
Saat ini di padang rumput yang luas pada bibir hutan wilayah demigod, Olympus. Rado sedang di hadapkan oleh Rhea yang sedang merangkul Aslav yang sudah tidak sadarkan diri. Rhea segera meletakan Aslav yang sudah menutup mata didekat Juliver yang juga sudah terluka. Tanpa mengatakan apapun kepada Juliver, Rhea segera kembali berhadapan dengan Rado.
"Aku tidak bisa memukul wanita... Bisa kah kah mundur?" Kata Rado tersenyum memperingati Rhea.
"Jangan meremehkan seorang setengah dewi.." Kata Rhea sambil mengangkat kapak miliknya.
Rado pun menatapi pakaian yang digunakan oleh Rhea dari ujung kaki hingga wajahnya. Pakaian yang dikenakan oleh Rhea cukup terbuka dengan beberapa bagian saja yang tertutup oleh jirah miliknya.
"Apakah seorang setengah dewi itu memakai pakaian yang terbuka?" Ejek Rado kepada Rhea.
"K - kau!" Rhea geram dengan wajah memerah.
Ia pun segera melesat kearah Rado sambil mengudarakan demicles miliknya. Demicles berwarna keemasan itu pun membentur cahaya dari warna demicles milik Rado. Meskipun demicles milik Rhea sudah berada di ukuran maksimal, tetapi cahayanya tidak bisa membendung cahaya demicles milik Rado. Seperti perkataan sebelumnya, Rado terlihat hanya menghindari serangan milik Rhea.
Rhea mengkombinasikan pola serangan vertikal dan horizontal untuk mengenai Rado yang sangat lincah. Rado terus menerus menjaga jarak dari radius jangkauan kapak milik Rhea, melihat Rado hanya menghindar dan terus mundur. Rhea dengan cepat menancapkan kapaknya untuk dijadikan sebuah tumpuan bagi dirinya untuk menjangkau Rado.
Dengan bantuan lonjakan dari kapaknya yang di hentakan ketanah, lalu Rhea melesat untuk menendang Rado. Rado yang saat itu belum sempat menghindar, hanya dapat berdiri menunggu kedatangan tendangan dari Rhea. Sebuah gelombang yang disebabkan oleh tendangan Rhea pada tubuh Rado pun membuat rerumputan di padang rumput itu seperti diterpa oleh angin.
Dalam keadaan waktu yang terlihat seperti melambat, Rhea tersenyum melihat Rado yang tertunduk namun tetap berdiri kokoh, mulai mengeluarkan beberapa tetesan darah dari mulutnya akibat terkena tendangan telak pada bagian ulu hati, Rhea menyangka kalau tendangan itu berakibat fatal, akan tetapi ia terlalu cepat menyimpulkan kalau itu adalah serangan yang berakibat fatal bagi Rado.
Saat senyuman Rhea masih terlukis di wajahnya, Rado mengangkat kepala dan menatapnya dengan sebuah senyuman yang di hiasi oleh darah yang keluar. Rado segera menangkap kaki Rhea dan menariknya kearah samping. Rhea yang terkejut tidak bisa melakukan apapun, ia hanya dapat pasrah dengan wajah panik. Setelah tubuhnya menjadi lebih dekat dengan Rado, Rado segera mencengkram lehernya dan mendekatkan wajah Rhea kepada dirinya.
"Ku bilang, aku tidak akan memukul wanita.. Lantas kenapa wajah mu begitu khawatir?" Bisik Rado di telinga Rhea.
Karena kesal sekaligus malu, Rhea segera memukul - mukul perut Rado berkali - kali hingga membuat gelombang kejut yang lain. Suara pukulannya pun terdengar hingga dimana Devian dan yang lain berada. Devian dan yang lainnya hanya melihat tubuh Rado tidak bergeming sedikit pun saat dipukuli oleh Rhea.
