
Langit yang gelap diterangi kemerlap dari sebuah serangan para pemburu yang sedang bertempur melawan para Troll, perbedaan kekuatan yang sangat signifikan membuat para pemburu mulai kewalahan. Semula tempat mereka bertempur berada ditengah perempatan kota, perlahan mundur dan mundur kearah kubu manusia. Hanya Devian, Yoga dan Mye saja yang mampu bersaing dalam segi kekuatan dengan para Troll.
"Yoga!" Teriak Devian berada dibelakangnya sedang mengcover dirinya dari serangan para Troll.
Yoga saat itu berada sendirian berdiri menahan satu persatu para Troll yang mencoba untuk menerobos, Yoga sudah tidak menggunakan senjata lagi, sekarang ini hanya dua perisailah yang berguna untuk dirinya sekarang. Pada saat bentrokan pertama, ras manusia dengan cepat diratakan begitu saja. Tekad yang dibangun susah payah oleh mereka bertiga seperti tidak ada artinya. Kekuatan para Troll tidak sebanding dengan pemburu biasa, mereka hanya bisa menjadi penghias sebelum terjadinya pertempuran tersebut.
"Hah!!! Hah!!!!!" Teriak pemburu pria sesaat sebelum ia dipukul oleh salah satu Troll.
"Kyaaaa!!!!!" Teriak pemburu wanita yang sedang dipelintir tubuhnya.
Mendengar jeritan para pemburu membuat Yoga tidak fokus bertahan, dia merasa gagal dalam memegang ucapannya yang ia utarakan sebelum melakukan perang. Bagi seorang tank satu-satunya yang mampu menahan para Troll tersebut, teriakan tersebut membuat hatinya sangat sakit. Ia tidak bisa melindungi orang yang sudah rela membantu dirinya dan bertarung disisinya.
Yoga terus menerus bertahan menggunakan dua perisai yang ia genggam sekarang, serangan dari pemukul para Troll terus bertubi-tubi menghampirinya tiada henti. Yoga tidak memiliki kesempatan untuk berpindah tempat maupun datang membantu para pemburu yang sudah diujung tanduk. Devian pun demikian, ia harus terus membackup Yoga agar dia tidak berakhir dengan kejadian sebelumnya. Sedangkan Mye, ia harus berusahan ekstra untuk membantu para pemburu yang sedang terancam dari para Troll yang terlepas dari jangkauan Yoga.
Meskipun Mye kuat, namun ada batas atau jeda dalam penggunaan force sihir. Jika ia terus menerus menggunakan forcenya maka tubuhnya akan cepat lelah dan ia akan pingsan karena kehabisan force. Mye hanya bisa melakukan serangan sebanyak 10 kali dan akan ada jarak selama 10 menit untuk mengisi ulang forcenya tanpa bantuan potion biru. Diarea itu mulai banyak berjatuhan para korban pemburu yang telah gugur mengenaskan.
"Devian!!! Aku kehabisan potion biru!! Berikan aku beberapa!" Teriak Mye kearah Devian.
"Berita buruk! Aku juga kehabisan potion biru.." Balas Devian sambil menembakan pistolnya kearah Troll yang menyerang Yoga.
"Shh" Mye mendesah panik melihat serangan supportnya terhenti, ia tidak ada henti-hentinya khawatir melihat para pemburu yang sedang diserang oleh para Troll. "Force ku terkuras habis karena para Troll yang masih begitu banyak, ditambah setelah melakukan serangan penuh sebelumnya membuat aliran force ku tidak stabil" Keluh Mye dengan keadaannya sekarang.
Terlihat serangan dari beberapa para pemburu yang mencoba untuk menumbangkan para Troll prajurit, hanya mampu menumbangkan beberapa Troll yang ada disana. Ini menandakan kalau serangan mematikan yang mampu melenyapkan setengah Troll prajurit adalah berkat kekuatan penuh dari Devian dan Mye saja. Sungguh ironis dimana setelah mereka baru saja menemukan kepercayaan diri mereka kembali, mereka harus menerima kenyataan yang pahit sekali lagi.
