The Archon

The Archon
Menara Anubis



Dalam menara lantai 5 di negara Australia, terdapat red dungeon yang berukuran cukup besar dengan warna yang lebih merah dibanding biasanya. Rado dan para pemburu berkumpul untuk menyelesaikan dungeon tersebut, kali ini Rado ditunjuk secara resmi oleh para pemburu yang ikut serta sebagai pemimpin jalannya raid terakhir.


Rado memakai pakaian tempurnya yang serba hitam dengan kedua ninjatonya yang menyilang dipunggungnya, Yoga, Lucy, Bobby dan Peter dipercayai untuk menjadi sub - kapten membawahi sepuluh pemburu per timnya. Ini adalah momen langka dimana pemburu Australia bergerak dengan sendirinya dan pimpin oleh seorang keturunan asia.


"Ayo kita masuk.." Rado menggerakan puluhan pemburu dengan dentuman jantungnya yang tidak bisa ia kontrol.


"Siap" Suara serentak dari para pemburu menggema diseluruh lantai dan membuat orang disekitarnya menjadi merinding.


Merekapun masuk kedalam dungeon dengan medan pasir seperti di Mesir, matahari yang terik memaksa pasukan raid untuk menutupi pandangan mereka dengan tangan. Mereka terus melihat kesana kemari untuk melihat sesuatu yang bisa dimasuki untuk memulai dungeon tersebut.


Peter yang menggunakan scope dari senapannya, membidik secara perlahan untuk melihat kearah sekitar. Tidak memerlukan waktu yang lama, Peter menemukan sebuah bangunan seperti menara miring berada dijangkauan scopenya.


"Kapten, aku melihat suatu menara diarah jam 2, kalau ku lihat.. itu seperti menara pisa di Itali.."


Sontak membuat para pemburu mengarahkan pandangan mereka ke menara tersebut.


"Ayo kita kesana, seperti yang sudah kukatakan sebelum kita masuk, Dungeon ini memikir konsentrasi yang besar.. saling menjaga satu sama lain, dan untuk para tanker... bekerjalah lebih keras meskipun kaki ataupun tangan mu sampai patah, lindungi damage dealer sebaik mungkin!"


"Siap!" Teriak para tanker yang mengikuti perburuan kali ini.


"Bagaimana dengan mu kapten Rado?" Tanya seorang tank dengan jirah lengkap.


"Aku bisa menjaga diri ku sendiri"


Mereka berjalan menelusuri gurun pasir yang luas untuk menuju menara tersebut, terik matahari membuat pandangan mereka seperti melihat visual bergelombang. Tanpa bertempur mereka sudah terlihat mengeluarkan keringat yang cukup bannyak.


Lucy yang memakai pakaian tempur berbahan kulit memaksa ia harus membuka bagian atasnya dan mengikatnya lengan panjangan itu dipinggulnya serta ia juga mengikat rambut hitam panjangnya kebelakang. Tubuh seksi dan lantunan pedang yang berada dipinggangnya membuat kesan menggoda bagi para pria disana, Sedangkan para pemburu wanita hanya bisa iri akan kecantikan yang dikeluarkan oleh Lucy.


"Hei Pete (Sapaan akrab Bobby ke Peter) Lihat.. Lucy mulai menggoda para pria"


Keindahan tubuh dari Lucy dan terik matahari yang menyengat itu membuat Peter mengeluarkan darah dari hidungnya, "Gawat.. sepertinya aku akan gugur sebelum memasuki menara itu"


"Waa... kapten Peter ingin pingsan!" Bobby berteriak dari belakang dan semua orang mentertawakannya, termasuk Lucy yang segera memeluk tubuhnya sendiri untuk menjaga dari mata genit para pria-pria, Ia terlihat kesal dan sempat berteriak kepada Peter atas tindakan anehnya itu, namun ia segera beralih melirik kearah Rado yang tidak bergeming sedikit pun untuk melihat keindahan tubuhnya.


[Disaat semua pria terpesona, kenapa kapten tidak?] Dalam benaknya Lucy berharap akan sesuatu.


Yoga pun menarik mundur dari candaan yang lain dan memilih untuk mendekat dengan Rado.


"Kau terlihat serius, ada apa?"


"Dungeon kali ini beda, aku merasakan sesuatu" Tanpa menoleh ia tetap memandang lurus kearah menara tersebut"


Yoga yang awalnya berjalan disamping Rado mulai memelankan langkahnya dan menatap Rado dari belakang.


