
Setelah pertempuran didesa Fuso bagian utara ibukota, Rado dan kedua pendampingnya yaitu Jaquile dan Albert berunding bersama mengenai masalah yang terjadi kemarin. Mereka bertiga saling bertukar pikiran didalam ruangan yang dulunya adalah tempat Albert bertahta.
"Bagaimana keadaan Yoga?" Tanya Rado sambil menyender dimejanya dengan menyilangkan dua lengannya.
"Dia baik - baik saja.. Butuh beberapa hari untuknya agar bisa sembuh kembali.." Jawab Albert mengenai Yoga.
"Apa dia tidak diberikan sebuah potion saja agar sembuh?" Timpal Jaquile.
"Potion? Apa itu?" Tanya Albert heran.
"Eh disini tidak ada barang bernama potion?" Heran Jaquile.
Disaat mereka saling terheran akibat tidak adanya potion didunia ini Rado baru tersadar akan hal itu juga.
"Jaquile benar! Aku baru mengingatnya.. Kenapa didunia ini tidak ada potion?!" Dalam benaknya Rado terkejut.
"Lalu bagaimana biasanya kalian menyembuhkan mereka yang terluka dalam pertempuran?" Tanya Rado penasaran.
"Yah... Seperti layaknya kami menangani orang yang terluka, kami akan merawatnya dengan alat dan perlengkapan medis.." Jawab Albert.
"Eh?! Jadi tidak ada sebuah barang yang bisa membalikan force atau menyembuhkan luka secara instan?!" Tanya Jaquile.
"Hahaha barang seperti itu mana ada... Kalau memang ada mungkin itu bisa sangat membantu.." Alber tertawa geli karena mendengar hal tersebut.
Rado termenung ditengah pertemuan mereka, ia tidak menyangka kalau barang sepenting potion itu tidak ada di dunia ini.
"Bagaimana dengan seorang healer?! Apa mereka ada didunia ini?" Tanya Rado.
"Apa lagi itu? Mereka tidak ada disini... Lagipula kenapa tuan menanyakan hal itu?" Tanya Albert heran.
"Tidak.. aku hanya ingin mengetahui lebih lanjut mengenai dunia ini.." Jawab Rado lalu memegang dagunya berpikir.
"Ini benar - benar masalah.. Dalam peperangan besar seharusnya ada yang bertugas untuk melakukan healing atau setiap prajurit harus memiliki barang healing instan seperti di dunia kita... Kalau begini, maka pertempuran akan berlangsung seperti jaman dahulu dimana kau tidak bisa memulihkan diri ditengah pertempuran... Cih ini sulit! apa tidak ada cara lain?" Dalam benaknya berpikir keras.
Jaquile dan Albert hanya bisa memandangi Rado yang sedang berpikir kearas akan suatu hal, disela keheningan tersebut pintu ruangan Rado pun diketuk oleh seseorang dan mereka bertiga pun teralihkan dibuatnya.
"Ada apa?" Saut Rado kepada prajurit yang berjaga didepan.
"Tuan.. Pasukan pengintai telah kembali..." Jawab prajurit dibalik pintu.
"Pasukan pengintai?" Rado terheran.
"Ah.. Maaf tuan, aku lupa memberitahu mu mengenai pasukan pengintai.. Waktu disaat aku menjabat, aku membentuk sebuah pasukan pengintai yang disebar luaskan didaratan ini untuk memperoleh informasi mengenai setiap gerakan para ras lain. Mereka juga ku berikan perintah untuk segera melapor sekembalinya mereka setelah melakukan pengintaian" Jelas Albert kepada Rado yang sedang bingung.
"Hoo.. ternyata ada pasukan seperti itu, baiklah suruh mereka masuk.." Rado mengizinkan.
Pintu pun terbuka, tidak disangka. Mereka yang menjadi pasukan pengintai adalah Devian, Joon Sung, Levi dan Lucero. Melihat wajah mereka yang sudah tidak asing, membuat Rado dan juga Jaquile sedikit terkejut, akan tetapi karena mereka mengetahui kalau ingatan mereka telah dihapus sebelum ditransfer kedunia baru, jadi Rado dan Jaquile tetap melakukan peran baru mereka tanpa harus mencoba untuk menyadarkan mereka.
