
Beberapa waktu yang lalu setelah Hamdall dan Lefti baru saja pergi menuju pertempuran di pos benteng Utara mereka. Lefti yang merasa resah berkali - kali berjalan ditempat yang sama sambil mengigit kuku ibu jarinya. Wajahnya penuh kegelisahan mengenai pertempuran yang akan berlangsung sebentar lagi. Bagi Slyvrin, bila ia tidak berada dimedan pertempuran untuk melihat jalannya peperangan membuatnya dirinya dipenuhi dengan pemikiran negatif. Itulah yang ia rasakan beberapa waktu lalu mengenai Rado yang sejak negosiasi tersebut telah pergi jauh darinya, saat itu Rado berkata untuk tidak menemuinya kalau tidak terlalu penting dan Slyvrin mengira kalau Rado memiliki selingkuhan disana.
"Kuluk! Aku akan pergi ke medan pertempuran!" Kata Slyvrin tiba - tiba berkata pada dark elf pendamping.
"Eh?! Apa yang kau pikirkan nona Slyvrin? Bagaimana kalau kejadian dengan archon manusia terulang kembali?!" Tanya Kuluk khawatir.
"Kau berkata seperti itu berarti menganggap kalau aku ini lemah?!" Slyvrin cemberut dan sedikit mengeuarkan aura forcenya.
"Ti - tidak... Bukan seperti itu... Tetapi kami semua merasa khawatir dengan keselamatan anda! Terlebih, kekuatan ras dwarf bukan lagi kekuatan yang bisa kita kalahkan sebelum archon dan pendamping mereka muncul... Terlebih, mereka sudah mengalahkan ras manusia yang mengalahkan kita... Menurut ku, pergi kesana sama saja mencari sebuah resiko yang besar.." Jelas Kuluk dengan sangat hati - hati.
"Ras manusia kalah karena suami ku Rado tidak ada disana! Dan ku dengar saat penyerangan itu, tidak ada satupun dari pendamping ras mereka berada disana! Aku akan tetap pergi...!" Slyvrin pun segera bergegas meninggalkan ruangannya dan menuju ke portal di Lorien.
"Nona Slyvrin...." Panggil Kuluk khawatir.
Slyvrin terus mengabaikan Kuluk yang mencoba untuk menghentikannya, tetapi tekadnya sudah bulat untuk melihat ataupun ikut dalam pertempuran bila situasi mendesak. Disaat Slyvrin ingin pergi ke portal tersebut, kan yang saat itu berada di Lorien memanggilnya.
"Ratu..." Kata Kan yang datang bersama Zowie.
"Aku sedang sibuk!" Cetus Slyvrin kesal.
"Maaf kalau mengganggu jadwal anda, tetapi tuan Rado ingin menemui mu.." Kata Kan dengan tenang.
"Apa?! Dia ingin bertemu dengan ku?!" Slyvrin terkejut.
"Apa dia merasa khawatir dengan ku?" Dalam penaknya tersipu malu.
Kuluk, Kan, Zowie beserta prajurit yang mengawal terheran dengan perubahan sikap Slyvrin.
"Baiklah... Ayo kita ke ruang cermin" Kata Slyvrin tergesa - gesa.
Slyvrin segera menuju ruang cermin sambil merapikan penampilannya, Rado yang sudah menunggunya terlihat tersenyum didalam monitor milik ras manusia.
"Ah.. Ba - bagaimana kabar mu?" Tanya Slyvrin dengan malu.
"Aku baik - baik saja... Ku dengar dari Kan kalau wilayah mu telah diserang oleh ras dwarf..." Raut wajah Rado berubah serius.
Slyvrin yang melihat Rado menjadi serius, juga ikut merubah sikapnya menjadi lebih serius.
"Ya.. Seperti yang dikatakan oleh orang mu.. Wilayah Utara kita saat ini sedang diserang oleh ras tersebut dan aku akan pergi kesana..." Kata Slyvrin dengan tegas mengatakan keinginannya.
Rado yang mendengar keinginan Slyvrin terdiam sejenak karena melihat wajahnya yang penuh tekad.
"Sebaiknya kau tetap disana..." Kata Rado.
"Tidak... Aku akan tetap pergi.." Slyvrin keras kepala.
"Nona!" Kuluk mencoba untuk menghentikannya, namun diacuhkan oleh Slyvrin yang terus menatap monitor.
