The Archon

The Archon
Manusia Vs Troll Part 4 - Pertarungan Dimulai



Beberapa waktu lalu didekat black dungeon, Angela dan kameramen yang meliput alur pertempuran Yoga sebelumnya sedang terjebak digedung yang sama. Mereka memilih untuk menetap disana karena merasa diluar sudah tidak aman lagi. Mereka pun memutuskan siaran tersebut setelah Yoga sudah berpindah tempat dari jangkauan kamera mereka. Saat-saat membosankan pun mulai menyerang mereka didalam gedung tesebut.


"Hah... apa yang harus kita lakukan Angela?" Tanya kameramen yang sedang terduduk dibawah jendela dan terlihat bosan.


"Yah.. kita harus tetap bersembunyi disini sampai keadaan diluar dinyatakan aman" Balas Angela sambil memainkan rambut bagian bawahnya.


"Hahh....... sampai kapan ini akan berlangsung?!" Kameramen itu mulai bergumam kesal.


"Berhentilah mengeluh... Ini sudah menjadi resiko kita yang menerobos ke area pertempuran.. lagi pula, bagaimana nasib pemburu yang bernama Yoga itu ya?" Angela menatap langit-langit ruangan tersebut.


"Ya... mungkin dia sudah mati.." Kameramen itu dengan enteng berasumsi.


"Kau!!!" Angela menoleh kesal karena perkataannya.


Berjam-jam mereka berada disana sambil menunggu pertempuran usai. Sesekali pula mereka, memeriksa keluar untuk memastikan apakah dungeon sudah tertup.


"Bagaimana?" Tanya Angela kepada kameramen yang sedang mengintip dari jendela.


"Belum.." Balas singkat dari kameramen.


Beberapa saat kemudian, Troll pengawal keluar dari dungeon tersebut. Suara hentakan kaki yang lumayan keras membuat mereka mengintip secara bersama.


"Tidak mungkin! Mereka masih keluar dari dungeon itu?! Tapi... mengapa penampilan mereka terlihat berbeda dengan monster sebelumnya?! Tanya Angela sambil terkejut melihat Troll pengawal.


"Cepat nyalakan kamera kita akan mulai lagi" Angela menoleh dan berkata kepada kameramen tersebut untuk segera bergegas melakukan siaran.


"Ruang editor masuk..Hallo? Hallo?" Angela mencoba untuk menghubungi stasiun tv lewat alat yang berada di telinganya.


Si kameramen pun sudah siap dengan posisinya dan menunggu Angela siap, namun karena pihak tv tidak menjawab karena ada gangguan jaringan membuat mereka tidak bisa melakukan live seperti tadi.


"Aku tidak bisa menghubungi kantor.." Angela dengan panik menatap kameramen.


"Lalu bagaimana?!" Tanya kameramen tersebut kepada Angel.


"Ini momen yang bagus, kita tidak boleh melewatkannya... rekam saja kalau begitu"


Setelah Angela menyarankan demikian, si kameramen pun segera mendekati jendela untuk mengambil video dari Troll pengawal yang baru saja keluar dari dungeon tersebut.


"Sudah?" Tanya Angela disamping kameramen tersebut beberapa saat kemudian.


"Ya dapat...!" Kameramen itu tersenyum setelah mendapat footage yang cukup bagus.


Mereka kembali bersembunyi didalam gedung tersebut dan menunggu info selanjutnya. Selang beberapa jam kemudian mereka dikejutkan kembali oleh gemuruh yang datang kedekat mereka. Angela dan si kameramen pun kembali memeriksa keluar jendela untuk mencari tahu apa yang terjadi.


"Eh itu kan?! Hei cepat ambil footagenya!"


Si kameramen pun kembali merekam kejadian dimana Tom dan Toni sedang menggiring para Troll kearah black dungeon tersebut. Lensa kamera ia sesuaikan lalu menyorot kearah Toni dan Tom yang sedang berusaha untuk menggiring mereka. Tetapi hal yang lebih mengejutkannya lagi adalah dimana saat Raja Troll tiba-tiba muncul dan membunuh Tom dan Toni.