"Hormat kami kepada sang Archon.." Kata Devian segera membungkuk dan diikuti oleh yang lainnya.
Rado tergelitik melihat Levi yang hormat kepadanya, baginya ini adalah suatu hal yang aneh karena selama ini Levi bersifat dingin dan juga keras terhadapnya, namun sekarang ini Levi yang berada didepannya sedang membungkuk hormat kepadanya.
"Tuan?" Tanya Albert melihat Rado menahan ketawanya dengan cara mengalihkan tatapannya.
"Ah maaf kan aku.. aku ingin bersin tadi.." Rado mencoba mencari alasan.
"Bersin lah tuan! Bersin anda adalah sebuah anugerah bagi kami!" Celetuk Levi tanpa diduga.
"Eh?!" Rado dan Jaquile pun terkejut dengan pernyataan tersebut.
Memang Jaquile tidak terlalu mengenal Levi, akan tetapi Rado yang sudah mengenalnya cukup lama begitu terheran dengan perubahan sifat yang terbilang sangat berbalik dari sebelumnya.
"Maafkan dia tuan.. Dia memang seperti itu.." Kata Devian menimpalkan dan mencairkan.
"A-ahhh... Tak apa, jadi apa yang kalian temukan setelah melakukan pengintaian" Tanya Rado langsung pada inti maksud kedatangan mereka.
"Baik! Sebenarnya kedatangan kami disaat bersamaan ini adalah dengan membawa sebuah berita yang cukup buruk... Dimana setiap wilayah ras yang ada telah diserang oleh ras demigod" Jelas Devian.
"Apa?!" Jaquile dan Albert terkejut.
"Jadi bukan wilayah kita saja yang diserang oleh para demigod itu?" Jaquile terkejut dengan fakta tersebut.
"Ya! Sepertinya ras demigod sudah mulai ingin menginvasi wilayah ras - ras untuk memulai pertempuran.. dan hasil yang telah kami kumpulkan adalah wilayah Orc yaitu rawa kegelapan berhasil terselamatkan dengan hadirnya sang Archon Dogol Khan dalam pertempuran" Jelas Devian menyampaikan laporan dari Lucero yang bertugas untuk mengintai daerah orc.
Saat itu wilayah Orc juga tak luput dari rencana invasi Achilles, disaat pasukan Orc yang menjadi garis pertahanan di wilayah itu hampir mengalami kekalahan, pasukan lain dari Orc dengan salah satu dari mereka terlihat sambil mengudarakan lambang demiclesnya masuk dalam pertempuran itu. Seruan dari para Orc menyebut nama Dogol Khan pun bergemuruh disaat kedatangannya. Beberapa saat kemudian alur pertempuran pun berhasil dibalikan dengan kemenangan ras Orc. Rado pun terkejut mendengar nama Dogol terucap dari mulut Devian, ia tersenyum karena makhluk yang bisa menyudutkannya kala itu sudah mulai menunjukan diri dalam dunia baru ini.
"Demikian juga dengan wilayah Elf yaitu hutan hening, mereka berhasil menahan invasi para demigod dengan kekuatan dari mereka yang memiliki lambang tersebut, aku tidak menyangka kalau rumor yang tersebar dengan cepat itu benar apa adanya mengenai bangkitnya para archon, tetapi setelah aku mendapat laporan dari mereka bertiga... aku mempercayainya" Jelas Devian menyampaikan laporan dari Levi.
"Lalu bagaimana dengan wilayah para Dwarf?" Tanya Albert.
Devian melihat kearah Joon Sung dan saling mengangguk.
"Saat itu, aku sedang mengintai dari kejauhan di wilayah tersebut dan aku sungguh terkejut melihat demigod yang menjadi kapten dalam penyerang itu.." Kata Joon menatap Rado.
"Siapa dia?!" Tanya Albert penasaran.
"Dia Juliver.." Joon Sung menoleh kearah Albert.
Albert yang mendengar nama Juliver begitu tertegun dengan kemunculan demigod yang telah melukai dirinya dan membunuh perempuan yang dicintainya.
"D-dia disana?!" Tanya Albert bergetar.
