
Didalam kamar hotel negara Amerika Serikat, Rado terbangun diatas kasur dengan sprei putih dan ditutupi selimut. Ia membuka matanya perlahan dan terdiam sebentar menatap langit - langit kamar tersebut. Perasaannya sekarang ini sudah lebih baik dari sebelumnya. Dukungan dari Julie membuatnya terlpeas dari belenggu yang menghampirinya saat - saat terakhir.
Ia menjadi lebih baik dan seperti bisa melakukan apa saja setelah ini, Rado sedikit malu dengan kejadian semalam yang ia lakukan terhadap Julie.
"Ah.. kenapa aku harus melakukan itu? Itu sungguh memalukan... tapi.."
Rado tersenyum dan menutup matanya kembali lalu mencoba untuk mengubah posisi tidurnya kearah samping.
"Ah... Heh?!"
Dia terkejut melihat Julie yang sudah tertidur disamping dengan wajah cantik dan rambut yang terurai diatas bantal. Rado pun perlahan membalikan tubuhnya dan segera turun dari kasur tersebut.
"Apa yang terjadi malam itu?! Tidak ada yang aneh - aneh bukan?" Rado memegang dahinya mengingat apa yang terjadi malam itu.
Ia mencoba untuk mengingat dengan keras apa yang ia lakukan dengan Julie malam itu, tetapi sekeras apapun ia berpikir tetap saja ia tidak mengingat apapun. Disaat ia sedang mengingat, kasur itu bergoyang akibat Julie yang terbangun dan mengusap matanya yang masih sayu.
"Selamat pagi.." Sapa Julie kepada Rado.
Rado yang terkejut segera menoleh kearahnya. Seperti biasa, dalam hal selain menyangkut keluarga Rado mampu menyembunyikan perasaan yang sedang melandanya itu. Ia menatap Julie seperti layaknya tidak terjadi apa - apa dan tersenyum seperti biasanya meskipun hati nya sedang kacau karena ia bingung dengan kejadian apa yang ada dikamar ini.
"Selamat pagi Julie.." Dengan lembut ia membalas sapaan Julie.
Julie pun terbangun dari tidurnya dan beranjak dari kasur masih dengan pakaian tempurnya. Ia mencoba untuk meraih gelas yang ada pada meja di sudut ruangan dan menuangkan segelas air kedalamnya. Dehidrasi akibat tidur itu berhasil disembuhkan dengan meminum segelas air yang berada digenggamannya sekarang. Rado yang melihat Julie sedang berdiri dihadapannya begitu terkesima dengan kecantikannya.
"Julie apa yang terjadi malam itu?" Tanya Rado penasaran.
Julie menghentikan minumnya lalu menoleh kearah Rado.
"Setelah kau membenamkan diri dalam pelukan ku, kau tertidur begitu saja.." Katanya tanpa beban.
"Ah.. Lalu apa yang kau lakukan dengan tidur disebelah ku?" Rado dengan lugas.
Mendengar itu, Julie segera memerah dan memalingkan pandangannya karena merasa malu dengan pertanyaan itu.
"I-itu aku...Ahh.... aku juga ketiduran karena aku mengantuk, ya - ya itu benar aku ketiduran.. aku tidak berbohong" Dengan panik ia menjawab pertanyaan Rado.
"Begitu.." Rado segera beranjak dari kasur itu dan segera meninggalkan Julie didalam kamar itu. Ia menutup pintu tersebut dengan pelan dan mengambil langkah cepat dari kamar tersebut menuju lobby hotel.
"Hahhhh...... Aku malu sekali, kenapa aku berdebar - debar?! Hampir saja aku pingsan karena itu. Seumur hidup ku, aku baru merasakan seperti itu.." Dalam benaknya ia sebenarnya merasa panik karena belum pernah merasakan apa itu sebuah keromantisan ataupun cinta dari lawan jenis.
"Tapi..." Rado tersenyum setelah mengingat sikap Julie yang lucu tadi. "Dia cukup manis.."
