
Saat ini dunia sedang dibuat gempar dengan akan terjadinya sebuah pertempuran besar yang akan terjadi. Hal yang sudah diketahui bahwa PPMD telah kehilangan dukungan dari beberapa negara inti mereka karena adanya aliansi yang lebih menjanjikan, beberapa negara yang tadinya berada dalam naungan PPMD beralih kepada aliansi. Ini disebabkan oleh terkuaknya sisi gelap dalam PPMD yang tidak sengaja tersiarkan akibat strategi yang Rado buat.
Disisi lain, kubu Aliansi juga sedang dilanda kekhawatiran dari masyarakat akibat tereksposnya fakta mengenai Rado yang membunuh Kuhler tanpa alasan yang jelas. Mereka berfikir kalau Rado memiliki jiwa kediktatoran yang kejam karena ia bisa dengan ringan tangannya membunuh seseorang. Masing - masing dari kedua kubu sama - sama sedang diawasi oleh masyarakat dunia demi masa depan mereka.
Terkuaknya medan pertempuran di Labuan Bajo pun akhirnya juga tersebar keseluruh penjuru dunia, dimana mereka akan melakukan kontak pertemuan pada Sabtu 29 Februari 2030, yang mana membuat para perusahaan yang bergerak dalam media saat ini menjadi sangat sibuk untuk mempersiapkan pertempuran yang terjadi dua hari mendatang.
"Cepat jadikan ini headline yang bagus.. dan siapkan tim yang berani untuk meliput diarea pertempuran!" Perintah dari atasan yang sangat antusias.
Terlihat para pegawai tersebut, hari ini sangatlah sibuk, mereka membawa berkas - berkas yang terdapat dalam box kesana kemari, telepon tidak berhenti berdering sejak tadi karena masyarakat ingin media meliput peperangan tersebut. Sementara itu para pemburu yang sedang kebingungan karena kemunculan dungeon yang lain di menara sangatlah sedikit semenjak terbukannya ketiga black dungeon dibeberapa negara. Fenomena aneh ini sebelumnya tidak pernah terjadi.
"Hei aku sudah hampir kehabisan uang.. Kenapa sekarang ini dungeon - dungon tidak banyak bermunculan?" Kata seorang pemburu yang sedang berada di menara.
"Mungkin era pemburu akan berakhir sebentar lagi.." Jawab lesu dari pemburu yang lain.
Sementara itu Nagatomo, Jason dan yang lainnya segera terbang terlebih dahulu dihari yang sama menggunakan jet cepat dan sampai ke Labuan Bajo dengan jarak tempuh 8 jam. Mereka turun dari pesawat tersebut dan sudah disambut dengan baik oleh para pemburu PPMD yang tersisa.
"Sepertinya ada yang aneh..." Heran Lucero saat melihat wajah para pemburu yang menyambut.
Mereka berjalan diiringi para pemburu yang sudah menunggu sejak tadi masuk kedalam ruanga tunggu para petinggi. Didalam ruangan itu seperti biasanya dengan sebuah latar yan berkesan mewah dengan satu meja besar dan beberapa kursi. Susunan petinggi tersebut sangat berbeda dimana, saat ini hanya ada beberapa saja yang hadir dan juga ada wajah baru yang ikut duduk didalam sana, yaitu Jerman, Inggris, China, Spanyol dan Indonesia.
"Dimana Carlton?" Tanya Jason saat pertama kali datang.
Semua petinggi hanya terdiam dengan wajah gelap tanpa menjawab pertanyaan dari Jason. Disampingnya Nagatomo mencoba untuk membaca situasi yang saat ini sedang terjadi.
"Ini aneh..." Dalam benak Nagatomo sambil menatap para petinggi.
"Semuanya.. cepat tangkap pemburu dari negara yang berkhianat.." Perintah dari Baldrik secara spontan.
Sontak para pemburu yang baru saja tiba itu segera dibekukan oleh beberapa pemburu yang mengenakan pakaian serba hitam. Mereka dijatuhkan dengan tangan yang dilipat paksa kebelakang.
"Hei apa maksud kalian?!" Tanya Kirisaki. demikian juga dengan mereka yang dibekukan secara bersamaan.
"Apa - apaan ini?!" Tanya Lucero yang saat itu tidak bekukan.