Rado hanya melirik kearah Albert yang menunjukan sebuah reaksi tidak biasanya.
"Ya... dia ada disana dan masih bertempur secara brutal seperti biasanya... Seorang Dwarf yang memiliki lambang demicles telah terbunuh saat melawan dirinya, akibat terbunuhnya dwarf tersebut, pasukan dwarf memilih mundur dah wilayah bukit tinggi telah berhasil ditaklukan oleh ras demigod" Jelas Joon Sung.
Mendengar itu Albert terkejut karena wilayah Bukit Tinggi adalah wilayah yang sangat sulit ditembus oleh ras mana pun, tetapi hari ini julukan wilayah tak tertembus itu telah ditaklukan oleh ras Demigod.
"Aku ingin bertanya, apakah kalau begini ras Dwarf telah kehilangan Archon mereka?" Sambung Joon Sung.
Ketiga orang lainnya yang menjadi pengintai juga terlihat penasaran dengan pertanyaan tersebut. Mereka secara bersamaan menatap tajam kearah Rado.
"Eh? Jadi maksud mu, ada yang bisa memakai lambang sang leluhur selain mereka yang ditakdirkan?!" Tanya Devian terkejut.
Untuk menjawab pertanyaan dari Devian, Jaquile dan Albert pun mengudarakan demicles mereka.
"A-a!! lambang itu..." Devian terkejut saat melihat demicles dihadapannya.
"Ja-jadi itu demicles milik ras kita?!" Levi tertegun melihat melihat lambang kebanggan ras mereka.
"Aku tidak menyangka kalau demicles bisa terbagi seperti itu..." Sambung Devian.
"Sebenarnya terdapat satu orang lagi yang memiliki kekuatan demicles, akan tetapi ia sedang berada diruang perawat akibat pertempuran melawan invasi ras demigod" Jelas Rado.
"Apa?! Ada satu orang lagi yang memiliki kekuatan ini?! Itu hebat!" Devian Antusian mendengar itu.
"Tuan Rado... Maaf menyela pembicaraan ini, tetapi apa langkah anda untuk menanggapi hal ini?" Tanya Lucero yang mulai embuka suaranya dengan wajah serius.
Rado pun menoleh kearahnya, "Kita akan menginvasi mereka juga.." Senyum Rado.
"Apa?! Apa kita bisa menginvasi ras lain?" Tanya Devian.
"Yah... itu bisa.. tetapi untuk melancarkan hal tersebut, sepertinya kalian harus berbagi informasi mengenai ras - ras yang ada mengingat kalian adalah seorang pengintai selama ini.. Datanglah kerapat para kapten nanti sore" Kata Rado sambil beranjak meninggal ruangan tersebut diikuti Jaquile dan Albert.
Disaat Rado melewati mereka berempat, mereka saling melihat satu sama lain dengan wajah senang dengan perkataan Rado tersebut karena ras manusia mungkin bisa melakukan kemajuan dibawah naungan Rado. Namun langkah Rado terhenti saat ia mencapai pintu keluar.
"Devian... Ikut dengan ku, ada seseorang yang ingin ku kenalkan pada mu.." Kata Rado menoleh kearah Devian.
"Diri ku?" Devian terheran dengan ajakan Rado tersebut.
Devian pun pada akhirnya mengikuti Rado ketempat perawatan medis yang berada digedung yang sama. Ia pun digiring oleh Rado kesebuah lorong yang begitu sunyi dan penuh dengan penjagaan. Ditengah lorong itu terdapat sebuah pintu yang sedang dijaga oleh dua orang prajurit didepannya.
"Tuan? Siapa orang yang ingin kau pertemukan pada ku?" Tanya Devian penasaran.
"Hmmm mungkin kau akan mengetahuinya setelah kau melihatnya langsung.." Senyum Rado menoleh kebelakang.
Disaat mereka sampai didepan pintu tersebut, para penjaga segera memberi hormat dan membukakan pintu untuk Rado dan Devian. Mereka pun masuk dan menemukan Yoga yang sedang menyantap hidangan yang telah disediakan oleh pihak gedung.
"Rado kau da-" Dengan terkejutnya ia menghentikan makannya sejenak setelah melihat siapa yang datang bersama Rado.