Rado terdiam sekali lagi sambil memandanginya.
"Baiklah... Tapi dengan pendamping disekitar mu..." Setuju Rado.
"Tapi tuan.." Kuluk ingin memprotes Rado.
"Terimakasih.. Kuluk akan berada disisi ku.." Kata Slyvrin menatap serius.
"Tidak... Tidak hanya Kuluk..." Ujar Rado.
"Lalu.. Siapa lagi yang akan menemani ku kesana?" Tanya Sarka penasaran.
Saat Slyvrin menunggu jawaban dari Rado, tampilan monitor dari ruangan Rado telah merubah kesisi satunya. Terlihat Sarka yang sudah siap dengan wajah penuh kepercayaan diri, berdiri memandang monitor tersebut.
"Apa?! Kau ingin mengirimnya kepada ku?! Aku tidak mau!" Tolak Slyvrin.
"Apa kau menolak orang kiriman ku?" Tatap Rado menajam dan tampilan monitor kembali kepadanya.
Slyvrin yang melihat Rado dengan tatapan tajamnya dibuat tidak bisa berkutik.
"Baiklah... Tapi aku tidak ingin dia berada didekat ku... Kau harus berada di 100 meter jauh dari ku!" Kata Slyvrin membentak Sarka.
"Bagaimana Sarka?" Tanya Rado kepadanya mengenai syarat Slyvrin.
Tampilan monitor beralih ke Sarka.
"Aku menerimanya.. Ini juga sebagai penebusan ku pada ratu ku dan juga atas perintah tuan Rado.." Jawab Sarka dengan wajah serius.
Setelah puas berbincang dengan Slyvrin, hubungan komunikasi pun terputus. Layar monitor yang semulanya menampilkan wajah tegas Slyvrin berubah menjadi hitam dan memantulkan bayangan Rado.
"Aku akan segera kesana tuan..." Kata Sarka.
"Hmph.." Rado tersenyum mengangguk.
Sarka pun pergi meninggalkan ruangan yang berisi Rado beserta para jenderalnya. Ruangan itu hening saat Sarka meninggalkan ruangan tersebut sampai beberapa saat kemudian...
"Albert, Jaquile... Bawa beberapa prajuit untuk mendukung ras elf..." Perintah Rado.
"Baik..." Terima mereka berdua dan juga pergi meninggalkan ruangan.
Ruangan itu menyisakan Yoga dan Rado saja.
"Baiklah... Sekarang ada yang harus kita lakukan..." Kata Rado tersenyum dan beranjak pergi dari kursinya.
"Apa yang akan kita lakukan?" Tanya Yoga menatap Rado yang berjalan keluar ruangan.
"Mencari sarang tikus tanah.." Toleh Rado tersenyum pada Yoga.
Kembali dimana Folk saat ini sedang melihat Slyvrin yang sudah berada dibagian hutan bagian kanan. Slyvrin Terlihat membawa prajurit milik Kuluk dan juga prajurit yang dulunya telah dikepalai oleh Sarka. Wajahya begitu sangat khawatir melihat benteng Utara mengeluarkan asap hitam dan beberapa kilatan Force dari kejauahan.
"Ayo kita bantu mereka!" Kata Slyrin dengan wajah geram.
Namun, baru saja Slyvrin dan pasukannya ingin melangkahkan kakinya, suara pemantik dari bagian kiri mereka terdengar cukup keras. Slyvrin dan pasukan yang terkejut segera menoleh kearah suara itu berasal.
"Hei.. Mau kemana kalian?" Todong Folk dengan senjata apinya mengarah kepada Slyvrin sambil tersenyum.
Kedua archon pun bertemu disaat yang tidak diduga - duga, kedua belah pihak saling menatap satu sama lain. Namun, perbedaan reaksi bisa terlihat diantara dua kubu tersebut. Kubu Dwarf terlihat tersenyum dan santai saat berhadap - hadapan dengan ras elf, sedangkan ras elf terlihat sangat waspada akan kehadiran ras dwarf yang menghadang laju mereka untuk membantu benteng tersebut.
"Siapa kau?!" Bentak Slyvrin kepada Folk.
"Kau pasti ratu elf ya kan?" Tanya Folk balik tersenyum.
"Jawab pertanyaan ku!" Bentak Slyvrin memastikan siapa dwarf tersebut.
