
Setelah pertarungan antar tiga ras yang terjadi di dua tempat yang berbeda, ras dwarf yang masih tersisa dan tidak memiliki semangat bertarung, dikumpulkan dalam satu lingkaran dengan tangan terikat borgol yang dimiliki oleh ras manusia. Ivar yang dibekukan oleh beberapa prajurit ras manusia terlihat memberontak saat ingin dipakaikan borgol dilengannya.
"Lepaskan aku! Aku Ini sang pendamping dari archon ras dwarf. Jika kalian main - main dengan ku, aku akan membunuh kalian semua!" Ancamnya dalam keadaan tidak berdaya.
"Diam!" Kata salah satu prajurit lalu ia memborgolnya dengan borgol otomatis bila sudah terkena pergelangan tangan.
Disisi lain Mjorn terlihat pasrah sedang dibekukan bersama prajurit dwarf lainnya oleh pasukan gabungan ras manusia dan elf, Ubba telah tewas ditangan Yoga dan Folk telah tewas ditangan Rado. Kedua jasad dari dwarf yang paling berpengaruh di rasnya itu terlihat disejajarkan didepan tawanan para dwarf. Mereka seketika menangis terisak saat melihat kedua jasad dari dwarf tersebut. Ivar yang semulanya memberontak, seketika juga ikut terdiam saat melihat jasad Folk yang diletakan didepan mereka semua. Sedangkan Mjorn hanya bisa menatap keatas langit yang terlihat mulai gelap.
"Ini mungkin akhir dari ras kita..." Kata Mjorn sambil menutup matanya dengan nada yang pasrah.
Sementara itu, Rado yang memilih untuk kembali terlebih dahulu dari perkemahan ras dwarf, baru saja melewati portal teleportasi. Ia terhuyung setelah berteloprtasi ke hutan di wilayahnya, Alasannya tidak menunjukan sisi lemahnya pada saat ia berada didepan pasukannya, itu karena Rado tidak ingin memembuat mereka semua khawatir dengan luka yang ia dapat. Rado terus terhuyung menyusuri hutan tersebut, rasa sakit yang diberikan oleh Folk padanya ternyata masih membekas pada perutnya dan itu amat menyakitkan meskipun sudah menggunakan obat racikan Zowie.
Dalam kesunyian malam ditengah hutan dekat wilayahnya sendiri, Rado memilih untuk beristirahat sementara dibawah pohon didekat sana. Ia merasa kalau luka yang disebabkan oleh serangan Folk bisa saja berakibat fatal dan memburuk bila ia tidak menyelesaikan pertarungan itu secepatnnya. Rado merasa kalau serangan dari seorang archon bisa benar - benar berdampak pada tubuhnya, entah karena kekuatan force yang digunakan oleh Folk untuk menyerang Rado sangat besar, atau memang bagian organ pentingnya juga ikut terkena tusukan tersebut.
Ia mulai berkeringat karena luka yang tidak pulih seratus persen. Setelah cukup beristirahat, Rado pun mencoba untuk bangkit kembali untuk melanjutkan jalannya. Ia berjalan terhuyung menuju benteng pos 3 milik ras manusia. Selain rasa sakit yang ia terima dari Folk, ada suatu rasa lain yang mengalir dalam tubuhnya saat ini, yaitu sebuah gejolak kekuatan yang membesar. Rado merasa kalau forcenya meminta dirinya untuk selalu bertarung dan bertarung. Tubuhnya memanas seakan - akan seperti ada sesuatu yang ingin keluar.
Rado mulai letih dan tidak kuat akan rasa yang aneh itu, tubuhnya mulai terasa panas dan darahnya seperti mendidih. Tubuhnya mulai menguap dan ia pun jatuh tersungkur diatas tanah yang luas. Tubuhnya pun mulai menguap dan wajahnya pun memerah.
"Ada apa ini?!" Tanya Rado sambil memegang jantung yang berdegup kencang.
"Akh!" Seperti ada sesuatu yang memompa darahnya dengan sebuah kejutan.
