
Sesaat setelah Rado meninggalkan ruangannya bersama Yoga untuk menuju portal di ibukota De Hoorn, Rado mengajak kapten divisi baru, yaitu Kirisaki beserta pasukannya yang berisi mantan anggota Rudy dan Julie beserta pasukan wanitanya untuk menuju benteng pos 3 bagian barat wilayah manusia. Seluruh prajurit yang mengikutinya tidak tahu menahu tujuan dari Rado mengajak mereka ke pos tersebut, sedangkan kapten divisi satu seperti Jason, Rudy dan Nagatomo saat ini telah menerima misi bersama Jaquile dan Albert untuk membantu ras elf menghadapi ras dwarf.
Setelah runtuhnya pos 3 bagian barat milik manusia, masyarakat De Hoorn dibuat gelisah dengan teror ras dwarf yang baru - baru ini membuat sebuah pergerakan yang mengejutkan, dimana ras dwarf yang dikenal sebagai ras pasif dan hanya bergerak dalam perebutan holy essence saja, saat ini menunjukan taringnya. Beberapa pemilik kekuatan dan kepala militer di ibukota saling mengejek Rado atas ketidakmampuannya dalam mempertahankan pos 3 bagian barat.
Mereka mulai membenci Rado karena kebijakannya yang menghapus kesenjangan sosial dan ingin mengubahnya menjadi dengan sebuah kesetaraan sosial. Perubahan yang diberlakukan Rado memang akan mengundang sebuah pro dan kontra dimana pemangku kekuasaan yang sudah nyaman berada diatas dan menindas yang bawah pasti akan menolaknya.
Dalam sebuah ruangan mewah dengan sebuah bir yang ditaruh pada sebuah ember besi dan berisi es batu.
"Hah... Apa yang di lakukan pemimpin kita yang baru itu?! Pos 3 bagian barat merupakan pos yang vital bagi kita! Apa yang dipikirkan tuan Albert memberikan posisinya begitu saja kepada orang asing itu?!" Kata Nimus
"Tuan Nimus benar... Juga terlebih lagi aku juga harus mengalami kerugian karena harus memberi upah kepada buruh sesuai dengan standar gaji yang baru..." Kata salah satu pria berambut coklat, bertubuh kurus dan memiliki kumis lurus dengan pakaian yang mewah.
"Seharusnya kekuatan luhur jatuh ditangan kita.. Bukan orang asing yang ntah datang darimana..." Kata pria berambut kuning bertubuh gemuk dengan pakaian mewah dan memiliki wajah penuh lemak.
"Kita tunggu saja nanti... Apa yang akan ia lakukan dengan kerusuhan dan keresahan masyarakat terhadap dirinya.." Kata Pria bertubuh kekar berkulit sawo matang berbibir tebal memakai pakaian militer lama berwatna hitam.
"Ahh... Memang seharusnya tuan Greg lah yang harus memimpin ras kita dibandingkan pemimpin yang lain.." Puji Nimus.
"Kau benar... Kalau tuan Greg yang memimpin pasti kita akan hidup tentram.. Lagipula sudah banyak teman - teman kita yang protes atas kebijakan barunya" Puji pria kaya berambut kuning.
"Hahahahaha.. Kita tunggu saja waktunya.. Aku yakin Rado itu akan jatuh kejurangnya sendiri karena kenaifannya.." Senyum Greg sambil meminum birnya.
Kembali kepada Rado yang sudah berada didepan portal teleportasi ibukota. Ia tersenyum menatap portal tersebut dan segera memasukan nomor koordinat letak portal tersebut. Portal pun terbuka dan Rado segera memasukinya tanpa mengatakan apapun pada bawahannya. Para bawahan yang mengikutinya pun juga dipenuhi tanda tanya mengenai kepergian mereka ke pos tersebut.