"Hei.. Aku suka dengan wanita yang pemarah seperti mu... Apa kau ingin pergi bersama ku dan melakukan sesuatu yang menyenangkan?" Tanya Folk tersenyum dan membuat gestur mengajak.
Slyvrin yang mendengar perkataan Folk merasa dilecehkan, ia pun mengaktifkan force pada tongkatnya dan ingin merapalkan suatu serangan.
"Wow! Wow! Santai lah... Kalau kita bertempur disini, ku yakin banyak prajurit diantara kita akan mati.." Kata Folk mencoba untuk meredam amarah Slyvrin.
Slyvrin pun meredam forcenya, tetapi tidak dengan prajuritnya yang masih memendam benci dengan perkataan Folk.
"Bagaimana kau tau aku seorang ratu?" Tanya Slyvrin masih dengan kewaspadaannya.
"Hahahahahhaa Karena kita berada di kursi yang sama.." Kata Folk dengan senang.
"Kau?!!!" Slyvrin terkejut.
"Hahahahahah Akhirnya kau sadar.... Aku Folk, Archon dari ras dwarf..." Kata Folk memperkenalkan diri.
Prajurit elf pun terkejut mendengar siapa Folk sebenarnya. Wajah yang awalnya penuh dengan kekesalan, berubah menegang.
"Nona Slyvrin..!" Kata Kuluk sambil memasang badan didepan Slyvrin.
"Hei... Minggir! Kau menghalangi tubuh indahnya..." Kata Folk memasang wajah seram kepada Kuluk.
Kuluk yang merasakan aura mematikan dari Folk mulai gemetar dan goyah, Slyvrin pun segera memerintahkan Kuluk untuk mundur dengan menarik dirinya.
"Hah... Begitu, Hahahahahhaa kau sungguh pengertian dengan menyingkirkan sampah itu..." Senang Folk.
"Dia pendamping ku.." Geram Slyvrin.
"Ah.. Maafkan aku ratu... Aku tidak mengetahui kalau sampah itu adalah pendamping mu.." Kata Folk tersenyum dengan wajah mengesalkan.
Slyvrin hanya menatapnya dengan kesal dan mengalihkan pandangannya kepada pertempuran benteng yang sedang terjadi. Ia tidak bisa bergerak sembrono karena diawasi oleh Folk. Slyvrin lebih memilih untuk menghindari pertarungan yang tidak perlu dan merugikan.
Sementara itu Folk yang merasa Slyvrin tidak akan melakukan sesuatu yang bodoh, segera memasukan kembali senjatanya ke sarung yang berada dipunggungnya.
"Sebaiknya kita saksikan pertempuran itu bersama.." Kata Folk sambil memandangi pertempuran tersebut.
Saat ini Hamdall dan juga Mjorn sedang dalam pertarungan sengit diantara tentara mereka yang juga sedang bertempur. Kedua pendamping pengguna gada saling beradu kekuatan hingga menyebabkan aura force mereka terpecah - pecah di udara. Mjorn mencoba untuk mengayunkan gadanya kepada Hamdall, namun Hamdall dapat menangkisnya. Kedua kepala gada dari mereka saling tersangkut untuk mengadu ketahanan kekuatan mereka.
"Hahahahaha" Tawa Mjorn menikmati pertarungan.
Disisi lain Hamdall hanya terdiam karena fokus untuk merubuhkan Mjorn. Hamdall menarik gadanya dari kuncian gada milik Mjorn, tetapi Hamdall segera melancarkan serangan beratnya sekali lagi kepada Mjorn yang belum siap untuk menerimanya. Mjorn berhasil dipukul mundur meskipun tidak mengakitbakan luka pada tubuhnya karena Mjorn menerima serangan gada milik Hamdall dengan gagang gada miliknya. Kehilangan keseimbangan dari Mjorn dimanfaatkan dengan baik oleh Hamdall.
Hamdall segera melompat untuk menyerang Mjorn yang sedang kehilangan keseimbangan dari udara. Gada yang diayunkan dengan kedua lengan Hamdall, meluncur kebawah dengan sangat cepat. Mjorn yang saat itu sedang tidak siap untuk menerima serangan tersebut, mencoba untuk menerima serangan gada Hamdall dengan lengan kanannya untuk melindungi bagian kepalanya. Serangan Hamdall pada akhirnya dapat dihentikan oleh Mjorn dengan sebuah senyuman.
