The Archon

The Archon
Menuju Peperangan.



"Manusia ini!" Tatap Sarka menatap kearah Zowie yang tersenyum polos sambil menutup kembali ramuan berbentuk gel itu dengan daun.


"Bagaimana? Aku tidak berbohong bukan? Itu adalah salah satu ramuan hasil racikan ku yang terbuat dari berbagai tanaman di dunia ini.." Kata Zowie kepada Sarka


Mereka yang menyaksikan itu terkejut melihat kinerja dari ramuan yang diperlihatkan oleh Zowie. Ramuan itu menjadi sebuah kegemparan didalam pos tersebut karena baru kali ini ada sebuah obat atau ramuan yang bisa menyembuhkan luka seinstan itu.


"Bagaimana bisa?! Ramuan itu menyembuhkan luka begitu cepat.." Tanya Seorang elf kepada Zowie.


"Hahahaha.. itu sebuah rahasia.." Senyum Zowie kearah elf tersebut.


Sarka dengan mata tajamnya tidak mengalihkan pandangannya kearah Zowie yang sedang tersenyum lebar itu. Ia merasa kalau Zowie adalah sebuah aset yang penting dan harus dibawa ke ras elf untuk dijadikan sekutu.


"Aku tidak bisa mengatakan bagaimana cara ramuan ini bekerja serta tidak akan ku beritahu cara membuatnya.. Ini demi keselamatan ku" Dalam benak Zowie terlihat gelisah.


Zowie menyembunyikan pengetahuannya dalam meracik ramuan itu karena ia berfikir kalau saja ia mengatakannya, nilai hidupnya akan tidak dianggap berharga lagi dan mungkin saja ia akan dibunuh bila ras elf sudah mengetahui resepnya.


"Melihat dari sikap mereka sekarang ini, bisa ku pastikan kalau mereka tidak akan melakukan hal yang kasar.. Bagus, aku selamat.. Tapi.." Zowie berkata dalam benaknya dan melirik kearah Sarka.


"Siapa nama mu?" Tanya Sarka kepada Zowie.


"Zowie, Aku Zowie.." Jelasnya.


"Zowie... Ikutlah dengan kami jika kau tidak ingin mati.." Ajak Sarka dengan sebuah ancaman.


"Seperti yang ku duga, ia pasti akan mengatakan seperti itu.." Dalam benak Zowie sudah mengetahui apa yang akan terjadi bila ia memperlihatkan ramuannya.


"Ah... Aku masih harus meneliti beberapa tanaman, sepertinya aku.." Jawab Zowie mengenai ajakan tersebut.


"Kami bisa mendampingi dan membantu mu dalam meneliti tanaman" Potong Sarka dengan tegas.


Saat ini Zowie sangat terdesak dengan situasi tersebut. Tidak ada opsi lain selain menerima ajakan secara sepihak tersebut. Meskipun ia terlihat mudah tergoda oleh wanita, akan tetapi Zowie tidaklah bodoh. Ia merasa kalau ia menolak ajakan itu, ia akan dibunuh oleh para elf. Alasannya sangat simpel, lebih baik dibunuh kalau tidak ingin bekerja sama daripada menjadi sebuah ancaman dikemudian hari. Setetas keringat yang mengalir dari keningnya bertanda ia sedang gugup.


Mata yang bergetar dan kencangannya ia menggertakan giginya menandakan ia sedang berpikir untuk mencari jalan keluar bila memang ia harus ikut dengan mereka.


"Ba - baiklah.. aku akan ikut dengan kalian.." Zowie memutuskan.


"Pilihan yang bijak... Kalau saja kau menolak, mungkin aku akan.." Sarka sambil mengelus pisaunya dengan lembut.


Zowie hanya bsia menelan air liurnya akibat perlakuan Sarka yang mencoba untuk menakutinya bila ia menolak ajakan tersebut. Tidak lama kemudian, Sarka segera memerintahkan pasukannya untuk kembali ke ibukota ras elf yaitu Lorien. Tidak jauh dari pos tersebut terdapat sebuah kerangka berbentuk portal yang terbuat dari tanaman rambat dan beberapa akar pohon. Sarka dan regunya pun mendekati portal tersebut bersama dengan Zowie yang dikawal ketat.