Setelah mereka sudah berpindah disana, terlihat banyak prajurit dan pekerja teknisi sedang membangun portal yang baru. Rado dan yang lainnya menggunakan media portal sementara yang telah dipasang oleh Riko semenjak ia berada disana.
"Tuan Rado..." Sapa Hawl yang berada disana.
Rado tersenyum mengangguk. "Dimana Riko?" Tanya Rado.
"Dia ada disana.." Tunjuk Hawl menunjuk Riko yang sedang memakai sesuatu dimatanya dan memegang sebuah remot kontrol.
Rado yang sudah melihat Riko segera menghampirinya. Yoga yang terdiam karena dipenuhi tanda tanya mendekati Hawl dan bertanya kepadanya.
"Apa yang dilakukan Rado?" Tanya Yoga.
"Aku tidak tau tuan.. Tetapi sepertinya Riko mengetahuinya" Jawab Hawl.
"Riko?" Tanya heran Yoga.
"Yah.. Akhir - akhir ini Riko sering menghubungi tuan Rado mengenai penemuannya yang aneh... Mungkin itu ada kaitannya dengan sekarang.." Jelas Hawl.
Yoga yang mendengar itu menatap kearah keakraban dari kedua orang tersebut. Ia sedikit cemburu karena Rado lebih memilih berbagi informasi kepada Riko dibanding kepadanya.
"Riko... Bagaimana uji coba alat yang ku minta?" Tanya Rado mendekat.
Riko segera membuka kacamata yang dipenuhi dengan antena tersebut dan segera tersenyum kepada Rado.
"Ah.. Tuan Rado! Alat yang anda sebut Drone ini sangat berguna disaat - saat seperti ini... Terimakasih sudah mengizinkan ku untuk memakai dan menguji coba alat ini pada penelusuran lubang tikus ini" Senyum Riko yang sedang terduduk didepan lubang yang telah di buat oleh Leeth.
Rado tersenyum mendengar Riko merasa terbantu dengan alat yang sempat ia minta kepadanya. Drone itu Rado pinta kepada Riko dipergunakan untuk melakukan pengintaian musuh dalam diam. Karena ukurannya yang cukup kecil, drone darat itu bisa mengumpat diantara semak - semak ataupun ditempat sempit sekalipun. Dengan dibekali kamera yang terhubung langsung pada layar kacamata yang disekarang sedang digunakan oleh Riko, membuat informasi mengenai keberadaan musuh dapat digali secara langsung.
"Apa kau sudah menguasainya?" Tanya Rado.
"Yah.. Aku sudah mulai terbiasa mengendalikannya dengan konsep kontrol yang anda berikan..." Jawab Riko sambil kembali menjalankan drone tersebut didalam lubang.
"Bagus.. Apa yang sudah kau temukan?" Tanya Rado mengenai temuan yang sudah ditemukan Riko menggunakan Drone tersebut.
"Untuk saat ini aku masih terus menelusuri lubang ini, lubang ini ternyata cukup jauh dan aku masih belum menemukan ujungnya.." Kata Riko sambil melihat penglihatan kemera yang tertanam di drone tersebut.
Selain kacamata yang terhubung dengan kamera drone, Riko juga membuat suatu alat hologram yang dipergunakan untuk memetakan dan melacak drone tersebut setiap perjalanannya. Hologram itu juga ditampilkan pada kacamata Riko yang memiliki lensa lebar.
Beberapa saat ia menelusuri lubang tersebut menggunakan drone, Riko sedikit terkejut setelah drone tersebut menemukan akhir dari lubang tersebut.
"Tuan!" Panggil Riko dengan tiba - tiba.
"Apa kau menemukan sesuatu?" Tanya Rado.
"Ya... Beri aku waktu sebentar.." Pinta Riko.
Riko pun menggerakan Drone tersebut untuk keluar dari lubang itu dan mencari sesuatu diarea tersebut. Drone itu bergerak dengan senyap dibalik semak - semak yang ada pada hutan tersebut. Kamera pada drone itu terus menerus melacak keberadaan makhluk hidup disekitar ia berjalan. Pada akhirnya, jari Riko yang sejak tadi menggerakan tombol kontroler terdiam dan mengubah letak jarinya pada tombol yang memfokuskan kamera drone.
