The Archon

The Archon
Spesial Wen Li Part 1



NOTE : Chapter ini menceritakan kehidupan Wen Li sebelum ia mati di black dungeon, Cerita ini juga akan memakai sudut pandang Wen Li (POV 1) terhadap perjalanan dirinya bertemu Rado dan Yoga yang tidak ada dalam alur utama, tetapi saya jamin ini ada kaitannya dengan alur utama nanti. Cuma sampai beberapa chapter kedepan sebagai transisi ke perjalanan Rado selanjutnya.


-------------------------------------------------------


Aku Wen Li, pemburu dari negara Singapura. Aku seorang close range dengan dua kapak yang menjadi senjata andalan ku. Status ku saat ini berada di Rank Saxon dan tergabung dalam guild top dinegara Singapura, yaitu pada guild BrotherHood. Di guild tersebut aku menjabat sebagai wakil kapten dan nama ku dikenal oleh banyak orang karena prestasi ku yang sudah banyak berhasil menutup dungeon dinegara ini bersama guild BrotherHood.


Selama hidup ku sebagai seorang pemburu, aku berhasil mendapatkan tiga hal penting yang ingin dicapai pria manapun, yaitu Harta, Tahta dan wanita. Aku tinggal disebuah apartemen kelas atas lantai 72 dengan mobil sport yag terpakir di basement, lalu juga console game yang selalu menemani malam ku dan sudah ku anggap sebagai wanita ku.


"Hei lihat.. itu Wen Li!"


Itulah yang selalu ku dengar dari para pemburu atau orang biasa setelah berpapasan dengan diri ku. Saat ini aku sedang berada didalam sebuah gedung milik guild ku. Dikarenakan guild kami ini adalah guild terkaya di Singapura, kapten tidak tanggung-tanggung untuk membeli sebuah gedung dengan 50 lantai sebagai markas kami.


"Wen Li.. Pukul dua siang pergilah ke menara dan selesaikan red dungeon di lantai 4 bersama yang lain"


Pria berwajah asia dengan rambut panjang hitam itu adalah kapten ku, Long Bai. Ketampanan dan juga kelihaiannya dalam memainkan busur bisa membuat hati para wanita mana pun bertekuk lutut kepadanya. Tetapi ketampanannya sudah pasti kalah dengan ketampanan ku. Diri ku yang modis dengan rambut hitam gaya two block tidak akan kalah dengan kharisma kapten.


"Baiklah.. Nanti aku akan mengabari yang lain.." Sahut ku.


"Anting baru?" Tanya kapten mengenai anting dengan liontin salib hitam yang ku kenakan.


"Yah.. aku baru saja mendampatkannya kemarin.." Aku menjawab tanpa menatapnya dan asik bermain game di smartphone ku.


"Berhentilah seperti perempuan" Kapten mengejek ku sambil berjalan menuju mejanya.


"Hahh?!!!! Ini adalah model jaman sekarang, kau yang tidak mengerti fashion diam saja!" Kesal ku karena ia mengejek penampilan ku ini.


"Hahahahaha ok-ok, selama itu tidak menghambat perburuan kita, aku tidak masalah.." Katanya sambil duduk di kursi miliknya.


"Dasar kapten bodoh! Sudahlah, aku akan turun kebawah dan membawa beberapa dari mereka..." Dengan sedikit kesal aku keluar dari ruangannya.


Aku menelusuri lorong dalam gedung tersebut menuju lift yang tersedia, aku menekan tombol 15 untuk menuju kesebuah lantai dimana disana tempat para anggota biasa berkumpul. Pintu lift pun terbuka dan langsung membawa ku kedalam ruangan tersebut. Ruangan itu sungguh luas dengan bar dan juga tempat bersantai dengan tv sebesar bioskop.


"Hei.. sepuluh orang dari kalian yang sedang nganggur! Ikut aku cepat untuk melakukan raid" Kedatangan ku membuat keheningan.


"Ahh... Hari ini aku ada janji dengan seorang wanita.. Aku akan ikut lain kali Wen Li" Kata pria berambut keorangean sambil bermain smartphone.


"Ayolah Franz, kau sudah tidak produktif selama satu bulan.. apa kau ingin didepak dari Guild?"


Senyum ku mengancam pria dengan nama asli Li Hao itu.


"A-ah... baiklah aku akan ikut, sepertinya aku lupa kalau janjian dengan wanita itu minggu depan hehehe"


"Hei-hei.. apa tuan Wen Li yang akan memimpin?" Kata Wanita berambut keunguan mendekat kearah ku.


"Yah.. aku yang akan memimpin raid kali ini" Senyum ku kepadanya.


"Baiklah, Lili akan ikut.." Dengan sedikit nada menggoda ia ikut pada ku.


Aku telah berhasil mengumpulkan para pemburu dari guild ku, kami semua berstatus Rank Saxon dengan jumlah roh hampir menyentuh angka tiga juta roh. Kami turun kelantai dasar untuk menggunakan transportasi guild menuju menara tersebut. Transportasi yang kita naiki lebih seperti minibus dengan model futuristik. Gedung-gedung yang menjulang tinggi menemani perjalanan ku menuju menara dungeon.


Untuk membunuh rasa bosan ku, aku membuka platform Fotogram untuk melihat-lihat apa yang sedang menarik.