Di Lobby sudah banyak berkumpulnya para pemburu yang sedang melakukan pesta kecil - kecilan setelah berhasil menyelesaikan raid yang hampir mengguncangkan dunia. Saat Rado hadir dalam kemeriahan tersebut, mereka semua terdiam dan menatap Rado. Rado hanya tersenyum karena ia mengerti dengan keadaan yang terlihat canggung karena kehadirannya yang tiba begitu saja.
"Kenapa kalian berhenti? Tuangkan aku segelas mari kita rayakan.." Rado mencoba untuk mencairkan ketegangan itu.
Setelah mendengar perkataan yang bersahabat dari Rado membuat mereka kembali meriah dan tertawa riang. Disaat bersamaan Jaquile menghampiri Rado membawa segelas bir kepasanya.
"Apa ini tidak terlalu pagi untuk meminum bir?" Tanya Rado saat menerima tawaran itu.
"Tak apa.... kami sudah terbiasa dengan ini hahahaha" Jawab Jaquile dengan wajah sedikit mabuk.
"Sudah berapa lama kalian seperti ini?"
"Hmm aku lupa hahahahaha" Jaquile tertawa lepas.
Rado pun melihat kearah pemburu yang jumlahnya lebih banyak daripada sebelumnya. Mereka adalah pemburu yang saat itu juga menuju ke Amerika namun dengan pesawat yang berbeda dangan Rado.
"Kapan mereka tiba?" Tanya Rado kepada Jaquile.
"Hmmm kurang lebih dua jam yang lalu" Jaquile yang baru saja menyelesaikan tegukannya itu menjawab pertanya Rado.
"Lalu dimana Yoga?" Tanya Rado karena tidak menemukan Yoga disana.
"Dia dan yang lainnya sedang berjaga didepan untuk tidak membiarkan para wartawan masuk" Jawab Jaquile.
Rado mengingat kembali kejadian dimana Yoga menunjukan sebuah ekspresi dan sikap yang selama ini tidak pernah ia tunjukan padanya. Itu cukup membuat Rado sedikit terkejut karena baru pertama kalinya ia melihat Yoga seperti itu. Selama ini Rado mengira kalau Yoga adalah orang yang kuat dan tidak akan terpengaruh oleh urusan pribadi, nyatanya malam itu membuat Rado mengetahui sisi dibalik Yoga selama ini.
"Mungkin aku harus minta maaf secara langsung padanya" Dalam benak Rado menatap kedepan.
"Hmm bagaimana malam mu dengan wanita berambut pirang itu? Apa dia memuaskan mu?" Tanya Jaquile dengan santainya.
"Apa kau ingin mati?" Sinis Rado menatap Jaquile.
"Hihh!!! Aku hanya bercanda Kapten..!" Jaquile sedikit panik dan menjadi formal seketika.
Rado berjalan keluar hotel untuk melihat Yoga yang sedang bertugas disana. Terik dari matahari membuatnya merasa silau, tangan kanan yang secara reflek menutupi pandangannya sedikit membantu untuk melihat dalam kesilauan itu. Didepannya sekarang ini sudah banyak sekali para wartawan yang mencoba untuk masuk ke area hotel itu demi bisa mewawancarai Rado dan orang - orang penting lainnya.
Didepannya terlihat Yoga, Lucy Cs dan para pemburu yang lain sedang memblokade kerumunan wartawan itu dengan tubuh mereka.
"Tuan Yoga bagaimana perasaan anda setelah berhasil menaklukan black dungeon?!"
"Kau sungguh heroik pada saat itu, sekarang ini anda juga menjadi sebuah bibir disamping pemberitaan tentang Rado Gravriel.."
Tolong berikan tanggapan anda tuan.."
Para wartawan terlihat menghujani Yoga dengan banyak pertanyaan, namun Yoga tidak menjawabnya karena baginya sekarang ini pertanyaan itu tidak penting.
"Ahh... maaf jangan dorong - dorongngan, biarkan kami istirahat untuk sementara.." Kata Lucy mencoba untuk menenangkan para wartawan.