Drone tersebut ternyata menangkap aktifitas Barge dan beberapa bawahannya sedang mengawasi sesuatu didalam hutan tersebut dan Riko segera memberitahu hal itu kepada Rado.
"Tuan! Ada sekelompok dwarf berada disana! Sepertinya mereka yang bertanggung jawab mengenai penyerang pos 3!" Lapor Riko.
Riko yang melapor dengan suara keras membuat para prajurit terkejut karena mendengar aporan mengenai adanya dwarf dihutan tersebut.
"Dimana letak dwarf itu!?" Sambar Kirisaki dengan cepat dan wajah yang penuh dendam.
Rado pun menoleh kearahnya dengan wajah datar dan itu membuat Kirisaki merasa tidak enak karena melakukan hal yang tidak sopan baginya.
"Maafkan aku.." Kata Kirisaki meminta maaf.
Rado tersenyum kepada Kirisaki atas tingkahnya yang ingin membalas dendam atas kematian para prajurit yang menjaga pos ini.
"Aku senang dengan semangat mu.. ku harap kau bisa menjaga bawahan mu saat kita akan menyerang mereka.." Kata Rado tersenyum.
Kirisaki yang mendapat amanah tersebut terpukau dan tersenyum percaya diri.
"Baik!" Senangnya yang tertutup oleh wajah penuh keseriusan.
Rado juga menyempatkan diri untuk melihat mantan anggota party pertamanya. Wajah yang dulunya selalu tersenyum kepada dirinya, sekarang ini menunjukan wajah penuh dedikasi antara prajurit dan pimpinan. Ada rasa kangen yang terbendung dalam diri Rado atas kehangatan yang telah hilang. Semenjak ia berada didunia ini, Rado sudah mengutuk Achilles dan para demigod selaku dewa yang berada di dunia ini karena telah merengut ingatan dari orang - orang terdekatnya.
"Tuan Rado! Mereka tepat berada di hutan arah Utara benteng ini.. Mereka berjumlah..."
Sebelum Riko menyelsaikan laporannya, Rado segera melesat dengan kecepatan paling maksimal yang ia miliki. Berkat hentakan kakinya yang kuat, membuat dirinya seperti terbang diudara. Para prajurit dan Yoga yang saat itu sedang berada didekatnya dibuat terkejut karena hentakan Rado yang dahsyat yang mana membuat dirinya hilang dari pandangan mereka begitu saja.
"Tuan?!" Wajah terkejut Riko melihat tempat Rado berdiri tadi.
Serentak mereka semua menoleh kearah gerbang utama yang masih hancur karena Rado keluar melewati gerbang tersebut.
"Kalian! Ayo Ikuti tuan Rado!" Perintah Yoga sambil mengusungkan pedangnya kearah gerbang tersebut.
Para prajurit segera berlari meninggalkan pos tersebut, Yoga yang memimpin seluruh pasukan menggantikan Rado yang terlebih dahulu pergi menuju titik yang diberitahu oleh Riko, dibuat heran dengan perilaku Rado yang begitu spontan.
"Apa yang dia pikirkan sampai meninggalkan kita?!" Tanya Yoga dalam benaknya.
Saat ini Rado terus melesat dengan cepat menuju hutan yang berada diseberang benteng pos 3. Tanpa ekspresi apapun ia terus berlari membelah angin. Dalam hitungan menit ia pun sudah sampai di bibir hutan dan segera menerjang masuk mencari Barge dan pasukannya. Didetik - detik datangnya Rado, Barge dan pasukannya sedang terduduk memakan bekal yang dibungkus oleh daun kering.