Portal itu saat didekati oleh para Elf akan aktif dengan sendirinya karena saling bersinkronisasi dengan sihir para elf yang mereka dapat sejak lahir. Sihir murni itu bercampur dengan force yang telah diberikan oleh para dewa, itulah mengapa force yang dimiliki oleh para elf memiliki kapasitas yang lebih banyak dibandingkan ras - ras yang lain.


Sarka dan regunya segera melewati portal tersebut dan dalam sekejap telah sampai ke ibukota Lorien. Hal pertama kali yang membuat Sarka dan regunya terkejut adalah didepan portal ibukota sudah berjajar para penjaga elf yang sudah menunggu kedatangan mereka.


"Sepertinya kabar kekalahan kami sudah berhembus cepat ke ibukota.." Kata Sarka sedikit khawatir.


Mereka segera diantarkan oleh para penjaga kedalam ruang tahta dimana archon mereka, yaitu Slyvrin berada. Slyvrin elf berkulit putih bersih yang anggun dengan sebuah kebaya hijau dengan rambut hitam panjang dan sebuah pernak pernik yang menghiasi rambutnya. Ia duduk sambil tersenyum disingasana dengan pengawalan dari kedua elf pria yang gagah memegang sebuah tombak.


Sarka, Zowie dan salah satu elf pria yang menjadi wakil kaptennya menghadap didepan Slyvrin yang anggun.


"Sarka melapor.. maafkan aku telah kalah dari pasukan orc.." Sarka memulai pembicaraan.


Keadaan ruang tahta itu sangat hening. Para petinggi elf yang berada dihadapan Slyvrin pun tidak mengucapkan sepatah kata pun dengan kegagalan yang dialami oleh Sarka. Mereka hanya terdiam sambil menatap ketua regu itu dengan tatapan sinis.


"Mengapa kau bisa gagal, Sarka?" Suara yang lembut namun dapat mengintimidas.


Sarka pun sedikit kikuk dibuatnya, "Kapten dari ras orc sangat kuat ratu.. Ia adalah seorang pemegang kekuatan demicles.." Jawab Sarka memanggil Slyvrin Ratu.


"Sejauh mana kekuatannya, sampai kau yang juga seorang pemegang kekuatan demicles bisa dikalahkan olehnya?" Tanya Slyvrin.


"Ia memeiliki kekuatan penghancur yang sangat hebat.. force saja tidak cukup untuk menghentikannya dan juga pertahanannya sangat keras.. Memang para Orc memiliki kemampuan dalam kedua hal tersebut, akan tetapi orc tersebut sangat berbeda... ia sangat kuat!" Jelas Slyvrin tanpa menaikan kepalanya sedikit pun.


"Hooo menarik... Apa dia seorang Archon atau hanya seorang pendamping?" Slyvrin memastikan.


"Dari ukuran demicles yang ia tunjukan, sepertinya ia hanya seorang pendamping.." Kata Sarka sambil menahan malu.


Mendengar itu membuat para petinggi elf mulai saling berbisik dan memenuhi ruang tersebut.


"Hanya seorang pendamping tapi bisa mengalah kan Sarka?" Bisik dari para petinggi yang lain.


"Aku tidak yakin kalau dia kuat atau mungkin Sarka lah yang mulai tumpul?"


Bisikan - bisikan itu membuat Sarka dan wakil regu itu menahan malu yang amat sangat, dilain sisi Zowie hanya bisa menunduk tidak ingin ikut campur dalam hal ini akan tetapi perasaan yang mengganggu juga ikut menyelimutinya karena ia sekarang berada ditengah - tengah kumpulan orang yang sedang berbisik.


"Ratu! Izinkan aku menebus kekalahan ku ini!" Sarka mengangkat kepalanya.


Pandangan Slyvrin pun menata tajam kearah Sarka yang sedang meminta kesempata kedua kepadanya. Bisik dari para petinggi ras pun berhenti dan berubah menjadi sebuah cemohan dan merendahkan.