"Kau?" Sambung Yoga terkejut melihat Devian.
"Ah... Anda.." Dentuman jantung Devian berdetak kencang melihat Yoga.
Perasaan dan reaksi aneh yang ia rasakan saat melihat Yoga pun mengundang rasa penasaran Rado mengenai bagaimana cara mengembalikan ingatan dari para pemburu yang telah dimanipulasi ingatannya oleh Achilles.
"Dia bereaksi seperti waktu Rudy bertemu dengan ku... Apa mungkin..." Rado berspekulasi dalam pikirannya sambil melirik kearah Devian.
Rado pun mendekat kearah ranjang Yoga diikuti oleh Devian yang mengikutinya dengan sedikit canggung. Yoga hampir saja kehilangan kendali saat melihat Devian, akan tetapi saat ia melihat Rado, Yoga mengerti akan sebuah peran untuk tidak mencoba untuk membuatnya bingung mengenai siapa dia sebenarnya di dunia sebelumnya.
"Ah.. Siapa kau?" Pertanyaan Yoga sedikit menusuk hati Devian.
"A..hahahaha maaf sebelumnya, aku Devian dari regu pengintai.... Maaf kalau aku tidak sopan, apa kita pernah bertemu sebelumnya? Aku merasa kalau kita pernah bertemu.."
Sontak pertanyaan dari Devian membuat Rado dan Yoga begitu terkejut.
"Hmmm mungkin itu hanya perasaan mu saja... Kita belum pernah bertemu sebelumnya.." Kata Yoga dengan raut sedih.
"Ah.. mungkin benar... itu hanya perasaan ku saja..." Senyum polos Devian yang membuat Yoga begitu terenyuh.
"Kalau anda sedang dirawat, berarti anda adalah salah satu pendamping bukan, seperti yang diberitahu oleh tuan Rado pada ku sebelumnya?" Devian terlihat begitu senang.
"Ya.. kau benar! Aku salah satu pendamping yang melindungi Archon.." Jawab Yoga.
"Kalau begitu, izinkan aku untuk bertarung bersama mu lain waktu" Kata Devian.
Setelah mengeluarkan beberapa perbincangan yang canggung Devian pun memiih untuk pergi dari ruanga tersebut dan meninggalkan mereka berdua diruangan tersebut.
"Aku tidak menyangka akan melihatnya secepat ini... tetapi dia seperti orang yang berbeda.." Kata Yoga..
"Beberapa orang yang kita kenal sepertinya mengalami perubahan sifat setelah ditransfer kedunia ini.." Jelas Rado.
"Lalu bagaimana keadaan mu sekarang?" Sambung Rado bertanya kepada Yoga.
"Kata Dokter aku bisa pulih beberapa hari kemudian.." Senyum Yoga kepada Rado.
"Jadi kau tidak bisa ikut rapat nanti sore?" Tanya Rado.
"Sepertinya tidak..." Jawabnya.
"Huh... meskipun disini sangat terlihat modern, akan tetepi barang sepenting potion tidak ada disini.. Jadi luka seperti sayatan seperti itu juga harus menggunakan obat biasa yang sudah disediakan.." Eluh Rado.
"Hahahaha aku juga sedikit terkejut dengan ketidakadaan obat tersebut, tetapi apa kita tidak membuatnya?" Tanya Yoga.
"Aku tidak tau apa saja yang menjadi bahan - bahan dalam membuatnya.. tapi..." Rado terdiam mengingat akan hal sesuatu.
"Tunggu aku mengingat sesuatu!" Sontak Rado.
"Ada apa?!" Tanya Yoga.
"Bukan kah yang tertransfer ke dunia baru ini bukan hanya pemburu saja? Melainkan para warga diseluruh dunia yang hidup juga ikut tertransfer bukan?" Rado mulai berspekulasi.
"Ya setau ku begitu mengingat Achilles menjelaskan saat itu.." Yoga mengingat.
"Kalau begitu kita harus menemukan seseorang di wilayah ras manusia ini!" Rado tersenyum.
"Siapa yang kau maksud?" Tanya penasaran Yoga.
"Seorang teman yang mengerti dalam membuat potion" Jelas Rado merujuk keseseorang.