[Baru kali ini aku melihat dia begitu tegang]


Pada akhirnya mereka berada dibibir menara tersebut dan mulai masuk kedalam dengan formasi para tank yang memutari para damage dealer. Rado yang berada ditengah hanya menjadi pengamat saja kali ini. Namun beberapa saat mereka berada ditengah menara tersebut, mereka diserang oleh anjing berwarna hitam seukuran manusia dengan kecepatan yang mereka miliki.


Sontak membuat para tanker memasang kuda-kuda bertahan mereka untuk menahan serangan anjing tersebut, dan dilanjuti oleh serangan balik dari damage dealer. Anjing itu pun berhasil ditumbangkan dan pekerjaan para porter yang ikut pada raid tersebut mulai melakukan tugasnya.


"Hah.. red dungeon ini ternyata sama seperti red dungeon yang lainnya"


Kata salah satu peserta yang ikut, namun Rado hanya tetap diam, [Ada yang aneh di dungeon ini] Dalam benak Rado, ia berkata.


Semakin mereka masuk tekanan aura dari dungeon itu semakin kuat, monster pun juga ikut berubah. Kali ini yang menghadang adalah kumpulan prajurit anubis.


"Yoga.."


Dengan satu panggilan dari mulut Rado sudah membuat Yoga bergerak dengan semestinya. Ia segera mempersiapkan tim yang lain untuk bersiap-siap melawan kumpulan anubis tersebut.


"Aku menarik kata-kata ku yang tadi" Kata pemburu yang meremehkan dungeon tadi.


Para anubis menyerang secara berkomplotan kearah depan yang dijaga oleh beberapa orang tank, disini para tanker mulai kewalahan melawan senjata tombak anubis yang memiliki mata tombak seperti kipas setengah lingkaran yang terbuat dari emas tersebut. Senjata itu memukul pertahanan dari para tanker dari atas. Gagang dari tombak itu berada diatas perisai salah satu tanker, namun tidak sangka kalau itu adalah trik dari mereka untuk meruntuhkan pertahanan para tanker, mereka menarik tombak yang berada diatas perisai agar pada saat tombak itu tertarik kembali, maka kipas yang menjadi mata tombak itu akan menabrak perisai tersebut kearah mereka.


"Apa?!"


Dalam keterkejutan salah satu tanker yang kehilangan perisainya akibat ikut tertarik oleh tombak kipas itu, ia terkena lemparan tombak dibagian dadanya dan terpelanting kebagian belakang, untung saja tubuhnya bisa ditahan oleh Yoga dengan perisai yang tidak jauh dari dirinya, kalau tidak mungkin ia akan terlempar beberapa meter akibat serangan itu.


"Apa dia masih hidup?" Tanya Rado kepada Yoga yang saat ini sedang memeriksa keadaan dari pemburu tersebut.


"Dia langsung mati" Yoga yang memberitahu keadaannya.


Rado segera menatap kembali ke komplotan anubis yang berada didepannya.


"Jangan Gentar, Rapatkan barisan!" Yoga berteriak tegas kepada mereka yang mulai bergetar, "Yoga, ambil posisi yang kosong"


Yoga segera mengisi kekosongan yang ditinggal oleh pemburu tadi, Aura Yoga memang sangat kuat dimana dan membuat para tanker merasa sedikit nyaman. Serangan penarikan perisai tersebut kembali dilancarkan oleh salah satu anubis dan tepat mengarah kepada Yoga, Namun saat tombak itu ditarik, malah kipas itu yang tertahan oleh perisai Yoga dan membuat anubis tersebut merasa kesulitan saat menarik tombaknya. Terlihat tangan dari anubis itu bergetar karena mencoba menarik tombaknya dari ganjalan seperti batu yang kuat.


Tanpa membuang-buang waktu, Yoga menarik sedikit perisainya dan membuat Anubis tadi terjatuh kearah depan.


"Peter!"


Teriakan dari Yoga disambut baik oleh Peter dan ia segera menembakan peluru dari senapannya. Tembakan yang akurat itu tepat mengenai kepala sang anubis dan membuatnya mati seketika. Melihat hal demikian, ekpresi dari pasukan anubis mulai berubah. Mereka yang sejak tadi hanya berdiam diri saling memandang kubu satu sama lain, mulai bentrok layaknya pertempuran dengan banyak orang.


Para anubis mulai berlari kearah mereka dengan tubuh yang tinggi lebih dari 2 meter, Dilain sisi para pemburu mulai berlari untuk mengambil posisi dan menyambut datangnya serangan sambil melewati Rado yang hanya berdiri sambil mengamati jalannya pertarungan. Rado yang tertinggal dibelakang hanya berdiri kokoh dengan tatapan matanya yang tegas, disampingnya hanya ada Lucy dan Peter yang masih menemanisnya dibarisan belakang.