Sontak hal itu membuat Angela dan si kameramen merasa ketakutan dan menghentikan pengambil footage tersebut. Mereka memilih untuk segera bersembunyi karena merasa ada aura yang sangat mengancam dari monster tersebut. Dengan rasa ketakutan dibalik tembok gedung yang saat ini menjadi tempat persembunyian mereka, Angela menutup mulutnya karena rasa takut yang semakin menjadi setelah Raja Troll mulai keluar dari dalam dungeon tersebut dan berjalan melewati mereka.


Wajah jelek dari Raja Troll mampu sejajar dengan lantai tempat mereka bernaung saat ini. Angela dan si kameramen terlihat pucat dengan Raja Troll yang sedang berjalan dibelakang mereka. Goncangan yang semulanya sangat terasa mulai berkurang seiring dengan Raja Troll yang mulai menjauh. Setelah mereka merasa kondisi disana sudah mulai tenang, Angela baru berani membuka mulutnya dan berbicara kepada si kameramen.


"Makhluk apa itu..?" Dengan nada bergetar Angela bertanya kepada kameramen.


"A-aku tidak tahu.. tapi, itu sangat mengerikan.." Balas kameran tersebut dengan wajah pucat.


Kembali dimana saat ini Kuhler dan beberapa pemburu yang baru saja tiba dari Brazil segera mangambil alih posisi Devian sebagai lawan para Troll yang meneror salah satu kota di Amerika Serikat. Ditengah malam dan hujan deras mereka berhadap-hadapan dengan Raja sekaligus bos dari black dungeon terakhir itu. Kuhler melangkahkan kakinya kedepan dengan kawalan Nikolai dan Nagatomo.


"Kau tau? Kau sungguh beruntung karena aku tiba tepat waktu berkat jet yang telah disiapkan oleh PPMD untuk kami.. Anggota yang lain juga mungkin akan segera datang sebentar lagi, dan juga ada kelompok yang-"


Sebelum Kuhler selesai menjelaskan bagaimana ia bisa cepat sampai kesana, tiba-tiba suara gemuruh pijakan kaki yang lain mulai terdengar dari belakang. Kuhler yang melirik kebelakang sambil tersenyum menyambut kedatangan mereka.


"Hmph sepertinya para cecunguk itu sudah tiba"


Mereka adalah pasukan aliansi yang dipimpin oleh Jaquile. jumlah mereka hampir menyerupai jumlah pasukan yang dibawa oleh Kuhler karena ia juga datang menggunakan Jet yang sama. Sebelumnya dibandara negara Brazil, mereka yang baru saja tiba disana segera memesan penerbangan darurat kearah daerah yang sedang diambang kemusnahan karena black dungeon. Kuhler yang saat itu sudah disediakan jet pribadi oleh PPMD di negara tersebut, tersenyum kearah Jaquile yang hanya menggunakan pesawat komersil.


"Hei kalau kau menggunakan pesawat itu, mungkin saja kami sudah menyelesaikan dungeon tersebut" Senyum ejekan dari Kuhler.


"Diam kau! Meskipun aku terlambat, aku akan tetap kesana untuk menjemput saudara ku" Kata Jaquile mengingat Yoga yang sedang kesulitan.


Melihat Jaquile yang memiliki tekad dimatanya, Kuhler menutup matanya dan menghela nafas, "Huh...Bagaimana kalau ku beri kalian jet seperti kami?" Ia kembali menoleh kearah Jaquile dengan senyuman.


"Apa maksud mu?" Jaquile menoleh heran.


"Aku tidak bermaksud apa-apa, cuma... menurut ku, orang seperti mu mungkin bisa juga berguna nanti" Kuhler masih dengan senyuman yang membuat Jaquile kesal.


"Hah?! Apa kau bilang?!" Jaquile meninggi dan seperti ingin mengajak ribut Kuhler.


"Yah.. Kalau kau menolak.. kuharap saudara mu itu tidak mati saat kau sampai disana hahahaha" Kuhler berjalan terlebih dahulu meninggalkan Jaquile yang sedang terdiam menatapnya dengan kesal.


Dalam benak Jaquile ia merasa bimbang dengan tawaran yang diberikan oleh Kuhler, kebimbangannya itu mengenai harga dirinya yang dibantu oleh anggota PPMD. Namun, ia mengesampingkan itu terlebih dahulu dan memilih untuk mementing saudara satu marganya itu.


"Tunggu! Baiklah aku akan menerima tawaran mu itu" Jaquile dengan berat hati menerima tawaran Kuhler.