Darahnya mengalir deras dalam tubuhnya seakan - akan jantungnya dipaksa memompa.
"Akh!!!!!!" Ia mendongak karena rasa panas dan juga sakit.
Rado pun mulai merobek bajunya karena tidak tahan akan rasa itu.
"Akkhhh!!!!!!" Ia membenturkan kepalanya ketanah.
Tanah tempat ia membenturkan kepalanya terlihat retak.
"Akhh!!!!!!!" Ia pun berteriak panjang dan mendongak melihat keatas langit.
Saat ini Rado merasa seperti ada sesuatu yang ingin keluar dari tubuhnya. Uap dari dalam tubuhnya pun semakin menjadi. Setiap teriakannya terlihat seperti sebuah penderitaan yang amat menyakitkan. Dalam keadaan yang menyakitkan akibat suatu hal yang misterius dalam dirinya, tiba - tiba demicles milik Rado pun aktif dengan sendirinya dan mengudara bersamaan dengan tubuh yang diselimuti energi force yang sangat besar.
Seluruh pasukan yang saat ini sedang berada didalam hutan tempat perkemahan milik ras dwarf pun terkejut melihat demicles Rado yang mengudara dengan ukuran yang sangat besar dan juga sangat terang.
"Apa yang terjadi?!" Tanya seluruh pasukan yang berada disana.
Mereka semua terkesima melihat kemunculan demicles Rado yang tiba - tiba aktif dari kejauhan.
"Akhhhh!!!!!" Rado terus berteriak ditengah lahan yang luas itu dengan keadaan force yang terus keluar dari tubuhnya dan menjulang tinggi.
Force dalam tubuhnya seakan - akan sedang tersedot oleh demicles miliknya. Seiring derasnya force dalam tubuh Rado mengalir ke lambang demicles miliknya, demicles milik Rado terlihat semakin terang. Seluruh pasukan dibuat terdiam melihat demicles milik Rado yang terus menerus mengeluarkan sinar yang semakin terang.
Sementara itu, dibelahan daratan Antares. Achilles yang sedang duduk diruang tahtanya, tiba - tiba terbangun dengan wajah yang sangat senang dan mata yang terbuka lebar. Ia tersenyum lebar sambil merentangkan kedua tangan dan menatap kearah atas.
"Ini?!" Katanya sambil tersenyum.
"Akhhhh!!!!!" Rado terus meraung kesakitan bersamaan dengan forcenya yang terus mengalir ke demicles miliknya.
Ia semakin tidak karuan saat menahan rasa sakit yang ia derita.
"Rado?!" Kata Yoga merasakan sesuatu dari diri Rado dan ia pun segera menyusulnya.
Melihat Yoga berlari menuju portal, beberapa dari mereka seperti Albert, Slyvrin, Julie dan para kapten juga mengikuti jejak Yoga untuk menyusul Rado.
"Hahahahahahahahaha....!" Tawa Achilles sangat senang.
"Sayap sejatinya bertambah!" Kata Achilles dengan senang.
Rado terus berteriak, kekuatannya seperti sedang terkuras oleh demicles miliknya. Demiclesnya pun mulai memunculkan salah satu sayap barunya dibagian sudut kanan bawah. Sayap yang semulanya kecil perlahan memanjang keluar. Yoga dan yang lainnya, terpukau melihat proses bangkitnya sayap sejati dari Rado pada demicles miliknya.
"Apa yang sedang terjadi?!" Tanya Yoga.
"Aku tidak tau!" Jawab Hawl.
"Aku akan kesana!" Cetus Slyvrin ingin menghampiri Rado.
"Tidak! Jangan Nona!" Cegah Hamdall menarik tangannya.
"Tapi!" Slyvrin menatap Hamdall dengan wajah khawatir.
Rado semakin meringkih seiring terbentuknya sayap sejatinya. Sayap itu mulai sepanjang dengan kedua sayap yang berada diatasnya.
"Akhhhh!!!!!!!" Rado semakin menjadi dan aura forcenya pun menjadi tidak terkontrol dan meledak.