"Lucero diamlah... ini karena negara mereka berkhianat pada PPMD.." Kata seorang pria dengan kacamata kotak dan terlihat muda.
"Bernardo apa maksud mu dengan pengkhianat?" Tanya Lucero kepada kakanya itu.
"Negara mereka berkhianat karena memilih untuk hengkang dari PPMD setelah selesainya insiden black dungeon, sebagian dari mereka telah berpindah kubu kepada aliansi" Bernardo menjelaskan.
"Apa?! Mereka mengundurkan diri dari PPMD?" Jason terkejut.
"Ya... Mereka itu lemah seperti kalian yang tidak bisa menjaga Kuhler dengan baik" Kata Baldrik kepada Nagatomo dan Jason.
"Cih...!" Nagatomo yang mencoba untuk melepaskan diri.
"Percuma saja, orang yang sedang membekuk mu itu adalah pemburu yang sudah kami latih bertahun - tahun dan menjadi sebuah bayangan bagi PPMD di saat - saat seperti ini.. dan ku beri satu hal mengenai pasukan khusus ini, mereka setara dengan Kuhler, bahkan bisa lebih kuat hahahahaha" Tertawa puas dari Baldrik.
"Pasukan khusus? Kenapa kakek tidak pernah memberitahu ku soal ini? Apa jangan - jangan mereka sudah mempersiapkan pasukan itu untuk disaat - saat seperti ini?" Tanya Devian dalam benaknya saat melihat beberapa dari mereka yang dibekuk.
"Ini lah akibatnya jika negara kalian berkhianat kepada PPMD" Sambar Vasco yang saat itu ikut duduk bersama para petinggi dengan senyum merendahkan.
"Kau!!!" Geram Nagatomo.
"Bawa mereka!" Perintah Baldrik.
"Brengs*k, Baldrik!!!!!!"
Teriakan dari Jason mengantarkan dirinya, Nagatomo, Kirisaki, Joon Sung dan Nikolai kesebuah tempat yang tidak diketahui. Disaat para pemburu yang berkhianat sudah dibawa pergi, tersisalah Devian, Mye dan Lucero saja didalam sana. Suasana didalam sana sangat tegang akibat penangkapan yang tidak terduga itu.
"Ahhh Mye... Anak ku yang cantik datang lah pada ayah..."
Diwei yang menghampiri Mye, namun Mye memalingkan wajahnya.
"Kenapa kau bersikap seperti itu dengan ayah?" Tanya Diwei dengan ekpresi datar.
"Aku benci pada mu..." Cetus Mye yang sudah muak dengan ayahnya.
"Errrr..... Dasar jal*ng!" Diwei menampar Mye sangat keras hingga membuatnya terjatuh.
Sontak membuat Devian segera menenangkan Mye yang sedang terjatuh.
"Paman! Kenapa kau melakukan itu?" Tanya Devian sambil menatap Diwei.
Diwei hanya menatapnya dengan penuh amarah, "Penjaga... bawa Mye kekamar ku.. aku ada urusan dengannya nanti.."
Saat penjaga datang dan menarik paksa Mye dari Devian, Mye berteriak - teriak kepada ayahnya dengan histeris.
"Tidak.. jangan lakukan itu lagi! Kau sudah janji tidak melakukan itu lagi! Ayah! Ayah!" Teriakan dari Mye membuat seisi ruangan menjadi hening.
Devian dan Lucero hanya bisa terkejut dengan mulut yang terbuka menatap Mye dibawa dengan paksa. Setelah teriakan itu sudah tidak terdengar lagi, para petinggi pun memulai pertemuan tersebut.
"Sangat disayang kan kalau Mye tidak bisa ikut dalam pertempuran.." Baldrik menutup matanya.
"Dia harus didik lagi dari ulang agar menurut dengan ku.." Balas Diwei mengenai hal itu.
"Baiklah.. kita akan mulai strateginya..." Vasco yang mengambil alih pembicaraan.
"Siapa dia?" Tanya Devian dengan wajah yang masih menyimpan kesal.
"Ahh... aku lupa memperkenal kan diri, Aku Vasco presiden dari Indonesia, aku akan menjadi otak dari pertempuran kali ini" Vasco berdiri dan memperkenalkan dirinya.
"Hmm apa kau tau? Pemburu mu itu sedang menuju kemari untuk bertempur bersama Rado.." Kata Devian memberitahu apa yang ia ketahui.
