
"Baiklah... Aku menerimanya"
"Tuan!"
Semua prajurit manusia bereaksi dengan keputusan Rado yang menerima Slyvrin sebagai istrinya. Begitu juga ras elf yang terkejut dengan penerimaan atas syarat yang diberikan oleh ratu mereka. Slyvrin tersenyum dan segera terbangun dari sofanya lalu berjalan mendekat kearah Rado.
"Aku tidak menyangka kalau kau menerima persyaratan itu..." Bisiknya didepan wajah Rado sambil memegang dada Rado dan tubuh mereka saling berdekatan.
Jika disandingkan, tinggi badan mereka terlihat hampir setara dimana memang tubuh ras elf memiliki ukuran yang cukup tinggi dan ramping. Slyvrin tersenyum dihadapan Rado, demikian juga Rado yang tersenyum sambil menatap kedalam mata Slyvrin.
"Yah... Apa yang tidak bila itu bertujuan untuk berpolitik?" Jawab Rado.
"Hei... Baru saja kita resmi akan menjadi sepasang suami istri, tetapi kau sudah menyakiti hati ku.." Ujar Slyvrin dengan senyuman.
"Hmph.." Rado hanya tersenyum.
Slyvrin melepaskan pelukannya dari Rado dan memunggungi Rado.
"Ntah mengapa aku merasa ditolak oleh dirimu, tetapi baru kali ini aku mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari seorang pria. Didunia ku sebelumnya, banyak elf pria dari berbagai suku mendatangi ku dan melamar ku. Namun, kau memang berbeda... Aku suka pada mu" Slyvrin menoleh kembali ke Rado dengan gestur menggoda.
"Berhentilah bersikap seperti itu... Kau tidak cocok menggoda karena kecantikan mu tidak akan berarti bila kau umbar dengan murah" Tangkal Rado dengan senyuman.
Slyvrin terpanah dengan perkataan Rado sekaligus membuat wajahnya kembali memerah, ia mengalihkan pandangannya dengan segera dan menyikap rambut yang terurai kebelakang telinganya.
"Bo-bodoh!" Gugupnya dan segera berjalan ke sofanya semula.
Semua mata terpana saat melihat Slyvrin berjalan dengan amat cantik, Slyvrin pun kembali duduk diatas sofanya dengan anggun, lalu dengan wajah yang masih merah merona ia sedikit mencondongkan tubuhnya kepada Rado karena kegugupan yang tidak kunjung hilang.
"Aku sudah berumur 189 tahun... Ini akan menjadi pernikahan pertama ku.." Senyum Slyvrin.
"Apa?! 189 tahun?! Dia seorang nenek - nenek!" Cetus Jaquile tanpa saring.
Mendengar kata nenek - nenek membuat Slyvrin sedikit tersentil, ia segera mengarahkan tongkatnya kearah Jaquile dan mengaktifkan sebuah serangan akar kepadanya. Akar itu merambat dengan cepat dan segera berhenti tepat dihadapan Jaquile dengan ujung yang runcing.
"Hiii..." Jaquile sedikit mundur dan terkejut melihat serangan yang tiba - tiba tersebut.
Para prajurit pun juga terkejut dengan kemarahan dari Slyvrin karena cemohan dari Jaquile. Rado menutup matanya dengan senyuman dan bertindak layaknya seorang pemimpin.
"Bisakah kau maafkan prajurit ku? Mungkin penyebutan umur mu mengejutkan mereka.." Katanya menghangatkan suasana.
Akar itupun kembali menghilang layaknya kunang - kunang setelah Rado mengatakan demikian.
"Baiklah.. Aku maafkan.." Kata Slyvrin sambil menyikap rambutnya kebelakang telinga sekali lagi.
"Bagi kami ras elf, penuaan tidak pernah terjadi... Meskipun nona Slyvrin sudah berumur seratus tahun, penampilan ia tetapi muda dan juga segar..." Kata Hamdall tersenyum menjelaskan.