Para pemburu mulai merasa ketakutan dan mental mereka mulai jatuh kembali, kaki mereka secara reflek ingin mundur kebekalang mengisyaratkan tubuh untuk segera lari kebelakang. Namun karena melihat tiga orang kuat itu sedang berjuang keras, kaki mereka serasa berat untuk meninggalkan mereka yang sudah berjuang. Tom dan Toni pun mulai melakukan kombinasi serangan meskipun tidak terlalu berpengaruh kepada para Troll. Dikarenakan itu adalah hal sia-sia. Ia mengubah strategi mereka dari melawan, menjadi sebagai umpan hidup. Toni dan Tom mencoba untuk menggiri beberapa Troll menjauh dari area bertempur sekarang untuk mengurangi beban tema pemburu yang lain.
Beberapa Troll berhasil diprovokasi oleh mereka dan digiring keluar area tersebut. Setelah beberapa Troll berhasil keluar dari zona pertempuran berkat Tom dan Toni, Yoga baru bisa bernafas lega setelah para Troll yang tidak ada habisnya mendatangi dirinya mulai melambat dan berangsung sepi. Devian segera menghentikan tembakan pelindungnya kearah Yoga dan beralih kearah para Troll yang sedang mencoba untuk menyerang para pemburu lain. Yoga pun tidak tinggal diam, ia segera berlari untuk melindungi siapapun yang terlihat sedang kesulitan.
"Yoga! Sebelah kanan! Cepat!" teriak Devian sambil menembakan pistolnya.
"Baik!" Yoga segera berlari membawa dua perisainya.
"Mye! Bagaimana dengan sihir mu?" Tanya Devian kepada Mye.
"Sebentar lagi, sekitar 3 menit sampai aku merasa force ku terkumpul!" Balas Mye memberitahu kapan ia akan siap.
"Cih.." Kesal Devian yang mulai kesal akan kelelahan tangannya yang sejak tadi tidak berhenti menarik pelatuk pistolnya.
Sementara itu para Troll pengawal yang sejak tadi hanya diam sambil menyantap tubuh pemburu yang mati, mulai bergerak. Setelah bentrokan pertama itu, para troll pengawal menarik diri kebagian belakang untuk menyaksikan Troll prajurit membereskan para manusia tersebut. Akal yang mereka miliki seperti memberitahu mereka kalau ras manusia itu tidak perlu sampai mereka yang harus turun tangan.
Namun, dikarena para Troll prajurit mulai berkurangan diarea tersebut, mereka mulai ikut dalam pertarungan. Tanpa basa-basi, salah satu Troll pengawal segera berlari kearah Yoga yang saat ini sedang berusah untuk melindungi pemburu dari para Troll prajurit yang sulit menembus pertahanan miliknya. Pemukul itu secara cepat Troll itu arahkan kepada Yoga yang mana membuatnya terdorong kebelakang akibat serangan tersebut meskipun Yoga sudah menahannya dengan kedua perisainya.
Yoga yang baru saja berhenti dari dorongan pemukul tersebut, segera membuka perisai yang telah melindungi sebagian tubuhnya itu.
"Sial..! akhirnya mereka mulai bergerak" Yoga mulai terlihat cemas.
Para Troll pengawal mulai berlari menghampiri Yoga karena naluri mereka mengatakan kalau Yoga adalah musuh yang sedang sekarat dan juga musuh yang paling dekat dari mereka sekarang. Nafas Yoga yang mulai tersenggal-senggal sudah menandakan kalau dirinya sudah mulai kelelahan akibat terus menerus tanpa jeda menahan serangan yang berat tersebut.
"Mye!" Teriak Devian kepada Mye memberi tahu kalau Yoga dalam bahaya.