Namun permintaan dari Lucy tidak di gubris oleh para wartawan, malah membuat mereka semakin menjadi. Rado yang tidak tahan dengan itu segera datang menghampiri mereka disela - sela Yoga dan Lucy. Melihat Rado yang muncul secara tiba - tiba itu membuat para wartawan terdiam dan lebih kondusif daripada sebelumnya. hal ini menunjukan kalau Rado memiliki sebuah keberadaan dan aura yang dapat membungkam orang awam sekali pun.
"Tu-tuan Rado.. Bagaimana tanggapan anda mengenai keberhasilan anda?" Tanya salah satu wartawa yang mencoba bertanya.
Rado tersenyum karena ini mencairkan suasana sekali lagi, ia tidak ingin kalau momok dirinya menjadi seorang yang sangat ditakuti oleh orang - orang.
"Kami sangat senang dengan keberhasilan yang kami capai..dan tentunya ini semua demi mencapai dunia yang damai"
Mendengar respon yang baik dari Rado, barulah membuat para wartawan yang lain menghujaninya dengan berbagai macam pertanyaan, sedangkan Yoga yang berada dibelakangnya masih menatap Rado dengan tatapan serius. Rado terus menanggapi pertanyaan - pertanyaan itu dengan senyuman yang tidak terlepas sedikit pun dari wajahnya.
Setelah ia merasa cukup dengan pertanyaan itu semua, Rado segera menyelesaikan sesi tanya jawab tersebut dan beranjak pergi dari sana meskipun para wartawan masih ingin menanyakan banyak hal kepadanya. Yoga dengan cepat mengikuti dirinya berjalan menuju hotel kembali, perlakuannya itu sudah tertanam dari dirinya dan sudah mulai mendarah daging. Baginya, berjalan bersanding bersama Rado sudah menjadi suatu keharusan, meskipun saat ini ada kecanggungan diantara mereka.
"Maafkan aku soal kemarin.." Kata Rado tanpa menoleh.
Yoga sedikit terkejut dengan pernyataan yang tiba - tiba itu, ia menatap kearah Rado dengan mimik wajah heran berujung senyuman tipis.
"Maafkan aku juga mengenai itu.. aku terbawa emosi, harusnya aku tidak seperti itu kepada mu.." Jawab Yoga dengan penyesalan.
"Wen Li itu adalah orang yang penuh dedikasi, sekarang ini aku cukup menyesal karena tidak menariknya kedalam regu kita.." Sesal Rado karena tidak mengajaknya dalam penundukan keluarga Alavonte.
"Mungkin itu sudah takdirnya.." Jawab Yoga dengan hati yang tabah.
"Bagaimana dengan mereka?" Maksud Rado mengenai pemburu dari PPMD.
"Apa aku salah?" Tanya Rado.
"Kalau kau yang melakukan, itu tidaklah salah.." Yoga tersenyum sambil menutup matanya.
Rado yang melihat Yoga tersenyum, jadi ikut tersenyum karena orang yang sudah ia anggap sebagai tangan kanannya ini seperti mulai kembali seperti semula. Setelah mereka sampai didalam lobby hotel kembali, suasana didalam sana berubah drastis dengan kehadiran beberapa orang yang tidak kenal. Mereka saat ini sedang berdiri bersama Devian menunggu Rado yang baru saja datang kembali.
"Rado.." Panggil Yoga.
Rado hanya menatap mereka dengan tatapan tajam lalu berjalan menghampiri. Disaat bersamaan, para pemburu yang lain mulai keluar dari kamar mereka dan mulai mengerubungin lobby.
"Apa anda Rado Gavriel?" Tanya salah satu orang berjas tersebut.
"Ya.. aku Rado Gavriel.." Jawab Rado.
"Kau telah ditetapkan sebagai tersangka atas terbunuhnya Kuhler Vorham kemarin.. PPMD akan menjatuhkan hukuman mati kepada mu" Senyum dari orang berjas itu setelah menjatuhkan vonis kepada Rado.