"Apa maksud mu dengan segar Hamdall?!" Toleh sinis Slyvrin kepada Hamdall.
"Maafkan aku.." Hamdall menunduk dengan senyuman.
Setelah Rado mencoba untuk mencerna perkataan dari Hamdall, ia dengan cepat melihat wajah satu persatu dari ras elf, dan ia baru menyadari kalau memang rata - rata penampilan dari mereka semua terlihat muda. Setelah itu, ia beralih menoleh kearah salah satu Elf yang masih terduduk menunduk, ia adalah Sarka.
"Ada apa dengan elf berkulit gelap itu?" Tanya Rado sambil menatap Sarka.
"Ah.. Dia adalah Sarka, salah satu pendamping ku dan ia adalah dark elf. Dia tidak bisa memilih antara rasnya dengan orang yang telah ia bawa kesini... Aku tidak membutuhkan prajurit yang mengkhianati ku, kalau saja aku bisa mencabut kekuatan demicles darinya, mungkin akan ku lakukan sekarang.." Jawab Slyvrin mencibirnya.
Rado terus memandangi Slyvrin yang tertunduk dengan rajah yang tertutupi rambutnya, Yoga pun mendekat dan membisikan sesuatu kepada Rado yang terus menatap kearah Sarka.
"Oh Begitu... Baiklah.." Kata Rado setelah Yoga membisikan sesuatu kepadanya.
Rado kembali beralih kepada Slyvrin yang berada didepannya.
"Bagaimana kalau elf itu ikut dengan ku sebagai tanda aliansi kita yang lain.." Usul Rado.
"Apa?! Kau ingin memungut elf sampah itu..?!" Tanya Slyvrin terkejut.
"Jangan menyebutnya sampah!" Rado sedikit geram kepada Slyvrin.
Slyvrin yang menatap mata Rado sedikit tersentak.
"Maafkan aku... Kenapa kau ingin mengambilnya?" Tanya Slyvrin secara baik - baik.
"Entahlah.. mungkin dia akan berguna di ras ku.." Toleh Rado kembali ke Sarka, Sarka yang mendengar itu segera mengangkat kepalanya dan menatap Rado.
"Aku?" Tanya Sarka dengan wajah polos.
Rado hanya tersenyum kepadanya dan kembali beralih kepada Slyvrin.
"Sebagai pertukarannya, aku akan meninggalkan Zowie disini" Sambung Rado.
"Hei Rado! Kita baru saja bertemu dan kau membuang ku dengan cepat!?" Kata Zowie dengan meringis kepada Rado.
"Hahaha.. Aku tidak membuang mu, tetapi aku merasa kau lebih baik disini, melihat ada sebuah botol kaca yang entah kau buat bagaimana terpajang di tangan mu sejak tadi, sepertinya disini sudah ada lab penelitian.. Mengingat ras manusia dan elf sudah beraliansi, sepertinya aku tidak perlu repot - repot lagi membuatkan ruang penelitian untuk mu.." Senyum Rado.
"Teganya diri mu.." Rengek Zowie.
"Hah... Aku merasa sudah membuang waktu untuk mencari pria itu" Gumam Yoga sambil memegang dahinya mendengar Rado menempatkan Zowie di Lorien.
"Baiklah kalau itu mau mu.." Kata Slyvrin menyetujui pertukaran tersebut.
Setelah perbicanngan itu telah usai, Rado pun memisahkan diri bersama Zowie ketempat yang lebih sepi, yaitu ruangan pribadi milik Zowie. Ruangan itu dipenuhi alat - alat dan juga bahan - bahan yang menjadi objek penelitian Zowie. Hal pertama yang dilakukan oleh Rado saat memasuki ruangan tersebut adalah dengan melihat satu persatu alat, bahan dan juga hewan aneh yang menjadi kelinci percobaan diruangan tersebut.
"Hooo ini tidak jauh beda dengan yang ada ditoko mu.." Kata Rado sambil melihat seekor kadal bermata enam.
Zowie yang baru saja menutup pintu segera mendekat kearah Rado.