Mye pun mengerti maksud Devian dan segera mengeluarkan kemampuan penuh forcenya sekali lagi, kali ini ia mengeluarkan sihir tipe air berupa badai es. Mye seperti sedang menari saat mengeluarkan sihir tersebut menggunakan kipas sihirnya. Hembusan udara dingin dengan skala besar yang dikeluarkan oleh Mye, mampu membekukan area yang dilalui oleh angin tersebut. Kemampuan itu telah menghambat pergerakan para Troll pengawal dan juga Troll prajurit yang sedang menyerang Yoga, kaki dari para Troll tersebut terlihat membeku dengan cepat dan membuat mereka kesulitan bergerak.
Namun ada resiko yang harus dibayar oleh Mye setelah mengerahkan kemampuan force penuhnya sekali lagi dalam keadaan yang sudah tidak prima, ia harus kehabisan forcenya sekali lagi dengan cepat, Mye pun terkulai lemas dan terduduk ditengah pertempuran efek dari terkurasnya kekuatan miliknya untuk menyelamatkan Yoga. Berkat Mye, Yoga berhasil selamat dari serbuan para Troll pengawal dan ia segera mundur dengan beberapa pemburu yang berhasil selamat berkat dirinya dan Mye.
Yoga segera memisahkan diri dari para pemburu yang lari entah kemana, dan ia segera menghampiri Mye yang sedang terduduk lemas dengan nafas yang tersenggal-senggal, tubuhnya penuh keringat dan wajahnya memerah.
Yoga menelan air liurnya sesaat sampai didekat Mye, "A-apa kau tidak apa-apa?" Yoga memberikan simpati kepada Mye.
"Aku tidak apa-apa.. aku hanya butuh istirahat sebentar" Mye dengan nafas yang berat mencoba untuk tidak membuat Yoga khawatir, namun kondisinya tidak dapat membohongi Yoga.
"Tunggulah disini.." Yoga berdiri dan mencoba untuk melindungi Mye.
"Devian..!!! Apa kita harus mundur?!" Yoga meminta pendapat.
"Lagi?! Apa kau bercanda!?" Balas Devian yang masih sibuk menembakan pistolnya.
"Kita kalah telak! Kalau dilanjutkan mungkin kita akan terbunuh!" Usul Yoga kepada Devian.
"Lalu bagaimana dengan mu?!" Tanya Yoga cemas kepada Devian.
"Cepat pergi! Aku akan menahan mereka!" Balas Devian.
Yoga terlihat ragu dengan situasi sekarang, ada rasa berat hati untuk meninggalkan Devian, namun disisi lain ia tidak tega melihat Mye yang sudah kelelahan dan terlihat tidak bisa bertarung lagi.
"Yo-yoga... jangan khawatirkan aku, cepat pergi dan bantu Devian" Mye mencoba untuk meyakinkan Yoga agar tidak mengkhawatirkannya.
"Tapi..." Yoga menoleh kearah Mye dengan wajah bingungnya"
"Yoga cepat lari!" Sekali lagi Devian berteriak kepada Yoga.
"Yoga.. jangan hiraukan aku, cepat bantu Devian..!" Mye juga mendesak Yoga.
Yoga semakin bingung dengan apa yang harus dia pilih, sekarang ini baginya Mye dan Devian adalah teman baru yang dapat mengeluarkan sisinya yang lain. Desakan dari kedua orang itu membuat dirinya bingung bukan kepalang. Disamping itu para Troll pengawal mulai berhasil lepas dari es yang membekukan setengah kaki mereka dengan cara memukulnya dengan pemukul.
Troll pengawal itu segera menghampiri Yoga dan Mye yang dinilai lebih mudah untuk dikalahkan terlebih dulu.
"Yoga! Cepat!" Desak Devian sekali lagi kepada Yoga.
Karena situasi yang semakin genting menghampiri dirinya dan membahayakan Mye, dengan berat hati Yoga harus mengikuti kemauan dari Devian dan segera menggendong Mye seperti tuan putri, lalu lari dari sana. Devian yang melihat Yoga lari sambil membawa Mye, tersenyum senang karena Yoga mau menuruti perkataannya.
"Yoga cepat turunkan aku!" Berontak Mye saat digendong oleh Yoga.