Rado yang awalnya terlihat santai segera bergerak cepat kearahnya lalu mencekik orang tersebut. Para pemburu dan orang - orang yang datang bersamanya terkejut dengan perlakuan Rado yang secara spontan itu. Devian yang berada didekatnya mencoba untuk melerai namaun dihalangi oleh Yoga dan ia pun memberikan isyarat kepada Devian untuk tetap diam tidak mengganggu kaptennya itu.
"Hooo... Apa PPMD berani melakukan itu?" Senyum Rado sambil mencengkram leher orang tersebut.
"Kh..khh Lepaskan! Apa kau berani membunuh seorang utusan?" Ancam orang tersebut dengan wajah panik.
"Kau ingin mencobanya?" Tantang Rado yang semakin mencengkram lehernya semakin kencang.
"Kh..khhh" Orang itu semakin sulit bernafas, sesaat sebelum bola matanya memutih ia menyerah.
"Maaf kan aku tolong! Aku hanya sebagai utusan! Jangan bunuh aku!" Pintanya dengan ringisan.
Rado yang muak dengan ringisan dari orang yang lemah segera melepaskannya dengan kasar.
"Pergi lah.. atau kalian akan ku bunuh semua.." Peringatan dari Rado saat ia beranjak meninggalkan mereka.
Kejadian saat itu sangat tegang dengan kejadian tersebut. Rado berancana untuk segera kembali ke kamar tidurnya diikuti oleh Yoga dan Jaquile sebagai pengawal.
"Rado.. bagaimana?" Tanya Jaquile.
"Kau sudah tau jawaban apa yang akan ku perintahkan bila itu terjadi.." Rado tersenyum didepan mereka.
"Kita habisi?" Tanya Jaquile.
"Yah.. seperti itu.." Rado dengan percaya dirinya tersenyum.
________________________________________
Didalam ruangan kerjanya terlihat Vasco sedang duduk menunggu sesuatu, beberapa saat kemudian Steven mengetuk pintu ruangan tersebut sebagai tanda untuk masuk. Tanpa menunggu persetujuan dari Vasco, Steven segera masuk kedalam dan menghampiri Vasco.
"Tuan.. mereka sudah datang.."
Dibelakang Steven yang sedang melapor kepada Vasco, ada beberapa suara langkah kaki mendekat.
"Hmmm kau ini.. Kalau apa yang kau tawarkan tidak menghibur kami, aku akan menutup negara ini.." Kata Baldrik yang datang bersama Diwei dan juga Richard.
"Hoohh... ancaman yang sangat menakutkan.." Kata Vasco tersenyum lalu berdiri menyambut mereka.
"Kau bilang, kau memiliki suatu kartu as untuk menghancurkan pemuda itu..?" Tanya Diwei dengan nada yang menodong.
"Yah.. aku memiliki kartu as itu untuk membunuhnya..." Jawab Vasco dengan senyuman.
"Hahahahaha Aku tidak sabar untuk bisa membunuhnya.." Kata Baldrik senang mendengar itu.
Tanpa berbasa basi Vasco dan Steven mengantar mereka bertiga untuk melihat kartu as tersebut. Kartu yang dibicarakan oleh mereka adalah Nara yang sedang disekap oleh mereka.
"Seorang perempuan?!" Baldrik terkejut setelah melihat Nara yang sedang berada di atas kasur.
"Mau apa kalian?!" Tanya Nara defensive.
"Gadis seperti ini yang menjadi kelemahannya?! Siapa dia?" Tanya Diwei kepada Vasco.
"Dia adalah putri dari salah satu orang penting di negara kami, dan dia mengenal Rado sejak lama, menurut tim menyelidik kami, mereka sudah terlihat dekat sejak dibangku kuliah.." Jelas Vasco dengan senyuman puas.
"Hahahaha kau sungguh jahat sekali menggunakan umpan hidup ini.." Baldrik mencoba mendekat kearah Nara.