"Yah.. Aku membuat ruangan ini senyaman mungkin agar aku bsia berkonsentrasi.." Jawab Zowie tersenyum.
"Hei.. Aku bingung dengan keadaan kita... Sebenarnya kita sedang berada dimana?" Sambung Zowie.
Rado pun berdiri dan membalikan tubuhnya kepada Zowie.
"Ini buntut dari kekuatan yang kudapat..." Jawab Rado dengan serius.
"Maksud mu... Ini ada kaitannya dengan lambang yang kau emban?" Tebak Zowie.
"Ya... Dan salah satu harga yang harus dibayar untuk perpindahan populasi manusia diseluruh bumi adalah dengan mengambil ingatan mereka.." Jelas Rado.
"Ah... Aku sekarang mengerti... Mengapa orang yang aku kenal tidak mengenal ku.." Kata Zowie sambil memegangi dagunya dan menatap keatas mengingat kejadian sebelumnya.
"Eh tunggu... Mengenai itu! Mengapa diri mu tidak kehilangan ingatan?" Tanya Rado sedikit mencondongkan tubuhnya karena penasaran.
"Hmmmm kau benar... Aku juga bingung dengan itu, mereka yang ku temui tidak ingat dengan kehidupan yang berada di bumi, tetapi aku mengingatnya setelah bangun dari tidur yang disebabkan oleh asap aneh saat itu.." Jawab Zowie dengan jari telunjuk yang spontang mengacung.
"Eh?! Dia juga mengalami tidur seperti yang lain?" Dalam benak Rado berpikir mengenai kasus Zowie.
"Lalu bagaimana dengan mu? Bagaimana kau bisa ingat dengan semua yang ada sebelumnya?" Tanya Zowie tertarik.
"Aku tidak kehilangan ingatan ku karena aku adalah pemain dari kejadian ini.. dan juga bukan aku saja yang berhasil lolos dari kehilangan ingatan ini, tetapi juga oranng yang ku berikan -" Perkataannya terputus dan mata Rado melebar mengingat sesuatu.
Kilas balik saat kejadian dimana Rado berada di toko milik Zowie. Kala itu Zowie sedang meracik suatu ramuan di ruangannya dan Rado meminta Zowie untuk meneliti darahnya setelah ia menceritakan kronologi ia mendapat kekuatan dari sistem.
"Waktu itu, bukankah aku memberikan sampel darah ku karena aku ingin mengetahui kandungan yang terdapat didarah ku?!" Tanya Rado spontan.
"Ah.. Ya.. aku meneliti darah mu dan itu seperti darah orang normal lainnya, tetapi setelah mendengar cerita mu mengenai diri mu yang menjadi lebih kuat, itu membuat ku penasaran dan mencampurkan darah mu pada beberapa ramuan adrenalin.." Jawab Zowie.
"Lalu?" Tanya Rado.
"Darah itu tidak membuat suatu reaksi yang aneh dan ku acuhkan saja.. lalu aku..." Mata Zowie melebar mengingat hal yang telah ia lakukan.
"Zowie?" Tanya Rado terheran melihat Zowie terdiam kaku.
Zowie pun mencoba mengeluarkan forcenya, Rado dan dirinya pun terkejut melihat force Zowie yang berwarna merah dengan keunguan dan yang lebih mengejutkannya lagi adalah sebuah lambang demicles yang muncul namun sangat samar.
"Zowie.. Apa yang kau lakukan pada potion itu?" Tanya Rado terkejut sambil melihat demicles yang samar.
"Aku.. Aku meminumnya.." Jawab Zowie pelan sambil menatap keatas.
"Bodoh! Apa yang kau lakukan pada darah ku?!" Rado segera memegang kedua bahu Zowie dengan cepat.
"Hei! Aku ini ilmuwan! Mana mungkin aku benar - benar mengacuhkan ramuan yang telah kubuat dan terlebih lagi setelah mendengar penjelasan mu mengenai kekuatan itu, mana mungkin aku bisa tahan dengan godaan untuk mencobanya!" Teriak Zowie menjawab pertanyaan Rado.