Ledakan force dari Rado menghempaskan mereka yang sedang menyaksikan Rado dari jarak dekat. Teriakan Slyvrin, Julie dan yang lainnya menjadi penghias dari terlemparnya mereka. Demicles baru milik Rado pun telah selesai, sekarang ini demicles miliknya memiliki tiga sayap yang indah. Partikel force pun turun layaknya salju setelah demicles miliknya telah bermetamorfosis.
"Hahahahahaha! Beri sambutan pada calon dewa iblis yang baru!" Senang Achilles tertawa sambil merentangkan tangannya.
"Kalau begini apa anda akan turun dalam pertempuran tuan?" Aslav menunduk kepada Achilles bersama dengan pendampingnya yang lain.
"Ya... Kali ini aku akan turun ke medan permainan ini secara langsung.. Karena lawan yang sebanding sudah muncul... Ambilkan aku tombak suci untuk merayakan kebangkitannya..!" Pinta Achilles kepada Aslav.
"Ku harap kau terus melepas belenggu dalam hati mu, wahai dewa iblis yang baru!" Kata Achilles sambil mengudarakan demiclesnya dan perlahan dua sayap sejatinya keluar membentuk empat sayap.
Demicles milik Achilles sudah memiliki empat sayap sejatinya dengan warna keemasan yang indah.
"Mungkin dengan sedikit kekuatan.." Katanya tersenyum sambil membidik keatas.
Dengan keadaan yang sempurna Achilles segera melempar tombak itu ke udara hingga menyebabkan sebuah tekanan udara kebawah disekitarnya. Tombak itu terbang jauh membelah awan hingga tidak terlihat lagi oleh dirinya.
Setelah selesai menumbuhkan sayap sejatinya yang baru, Rado terlihat tertunduk dengan posisi kedua lutut yang menyentuh tanah. Tangannya berjuntai kebawah layaknya tidak memiliki tenaga, lukanya pun terlihat menutup dan membaik. Energi forcenya pun sudah mulai kondusif dan berlarut kembali masuk kedalam tubuhnya disertai demicles yang mulai memudar. Rado terus memunggungi Yoga dan yang lainnya tanpa mengatakan apapun, Yoga yang merasa penasaran dengan keadaan Rado, mencoba untuk mendekat kearahnya.
Saat tangan Yoga ingin meraih pundak Rado, dalam sekejap Rado segera berbalik dan berdiri lalu mencekik leher Yoga. Bola matanya berubah menjadi warna hitam penuh dengan pupil mata berwarna ungu, wajahnya tidak berekpresi apapun dan seperti tidak mengenal Yoga.
"Rado! Ini a- ku.." Kata Yoga mencoba menyadarkan dirinya.
Mendengar suara Yoga, seketika bola mata Rado berubah kembali menjadi bola mata yang normal. Ia tersadar dalam keadaan linglung dengan kondisi tangan yang sedang mencengkram leher Yoga.
"Yoga?! Apa yang -" Herannya dengan perlakuannya kepada Yoga.
Ia pun menatap kearah belakang Yoga dimana Slyvrin dan yang lainya terlihat ketakutan sekaligus heran pada dirinya. Rado tidak merasakan sakit apapun lagi saat ini, semenjak sayap sejati pada demiclesnya telah tumbuh satu. Ia pun meremas - remas tangan kanannya dan merasa lebih baik.
"Apa yang terjadi pada ku?" Tanya Rado terheran.
"Apa kau tidak ingat sesuatu?" Tanya Yoga.
"Yang ku rasakan hanyalah rasa sakit dan demicles seperti menyerap seluruh kekuatan ku.. Setelah itu aku tidak mengingatnya..." Jawab Rado terheran.
Yoga dan yang lainnya hanya menatapnya dengan wajah terheran karena Rado tidak ingat dengan dirinya setelah berhasil menumbuhkan satu sayapnya lagi.
"Lebih baik kita kembali dan beristirahat..." Ajak Yoga.
