The Archon

The Archon
Akademi part 2



"Berhenti.." Kata Martinez.


Rado dan mereka yang sedang mengepungnya pun terhenti dan menoleh kearah Martinez. Para murid yang berada dikelas maupun yang sedang berada di lapangan pun juga ikut terdiam dan segera menatap kearah kerusuhan tersebut.


"Ada apa?" Tanya Pemuda berambut belah tengah kepada Marco.


"Ah.. Sepertinya pemuda yang membuat onar kemarin itu mendapat batunya... Ayah dari Rega tuan Nimus menjegatnya... Lalu tuan Martinez sepertinya menengahi keributan tersebut.." Jelas Marco.


"Hooo sepertinya semakin menarik..." Senyum pemuda berambut belah tengah.


Dari sekian banyak murid - murid yang hanya bisa melihat Rado dalam kesulitan, hanya ada satu murid saja yang segera menghampirinya lalu mencoba untuk menolong Rado.


"Minggir!!!!!!!!" Teriak pemuda yang mengajak Rado berteman.


Pemuda itu menerobos para prajurit yang sedang mengelilingi Rado dan segera memasang badan didepan Rado. Rado yang saat itu berada dibelakangnya hanya bisa terkejut heran dengan tingkah laku pemuda tersebut.


"Ranbu?!" Sontak Rega terkejut melihatnya.


"Siapa lagi ini?" Kata Nimus menatap sinis kepada Ranbu.


Sedangkan Martinez dan instruktur yang lain terdiam melihat aksi Ranbu untuk menolong Rado, hanya Silvi saja yang menahan tertawa akibat tingkah laku Ranbu yang sangat mencolok.


"Hei kau! Pergi dari sini! Ini bukan saatnya bermain pahlawan - pahlawanan..!" Gertak salah satu prajurit yang sedang mengelilinginya.


"Hah?!!!! Jangan mencoba untuk menyentuhnya, dia ini sobat ku!" Gertak balik dari Ranbu.


Rado sedikit tercengang setelah Ranbu menyebutnya Sobat dan itu mengingatkannya kepada Geraldo pada masa awal ia mendapat kekuatan Archon.


"Sobat.. Tenanglah.. ada aku disini! Kau aman!" Katanya dengan sangat percaya diri kepada Rado.


"Yah.. Terimakasih." Rado tersenyum menanggapinya saat ini."


"Shishishsih" Cengir Ranbu melihat Rado berterimakasih.


"Dasar kau ini!" Salah satu prajurit ingin memukul Ranbu dengan sebuah gada kecil yang ia kenakan.


"Berhenti!!!!!" Teriak Martinez sekali lagi.


Prajurit yang ingin memukul Ranbu pun terhenti dan menoleh dengan kesal kepada Martinez.


"Apa kalian tidak menghormati ku sebagai pemegang tertinggi di akademi ini?!" Tanya Martinez geram.


"Dan anda tuan Nimus.. Ini hanya permasalahan antar murid akademi militer, apa anda sebegitu memanjakan anak anda sampai membawa puluhan prajurit untuk mengepung salah satu murid ku?! Ini bisa mencoreng nama baik kepala administrasi negara!" Pojok Martinez.


Mendengar Martinez memojokannya, Nimus sedikit kesal dan segera pergi meninggalkan Rado dan Ranbu sebelum namanya benar - benar terkotori oleh perkelahian antar pemuda.


"Ayah!?" Panggil Rega dengan sangat.


Nimus terhenti dan menoleh kearah anaknya itu.


"Diam dan uruslah urusan mu! Kau sudah berumur 23 tahun!" Geram Nimus lalu meninggalkan Rega.


Rega yang sudah tidak menerima dukungan dari ayahnya, terlihat kesal menatap Rado dengan wajah bengapnya. Rado pun tersenyum untuk menanggapi kekesalan dan malu yang diterima oleh Rega. Rega pun pergi kearah teman - temannya yang sejak tadi memperhatikan mereka dari luar.


"Shishishis pergilah kau anak ayah!" Ejek Ranbu.