"Apa?! Mereka berkhianat?" Vasco terkejut mendengan ucapan dari Devian.
"Hah.. ini lucu sekali, ada kepala negara yang di khianati oleh warganya sendiri" Ejek Diwei.
Vasco yang terlihat kesal menundukan kepalanya untuk menutupi amarahnya, lalu ia kembali menatap kearah Devian.
"Itu tidak penting, Indonesia masih memiliki pemburu yang masih loyal terhadap negara" Senyum Vasco untuk menaikan harga dirinya.
"Lalu.. apa rencana mu..?" Tanya Lucero kepada Vasco.
Untuk menjawab pertanyaan dari Lucero, Vasco segera menepuk kedua tangannya dan pintu disisi lain pun terbuka. Terlihat Steven dan Melly datang menarik Nara yang sudah babak belur dan wajah yang seperti sudah tidak memiliki jiwa masuk.
"A- apa - apaan ini?" Tanya Devian terkejut demikian juga Lucero.
"Kita akan menggunakan wanita ini untuk melemahkan Rado. Menurut pengamatan ku saat pertama kali kami bertemu ia akan menjadi lemah tidak terkendali bila menyangkut hal yang berharga.. Maka ini lah satu - satunya untuk kita melawannya"
"Ini sudah tidak manusiawi! Mengapa harus menggunakan orang ketiga sebagai alat dalam pertempuran, apa kau-"
"Devian! Diamlah!" Richard memotong perkataan Devian.
Devian merasa terpukul saat dibentak oleh kakeknya, ia pun berhenti dan menunduk, "Kalian tidak tau siapa yang kalian lawan... kalau begitu permisi"
Devian pun meninggalkan ruangan itu diikuti oleh Lucero yang juga sedikit khawatir mengenai pertempuran dan juga perempuan yang dijadikan senjata dalam pertempuran ini. Disaat Devian dan Lucero berjalan pergi, mereka berpapasan dengan pasukan khusus milik PPMD yang lain, mereka yang saat itu seperti tidak mengenal satu sama lain dan hanya saling melirik, terhenti karena salah satu pasukan khusus itu memanggil Devian.
"Hey.." Kata salah satu pasukan khusus itu.
"Apa?!" Devian menoleh kesal.
"Tak apa... semoga kalian tidak menghambat kami nanti ahahahha" Pasukan khusus itu berjalan kembali sambil menertawakan mereka.
Kembali kedalam ruangan.
"Yah.. aku sudah mengumpulkan kurang lebih 2000 pemburu termasuk 300 pasukan khusus yang sudah kita sebar diseluruh dunia, kemungkinan tidak semua pemburu yang tergabung didalam aliansi adalah pemburu yang kuat.. meskipun kita kehilangan dukungan dari beberapa negara top 10, aku yakin atas kemenangan kita. Terlebih lagi dengan kehadiran gadis itu... kita pasti bisa membawa kepala bocah kepar*t itu" Optimis Bladrik.
"Di Saat Rado sedang lengah karena kehilangan kendali setelah melihat gadis itu, ini lah kesempatan kita untuk membunuhnya.." Kata Vasco.
"Kalau begitu aku akan menjadi kapten di tim 1, Richard kau tim 2, Diwei kau tim 3, Bernardo tim 4 dan kau Vasco tim 5... kita beri pelajaran pada pemuda - pemuda itu akan veteran perang didunia ini" Kata Baldrik.
Setelah pembagian tim itu mereka pun menyelesaikan pertemuan hari itu.
"Baiklah kalau begitu.. aku permisi terlebih dahulu" Kata Diwei sambil beranjak pergi.
"Apa kau yakin ingin melakukan itu kepada anak mu?" Tanya Richard menatap Diwei yang berjalan keluar.
Diwei hanya terhenti sebentar tanpa mengucapkan apapun lalu melangkah kembali. Ia segera menuju kedalam sebuah kamar yang sudah disiapkan untuknya oleh para petugas. Didalamnya terlihat Mye yang sudah terikat dengan tali yang telah diperkuat dengan force. tubuhnya dibentarkan begitu saja diatas kasur dengan mulut yang diikat oleh sebuah kain.