"Hah? Apa kau yakin bisa mengambil kembali wilayah yang sudah dijaga oleh para Orc?"


"Sudah ku bilang... Sarka bukanlah elf yang tepat untuk dititipkan kekuatan demicles..."


"Kau kira, kau bisa dengan mudahnya meminta kesempatan kedua kepada ratu?! Jangan bercanda!"


"Sarka lebih baik kau mundur dari pemegang kekuatan itu!"


Ejekan itu membuat Sarka begitu tertekan, wajah yang penuh kekesalan itu tidak bisa ia luapkan karena sedang berada dihadapan sang Ratu. Slyvrin pun mengangkat tangannya dan menghentikan cemohan tersebut.


"Apa kau yakin bisa mengambil kembali wilayah tersebut sedangkan kau baru saja mengalami kekalahan telak!" Tanya Slyvrin tegas.


"Aku yakin regu ku bisa mengambil alih wilayah tersebut, juga dengan bantuan manusia ini.. kami yakin bisa unggul melawan pasukan orc yang diketuai oleh salah satu pendamping mereka" Jawab Sarka dengan percaya diri.


Slyvrin pun beralih menatap kearah Zowie yang masih menundukan kepalanya.


"Siapa manusia ini? Kenapa kau bawa ia kemari?" Tanya Slyvrin.


Sarka pun segera menjelaskan pengetahuan Zowie mengenai tanaman obat yang dapat menyembuhkan luka secara instan, sontak itu membuat semua yang berada diruang tahta itu juga terkejut dengan cerita Sarka. Tentu, dengan tidak adanya bukti yang jelas, membuat mereka tidak mempercayai cerita dari Sarka begitu saja. Demi membuktikan perkataannya, Sarka pun segera membesatkan pergelangan tangannya dengan pisau miliknya.


"Nona Sarka!" Wakil kapten regu Sarka terlihat khawatir melihat Sarka melukai pergelangan tangannya.


Darah pun mengalir dari pergelangan tersebut yang mana kalau dibiarkan akan membuat Sarka kehabisan darah dan mati. Slyvrin pun tidak terkejut sedikit pun dan para petinggi yang lain hanya terkejut sesaat karena Sarka ingin membuktikan perkataannya.


Sarka dengan cepat menoleh kearah Zowie dan Zowie pun mengerti maksud dati tatapan Sarka tersebut. ia segera mengambil obat yang terbungkus dengan daun tadi dan mengolesnya ke pergelangan tangan Sarka yang terluka. Kejadian yang sama pada saat di pos utama pun terulang kembali diruang tahta. Mereka yang menyaksikan penyembuhan secara instan itu terkejut bukan kepalang, terlebih lagi bukan hanya para petinggi saja yang terkejut dengan kehebatan dari penyembuhan racikan miliki Zowie, akan tetapi Slyvrin dan pendampingnya pun juga ikut terkejut yang mana berarti didunia mereka sebelumnya tidak ada barang sejenis dengan potion.


"Nona Slyvrin! Apa itu sebuah sihir?" Tanya pendamping yang berada disebelahnya.


"Tidak! Itu sepertinya bukan sihir!" Slyvrin terkejut dengan mata bergetar.


Ruangan itu sekarang ini dipenuhi dengan keterkejutan, decak kagum pun tidak sungkan mereka berikan.


"Itu Hebat! Kalau begini ras elf tidak akan takut terluka lagi!" Celetuk salah satu petinggi elf.


"Ya itu benar!" Seru semua petinggi yang berada disana.


Sarka dan wakil kaptennya pun mulai bisa bernafas lega dan sudah bisa tersenyum karena apa yang mereka berikan dapat membuat para petinggi dan ratu elf senang.


"Sejauh mana obat itu efektif?" Tanya Slyvrin kepada Zowie.


"Untuk sekarang obat ini hanya bisa menyembuhkan luka sayatan saja.." Jawab Zowie.