Setelah semua sudah tentram kembali, Martinez pun berjalan kearahnya dan Julius terlihat amat waspada dengan Rado yang melihat kearahnya terlebih dahulu.


"Mengapa kau baru datang ke akademi? Ini sudah lewat dari jam yang ditentukan...!" Tegasnya kepada Rado.


Rado yang melihat kakeknya begitu tegas hanya bisa tersenyum.


"Maafkan aku ka - maksud ku tuan Martinez... Aku harus membantu ibu ku di pabrik.." Kata Rado Tersenyum.


"Hah... Aku tidak tau bagaimana kau bisa maksud ke akademi ini, tetapi aku melihat potensi dari dalam diri mu.. Cepatlah masuk dan ikuti pelatihan! Kau sudah banyak tertinggal karena tidak produktif!" Kata Martinez dan segera melewati Rado dan Ranbu.


Saat rombongan Martinez melewatinya, Silvi pun tersenyum kepadanya dan berhenti sejenak disebelah Rado.


"Kau sungguh aneh.." Kata Silvi terlihat menggoda Rado.


Seketika Rado merinding saat Silvi berkata seperti itu. Silvi pun berlalu begitu saja setelah mengatakan hal tersebut kepada Rado. Disetiap langkah Silvi, Ranbu tidak sedikitpun melewatkan kecantikan dirinya.


"Hei, Hei sobat! Sepertinya nona SIlvi menyukai mu!" Kata Ranbu setelah selesai melihatnya.


Rado semakin merinding setelah Ranbu mengatakan itu.


"Dasar bodoh! Mana mungkin aku bisa berpacaran dengan kaka ku sendiri?! Kalau saja ini di bumi, mungkin aku sudah ditangkap polisi karena praktik incest!" Dalam benaknya merinding.


"Aa hahahaha aku tidak tertarik padanya.." Gugup Rado menanggapi Ranbu.


"Aaaa~~~~ Baiklah..." Rado terlihat masa bodo dengan ucapan Ranbu.


"Aku tidak sudi kaka ku didekati oleh orang seperti ini! Apa ku hilangkan saja dia dari dunia ini?" Geram Rado dalam hatinya sambil melirik kearah Ranbu.


"Eh.... Ngomong - ngomong kau ini siapa?" Sambung Rado bertanya dengan senyuman polosnya.


"Heeeeee\~\~\~\~\~\~\~" Ranbu merasa hatinya hancur dan membeku mendengar Rado bertanya demikian.


"Kau tidak mengingat ku?!" Tanya Ranbu dengan air mata mengalir deras.


"A.. hahahaha kita belum berkenalan..." Jawab Rado merasa tidak enak.


"Ahh Kau benar!" Moodnya kembali normal.


"Aku Goken Ranbu.. Anak dari kepala petugas di gedung utama, Goken Kajol.." Katanya memperkenalkan diri dengan heboh.


"Nama panggilannya berada dibelakang.. Apa dia orang Jepang? Tapi ini dunia baru... keluarga yang aneh.." Dalam hati Rado menghujat.


"Ahhh... Ternyata kau anak dari kepala petugas Kajol hahahha" Sambut Rado dengan ramah.


"Ya.. Ayah ku adalah seorang kepala petugas yang hebat, dia memonitoring setiap pergerakan dan selalu bertemu dengan Archon kita tuan Rado!" Dengan bangga ia membual.


"Heeeeee\~\~\~\~\~ Orang ini.... Aku tidak pernah bertemu ayah mu!" Dalam hati Rado terheran dengan bualan tersebut.


"Aaaahahahaha Ayah mu hebat ternyata ya.." Puji Rado tidak enak.


"Yah itulah ayah ku... Dia adalah seorang ayah yang hebat, meskipun jarang pulang tetapi ia setia mengabdi kepada negeri ini... Ia terus memonitoring tanpa henti dari dalam gedung utama untuk menyampaikan panggilan dari warga diluar ibukota bila terjadi sesuatu disana.. Aku bangga kepadanya.." Cerita Ranbu kepada Rado.


Mendengar cerita kehebatan ayah Ranbu, membuat Rado terkesan. Ia merasa kalau ayah Ranbu memiliki peran yang amat penting bagi rakyat bawah yang membutuhkan. Rado tersenyum kepada Ranbu karena pekerjaan ayahnya.