Mereka berdua terdiam dengan wajah saling terkejut, Rado melepaskan tangannya dari bahu Zowie dan demicles milik Zowie pun menghilang. Rado segera memegang dahinya dan menghela nafas setelah ia mengetahui akar dari kasus Zowie.
"Aku sebenarnya tidak ingin kau terseret dalam masalah ini... dan aku mengerti mengapa kau tidak terdeteksi oleh para dewa saat pemanggilan.." Kata Rado.
"Mungkin karena kecacatan prosedur transfer kekuatan membuatnya berhasil lolos dari pengamatan dewa, terlebih lagi dia sangat jarang menggunakan forcenya... Mungkin kekuatan ku juga yang membantunya untuk mempertahankan ingatannya.. akan tetapi ia tertrasfer terlebih dahulu kedunia ini sebelum diri ku, Yoga dan Jaquile.. Hah.. ini sangat membingungkan, bagaimana bisa sistem yang dibuat oleh dewa ada kesalahan.." Rado berkata dalam hati dan terlihat mulai pusing akibat kasus yang terjadi pada Zowie.
"Rado? Hoiii.. Rado?" Panggil Zowie karena Rado terdiam berpikir.
Rado tidak menggubris panggilannya dan masih sibuk berpikir.
"Eh?! Tunggu... Kalau darah bisa dapat membuat seseorang memiliki kekuatan ini.. Maka..." Rado tersadar akan sesuatu.
"Apa kau pernah mengatakan hal ini kepada orang lain?!" Sontak Rado segera bertanya kepada Zowie.
"Ti - tidak... memang kenapa?" Tanya Zowie terheran.
"Jangan beritahu siapapun mengenai ini!" Kata Rado dengan nada menekan.
Zowie tidak mengetahui secara pasti mengapa Rado meminta merahasiakan hal ini.
"Baiklah kalau itu mau mu.." Zowie dengan canggung menerima.
Rado berbalik membelakangi Zowie.
Disaat ia sedang berpikir dan Zowie masih terbingung dengan keadaan didalam sana, suara pintu ruangan Zowie diketuk oleh seseorang. Ketukan itu membuat Rado dan Zowie secara bersamaan menoleh kearah pintu tersebut.
"Siapa itu?!" Tanya Rado.
"Ini aku Slyvrin.." Suara lembutnya dibalik pintu.
"Masuklah.." Kata Rado mengizinkan.
"Hei.. ini kan ruangan ku.." Dalam benak Zowie melirik kearah Rado dengan wajah risih.
Pintu ruangan itu pun terbuka perlahan dan Slyvrin muncul dengan anggun.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanyannya tersenyum.
"Hanya berbicara sebentar.." Jawab Rado.
"Oh.. begitu, Bisakah kau tinggalkan kami berdua?" Pinta Slyvrin kepada Zowie.
Zowie yang merasa canggung menatap Slyvrin yang tersenyum dan beralih menatap Rado yang juga tersenyum lalu mengangguk.
"Baiklah.." Zowie pun pergi meninggalkan mereka berdua.
Setelah pintu tertutup rapat, Slyvrin menatap Rado dalam - dalam.
"Jadi.." Tangannya meraba kedada Rado.
Sementara itu di malam menjelang pagi, Julie dan Kan beserta rombongannya baru saja tiba didepan Lorien. Mereka dibuat bingung dengan keadaan yang kondusif dengan prajurit manusia dan prajurit elf saling tidak menyerang. Malah diantara mereka sudah saling berbicara satu sama lain.
"Apa yang terjadi disini?" Tanya Julie kepada Kan.
Disaat mereka sedang melihat keadaan didalam ibukota tersebut, mereka berpapasan dengan Yoga, Jaquile dan Albert yang akan menuju bangunan tempat ratu berada.
"Jenderal.." Sapa Kan dan Julie membungkukan sedikit tubuhnya.
