
Ditengah kemeriahan dan kegembiraan yang sedang dialami oleh Greg beserta pengikutnya karena telah berhasil melancarkan rencana mereka untuk menyingkirkan Rado. Kegembiraan itu disambut baik oleh para warga dengan menyebut dan mengagungkan nama Greg hingga bergema. Para kapten terlihat tertunduk karena menganggap Rado telah mati.
Aura yang hebat dengan force berwarna ungu mulai mengalir dalam diri Greg, lambang demicles pun ia udarakan dengan dua sayap sejati yang mengibar dibagian kedua sisi atasnya.
"Ini! Ini kekuatan leluhur!!" Kata Greg sambil mendongak kagum melihat kearah demicles miliknya.
Seluruh pengikutnya terlihat terkagum dengan lambang demicles yang tidak terlalu besar, namun dapat menyinari area disekitarnya. Mereka tidak ada hentinya untuk memperhatikan lambang tersebut, mata yang bergetar dan mulut yang terbuka menjadi sebuah ekspresi yang monoton disana.
Disisi lain, dalam ruangan Rado. Albert dan Yoga baru saja sampai kedalam. Dengan perasaan khawatir yang amat dalam, mereka mendapatkan Jaquile yang sedang menatap Rado dalam keadaan terbaring diatas sofa dengan mata tertutup.
"Rado?!" Yoga terkejut saat melihatnya.
"Tidak mungkin.." Albert membuang wajahnya kearah bawah dalam kesedihan.
Jaquile pun menoleh kearah mereka berdua dengan wajah datar.
"Dia... Sedang memulihkan diri" Kata Jaquile dengan tenang.
Rasa sedih sekaligus khawatir diantara mereka berdua, serasa seperti di rem mendadak oleh suatu hal.
"Apa?!" Yoga dan Albert pun terkejut setelah mendengar Jaquile berkata seperti itu.
Tidak lama kemudian Rado membuka matanya dan tersenyum.
"Sepertinya kalian sudah menyangka kalau aku ini sudah mati.., Kalian pikir siapa aku?" Katanya sambil terbangun dari tidurnya.
Yoga dan Albert pun terkejut, ia segera melihat kearah perut Rado yang tertusuk oleh pedang milik Greg tadi.
"Luka mu?" Tanya Yoga khawatir.
"Ah... Luka seperti ini akan segera pulih dengan cepat, saat aku di gendong layaknya tuan putri oleh Jaquile, ia memberikan ku ramuan yang diciptakan oleh Zowie.." Jawab Rado tersenyum sambil membuka bajunya yang sobek.
"Tapi bagaimana bisa kau lolos dari kematian? Ku lihat pedang itu sampai menembus tubuh mu dan kau sampai mengeluarkan darah yang banyak! Lalu bukankah demicles itu sudah diambil alih oleh Greg?! Aku sungguh bingung dengan semua ini" Tanya Albert terheran.
"Jawabannya sangat sederhana... Saat ia ingin menusuk ku, aku dengan cepat menggerakan tubuh ku dan mengarahkan pedang itu agar tidak menusuk organ vital. Setelah itu aku berakting seolah - olah aku mati dan jatuh dalam pelukannya untuk mengalirkan force ku padanya lalu menjadikannya seorang pendamping, dan itu.." Jawab Rado tersenyum sambil merapikan baju yang telah ia ganti.
"Seolah - olah dia telah mendapatkan kekuatan mu..." Yoga mulai mengerti dengan sandiwara tersebut dan melanjutkan skema yang Rado ciptakan.
"Kau benar..." Kata Rado tersenyum.
Yoga pun segera melihat keluar jendela dan menatap demicles milik Greg.
"Lambangnya tidak sebesar yang ku kira..." Kata Yoga.
"Karena dia adalah kandidat yang terbilang kurang berkompeten... Kekuatannya tidak akan bersinar seperti kalian yang memiliki tekad murni dari seorang pejuang..." Rado pun kembali duduk pada sofanya.
Yoga yang tertegun, segera memasang wajah masam kepada Jaquile.
"Jadi sebab itulah kau diam saja... Kenapa kau tidak memberitahu ku mengenai rencana ini? Jaquile?!" Yoga menoleh kearahnya dengan geram.
"Kurang lebih agar sandiwara ini berhasil hahahaha.. Bagaimana akting ku?" Tawa Jaquile terlihat senang.
"Tapi bagaimana kau bisa mengetahui sandiwara ini? Sedangkan kau itu bodoh..." Kata Albert menohok.
"Apa kata mu?!" Jaquile geram.
"Saat aku ingin memukul pria besar itu dan dihalangi oleh Rado, disitulah aku mengerti melalui matanya yang menunjukan bahwa ada maksud lain dalam semua ini..." Imbuh Jaquile menjelaskan.
Setelah mencerna penjelasan Jaquile Yoga pun beralih kepada Rado.
"Lalu mengapa kau melakukan itu dan membiarkan Greg beranggapan kalau kau menyerah?" Tanya Yoga.
"Untuk memberikannya sebuah pelajaran mengenai kejamnya dunia ini, dan tentu.. Untuk membersihkan orang - orang yang menentang ku tanpa harus mengotori tangan ku ini... Bila ia melawan ku tanpa kekuatan, bukankah seharusnya kita melawannya tanpa kekuatan juga agar terlihat adil?" Kata Rado tersenyum.
"Umumkan keseluruh kota kalau aku sudah mati dan beritahu kepada pemimpin baru yang bodoh itu mengenai pergerakan dari ras demigod dan juga ras orc.. Kita akan lihat bagaimana cara ia memimpin.." Kata Rado.