"Ayah mu benar - benar hebat.." Puji Rado dengan tulus.


"Shishishsihsi aku jadi malu, ngomong - ngomong kau belum memperkenalkan diri.. Siapa nama mu?" Tanya Ranbu tersenyum.


"Aku Ra - " Rado terdiam karena mengingat kalau ia menyebutkan namanya, mungkin akan mengejutkan Ranbu.


"Ra?" Tanya Ranbu menunggu.


"Raka! Ya! Nama ku Raka..." Kata Rado.


"Raka? Hmmm nama yang mudah di ingat Shsihsihsihsi" Tawa Ranbu.


"Baiklah Raka... Ayo kita masuk ke kelas.." Ajak Ranbu degan cepat.


"Baiklah.." Terima Rado.


Setelah Rado mendaftarkan diri sebagai murid pelatihan yang baru, Rado segera menuju ke kelas yang sama dengan Ranbu, yaitu kelas yang berisikan unit 5. Ruang kelas yang menjadi tujuan Rado dan Ranbu memiliki ruangan luas dengan dua sisi meja memanjang yang membelah tangga untuk naik, tatanan meja dalam ruangan itu adalah tatanan bertingkat yang berfokus pada meja instruktur yang berada tengah bawah kelas. Saat Rado dan Ranbu masuk kedalam kelas tersebut, semua mata tertuju kearah Rado dengan tatapan sinis.


Ranbu yang sudah terlebih dahulu berada di kelas tersebut, dengan santai berjalan ketempat duduknya yang berada diatas. Rado terus mengikuti Ranbu karena melihat salah satu bangku kosong didekatnya, baru saja ia menempelkan bokongnya dikursi kelas. Semua murid yang berada didalam segera mengerubunginya dengan rasa penasaran.


"Kau itu yang berhasil megalahkan rega dari unit 3 kan?" Tanya salah satu murid dengan gembira.


"Bagaimana kau mengalahkannya?!" Tanya murid yang lain.


Rado merasa tertekan dengan sejumlah pertanyaan mengenai pertarungannya dengan Rega, dilain sisi ia juga merasa canggung karena baru pertama kali diperlakukan seperti ini, biasanya orang - orang sangat menjaga sikap mereka bila berhadapan dengan Rado.


"Hei - Hei... beri dia ruang.. Kalian menakutinya!" Kata Ranbu mencoba untuk menenangkan keadaan.


Disaat itu Rado merasa terselamatkan oleh Ranbu. Disaat bersamaan instruktur yang bertugas mengajar unit 5 pun datang. Intruktur tersebut tidak asing lagi bagi Rado, dia adalah instruktur Julius yang menghentikannya saat melawan Rega. Semua murid segera duduk ditempat mereka masing - masing karena kelas akan dimulai.


"Eh?! Dimana Instruktur Robert?" Tanya salah satu murid terheran dengan pergantian instruktur yang secara tiba - tiba.


"Matilah dia.." Kata Ranbu secara spontan.


Rado hanya menoleh kearah Ranbu yang mengatakan demikian.


"Instruktur Robert mulai sekarang akan digantikan oleh ku... Dan kau kemarilah!" Perintah Julius.


Murid itupun beranjak dari kursinya dan menghampiri Julius. Saat ia berada didepan Julius, Julius segera menamparnya. Murid itu terkejut ketika wajahnya berpaling dengan cepat karena tamparan Julius. Julius tidak hanya menamparnya sekali, tetapi berkali - kali hingga membuat pemuda berambut hitam itu terjatuh.


"Kalau aku sudah menggantikannya jangan pernah bertanya lagi kemana instruktur sebelumnya" Kata Julius menatap tajam murid tersebut.


"Ma-maafkan aku.." Kata murid tersebut dan segera duduk kembali.


"Mulai sekarang aku yang akan mengajar kalian! Jadi bersiaplah dikelas neraka!" Cetusnya sambil menatap tajam kearah Rado.


Rado pun juga menatapnya dalam diam karena merasa tertantang mengikuti kelas tersebut.