----------------------------------------


Kembali kepada mereka yang saat ini sedang berhadapan dengan para Troll. Pasukan aliansi yang diketuai oleh Jaquile pun ikut bergabung bersama Kuhler dan yang lain.


"Yoo Jaquile... Akhirnya kau sampai" Kuhler tersenyum mengejek kearah Jaquile.


"Cih.." Jaquile menoleh kesana kemari mencari Yoga, namun ia tidak menemukannya disana. Ia pun segera bertanya kepada Devian yang sudah terlihat kotor akibat pertarungan.


"Kau.. Kau pasti sudah bertarung sejak tadi bukan? Apa kau mengenal Yoga Graviel? Pria berambut orange-"


"Ya aku mengenalnya dan dia selamat ditempat yang aman" Devian memotong perkataan Jaquile.


"Ah.. syukurlah.." Lega Jaquile, diikuti para pemburu aliansi yang lain termasuk Lucy Cs yang ikut menemani Jaquile.


"Jaquile.. Karena kau sudah kubantu sampai kesini, sekarang kau harus membayarnya.. Kau harus menjadi pengawal ku selama pertarungan ini.." Kata Kuhler meruntuhkan rasa lega Jaquile.


"Apa kau bilang?! Itu tidak ada kesepakatan saat kita berada dibandara!" Protes Jaquile kepada Kuhler.


"Benarkah?! Apa aku bilang begitu?" Kuhler bertanya kepada para anggotanya, dan mereka semua menggelengkan kepala.


"Kau!!!!" Geram Jaquile.


"Jaquile, ini bukan saatnya berdebat.. ada baiknya untuk sekarang kita bersatu untuk melawan monster itu.. lihat mereka sudah berkumpul dan kemungkinan akan menyerang sebentar lagi" Kata Kolo menenangkan Jaquile.


"Cih.. tapi.." Jaquile dalam hatinya sangat kesal kalau harus mengawal orang seperti Kuhler, namun perkataan dari Kolo ada benarnya juga, ia pun menoleh kearah Kuhler dengan wajah kesal, "Baiklah, untuk saat ini saja"


"Hmph... kau ini seorang yang tidak bisa mengambil keputusan cepat, apanya yang wakil kapten?" Perkataan yang menohok dari Kuhler membuat Jaquile merasa kesal namun ia mencoba untuk menahannya.


Disaat mereka baru saja menyelesaikan perbincangannya, Raja dari para Troll berteriak sangat garang. Teriakannya mampu memecahkan kaca-kaca gedung disekitar mereka, para pemburu sontak segera melindungi kepala mereka dari serpihan kaca yang jatuh dari atas dengan tangan, perisai ataupun force mereka. Seperti hal yang dilakukan oleh Kuhler. Ia menyelimuti tubuhnya dengan force sihir bertipe api yang sangat panas, serpihan kaca yang jatuh kearahnya akan langsung meleleh saat menyentuh selimut yang terbuat dari force tersebut.


Dari tubuhnya mengeluarkan uap akibat hujan yang jatuh kebadannya, setelah serpihan kaca itu berhenti jatuh. Kuhler segera memusatkan force apinya itu pada ujung telunjuknya lalu melepaskannya kearah Raja Troll. Serangan api yang Kuhler lontarkan itu, berhasil ditahan oleh Raja Troll dengan mudah dengan cara menjadikan Troll prajurit sebagai perisai miliknya. Troll prajurit itu seketika mati karena organ dalam tubuhnya terbakar setelah dimasuki oleh force api tersebut.


Raja Troll segera membuang perisai sekali pakai itu kedekat para prajurit Troll yang lain, namun ada kejadian yang sangat mencengangkan, yaitu mayat dari Troll prajurit tersebut segera diserbu oleh Troll yang lain lalu mereka memakannya.


"Apa?! Mereka kanibal?" Para pemburu yang melihat itu merasa terkejut karena monster tersebut memakan temannya sendiri.


"Aku tidak heran dengan kenibalisme dalam permonsteran, tapi.. hal yang membuat ku terkejut adalah kekuatan orang ini" Jaquile dalam benaknya sambil melirik kearah Kuhler. "Api sekecil itu mampu menumbang monster tersebut dengan sangat parah, dia bukan orang yang sembarangan"


Sebagai balasan yang dilakukan oleh Kuhler, Raja Troll memukul-mukul jalanan dengan pemukulnya hingga hancur dan menghasilkan sebuah bongkahan-bongkahan batu. Ia segera mengambil bongkahan tersebut lalu memadatkannya menjadi bongkahan yang lebih besar. Setelah bongkah itu sudah memadat, Raja Troll segera melemparkan bongkahan tersebut kearah pemburu.