"Peter, lindungi mereka dari serangan titik buta" Kata Rado tanpa menoleh kearahnya.


"Siap kapten!" Peter segera berlari menjijing senapannya untuk melakukan perintah dari Rado.


Lucy yang merasa tidak tau harus bagaimana mulai memegang pedang yang berada dipinggulnya sambil melangkah maju, "Sepertinya aku harus membantu mereka"


"Tidak..Kau temani aku disini"


Mendengar ucapan itu dari Rado, wajah Lucy memerah menatap Rado dan segera beralih menatap kebawah.


"A-ah.. baik"


Pertarungan begitu sengit, Yoga yang terus menabrak kearah depan sambil mengayunkan pedangnya untuk menebas para anubis itu, Bobby yang berada dibelakangnya menoleh kearah Yoga yang terlihat tersesenyum menikmati pertarungan.


"Hah... dasar maniak bertarung!" Bobby tersenyum melihat gairah dari Yoga.


Ia yang sedang dikerumunan para Close Range selain tanker, menjadi perisai bagi mereka. Ia menghalau serangan para anubis sekaligus yang datang kepadanya dengan perisai besar yang ia miliki. Peter pun mengambil posisi yang lebih tinggi di ruang itu sambil membidik para anubis yang mencoba untuk menyerang para pemburu dari titik buta mereka, suara tembakannya dibarengi dengan percikan api yang menyala keluar dari senapan miliknya.


"Ups 8, 9, 10" Ia menghitungi para anubis yang sudah berhasil ia bunuh dengan tembakannya.


Ada satu anubis yang berhasil melewati kerumunan para pemburu dan berlari langsung kearah Rado. Ia segera menaikan lengannya untuk bersiap menyerang Rado dengan tombak kipas itu, namun saat jarak mereka sudah dekat, tubuh dari anubis itu terbelah dibagian pinggang karena tebasan dari Lucy menggunakan katananya.


"Maaf Kapten, sepertinya ada yang terlewat" Lucy yang memasukan katananya kembali kesarungnya terlihat menawan.


Rado hanya menutup matanya dan tanpa disangka pertarungan telah usai dengan kemenangan para pemburu. Mereka mulai berkumpul kembali kepada Rado untuk menerima perintah selanjutnya. Dalam penyerbuan melawan prajurit anubis hanya terdapat 1 korban dan sisanya mengalami luka cukup parah yang tidak bisa disembuhkan oleh potion saja, mereka harus menunggu disana sampai dungeon selesai.


Mereka yang masih bisa bertarung segera melanjutkan perjalanan menuju ruangan terdalam. Kali ini Rado tidak banyak bertarung karena suatu hal, entah firasat apa yang ia rasakan tetapi instingnya mengatakan kalau ia harus menyimpan forcenya untuk nanti.


Perjalanan mulai terasa berat karena aura yang dipancarkan oleh salah ruangan terdalam, itu adalah ruang bos. Ruangan itu seperti ruangan yang terkutuk dengan tulisan-tulisan kuno yang mengelilingi tembok-tembok samping pintu tersebut.


Mereka mulai masuk, ruangan itu sungguh gelap sampai suatu ketika. Api biru mulai menyala menerangi ruangan tersebut, Seekor anubis besar berwajah anjing dengan kuping panjang keatas dan tanduk berletter L serta berekor panjang dengan sebuah cincin emas membuka matanya dan mulai berjalan kearah mereka. Setiap langkahnya menyebabkan suara seperti dentuman dari drum, para pemburu harus mendongak untuk melihat dirinya yang berjalan perlahan kearahnya.


Bos tersebut berteriak dengan air liur yang keluar dari mulut dengan gigi bertaringnya, teriakan itu juga mengeluarkan hembusan angin disertai getaran yang hebat bagi ruangan tersebut. Para pemburu terlihat sedikit mundur kearah Rado. Yoga dan para sub Kapten yang lain pun juga hanya bisa mendongak melihat kebesarannya.


"Hei... apa kalian takut?"


Rado yang mendongak mengatakan itu dengan nada santai. Sontak membuat mereka semua melihat kearahnya.


"Aku ada disini bersama kalian"


Mendengar itu membuat mereka seperti diberikan suatu kenyaman dalam bertempur, Mereka baru ingat kalau ada orang kuat disamping mereka. memang jatuhnya korban tadi merupakan kesalahan Rado yang belum bergairah dalam bertempur, ia juga berencana untuk bertanggung jawab nanti setelah keluar.


"Atur formasi, kita akan mengalahkannya dan segera keluar!"


Teriakan dari para pemburu membuat ruangan tersebut menjadi lebih panas.