"Ah.. Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Yoga terheran.
"Kami kesini sebagai bala bantuan.." Jawab Kan.
"Hah?? Bala bantuan? Hahahahaha" Tawa Jaquile terbahak - bahak melihat mereka berdua.
"Apakah ada yang lucu jenderal?" Tanya tegas Kan masih membungkuk.
"Pertempuran telah selesai.." Cetus Albert tanpa basa - basi.
"Apa?! Selesai?" Kompak mereka bertanya.
"Lalu bagaimana dengan hasilnya?" Tanya Kan mengangkat kepala.
"Hmmm seperti yang kau lihat... Kita beraliansi.." Senyum Jaquile sambil menepuk pundak Kan.
"Aliansi?" Tanya Julie mengangkat kepalanya.
"Ya.. Aliansi.." Senyum Jaquile kepada Julie.
"Kalian pasti lelah.. Lebih baik kita masuk kedalam..." Ajak Yoga.
Disaat mereka berjalan menuju kedalam bangunan utama di ibukota tersebut, mereka bertemu dengan Zowie yang terlihat lesu sedang berjalan keluar.
"Hei.. itu Zowie kan? Hoi Zowie!!!" Panggil Jaquile dari kejauhan sambil melambai.
Mereka bertemu dipertengahan jalan menuju kedalam bangunan utama.
"Ada apa? Mengapa wajah mu murung seperti itu..?" Tanya Jaquile.
"Hah... Aku diusir dari ruangan pribadi ku sendiri oleh nona Slyvrin" Jawabnya lesu.
"Hahahaha memang apa yang kau lakukan?" Tanya Jaquile sekali lagi.
"Aku tidak melakukan apa - apa.. Hanya saja nona Slyvrin hanya ingin berduaan saja bersama Rado.." Jawabnya lagi.
"Eh?!" Semua terkejut.
"Sudah dimulai kah?" Jawab datar dari Yoga.
"Apa maksud mu dengan dimulai?" Tanya Kan terkejut.
Julie pun juga segera menoleh kearah Yoga dengan wajah yang penuh dengan keingintahuan.
"Ah.. Kalian belum mengetahuinya ya.. Kalau tuan Rado akan menikahi ratu dari ras elf.." Jawab Albert menyambar.
"Apa?! Bagaimana mungkin?!" Kan terkejut sekali lagi.
Sementara itu, tanpa sepengatahuan dirinya, Julie berlari kedalam bangun utama untuk mencari Rado meskipun ia tidak tau letak dimana ruangan itu berada.
"Mengapa ia berlari?" Tanya Jaquile kepada mereka, sambil menatap Julie yang sedang berlari.
"Ntahlah.." Jawab Albert.
Yoga hanya terdiam sambil menatap Julie yang sedang berlari kedalam bangunan tersebut.
"Kenapa aku berlari?! Dan kenapa aku merasa cemas?!" Tanya Julie terheran dengan tindakannya.
Julie menggelengkan kepalanya "Bodohnya aku... Yang terpenting aku harus menemukan tuan Rado, ntah apa yang menjadi alasan itu.." Sambungnya sambil berlari kedalam.
Kembali kepada Slyvrin dan Rado yang sedang berduaan diruangan tersebut. Slyvrin perlahan mendekat kearah Rado dan meletakan tangannya pada tubuh Rado lalu mendekatkan wajahnya kedekat Rado.
"Kau sedang membicarakan apa dengannya?" Tanya lembut Slyvrin tersenyum.
"Sudah kubilang.. itu hanya pembicaraan kecil.." Senyum Rado menatap Slyvrin.
Rado seperti tidak terpancing sedikit pun oleh kecantikan Slyvrin.
"Pemuda itu sangat pintar.. Ia bisa membuat sebuah ramuan yang dapat menyembuhkan luka dalam sekejap.." Sekarang tangan Slyvrin membelai tangan Rado.
"Yah.. Dia sangat pintar.." Rado masih tersenyum menatap Slyvrin.