Akibat tekanan angin saat lemparan tersebut, membuat bongkah tersebut menjadi pecah kembali dan menghasilkan bongkahan-bongkahan yang lebih kecil. Jason dengan sigap segera menutupi Kuhler dengan perisainya untuk melindunginya dari serangan batu tersebut, sedangkan Nagatomo segera melindungi Devian yang sudah kelelahan dengan cara memotong-motong batu tersebut dengan katananya.


Hal yang sama dilakukan oleh Jaquile, ia memutarkan tombaknya dengan cepat dan menghalau batu-batu tersebut mengenai dirinya dan juga Lucy Cs. Tetapi serangan pertama yang diberikan oleh Raja Troll berhasil membunuh beberapa pemburu yang tidak sanggup untuk menahannya. Setelah hujan bongkahan batu itu selesai menghujani mereka. Para pemburu segera menghentikan pertahanannya, Kuhler yang saat itu masih terlihat santai karena dilindungi oleh Jason, terlihat menoleh kearah belakang untuk melihat dampak dari serangan tersebut.


Rombongan para pemburu yang berada jauh dibelakang Jaquile terlihat telah tewas dan menyisakan beberapa dari mereka.


"Hmmm sepertinya seleksinya sudah selesai.." Ia tersenyum melihat korban berjatuhan.


"Devian.. dimana Mye dan Ashwin?" Kuhler kembali bertanya kepada Devian.


"Mye berhasil selamat dan dibawa oleh salah satu dari pemburu aliansi, sedangkan Ashwin..." Devian tidak melanjutkan perkataannya.


"Jadi begitu.. Ashwin telah tewas... Itulah yang harus dibayarkan oleh dia yang lemah.." Kuhler kembali menatap kearah Raja Troll.


"Hei... kau, perempuan dari aliansi.." Kuhler memanggil Lucy.


"E-eh aku?" Lucy menunjuk kearah dirinya sendiri.


"Cepat bawa Devian ketempat yang aman.." Tanpa menoleh Kuhler memberi perintah.


"Kuhler, aku.." Devian seperti ingin menolak perkataan dari Kuhler.


"Jangan membantah perkataan ku! Cepatlah.. Sekarang ini kau hanya akan menjadi beban.." Kuhler meninggikan suaranya.


"Baiklah" Lucy segera membantu Devian berdiri dan membawanya ketempat yang aman.


Jaquile yang semula melirik kearah Devian yang sedang dibawa oleh Lucy, sekarang berjalan mendekat kearah 3 pemburu terhebat itu.


"Apa kau yakin? Bukankah dia masih ingin bertarung" Tanya Jaquile kepada Kuhler.


"Tidak.. dia sudah tidak bisa bertarung lagi.. aku tahu dia.." Balas Kuhler dan Jaquile hanya menatapnya saja.


Dilain sisi Raja Troll yang terlihat tersenyum karena berhasil membunuh beberapa pemburu, segera mengangkat pemukulnya setinggi mungkin lalu berteriak mengisyaratkan kepada bawahannya untuk segera menyerang pemburu yang tersisa. Para Troll pun memulai penyerangannya kepada para pemburu dan meninggalkan Rajanya dibelakang.


Gerombolan Troll yang menyerang kearah pemburu terlihat sangat ricuh karena tubuh mereka yang besar membuat tiang lampu jalan atau mobil yang terparkir rusak karena terinjak ataupun terkena badan mereka. Kuhler pun melangkah sedikit lebih kedepan dan merentangkan kedua lengannya. Tubuh yang basah itu mulai terlihat diselimuti oleh force berwarna keputihan dengan tujuan untuk mengeluarkan suatu kemampuan force sihir yang ia miliki.


Cahaya putih itu semakin terang dan setelah ia merasa cukup, Kuhler segera merapatkan kedua lengannya lalu mengarahkan lengannya kearah depan dengan telapak tangan terbuka seperti ingin menembakan sesuatu.


"Kemarilah!!!" Kuhler tersenyum dengan simbol rapalan sihir yang muncul didepan telapak tangannya.