Mye terus meronta-ronta saat dipelukan Yoga, ia merasa tindakan yang Yoga pilih ini adalah salah. Namun, Yoga terus berlari membawanya dan tidak menoleh sedikit pun kearah Devian karena jika ia menoleh kearahnya, Yoga takut kalau kakinya akan semakin berat untuk meninggalkannya disana.
"Devian.. bertahanlah.." Yoga dalam benaknya merasa kesal karena harus lari meninggalkan Devian.
"Kalian! Cepat lari bersama Yoga! Cepat!" Perintah Devian kesemua pemburu yang masih bertahan disana.
Para pemburu yang tersisa pun menoleh kearahnya dengan heran, tetapi tanggapan yang diberikan oleh para pemburu membuat Devian terkejut.
"Apa yang kau katakan? Kami bukan seperti mereka yang sudah lari menyelamatkan diri sejak tadi... biarkan kami bertarung disisi mu sampai akhir" Kata pemburu pria yang membawa sebuah senjata api, mewakili mereka yang masih bertahan bersama Devian.
Devian begitu tersanjung dengan jawaban mereka dan tersenyum tulus, "Hmph dasar kalian ini... benar-benar orang bodoh.. Jangan menyesal karena bertahan bersama ku!"
Para pemburu itu pun juga tersenyum kearah Devian karena merasa senang dengan pujian tak langsung itu, Para Troll prajurit yang tersisa dan Troll pengawal terlihat mulai berdatangan menghampiri mereka setelah berhasil melepaskan diri dari sihir Mye. Kali ini Devian berdiri sendiri mengepalai para pemburu yang gagah perkasa. Tubuh mereka sudah babak belur dan kotor akibat pertarungan yang berat sebelah tersebut. Tugas mereka saat ini sungguh simpel, yaitu menahan mereka selama mungkin untuk memberi waktu untuk Yoga dan Mye lari sejauh mungkin.
"Hei orang-orang bodoh... jadilah kacung ku untuk terakhir kalinya.." Senyum Devian disambut teriakan semangat para pemburu.
Sementara itu, Toni dan Tom yang saat ini sedang menggiring beberapa Troll menjauh dari area pertempuran mulai terlihat lelah karena terus berlarian disepanjang malam.
"Apa kita sudah jauh?" Tanya Toni terengah-engah
"Sepertinya.." Balas Tom.
Tom pun melihat kearah belakang dan terlihat para Troll prajurit terus mengejarnya tanpa lelah.
"Sial! sampai kapan mereka bertahan?!" Gumam Tom setelah melihat para Troll tidak menunjukan kelelahan.
"Aku sudah hampir tidak kuat.." Kata Toni yang mulai kehabisan nafas.
"Bertahanlah!" Tom memberi semangat.
Mereka terus berlari dan berlari tanpa tujuan, sampai akhirnya mereka kembali ketempat black dungeon itu terbuka. Mereka sebenarnya berniat untuk melewati dungeon tersebut dan berharap, monster yang tidak mempunyai akal itu malah masuk kedalam dungeon tersebut. Namun naas, sesampai mereka didekat dungeon yang sedang terbuka itu, Toni secara tiba-tiba tewas karena kepalanya ditangkap oleh sebuah lengan yang besar keluar dari dungeon tersebut.
Para Troll pun berhenti mengejar mereka demikian juga Tom yang segera menghentikan larinya dan menoleh kebelakang.
"Toni!" Sontak ia berteriak melihat Toni yang tertahan karena sebuah tangan besar.
Tom seketika tertegun pucat saat melihat sosok yang besar perlahan keluar dari dungeon tersebut. Guncangan mulai terjadi setelah sosok itu sepenuhnya keluar, Tom yang masih berdiri kaku perlahan mendongak keatas mengikuti ukuran dari sosok yang mendekati dirinya.
"A-aaa... I-iblis..!!!!!"
Dalam keadaan ketakutan, Tom pun tewas setelah tubuhnya disambar oleh sebuah tangan besar dan ia pun dimakan oleh sosok tersebut.