Saat ini Hamdall tertahan didepan Mjorn karena serangannya tidak berhasil menghantam kepala Mjorn. Mjorn dengan cepat mencoba untuk menendang bagian perut Hamdall menggunakan kaki kanannya, akan tetapi Hamdall dengan cekatan menaikan lutut kirinya untuk menahan tendangan Mjorn. Angin yang berada disekitarnya pun terhempas dan membuat efek kejut berkat force yang saling bergesekan.
Tidak sampai situ, Mjorn pun melepas gada yang ada pada tangan kirinya dan mencoba untuk memukul kepala Hamdall karena jika menggunakan gada miliknya, jarak seperti ini tidak efektif. Mjorn tersenyum karena dengan jarak sedekat ini Hamdall pasti sulit untuk mengimbangi kecepatan laju tinjunya. Tetapi ia salah, Hamdall segera melepas tangan kanannya dari menggenggam gada, lalu menahan tinju kiri Mjorn.
"Hahahahahaha Sungguh hebat..!" Puji Mjorn tertawa senang.
Hamdall hanya terdiam sambil menahan segala serangan Mjorn. Serangan Mjorn tidak sampai situ saja, Ia segera menarik kepalanya kebelakang untuk menghantam kepala Mjorn dengan kepalanya.
"Haaaa!!!!!!!" Teriak Mjorn saat ingin menghantam kepala Hamdall dengan kepalanya.
Demikian juga Hamdall, ia sudah bersiap menahan hantaman kepala Mjorn dengan kepalanya. Benturan kedua kepala dari pendamping bertubuh besar itu membuat getaran tersendiri ditengah pertempuran tersebut dan membuat kedua orang itu terdorong disetiap sisinya. Dahi Hamdall dan juga Mjorn mengeluarkan darah karena benturan tersebut.
Setiap serangan dari kedua orang itu seperti sebuah hantaman palu godam berat yang mana jika salah satu dari mereka lelah untuk menahannya, maka akan terjadi sebuah kerusakan yang besar. Gada milik Mjorn terlihat tergeletak diantara mereka berdua karena tadi ia melepaskannya. Jiwa ksatria dari Hamdall pun muncul kembali, ia berjalan mendekat kearah gada milik Mjorn dan melemparkan gada tersebut kepada pemiliknya.
Mjorn yang merasa heran dengan tingkah Hamdall, terpaku menatap gadanya lalu beralih menatap Hamdall.
"Hahahahaha Kau elf yang aneh! Padahal kau bisa menyerang ku dalam keadaan tidak bersenjata..." Kata Mjorn dengan tawa.
"Aku tidak ingin melawan seseorang yang tidak bersenjata" Kata Hamdall menjawab.
"Hahahaha sepertinya kau elf yang selalu menghormati sebuah pertarungan!" Puji Mjorn dengan tawa.
"Aku hanya ingin mengalahkan seorang yang kuat dan sempurna dengan cara yang adil.." Balas Hamdall.
"Kuat dan sempurna?" Kata Mjorn dalam benaknya.
Mjorn teringat pada masa kecilnya yang selalu dibully pada saat ia masih kanak - kanak karena memiliki tubuh yang tinggi. Semua anak dwarf seumurannya dulu selalu mengejek tubuh tingginya.
"Mjorn! Kau itu dwarf gagal karea memiliki tubuh tinggi! Apa ayah ibu mu tidak malu memiki anak cacad seperti mu? hahahahaha" Tawa anak - anak pada saat itu.
Mjorn selalu menangis meratapi nasibnya dibawah sebuah pohon, dan saat itulah ia bertemu dengan Folk dan Ubba secara kebetulan.
"Kenapa kau menangis?" Tanya Folk kecil tersenyum dengan pakaian kotor karena habis dari tambang.
"Aku diejek oleh anak - anak lain karena tinggi tubuh ku.." Sedihnya.
"Tinggi?" Folk bingung dengan maksud Mjorn.
Mjorn pun bangun dari ringkuknya dan menunjukan tinggi tubuhnya kepada Folk dan Ubba.
"Uwaaaaa Kau tinggi sekali! Hebat...!" Puji Folk takjub.
Saat itu Mjorn merasa heran dengan reaksi Folk yang malah memuji tubuh tingginya.
"Kau bisa mengalahkan anak yang mengejek mu.." Kata Ubba menyambar dengan nada datar.