Saat itu Melly yang sedang menunggu dibelakang mereka terlihat gelisah dengan apa yang akan dilakukan oleh Baldrik, dirinya terlihat gelisah ketika Nara akan didekati oleh Baldrik. Ada rasa ingin menghentikannya namun itu bukanlah hal yang mudah. Steven hanya melirik kearah Melly yang sedang bertingkah aneh. Ketika mata mereka bertemu, Steven hanya menggeleng mengisyaratkan untuk tidak melakukan apa yang hatinya katakan.
Baldrik semakin mendekat dan segera naik keatas ranjang tersebut.
"Mau apa kau?!" Tanya Nara sekali lagi.
Ia mulai ketakutan ketika Baldrik mulai mendekat lebih jauh. Tanpa disadari Nara, tubuhnya bergerak mundur untuk menjaga dirinya bila sesuatu terjadi. Ia terus mundur hingga ketepi ranjang yang berujung buntu, ia sudah tidak bisa mundur lebih jauh lagi karena dinding yang menahannya. Baldrik semakin dekat, semakin dekat sampai kedekat wajah Nara yang sedang ketakutan.
"Mau apa Kau?!" Tanya Nara sekali lagi dengan rasa takut yang mendalam.
"Aku hanya ingin melihat wajah mu lebih dekat!" Spontan Bladrik memegang dagu Nara dengan kasar dan mendongak kepala Nara agar melihat kearah wajahnya yang sedang tersenyum jahat.
Nara sangat ketakutan sampai mengeluarkan air matanya.
"Dasar perempuan Ja*lang!" Dengan kesal Baldrik menampar pipi Nara dengan keras.
Sontak membuat Melly ingin menolongnya namun ia ditahan oleh Steven yang merentangkan tangannya untuk menghentikan Melly. Vasco hanya melirik saja kearah Melly yang mulai ingin melakukan sesuatu yang tidak perlu. Baldrik yang terbawa emosi terus - terusan menampar Nara hingga pipinya terlilah merah dan darah yang keluar dari bibirnya.
"Gara - gara kekasih mu, anak ku mati! Kep*arat!" Ia melanjutkan kekerasan itu berkali - kali.
Nara yang semulanya mencoba untuk menahan tamparan itu, pada akhirnya terkulai lemas dan tidak mampu menahan tamparan itu lagi hingga ia pingsan disana. Setelah mengetahui Nara pingsan Baldrik berdiri dan membenarkan jasnya yang lecak karena terlalu bersemangat menampar Nara.
"Rekam itu dan biarkan bocah kep*arat itu tau!" Kata Baldrik dengan emosi yang tersisa.
Akhirnya mereka meninggalkan ruangan itu mengikuti Baldrik tanpa ada rasa penyelasan yang sudah ia perbuat, hanya Steven saja yang masih memiliki simpati terhadap tindakan itu. Ia terlihat terkejut dan sedikit cemas dengan kondisi Nara yang sudah babak belur tersebut. Spontan Melly segera berlari dan menghampiri nara yang sudah terkulai lemas itu.
"Nara! Nara! Sadar lah!"
Panggil Melly dengan kecemasan yang amat besar, namun Nara sudah tidak kuat membuka matanya. Steven pun segera berbalik dari kemirisan itu dan berniat untuk meninggalkan mereka disana.
"Apa kau merasa kalau ini sudah keterlaluan?" Tanya Melly kepada Steven.
Steven hanya diam saja membelakangi mereka sesaat, lalu melangkah pergi.
Disisi lain Baldrik yang berada didepan orang - orang penting itu terlihat masih memendam kesal.
"Aku ingin bocah itu dibawa hidup - hidup agar aku bisa menyiksanya dan siapa saja yang memiliki hubungan dengannya, juga akan dihukum berat, camkan itu!" Baldrik memberi perintah kepada mereka semua.
"Jangan harap kau bisa hidup dengan tenang setelah membunuh anak ku kep*rat!" Dalam benak Baldrik yang penuh dendam.