadi kau yang membuat anak ku sampai babak belur?" Tanya pria tersebut.
"Hmph.." Rado hanya tersenyum dan ingin melewati mereka.
Tetapi, langkah Rado sekali lagi dihentikan oleh ayah dari Rega.
"Kau ingin kemana?" Tanyanya dan tiba - tiba prajurit yang entah darimana datang mengerubungi Rado.
"Mati kau.." Kata Rega tersenyum.
"Nak... Apa kau masih tidak tau keadaanya?" Tatap ayah Rega mengancam.
Rado masih tersenyum dibalik maskernya dengan wajah gelap, karena mulai merasa gusar Rado sedikit mengangkat tangannya untuk memberi pelajaran kepadanya, akan tetapi keributan itu dihentikan oleh Martinez dan jajaran para instruktur beserta Silvi yang kala itu sedang ingin masuk kedalam gedung kelas.
"Berhenti" Tegas Martinez berjalan kearah mereka.