Saat ini Rado tersenyum karena tidak terlalu merasakan sakit yang mendalam karena tubuhnya telah diperkuat oleh aura force yang ia miliki. Jarak kekuatan diantara mereka sangat jauh, Rado terus menahan pukulan dari Rhea dengan sebuah senyuman disamping wajahnya. Rhea yang gelisah melirik kearah Rado yang tersenyum karena tidak merasakan apapun dari pukulannya itu.
Beberapa kali ia mencoba untuk memukul Rado, namun tidak sekalipun membuat dirinya bergeming. Hingga pada waktu dimana pukulan itu mulai melemah, Rhea pun menghentikan pukulannya tepat diperut Rado.
"Kalau kau ingin melukai ku, setidaknya gunakanlah sebuah senjata..." Kata Rado sambil menarik wajahnya dari telinga Rhea.
Saat itu juga Rhea terlihat terkejut, matanya terbuka lebar karena tidak menyangka kalau ada makhluk sekuat ini selain para demigod. Rado pun mengambil langkah mundur menjauh dari Rhea dan tersenyum kepada.
"Seorang dewi tidak sepantasnya menunjukan wajah seperti itu pada makhluk yang berada dibawahnya.." Kata Rado memuji Rhea.
"Dari aura mu, aku merasakan sebuah kegelisahan selain pertarungan ini.. Apa kau mengalami sesuatu?" Tanya Rado sambil sedikit memiringkan kepalanya.
Mendengar perkataan dari Rado yang ia rasa tepat, membuat emosi dari manusia setengah dewi itu kembali memuncak. Ia mengambil langkah mundur dan mengambil kembali kapaknya lalu melemparkannya kearah Rado. Kapak itu berputar layaknya sebuah gangsing kearah Rado.
Rado dengan cepat menghindarinya dengan cara melompat kearah samping dan membuat kapak itu terbang mengarah kepada Devian dan tim. Kapak yang memiliki bobot berat itu menancap tepat didepan Devian dan timnya yang mana membuat mereka seperti berada didepan malaikat pencabut nyawa.
Tidak sampai situ Rhea pun kembali melesat kearah Rado dengan menggunakan tangan kosongnya, namun tetap saja Rado tidak memberikan perlawanan dan memilih untuk menghindarinya.
"Lawan aku!" Pinta Rhea dengan geram.
"Tidak akan..." Jawab Rado tersenyum.
Rhea terus menerus melancarkan pukulannya namun tidak ada satupun yang mengenai Rado.
"Kenapa kau begitu gelisah? Apa perkataan ku benar?" Tanya Rado kepada Rhea.
"Diam! Kau tidak perlu ikut campur dengan urusan kami para setengah dewi..!" Kata Rhea.
"Hoo... Kalau begitu, beritahu aku dimana Achilles berada sekarang karena kedua orang itu tidak memberitahu ku" Tanya Rado sambil menghindari serangan Rhea.
"Tidak akan ku beritahu dimana bajing*n itu berada.." Jawab Rhea dengan emosi.
Mendengar itu Rado pun menangkap tangan Rhea yang hampir saja mengenai wajahnya.
"Dimana dia?" Tanya Rado degan sedikit meremas tangannya yang mana membuatnya terlihat kesakitan.
Rado pun menarik tangan Rhea sekali lagi untuk lebih dekat kepadanya agar dia dapat melihat mata Rhea lebih dekat. Tubuh Rhea mulai berkeringat, tangannya bergetar karena remasan dari genggaman Rado, ia sedikit mendongak karena Rado lebih tinggi darinya.
"Aku tidak akan mengatakannya..." Jawab Rhea sekali lagi.
Pupil matanya seperti melayang tanda tekad ia tidak akan mengatakan dimana Achilles berada, Namun secara bersamaan Rado merasa kalau Rhea seperti dewi yang terantai.
"Apa kau menginginkan seseorang untuk menghajarnya?" Tanya Rado tersenyum.