Rado pun kembali ke arah ibukota dalam keadaan bingung, ia pun juga merasa kalau hatinya sudah tidak ada lagi beban mengenai terbunuhnya Nara. Para kapten dan juga petinggi elf mengikuti Rado untuk kembali ke benteng pos 3 untuk beristirahat. Rado yang saat itu berada didepan mereka semua terhenti saat melihat makhluk lucu menyerupai kelinci dengan mata biru, dua gigi yang keluar namun berekor panjang layaknya seekor monyet.
Mereka semua juga ikut terhenti karena Rado menghalangi laju mereka. Makhluk itu berdiri layaknya kelinci dan seperti tersenyum kearah Rado. Rado hanya memandanginya dengan ekspresi datar dan tiba - tiba ia membunuh makhluk tersebut dengan memotong lehernya menggunakan tangan kosong. Yoga dan yang lainnya pun terkejut melihat Rado yang seperti itu.
"Kenapa kau membunuhnya?!" Tanya Yoga terkejut.
Seluruh wajah terlihat semakin heran dengan Rado.
"Eh?! Karena dia menatap ku, jadi ku bunuh dia.." Kata Rado dengan polosnya.
ia pun membersihkan tangannya dari darah makhluk tersebut hanya dengan mengibaskannya ke udara lalu melanjutkan jalannya menuju benteng pos 3.
"Apa yang terjadi dengan tuan Rado?" Tanya Kirisaki heran.
Semuanya terdiam melihat Rado berjalan menjauh dari mereka. Berita mengenai terbunuhnya archon dari ras dwarf pun menggema keseluruh daratan wilayah kedua ras. Para tawanan dwarf yang tertangkap dibawa ke ibukota wilayah manusia, De Hoorn untuk dijadikan sebuah tawanan perang dan sebagai media untuk mengambil alih daratan mereka.
Para penduduk ras manusia terlihat menyoraki mereka pada hari yang sama ditengah gelapnya malam. Lampu - lampu masih menyala terang untuk menyambut kemenangan mereka atas ras dwarf. Rombongan dwarf yang diatur berbaris terlihat menunduk saat melewati kerumunan ras manusia. Merea yang sedang digiring oleh para prajurit manusia pun tidak bisa melakukan hal yang mengancam.
Ivar terlihat diam dengan wajah tertunduk, Mjorn juga terlihat ditandu oleh sebuah alat transportasi kecil yang diciptakan oleh Riko. Para petinggi ras elf juga pergi mengunjungi ibukota De Hoorn demi mempererat hubungan diantara ras tersebut. Malam itu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi ras manusia. Disisi kesenangan warga kota, ada sebuah kelompok yang tidak menyukai pencapaian yang telah diraih oleh Rado. Mereka hanya bisa menatap iring - iringan itu dalam sudut kota dengan wajah masam.
Jaquile juga terlihat sedang dirangkul oleh Lefti sambil melambaikan tangan kepada para warga kota. Rado tersenyum menanggapi sambutan dari mereka semua. Namun, baru saja iring - iringan itu sedang berjalan, Rado tiba - tiba merasakan sebuah ancaman dari atas langit. Intuisinya dengan spontan memberitahu dirinya akan aura yang besar datang. Rado segera berlari dengan cepat ke titik dimana ancaman itu akan jatuh.
"Rado?!" Panggil Yoga terheran melihat Rado yang spontan berlari tergesan - gesa.
Ancaman itu adalah tombak yang dilesatkan oleh Achilles dari istana miliknya. Tombak itu dengan cepat menerjang menuju ibukota ras manusia De Hoorn dalam keadaan terbalut kekuatan force bewarna emang yang kuat. Rado terus berlari melewati kerumunan dan menuju titik dimana benda itu akan jatuh sesuai intuisinya. Rado pun berhenti tepat ditengah alun - alun kota dibagian distrik menengah dimana terdapat air pancur ditengahnya.
Ia berdiri tegap sambil memandang kearah langit dengan wajah yang datar. Beberapa saat ia menunggu, tombak itu pun menunjukan keperkasaannya seperti sebuah meteor yang jatuh. Para warga kota, seluruh prajurit dan juga para pendamping pun dibuat terkejut dengan datangnya tombak kiriman Achilles.