Saat melihat ayahnya masuk, Mye semakin memberontak sekuat mungkin, namun ia tidak melepaskan tali tersebut. Wajahnya panik dan teriaknya tertahan kain. Diwei semakin mendekat kearah Mye yang tidak bisa melakukan apa - apa lagi. Tanpa diguga, Diwei melucuti satu persatu pakaiannya dan naik keatas ranjang tersebut. Mye yang melihatnya melucuti pakaian mencoba lebih memberontak lagi, namun tetap sia - sia. Diwei tanpa basa - basi pun segera merobek pakaian yang Mye kenakan.
"Kalau kau tidak bisa menurut dengan ayah.. maka terima hukuman ini.. dan sebaiknya kau tidak menghalangi bayi yang akan tumbuh dalam dirimu seperti biasanya.." Kata Diwei tersenyum dengan wajah kemerahan.
Mye hanya bisa berteriak dan meneteskan air matanya.
"Yoga... Tolong aku.." Dalam kesedihannya ia menyebut Yoga yang mulai ia cintai sampai akhirnya ia terbenam dalam pelukan sang ayah.
__________________________
Didalam pesawat Jet yang menuju ke negara Indonesia, Yoga terbangun perlahan disebelah Rado.
"Sudah dimana kita?" Tanya Yoga kepada Rado.
Rado yang sedang menatap keluar jendela menjawabnya, "Kita sudah memasuki area negara Indonesia.."
"Ntah mengapa perasaan ku tidak enak.." Kta Yoga sambil mengambil sebuah minum.
"Kau mabuk?" Rado menoleh kearahnya.
"Tidak.. bukan itu yang kurasakan.. tapi.."
"Kapten...! Kita akan mendarat di Indonesia.." Kata pemburu yang berbicara diruang pilot pesawat.
"Baiklah... kita simpan pembicaraan ini nanti" Kata Rado.
Mereka segera bergedas turun dari pesawat di bandara Labuan Bajo, pemandangan yang sangat indah dipulau tersebut bisa menyegarkan hati mereka sebelum bertempur. Rado yang berjalan terlebih dahulu dengan raut wajah serius memikirkan sesuatu yang membuatnya tidak begitu senang. Saat pemberitaan mengenai dirinya yang membunuh Kuhler, Status kepemimpinannya berkurang sebesar 5% menjadi 85% dan status transfernya berkurang menjadi 90%.
"Kenapa ini bisa terjadi? Padahal sedikit lagi 100%!" Kesalnya dalam hati.
Mereka memesan satu hotel untuk dijadikan sebagai markas sementara. Setelah itu Rado segera mengumpulkan para kapten guild untuk melakukan perundingan didalam ruangan meeting hotel. Mereka semua duduk melingkar dengan Rado yang menjadi titik pusat perhatiannya.
"Mungkin ini sedikit merepotkan dengan sandera yang berada ditangan mereka.. tapi kalau aku boleh mengatakan, kalian tidak perlu ikut dalam peperangan ini..." Kata Rado dengan santainya.
Semua terkejut dengan apa yang dikatakan Rado mengenai strategi yang seperti bunuh diri ini.
"Apa maksud mu?!" Tanya Yoga.
"Ya benar! bagaimana bisa kami tidak ikut dalam peperangan ini.." Jaquile menambahkan.
"Rado.. izinkan kami ikut dalam peperangan ini.." Rudy juga bersikeras untuk ikut.
Rado pun melihat kearah wajah mereka yang bersungguh - sungguh dalam peperangan ini dan Rado pun menghela nafasnya sambil menutup mata.
"Baiklah.. sebelumnya aku meminta maaf karena menyeret kalian dalam peperangan sesama manusia ini, tetapi aku tekankan sekali lagi.. kalian tidak perlu berperang" Rado masih tetap dalam pendiriannya.
"Tapi-" Yoga meninggi sambil berdiri dari duduknya.
"Tapi aku ingin kalian menemukan Nara dan membebaskannya" Rado tersenyum menatap mereka.
"Jadi misi kami hanya membebaskan perempuan itu?" Tanya Kan kepada Rado.
"Ya..Karena peperangan ini akan tertuju langsung kepada ku, maka biar aku sendiri yang menumpaskan mereka" Dengan tatapan tajam ia dengan optimis dapat mengatasi lawan.
Mereka semua terdiam dengan perkataan Rado sekali lagi, mereka tidak menyangka kalau orang yang berada dalam satu ruangan bersama mereka ini adalah orang yang gila.
"Tapi biarkan aku membantu mu!" Yoga tetap ingin disamping Rado.