"Itu sudah lebih dari cukup! Apa kau bisa mengembangkannya lagi?" Tanya Slyvrin kembali.


"Kalau ada tanaman yang mendukung mungkin itu tidaklah mustahil.." Jawab Zowie.


"Baiklah... Aku akan menyiapkan tim untuk melakukan penelitian bersama diri mu mulai detik ini.." Tembak Slyvrin kepada Zowie mengenai program kerjanya.


"Baginda Ratu aku.." Zowie terlihat ingin mengatakan sesuatu.


"Apa?! Apa kau bilang tidak ingin bekerjasama dengan ras elf?" Potong Slyvrin dengan nada tegas.


Zowie pun segera terbungkam dan akhirnya hanya menerima perintah dari Slyvrin. Setelah laporan singkat itu, sudah diputuskan kalau Sarka akan mendapat kesempatan keduan untuk mengambil alih kembali wilayah yang telah direbut oleh ras orc. Sementara itu, setelah pertemuan tadi Zowie segera diantarkan oleh pelayan menuju ruangan barunya. Ia tidak sendiri, Zowie juga dikawal oleh Sarka dan wakil kaptennya karena regu mereka lah yang sekarang ini bertanggung jawab atas hadirnya Zowie di ras mereka.


"Mulai sekarang, putuskan hubungan mu dengan ras mu itu... Kau sekarang berkeja dibawah ras elf, jadi jangan berpikir untuk kembali lagi ke ras mu itu.." Kata Sarka.


"Ini sebuah pemekasaan... Kenapa aku harus bekerja bersama kalian?! Padahal aku ingin bebas tidak terkait oleh siapapun kecuali dengan dia.." Jawab Zowie.


"Apa kau bilang?!" Sarka sedikit geram.


"Dia?! Siapa yang kau maksud dengan dia?" Tanya wakil kapten tersebut.


"Dia seorang petarung yang tangguh dan juga teman pertama ku.." Jawab Zowie dengan senyuman.


Sarka dan Wakil kaptennya pun saling menatap satu sama lain setelah Zowie menjawab pertanyaan wakil kapten tersebut. Tidak terasa setelah baru saja berbincang - bincang kecil, mereka telah sampai disuatu ruangan yang sudah selesai disiapkan dengan cepat demi Zowie. Ruangan itu adalah ruangan yang memiliki peralatan lengkap untuk meneliti sebuah temuan baru. Zowie yang melihat ruangan itu begtu terkejut dan ia tidak bisa menyembunyika ekspresinya.


"Sepertinya aku akan betah disini!" Spontan Zowie berkata.


Beberapa hari kemudian, di ibukota De Hoorn. Rado yang sedang duduk dikursinya sambil meliaht semua laporan yang tertulis disebuah catatan hologram, dikejutkan oleh Albert yang masuk secara tiba - tiba.


"Rado! Ada laporan dari divisi dua bahwa wilayah ras elf telah berahasil diduduki oleh ras Orc!" Lapor Albert.


Rado yang mendengar itu hanya terdiam tanpa menunjukan reaksi apapun.


"Sepertinya Dogol memiliki pemikiran yang sama dengan ku.. Sepertinya ini akan menarik.." Dalam benaknya.


"Bagaimana laporan wilayah lain?" Tanya Rado.


"Saat ini baru ada laporan mengenai wilayah elf tersebut saja.. selebihnya.."


Sebelum Albert menyelesaikan perkataannya, kali ini Jaquile yang masuk secara tiba - tiba.


"Rado!!!!!!" Teriaknya.


"Hah.... Kenapa kalian masuk tidak santai saja sih?" Rado terlihat lelah.


"Kita mendapat laporan baru dari divisi dua kalau para elf sekarang ini sedang bergerak menuju wilayah mereka yang telah diambil oleh para Orc!" Lapor Jaquile.


"Apa?! Secepat itu?!" Dalam benak Rado terkejut.


"Baiklah! Kalau begitu siapkan para prajurit... Kita akan ikut serta dalam pesta itu.." Senyum Rado yang mulai melakukan pergerakan pertamanya.