Mereka saling duduk melingkar dan saling berbincang mengenai pergerakan dwarf yang didasari oleh keinginan Folk untuk menulis cerita. Salah satu dwarf yang memakai helm besi, baru saja ingin menggigit daging kering yang bsaat ini berada digenggamannya, harus dibuat tertunda untuk menikmati daging tersebut karena Rado segera memutus kepala dari tubuhnya.
Barge yang berada diseberangnya terkejut dengan kematian salah satu dwarf karena darah dari dwarf tersebut hingga mengenai wajahnya. Dalam keterkejutannya itu, hal yang sama juga juga terjadi pada para dwarf yang lain. Kepala mereka terpotong dengan rapih secara bersamaan dan diwaktu yang sama. Barge semakin terkejut dengan kematian bawahannya tanpa sebab, sampai akhirnya ia merasa merinding karena ada sosok dengan aura yang kuat berada didebelakannya dengan tatapan tajam berwarna ungu bertubuh gelap.
Barge menoleh perlahan untuk melihat sosok yang berada dibelakangnya ini. Saat ia melihat sosok Rado yang marah, wajahnya berubah sangat pucat.
"Tuan Folk.. Berhati - hatilah...!" Teriak Barge sebelum kepalanya terpisah dari tubuh.
Beberapa waktu kemudian setelah Rado selesai menghabisi seluruh kelompk Barge, regu prajurit yang dipimpin oleh Yoga dari benteng pos 3 pun datang.
"Rado!" Panggil Yoga saat pertama kali sampai dan melihat Rado sedang terduduk memakan daging hasil bakaran para dwarf tersebut.
Disekelilingnya sudah banyak mayat dwarf yang terpenggal dengan rapih dan membuat seluruh pasukan bergidik. Tetapi tidak dengan Riko, saat ia sampai disana wajahnya sudah pucat terlebih dahulu karena ia melihat proses Rado memenggal mereka dalam sekejap melalui kamera dron tersebut.
Rado pun berdiri dari duduknya dan melempat seikat daging yang sudah matang kearah Yoga dengan santai.
"Makan lah..." Kata Rado mendekat tersenyum.
Yoga pun menangkap daging tersebut dengan perasaan aneh.
"Apa ini daging dwarf? Sejak kapan dia jadi kanibal?" Toleh Yoga kearah Rado dengan tatapan aneh.
Rado yang tersenyum mendekat kepada Riko yang tiba - tiba menunduk ketakutan saat didekatinya. Rado yang mengetahui kalau Riko menyaksikannya membantai para Dwarf, segera mencairkan suasana hatinya dengan memberikan sebuah alat yang tidak ia ketahui kepada Riko.
"Ini sepertinya alat untuk membuka portal di ras mereka... Kau tau kan apa yang harus kau lakukan?" Bisik Rado menggoda Riko yang sedang ketakutan.
"Dan... Hapus adegan yang terekam di drone itu bila kau ingin tidur dengan nyenyak.." Goda Rado kepada Riko, lalu pergi meninggalkannya.
Riko menelar air liurnya setelah mendengar Rado berbicara demikian, ia segera mengeluarkan alat detektor untuk mendeteksi keberadaan alat portal milik ras lain. Alat itu biasa digunakan untuk menemukan portal para ras lain yang tertanam agar dapat dihancurkan dan memblokir teleportasi mereka. Scanner itu menyala dan berfungsi dengan baik, sonar yang dihasilkan dari antena kecil pada alat itu mengirimkan suatu gelombang ke setiap radius 100 meter untuk dikirim kembali ke alat yang sedang digunakan oleh Riko.
Beberapa saat menunggu, layar pada alat tersebut menunjukan sebuah titik benda asing didepan sana. Riko segera memberitahu hal tersebut kepada Rado dan tanpa menunggu lama Rado segera menuju ketempat yang diberitahu oleh Riko.
"Tuan.. Bagaimana kalau kita berteleport ketempat yang berbahaya.. Contohnya seperti berteleport langsung ke markas mereka?!" Ragu Riko.