Mendengar itu Rhea seperti terkejut sekaligus menjadi terlihat tenang, selintas dirinya seperti terenyuh dengan perkataan tersebut, namun momen itu di hilangkan dengan kedatangan sebuah tombak yang entah darimana datangnya.
Rado dengan segera menarik Rhea kearah samping karena tombak itu ditujukan untuk menembus tubuh mereka berdua. Sebuah tekanan yang dahsyat pun hadir, dari dalam hutan seorang pria berambut jingga panjang dengan jirah emas pun datang membawa sebuah tombak.
Achilles mulai menunjukan dirinya dengan sebuah senyuman.
"Jauhkan tangan kotor mu itu dari mainan ku.." Kata Achilles tersenyum kepada Rado.
Rado yang melihat Achilles pun segera melepaskan Rhea, Rhea yang saat itu berhasil lepas dari genggaman rado pun segera melipir untuk memberikan jalan bagi raja para demigod.
"Akhirnya.. Kau datang.." Kata Rado sambil mengambil satu pedang yang ia masukan kembali kesarungnya.
"Hahahahahaha aku tertarik kepada mu karena kau satu - satunya yang berhasil membangkitkan sayap ketiga itu dibandingkan yang lain..." Kata Achilles memuji.
"Aku tidak begitu mengetahui arti sayap ini, tetapi setelah satu sayap ini muncul, aku merasa kalau kekuatan ku semakin besar.." Jawab Rado tersenyum.
"Itu adalah sayap sejati.. Simbol dari tingkat kekuatan lanjut dari lambang mu... Bisa dibilang, sekarang ini kau sudah memasuki ranah setengah dewa seperti kami,, Namun tidak semurni kami, bila kami adalah manusia dengan darah setengah dewa, berarti kau adalah sepertiganya" Jelas Achilles tersenyum.
"Aku semakin tidak mengerti dengan alur cerita yang dibuat oleh para dewa ini.. Tetapi aku kesini untuk membalas perbuatan mu mengenai tombak yang kaku kirim waktu itu.." Kata Rado tersenyum.
"Hooo tombak waktu itu.. Aku terkejut kau bisa membalikannya.. Tetapi, membalas ku? Hahahaha apa kau yakin dengan perkataan mu?" Tanya Achilles tersenyum.
"Ya... Aku yakin dengan itu.." Kata Rado tersenyum.
Achilles pun tersenyum dan menoleh kearah Rhea.
"Rhea kemarilah..." Kata Achilles sambil menjulurkan tangannya.
Namun respon Rhea seperti menunjukan penolakan. Ia terdiam gemetar saat menerima panggilan tersebut. Melihat reaksi yang diberikan oleh Rhea membuat Rado berpikir kalau dugaannya saat itu benar.
"Rhea!" Teriak Achilles kepada Rhea yang mana membuatnya menundukan kepala ketakutan.
"Jangan memaksanya.." Kata Rado membela Rhea.
"Hooo aku tidak tau, kalau kau memiliki teman yang baru..." Kata Achilles tersenyum kearah Rhea.
"A - aku.." Rhea pun mulai melangkahkan kakinya kearah Achilles.
"Bagus... Jadilah dewi yang baik untuk ku..." Kata Achilles sambil membasahi bibirnya dengan lidah.
Rhea berjalan layaknya robot, tubuhnya kaku karena diselimuti rasa takut. Melihat Rhea yang menghampiri Achilles dengan setengah hati, membuat Rado mengambil tindakan dan menarik tangan Rhea. Rhea yang terkejut membuka matanya dan menoleh kearah Rado yang sedang menatap kearah Achilles dengan tajam.
"Ku bilang jangan memaksanya.." Kata Rado menegaskan.
Baru saja Rado mengatakan seperti itu, tiba - tiba lutut Achilles sudah tepat berada diwajahnya. Tanpa sepengetahuan Rado, Achilles melesat dengan cepat dan menghantam wajahnya dengan sebuah lutut yang di lindungi oleh sebuah jirah besi. Rado segera terpental jauh kebelakang hingga terpelanting di tanah penuh rumput.