"Tidak... kau akan menjadi salah satu kapten dalam penyelamatan ini" Rado menolak permintaan Yoga.
"Sepertinya pertemuan ini sudah cukup dan jelas, sampai berjumpa besok ditempat pertempuran yang telah ditetapkan"
Rado pergi meninggalkan mereka terlebih dahulu dengan memikirkan Nara yang belum diketahui keadaannya. Saat ia sedang melamunkan itu, terlihat Julie sudah menunggunya bersandar didinding sejak tadi.
"Bagaimana dengan pertemuannya?" Tanya Julie tersenyum.
"Lancar seperti yang kau tau.." Rado tersenyum sambil berjalan bersandingan dengan Julie yang mengikuti.
Keheningan terjadi sesaat diantara mereka.
"Apa perempuan itu sangat berharga untuk mu?" Julie menoleh menanyakan hal yang seharusnya sudah terjawab.
"Ya.." Singkat padat dari Rado.
Julie pun berhenti berjalan dan menunduk. "Apa aku tidak penting?"
Rado pun berhenti dan menoleh kearahnya yang sednag tertunduk.
"Hei kau ini kenapa?" Rado tersenyum kearahnya.
"Aku bertanya kepada mu Rado!" Julie meninggi.
Rado yang awalnya tersenyum mulai menjadi serius, "Berhentilah membicarakan yang tidak perlu untuk sekarang.. Kau mengganggu pikiran ku.." Dengan sinis Rado menjawab.
Perkataan itu membuat Julie menjadi sakit hati, tanpa disadarinya air mata itu jatuh kekarpet merah yang berada dihotel tersebut.
"Apa aku ini pengganggu dihidup mu? Rado!" Teriak Julie meluapkan kekesalannya, namun Rado tetap berjalan meninggalkannya.
"Saat ini aku masih belum mengerti dengan apa yang kurasakan,, tetapi untuk saat ini aku harus fokus terlebih dahulu untuk menyelamatkan Nara, Maaf Julie mungkin itu sedikit kasar.. tapi itu lah yang terbaik untuk sekarang" Dalam benak Rado ia akhirnya meninggalkan Julie.
Keesokan paginya didekat lepas pantai yang cukup luas dengan perkotaan yang tidak cukup padat namun indah. Rado berjalan menghampiri markas pemerintah Indonesia yang berada di pulau tersebut. Markas yang berada dibibir pantai hingga membentang ke tengah laut itu adalah markas yang sudah disiapkan oleh pemerintah Indonesia sebagai pertahanan terakhir bila terjadi sesuatu pada negara tersebut.
Didepan Rado saat ini sudah berjajar para pemburu sebanyak 2000 orang lebih untuk menantangnya dalam pertempuran. Terlihat dibelakang para pemburu terlihat Baldrik, Diwei, Richard, Devian Bernardo dan Lucero sudah bersiap dengan pakaian tempur mereka masing - masing.
"Apa ini sebuah lelucon? Dia datang sendirian?!" Tanya Bernardo yang membawa sebuah kapak besar.
"Dia sedang tidak bercanda" Jelas Devian yang sudah mengetahui kekuatannya.
"Hahahahahaha kau sungguh berani anak muda.. apa kau bermaksud untuk mengalahkan kami sendirian? Mana pasukan mu?! Apa mereka berubah pikiran karena takut melawan kami?" Ejek dari Baldrik ditambah tawa yang merendahkan dari 2000 pemburu tersebut.
"Bagi ku.. aku sendiri saja sudah cukup menghabisi kalian semua" Senyum Rado membalas ejekan tersebut.
Baldrik pun terpancing akan perkataan Rado yang merendahkannya, tanpa membuang waktu lagi ia pun segera mengerahkan pasukannya menyerang Rado yang seorang diri. Kepulan debu dari ribuan pemburu yang lari serta teriakan dari mereka semua tidak membuat Rado gentar.
Ia pun mengeluarkan kedua ninjatonya dan tersenyum enteng seperti tidak akan terjadi masalah apa - apa.
"Huft....." Ia membuang nafasnya dan melakukan pemanasan. Setelah otot - otonya sudah memanas ia pun tersenyum lebih lebar dari sebelumnya.
"Majulah kalian!" Teriaknya dengan wajah yang penuh kesenangan karena akan bertempur.