Rado tersenyum mendengar himbauan kekhawatiran dari RIko.
"Apa kau siap?" Tanya Rado beralih kepada Yoga yang saat itu dibelakangnya.
"Kau dengar? Jenderal berakata siap... Dan kau juga harus bersiap.." Senyum Rado kepada Riko.
Setelah itu Rado menoleh kearah Julie dan tersenyum kepadanya. Senyumannya itu membuat Julie membuang wajahnya karena tersipu malu. Rado yang masih tidak peka dengan perasaan Julie menganggap kalau Julie marah terhadapnya karena alasan yang tidak ia ketahui juga.
"Kalian siap?" Tanya Rado kepada seluruh prajurit.
"Siap!" Serentak mereka menjawab namun wajah mereka seperti mengatakan tidak.
"Kalau begitu.. Biar aku dan Yoga yang masuk terlebih dahulu... Sepuluh menit kemudian kalian masuk bersamaan.." Kata Rado memberikan keringanan kepada mereka.
"Tetapi tuan! Bagaimana kalau memang benar kita menuju ke markas mereka? Anda dan tuan Yoga pasti sulit menanganinya" Kata Kirisaki mencoba mengkhawatirkan Rado.
Rado mendekat kepada Kirisaki.
"Tenang saja.. Aku akan baik - baik saja selama ada Yoga disamping ku.." Kata Rado sambil menepuk pundak Kirisaki.
Mereka semua menjadi lebih tenang setelah Rado seperti memberikan sebuah kata positif kepada mereka.
"Baiklah Yoga.. Ayo kita masuk.. Riko, Tekan tombolnya" Perintah Rado kepada Riko yang sedang memegang alat pembuka teleportasi yang hanya memiliki satu tombol saja.
Riko pun menekan tombol pada alat tersebut dan portal milik ras dwarf pun terbuka. Saat Rado dan Yoga ingin memasuki portal tersebut. Rado terhenti karena suatu hal.
"Sudah ku bilang.. Biar aku dan Yoga saja yang masuk terlebih dahulu.." Senyum Rado memunggungi seluruh pasukannya.
"Tidak... Kami akan berada didekat anda sampai kapan pun.." Kata Hawl dengan suara tegas.
Wajah mereka saat ini sudah dihiasi dengan wajah yang penuh percaya diri dan moral yang tinggi.
"Terserah kalian.." Jawab Rado.
Yoga pun sedikit tersenyum melihat kebulatan tekad mereka dan segera menyusul Rado memasuki portal tersebut. Rado mulai memasuki portal tersebut diikuti seluruh pasukannya. Ternyata portal tersebut benar - benar disetel tepat didepan perkemahan para dwarf selama pergerakan tersebut. Para dwarf yang berpikir kalau yang keluar dari portal itu adalah Barge, dibuat terdiam dari seluruh aktifitas mereka dan menatap sunyi kearah ras manusia.
"Hmmm..." Rado tersenyum melihat seluruh reaksi para dwarf yang seperti robot rusak.
"Ke - kenapa ada manusia disini?!" Teriak seorang dwarf.
"Di - dimana Barge?!" Tanya Leeth dengan wajah khawatir.
"Barge? Maksud mu dwarf gendut berambut panjang itu?" Tanya Rado tersenyum.
"Ya! Dimana dia!" Teriak Leeth.
"Kau cari tau saja sendiri.. Dia ada dibalik portal ini.." Kata Rado sambil menunjuk portal dibelakangnya dengan ibujarinya.
Leeth yang mendengar itu segera berlari menuju portal yang saat ini dijaga ketat oleh pasukan ras manusia. Rado tidak melakukan apapun kepada Leeth saat ia melewati pasukannya, ia hanya tersenyum sambil menutup matanya. Saat Leeth berpindah ketempat dimana Barge berada, suara teriakannya terdengar hingga kemarkas dwarf tersebut.