"Tuan Rado!" teriak Devian dari kejauahan.
"Kau berani melawan ku!" Kata Achilles kepada Rhea sambil menampar dirinya.
Rhea pun terjatuh dan segera mendapat sebuah injakan berkali - kali dari Achilles. Rhea tidak melawannya, karena kekuatan yang memiliki jarak yang jauh.
"Kau berani melawan ku?! Hei dewi busuk.." Kata Achilles sambil menginjaknya bekali kali.
Tubuh Rhea mulai terlihat lebam karena injakan kaki Achiles. Rado yang saat itu tergeletak diatas tanah yang hancur, mulai membuka matanya. Ia terbangun dengan rasa sakit yang amat sangat pada bagian wajah serta lehernya. Pandangannya kabur setelah menerima serangan dari Achilles.
"Serangan macam apa itu.. Aku sampai tidak bisa mengikutinya..." Dalam hati Rado menanggapi serangan cepat Achilles.
Rado dalam kearaan rambut yang terurai kembali mencoba untuk bangun kembali dan berjalan mendekat kearah Achilles yang sedang menginjak - nginjak Rhea. Ia melesat dengan cepat dan segera melompat dengan kedua pedangnya untuk menyerang Achiles dari atas. namun saat ia sudah berada diatas kepala Achilles, Achilles dengan mudahnya menangkap satu pedang Rado yang berada ditangan kirinya tepat sebelum membelah kepalanya dan pedang satu lagi dapat ia hindari dengan sempurna.
Rado yang terkejut segera mengayunkan satu pedang yang berada ditangan kanannya, namun dengan cepat Achilles menggagalkannya dengan menahan laju tangan Rado menggunakan kaki kanannya yang ia tempatkan tepat pada badan tengah lengannya.
"Ku bilang lepaskan dia.." Kata Rado dengan wajahnya yang terlihat sedikit lebam akibat tendangan dari Achilles.
Tidak sampai situ saja, karena serangah melintang dari arah bawah digagal oleh Achilles, Rado dengan segera mengayunkan pergelangan tangannya untuk melempar pedangnya itu tepat kearah wajah Achilles, akan tetapi Achilles dengan cekatan menghindari lempar pedang tersebut dan hanya menggores sedikit rambut panjangnya.
Achilles yang tersenyum segera mematahkan pedang Rado yang berada digenggamannya, dan ia pun segera membenturkan kepalanya kearah kepala Rado yang sedang terkejut karena pedang miliknya dipatahkan. Dahi Rado pun berdarah karena sobekan atas benturan kepala Achilles yang keras. Ia pun mulai kehilangan keseimbangan dan Achilles pun kembali menendang dirinya kembali.
Ia terlempar hingga beberapa jauhnya dari tempat dimana Achilles berdiri. Namun sekali lagi Rado bangkit kembali, tetapi kali ini dia terdiam tidak menunjukan senyum. Wajahnya telah tertutup oleh darah yang keluar dari dahinya, kedua tangannya berjuntai dibawah dan tubuhnya sedikit membungkuk karena kesulitan untuk tegap. Beberapa saat ia mencoba untuk bangkit, pada akhirnya Rado pun dapat menegakkan punggungnya dan tersenyum kembali dalam keadaan wajah yang penuh huru - hara.
"Hanya segitu?" Tanya Rado menyembunyikan sakitnya.
Demiclesnya masih mengudara sangat terang setelah menerima beberapa serangan hebat dari Achilles. Achilles yang mulai tertarik oleh Rado segera menghentikan siksaannya kepada Rhea. Ia berlajan menghadap Rado yang sudah berdiri tegap, dengan senyuman ia berkata...
"Biar ku tunjukan dimana letak perbedaan kekuatan kita.. Hei manusia sombong.." Katanya sambil mengudarakan demicles dengan 4 sayap sejati.