Slyvrin mendekatkan bibirnya ketelinga Rado.
"Apa aku cantik?" Bisiknya.
Rado menutup matanya.
"Ya kau cantik..." Jawabnya singkat.
"Kalau begitu...." Bisiknya lagi.
Namun sebelum Slyvrin melanjutkan perkataannya, Rado dengan cepat menekan kepalanya dan mendekap tubuh Slyvrin, Slyvrin yang terkejut tidak berkutik sedikit pun, wajahnya memerah dan mulutnya terbenam dipundak Rado.
"Kau cantik, tapi tidak sekarang.. bersabarlah sampai kita resmi menjadi sepasang suami istri.." Bisiknya ditelinga Slyvrin.
Setelah itu Rado segera melepaskan SLyvrin yang sedang terdiam kaku. Tubuhnya menghangat akibat malu dan ketegangan yang diberikan oleh Rado. Dalam keadaan seperti itu, Rado segera meninggalkannya dengan segera diruangan itu.
"Manusia ini..." Kata Slyvrin dalam keadaan gugup menunduk malu.
Saat Rado membuka pintu ruangan pribadi milik Zowie, ia berpapasan dengan Julie yang baru saja sampai disana.
"Tuan..?" Sapanya terengah - engah.
"Julie? Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Rado.
Julie sedikit mengintip kedalam ruangan pribadi milik Zowie dan sekilas melihat Slyvrin yang sedang terdiam menunduk dengan pakaian yang tersingkap pada salah satu bagian pundaknya.
"Apa anda..?" Jawabnya dengan hati - hati.
Rado melirik kembali kedalam dan segera menutup pintu tersebut.
"Ayo kita pindah ketempat lain.." Ajak Rado mencairkan suasana.
Mereka berjalan berdua dilorong menuju keluar bangunan tersebut, ada sebuah kecanggungan diantara mereka karena kejadian tadi. Julie yang berada dibelakang Rado hanya menunduk dengan wajah gelap.
"Jadi.. Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Rado kembali.
Julie hanya terdiam.
Rado yang menoleh kebelakang tidak menunjukan ekspresi apapun dan beralih kembali kearah depan.
"Kau sudah tau bukan kalau kita beraliansi dengan ras elf?" Tanya Rado sekali lagi tanpa menoleh.
Kali ini Julie berhenti. Rado yang menyadari itu pun ikut berhenti lalu menoleh kearah belakang. Ia pun terkejut dengan apa yang terjadi pada Julie.
"Julie?!" Tanyanya.
Sebuah tetesan air mata pun jatuh dari mata lentiknya. Karena malu, Julie segera mengusap air mata itu dan suara isak tangis pun terdengar sebelum ia berbicara.
"Maafkan aku.. Aku tidak tau kenapa aku begini... Tetapi aku seperti tidak menyetujuinya.." Kata Julie terisak.
"Maafkan aku..." Sambung Julie dan pergi meninggalkan Rado.
Rado tidak mengejarnya karena itu mungkin yang terbaik untuknya sekarang. Setelah kejadian tersebut, Rado mengumpulkan semua prajurit ras manusia yang berada diwilayah elf kedalam ibukota Lorien. Mereka semua berkumpul disuatu lapangan luas dan tersenyum memandang Rado yang berada didepan mereka semua. Rado pun juga terlihat gagah dengan kedua ninjatonya yang terpampang dipunggunya. Wajah senang berseripun tidak dapat mereka sembunyikan karena kemenangan besar yang telah mereka raih. Angin yang meniup lembut mengibas pakaian dibalik jirah mereka. Disaat matahari mulai menunjukan wujudnya secara perlahan, pada akhirnya Rado mengatakan kata - kata yang telah mereka tunggu sejak tadi. Dengan senyum tipis yang ia miliki, Rado mengatakan :
"Mari kita pulang... Pertempuran ini telah kita menangkan!" Kata Rado membangun semangat para prajurit.
"Woaahhh!!!!" Teriak para prajurit sambil mengangkat senjata mereka keatas.