Seluruh dwarf yang berada disana begitu bingung dengan apa dan mengapa Leeth berteriak. Sigurd yang saat itu tidak mendampingi Folk untuk melihat pertempuran di pos Utara milik elf pun keluar dari tendannya.
"Ada apa ini ribut - ribut!?" Kesal Sigurd keluar dari tendannya.
Kemarahannya tiba - tiba meredam dan berubah menjadi sebuah kewaspadaan karena melihat Rado dan pasukannya sedang melihat kearahnya.
"Mengapa ada manusia disini?!" Pertanyaan yang sama terlontar dari mulut Sigurd.
Disaat bersamaan Leeth keluar dari portal tersebut dan segera melesat kearah Rado.
"Dasar Bajing*n!" Kesal Leeth dengan belati kecil ingin menusuk Rado.
Tetapi dengan cekatan, Rado dapat mencengkram leher Leeth tanpa melihat sedikitpun kearahnya. Tanpa berbicara sedikit pun, Rado segera mematahkan lehernya tanpa ampun. Suara patahan leher Leeth membuat para dwarf merasa ngilu.
"Hoi! Kenapa kau melakukan itu?!" Kesal Sigurd.
"Apa ada yang salah dengan perlakuan ku? Bagaimana dengan perlakuan kalian terhadap pejuang ku?" Tanya Rado membalas mengenai Joon, Kenny dan yang lainnya.
Sigurd terdiam setelah mendegar Rado berkata seperti itu.
"Manusia ini! Sama gilanya dengan Folk! Siapa dia sebenarnya?!" Tanya Sigurd dalam hati.
"Hei kalian! Kenapa kalian terdiam semua! Serang para manusia itu!" Kata Sigurd memerintah.
Para dwarf yang terlambat bereaksi segera mengangkat senjata mereka dan menyerang pasukan manusia secara bersamaan. Kedua pasukan dengan kekuatan 10 banding 1 akan saling berbenturan.
"Yoga.." Ujar Rado.
"Baik..." Jawab Yoga.
Yoga maju kedepan Rado dan memasang kuda - kudanya.
"Shield!" Sebuah kekuatan yang diasah olehnya keluar.
Perisai yang terbuat dari kumpulan force tersebut berhasil menahan mereka semua. Para pasukan manusia pun mulai maju dan menyerang mereka dari balik perisai tersebut. Sebanyak apapun para dwarf disana, selama mereka tidak bisa melewati perisai milik Yoga, kegigihan mereka untuk menyerang seperti sia - sia. Disisi lain, Kemampuan Yoga tidak menutup kemungkinan mereka yang berada dibalik perisai force tesebut untuk menyerang.
Para ras manusia mendapat sebuah kesempata bertarung tanpa harus berbenturan secara fisik berkat bantuan kemampuan milik Yoga. Didepan Sigurd saat ini, pasukan dwarf sedang dibantai habis - habisan, karena bila dibiarkan begini terus kekalahan ras dwarf akan terjadi dan ia akan dihukum habis - habisan oleh Folk.
"Aku harus pergi dan melapor kepada Folk!" Kata Sigurd dengan panik.
Baru saja Sigurd berbalik arah, ia sudah dikejutkan oleh keberadaan Rado yang berdiri dibelakangnya layaknya saat ia mengejutkan Barge.
"Sejak kapan kau???" Kejut Sigurd dengan mata bergetar.
"Hmmm mungkin baru.." Senyum Rado menjawab.
"Jangan mencoba - coba untuk melawan ku! Aku ini seorang pendamping!" Gretak Sigurd kepada Rado.
"Lalu?" Tanya Rado.
Sigurd yang merasa dianggap remeh oleh Rado menjadi kesal dan meledakan force dalam dirinya hingga mengudarakan demiclesnya. Ledakan force itu membuat tekanan yang sangat hebat dan membuat mereka disekitarnya merasakan aura tersebut.
"Tuan Rado! Dia seorang pendamping!" Teriak Kirisaki khawatir.