"Apa itu?!" Tunjuk para warga kearah atas Utara dimana tombak itu berasal.
Mereka semua terlihat sangat penasaran dengan tombak tersebut. Para pendamping, para kapten dan Slyvrin juga terlihat mendongak kearah atas untuk melihat benda misterius tersebut. Disaat tombak itu semakin dekat, barulah mereka mulai mengubah persepsi mereka dari rasa penasaran menjadi rasa waspada.
"Itu serangan!" Teriak Albert dengan wajah panik.
Mendengar teriakan dari Albert membuat seluruh warga kota panik dan lari berhamburan. Ditengah kerusuhan itu para kapten dan juga pendamping, segera mengambil langkah bertahan untuk menjaga para dwarf agar tidak memberontak. Tombak itu semakin dekat dan mulai melandai kearah dimana Rado sudah menunggunya. Hebatnya, hembusan yang disebabkan oleh lajunya tombak itu, dapat menghempaskan bangunan - bangunan yang berada di jalurnya.
Sebagian ibukota De Hoorn bagian Utara dibuat hancur akibat hempasan tombak tersebut. Rado masih berdiri tegap menunggu datangnya tombak tersebut dalam keadaan tenang. Sampai pada akhirnya dimana tombak itu akan mendarat pada titik yang telah ditentukan, Rado segera menangkap tombak itu sebelum menyentuh tanah dengan tangan kanannya saja.
Tombak itu terhenti tepat disamping Rado. Setelah terhenti, mata tombak yang menghadap kebawah itu menghasilkan gelombang kejut yang dahsyat karena lajunya untuk menghancurkan alun - alun kota dihentikan secara paksa oleh Rado. Namun tetap saja, gelombang itu mengakibatkan tanah disekitarnya tertekan kebawah dan hancur hingga satu area alun - alun kota tersebut. Seluruh objek yang berada di alun - alun itu hancur dan terhempas akibat gelombang yang dahsyat itu.
Bangunan - bangunan didekat area tersebut pun juga ikut hancur. Beruntungnya seluruh warga kota saat itu sedang berada di pintu barat untuk menyaksikan kepulangan dan kemenangan prajurit ras manusia yang mana tidak menyebabkan adanya jatuh korban akibat serangan yang dikirim oleh Achilles.
Disaat itu tangan Rado seperti bergetar hebat karena mencoba untuk menahan tekanan yang dibuat oleh tongkat tersebut, wajahnya sedikit menunjukan rasa kewalahan, namun itu hanya berlangsung sebentar dan tombak itu pun berhenti bergeming. Setelah tombak itu sudah berhenti bergetar, Rado segera menggenggam erat tombak itu hingga urat ditangannya pun ikut keluar. Ia pun segera mengambil posisi untuk melemparkan tombak itu kembali keasalnya. Rado mengudarakan demiclesnya yang sudah memiliki tiga sayap dan segera menyalurkan forcenya kedalam tombak tersebut.
Setelah ia selesai mengkakulasi arah tombak tersebut, Rado segera melesatkan tombak itu kembali dengan kuat hingga menambah kerusakan yang terjadi pada tanah dibawahnya. Tombak itu melesat jauh keatas menuju istana Achilles. Achilles yang sudah puas memandangi langit dimana langit tersebut telah terbelah oleh tombak miliknya, kembali menuju kursi tahtanya.
Saat ia baru beberapa langkah kedalam, sebuah cahaya dari langit pun muncul menuju kedalam istanannya tersebut. Achilles yang sudah menyadari itu terhenti sambil tersenyum, tombak yang telah dilesatkan oleh Rado pun ia belokan seperkian senti hanya dengan sentuhan sikut kirinya dan laju tombak itu pun merubuhkan ruangan bagian depan istananya.
"Heee..... Dia bisa membalikannya..." Senyum Achilles melihat sebagian istananya hancur.
Disisi lain Rado hanya tersenyum memandang langit dimana ia baru saja melempar tombak milik Achilles.