"Ya! Benar yang dikatakan Ubba! Hal yang harus kau lakukan pertama adalah.... Dengan meretakan kepala anak itu dengan kedua tangan mu!" Saran Folk.
Lalu keesokan harinya, Mjorn melakukan itu kepada anak yang sering mengejeknya dan membuat anak itu pingsan seketika, setelah kejadian itu Mjorn menjadi anak yang paling ditakuti didaerahnya. Kembali kepada Mjorn yang saat ini sedang berhadapan dengan Hamdall.
"Kau mengingatkan ku pada masa kecil..." Kata Mjorn.
Hamdall hanya terdiam mendengar ucapan Mjorn.
"Ahh... Maaf, kau pasti tidak pedulu dengan itu... Kalau begitu, ayo kita lanjutkan!" Kata Mjorn dan segera melesat kembali kepada Hamdall.
Dilain sisi Ivar dan Lefti sedang bertarung habis - habisan. Perbedaan kelas yang bersebrangan membuat Lefti sangat kesulitan mengimbangi kecepatan Ivar.
"Sial! Dwarf ini sangat cepat.. Aku tidak dapat menyerang balik... Aku hanya bisa bertahan.." Kata Lefti dalam benaknya.
Ivar pun melesat kearah Lefti yang sedang dalam memposisikan tongkatnya secara horizontal. Setiap ia melayangkan serangan pada Lefti, sebuah elemen tanah pun akan menghalangi jalurnya untuk mengoyak tubuh Lefti dan itu membuat Ivar mulai frustasi.
"Ahhhhh!!!!!!!! Kenapa kau selalu bertahan!? Cobalah untuk menyerang balik!" Pinta Ivar berteriak.
"Kalau aku menyerang, pertahanan ku akan terbuka!" Jawab Lefti.
"Itulah yang ku mau! Cepat turunkan pertahanan mu dan biarkan aku merasakan bagaimana menggores tubuh indah mu sebelum ku jadikan budak! Hahahahaha" Tawa Ivar seperti orang gila.
"Diam!" Kata Lefti sambil mengeluarkan serangan forcenya untuk pertama kali setelah pertarungan dimulai.
Ivar yang menunggu saat - saat itu segera melesat kearahnya. Benar saja, seragan tipe angin yang dilancarkan oleh Lefti mudah saja ia hindari. Kecepatannya sangat sulit diikuti oleh Lefti yang mana kecepatan itu mengantarkan Ivar dengan cepat kedepan Lefti.
"Kena kau..." Kata Ivar terlihat senang sambil menjulutkan lidahnya.
Saat belati itu hampir mengenai Lefti, tombak emas pun menyambar Ivar dan membuat dirinya mengambil langkah mundur. Seorang manusia muncul dengan tiba - tiba membantu Lefti yang hampir terkena serangan dari Ivar.
"Apa kau tega melukai seorang wanita?" Tanya Jaquile tersenyum memasang badan didepan Lefti.
"Kau!!!!!" Kesal Ivar dan segera membenturkan kepalanya ket anah yang mana membuat dahinya berdarah.
"Manusia! kepar*t!!!" Kesal Ivar menatap Jaquile.
Diluar benteng pun juga terjadi sebuah ledakan mengganggu pertarungan antara Hamdall dan Mjorn.
"Aku datang membantu.." Kata Albert meledakan prajurit dwarf.
Mjorn dan Hamdall pun terhenti dari pertarungan mereka.
"Kepar*t.... Kenapa ada pengganggu?" Kesal Mjorn.
Hamdall hanya menatap Albert yang sedang berjalan kearah mereka. Disisi lain, Folk terlihat kesal melihat keberadaan Albert yang mengganggu pertempuran antara Hamdall dan Mjorn.
"Mengapa ada manusia disini?!" Tanya Folk dengan kesal.
Para prajurit manusia pun berhasil berteleportasi menggunakan portal milik elf yang berada di Lorien menuju portal dibenteng bagian Utara. Mereka mulai mengepung Ivar dan sebagian dari mereka membantu untuk menggerus pasukan dwarf yang berada diluar benteng.
Sementara itu, Rado, Yoga beserta Riko dan prajurit yang tersisa, berhasil sampai di markas pusat milik ras dwarf yang tersembunyi didalam hutan.
"Akhirnya ketemu..." Senyum Rado saat menemukan markas sementara mereka.