Rado hanya tersenyum menatap Sigurd yang lebih pendek darinya. Sigurd yang merasa dirinya masih diremehkan segera mengambil kapak dipunggungnya untuk segera menebas Rado. Akan tetapi, baru saja ia memegang gagang kapaknya, Rado segera menghentikan pergerakan tangan dari Sigurd dan mengunci tangannya dengan cengkraman tangan kanan kuat Rado.
"Ukh..!" Tangan Sigurd tertahan saat memegang kapaknya, karena tangan Rado yang kuat menguncinya.
"Manusia ini! Siapa dia?! Dia bisa menahan ku seperti ini tanpa kekuatan demicles!" Tanya Sigurd terdesak dalam hati.
Rado terus tersenyum kepadanya.
"Kau pasti bertanya siapa diri ku... Biar ku beritahu siapa diri ku kepada mu karena kau sudah menjadi dwarf yang baik.." Kata Rad mendekat kekuping Sigurd.
Sigurd semakin menegang, tubuhnya tidak bisa digerakan karena aura yang tiba - tiba mencekam dari dalam tubuh Rado.
"Si - siapa dirimu?" Tanya Sigurd gemetar sambil melirik Rado yang saat ini sedang berada didekat telinganya.
"Aku.... Archon ras manusia.." Bisik Rado.
Disaat bersamaan Rado segera menembus jantung Sigurd dengan tangan kirinya. Para dwarf yang menyaksikan itu terkejut dengan tangan Rado yang menembus bagian dada Sigurd.
"Akh.. Akh..." Sigurd memuntahkan darah dan sulit berkata - kata.
Setelah menembus jantung Sigurd, Rado segera melepaskannya dan membiarkan Sigurd mati perlahan. Demicles miliknya pun perlahan redup dan mulai menghilang seiring dengan berhentinya jantung Sigurd. Sementara itu, dibagian Utara wilayah elf dimana Folk sedang menyaksikan pertempuran bawahannya. Dibuat waspada dengan batin dirinya dan Sigurd.
Saat ada pendamping yang mati, sang archon akan seperti menerima sebuah sinyal kematian. Folk yang merasakan kematian Sigurd segera berlari menuju portal yang berada didalam hutan dengan cepat. Wajahnya dipenuhi dengan rasa marah karena batin tersebut.
Slyvrin yang saat itu sedang dibuat tidak berkutik olehnya, terheran mengapa Folk dan pasukannya pergi tergesa - gesa.
"Apa maksudnya ini?! Kenapa sigurd tewas?!" Tanya Folk saat berlari menuju perkemahannya.
"Ini tidak beres! Apa aku melewatkan sesuatu?!" Tanyanya lagi.
Ia terus belari hingga menemukan portal yang sedang dijaga oleh beberapa dwarf.
"Buka Portalnya!" Pinta Folk dengan nada tinggi.
Dwarf penjaga segera membuka portal tersebut dengan kebingugan yang melanda saat melihat Folk meminta dengan kasar. Folk tanpa berpikir panjang segera masuk kedala portal tersebut dan sesaat ia telah sampai di perkemahan melalui portal yang berlawanan dengan portal yang digunakan oleh Rado, ia langsung terkejut mendapati perkemahan yang hancur dan seluruh dwarf yang berada disana termasuk Sigurd yang tewas ditempat.
"A - apa yang terjadi?!" Tanya Folk.
Hatinya hancur melihat apa yang telah ia bangun dibuat porak poranda. Folk pun mendekati mayat Sigurd yang tewas dalam keadaan mata terbuka. Hatinya sangat panas dan ingin melampiaskannya kepada siapapun yang melakukan ini.
"Siapa yang berani melakukan ini?!" Teriak Folk sambil mencari sisa - sisa orang yang melakukan itu.
"Aku..." Jawab Rado dari arah portal yang berlawanan sambil tersenyum kearah Folk.