"Tapi bagaimana dengan pasukan yang lain? Bukankah dengan mengirim pasukan yang dipimpin oleh orang yang tidak berkompeten, sama saja seperti menyuruh mereka untuk mati..?" Kata Yoga memprotes.
"Aku percaya kepada kalian untuk menjaga mereka, berikan para komplotan bodoh itu ketakutan akan perang dan kekalahan... Lalu biarkan secara perlahan agar para masyarakat mulai merasakan teror yang menakutkan sekali lagi... Itu hukuman dari ku karena melakukan hal licik seperti ini.." Senyum Rado sambil melirik keluar jendela dimana kerumunan masa sedang berkumpul.
"Lalu kau ingin pergi kemana?" Tanya Yoga.
"Aku ingin pergi sebentar dan memberi salam kepada dewa kita dikediamannya..." Senyum Rado dengan wajah tersenyum.
Dibelahan sisi dunia Antares, tepatnya pada wilayah Orc, Tirith. Dogol Khan yang sedang berdiri didalam tenda miliknya sambil memandangi kedua kapak yang di kaitkan pada salah satu sisi dinding. Tendanya memiliki ornamen seperti tulang - tulang monster yang telah ia pajang sebagai penghias didalam sana. Sebuah kursi tahta yang terbuat dari tumpukan tulang dan memiliki tengkorak makhluk bertanduk ditengahnya menambah kesan kejam pada dirinya.
"Tuan Dogol.. Semua sudah siap.." Kata Laguun masuk kedalam tendannya.
Dogol pun mengambil kedua kapaknya dan menaruhnya di kedua pinggangnya. Ia pun keluar dari tenda diikuti oleh Laguun yang sudha siap menemani. Saat ia membuka tirai tendanya, Frago dan satu orc berkulit merah berkepala plontos dengan gigi taring bawah yang menjulang keatas dan terdapat pelindung berwarna tembaga pada bagian dada kirinya. Ia membawa sebuah pedang bergerigi disetiap bilahnya dan gagang pedang yang hanya dililitkan dengan sebuah kain lusuh untuk melindunginya dari goresan besi.
Dibelakangnya terdapat ribuan orc yang sudah siap untuk melakukan perjalanan panjang tersebut dibawah naungan Dogol Khan langsung. Dalam perjalanan ini, hampir seluruh populasi orc yang terdapat di Tirith ikut dalam invasi besar - besar tersebut. Mereka bersorak keras sambil mengangkat senjata mereka saat melihat Dogol keluar dari tendannya.
"Rakyat ku... Inilah saatnya kita melakukan perburuan.. Aku ingin setiap langkah dari perjalanan kita ini akan membuat sebuah jalur darah... Senjata yang dialiri darah segar, jeritan yang menggema di telinga, dan sebuah pertarungan yang menggebu semangat ini... Aku ingin kalian merasakan itu semua... Karena tradisi perburuan besar - besaran ini akan kita mulai sekarang juga!" Kata Dogol sambil berdiri didepan mereka semua.
"Auuurrggggg!!!" Teriak para Orc.
"Dan sebentar lagi aku akan mendapatkan sebuah keturunan pertama ku" Dogol menoleh kearah Orc wanita yang sedang hamil besar.
Seluruh orc tersenyum melihat penerus dari pemimpin mereka.
"Ku harap ia akan menjadi orc yang kuat seperti diri ku...!" Kata Dogol beralih kembali ke pasukannya.
"Auurrgg"! Teriak semangat kembali dari para orc.
"Kalian semua.. Ikutlah dengan ku! Kita getarkan seluruh daratan ini dengan kapak kita!" Kata Dogol sambil berjalan menuju keluar Tirith.
Sementara itu, pagi hari di Lorien. Slyvrin berlari keluar dari kamar menuju kamar mandi didalam ruangannya. Ia merasa mual dan terlihat sangat kelelahan. Para pendamping pun masuk kedalam sana karena rasa khawatir.
"Nona! Ada apa?!" Tanya Sarka yang saat itu ikut ke Lorien kembali.
Slyvrin tidak menjawabnya dan dibantu oleh Lefti untuk segera kembali ketempat tidurnya.
"Panggil tetua Lyfa untuk segera kemari.." Perintah Hamdall kepada prajurit yang mengikuti.
Slyvrin terbaring sambil menutup matanya, ia berkeringat dan seperti sangat kelelahan. Meskipun dipanggil tetua oleh Hamdall, Lyfa memiliki paras yang cantik dengan rambut panjang terkepang berwana pirang, ia terlihat sangat muda dan mengenakan sebuah pakaian layaknya kimono bewarna hijau tua. Lyfa pun masuk kedalam kamar Slyvrin dan segera memeriksa keadaannya.
Nafas Slyvrin tersenggal - senggal dan tubuhnya dipenuhi oleh keringat.
"Sejak kapan dia begini?" Tanya Lyfa kepada yang lain.
"Kami tidak tau... Nona seperti ini baru pagi tadi" Kata Lefti dengan panik.
Lyfa yang mendengar itu segera memeriksa tubuh Slyvrin yang terlihat gelisah. Tangannya meraba keseluruh tubuh Slyvrin yang sedang berkeringat. Saat tangannya menyentuh perut Slyvrin Lyfa terkejut.
"Ini?!" Matanya terbuka.
"Ada apa tetua?!" Tanya Hamdall.
"Dia... Dia hamil!" Kata Lyfa.
"Apa?!"
Seluruh pendamping terkejut saat mendengar berita kehamilan dari Slyvrin.