"Eh?! Siapa orang ini?!" Tanya diri ku dalam hati sambil melihat fitur eksplor dalam akun ku.


Tertulis "Pemburu yang menggemparkan Indonesia" Aku menonton video dari rekaman CCTV tersebut, yang ku lihat saat ini adalah seorang pria yang mampu menundukan tiga orang pemburu yang baru saja mendapat lisensi internasional.


"Gila! Siapa orang ini?! Apa dia sekuat itu? Atau memang sebenarnya pemburu Indonesia sangat lemah?" Pikir ku sambil beralih menuju mbah Boogle.


Aku penasaran dengan video tersebut dan juga orang itu, aku segera mengetik di kolom pencaharian demi mendapat informasi yang lebih mengenai kejadian tersebut, namun tidak ada kejelasan mengenai orang tersebut maupun identitasnya sekalipun, hanya ada sebuah spekulasi dan rumor saja yang dicetuskan oleh para pemburu saja.


"Hahh..." Hela nafas ku karena tidak mendapat apa yang aku cari.


"Hm? Apa anda baik-baik saja?" Tanya Lili kepada ku.


"Apa kau sudah menonton rekaman ini? Bagaimana menurut mu?" Aku memperlihatkan rekaman tersebut.


"Ahh... Aku sudah lihat itu.. Dia tampan dan juga tipe ku" Jawab Lili ngelantur.


"Bukan itunya, maksud ku kemampuanya!" Kesal ku kepada Lili.


"Eh?!" Lili terkejut karena suara tinggi ku.


Karena video yang sedang ku buka itu membuat mereka yang semulanya diam menjadi ricuh membahas mengenai orang yang berada didalam video tersebut.


"Ah... menurut ku, dia tidak sekuat anda dan juga kapten Long Bai... Hmmm mungkin juga tidak sekuat pemburu Singapura hahahaha"


"Yah... Kau tau lah, pemburu Indonesia tidaklah kuat seperti kita hahaha"


Mendengar perbincangan mereka itu membuat ku merasa besar hati dan menganggap kalau mungkin memang benar, kalau dia dan pemburu Indonesia yang lain jauh berada di bawah ku dan juga pemburu Singapura.


"Hahahaha kalian tidak boleh seperti itu.. Meskipun begitu mereka sudah mendapat Lisensi Internasional.." Celetuk ku untuk merendah.


"Hahaha anda sunggu rendah hati, padahal anda sungguh kuat.. kalau saja urusan mengenai lisensi internasional tidak dibuat rumit oleh orang itu, mungkin anda dan juga kapten Long Bai sudah menjadi pemburu internasional juga"


"Hahahaa itu benar.." Sahut ku dengan tawa lepas.


Yang dimaksud oleh pemburu itu adalah mengenai sosok dibalik layar Asia Tenggara yang bernama Gozie. Aku mengetahui namanya dari kapten Long Bai. Kapten Long Bai sempat bercerita kepada ku mengenai asia tenggara yang sudah menjadi boneka bagi salah satu organisasi suatu negara. Saat ini bagi pemburu Singapura dan juga pemburu di negara asia yang lain, tidak diperkenankan untuk mendaftarkan diri kedalam ujian lisensi internasional tersebut. Hanya orang-orang terpilihlah yang memiliki hubungan dekat dengan orang tersebut yang diperbolehkan mendaftar.


Kapten Long Bai sangat membeci orang itu dan sempat menolak rekomendasi dari organisasinya untuk bisa mendapatkan lisensi tersebut. Kapten Long Bai merasa, jika ia mengambil lisensi tersebut maka ia akan menjadi anj*ng orang tersebut, bukan mengabdi sebagai pemburu Singapura lagi.


Tak terasa lamunan ku mengenai skema yang terjadi di negara tercinta ku ini membuat ku tidak terasa kalau kami sudah sampai di menara dungeon. Tanpa membuang-buang waktu lagi kami segera memasuki dungeon dan segera menuju lantai 4 medan Lava.


"Hei lihat.. itu guild BrotherHood" Bisik pemburu disana.


"Kyaaa... itu tuan Wen Li" Heboh pemburu wanita melihat ku.


Aku mendengar semua bisikan-bisikan kesenangan dari mereka setelah melihat kami dan itu sudah menjadi hal yang biasa buat ku. Kami segera menuju red dungeon yang sudah menunggu kami sejak tadi. Tanpa basa basi aku segera mengetuai mereka untuk melakukan raid siang menjelang sore ini. Medan lava kali ini tidak terlalu jauh beda dengan yang biasa aku masuki, perpaduan antara batuan dan dikelilingi lava membuat ku tidak nyaman karena panas.


"Formasi.." Perintah ku setelah memasuki dungeon tersebut.


Para tanker berjalan didepan dan aku berada ditengah mereka sebagai pemisah antara petarung jarak dekat dan jarak jauh.


"Wakapten..!"


Salah satu tanker berhenti dan segera melapor kepada ku mengenai monster yang berada didepan kami, terlihat monster kali ini ada Granite Lava dimana monster tersebut memiliki 90% tubuh yang terbuat dari batu granite dan 10%nya adalah lava dengan tinggi tidak jauh berbeda dengan manusia. Mereka tersebar dibeberapa titik didalam dungeon dan itu pasti akan membuang-buang waktu.


"Hmm.. Kalau begini akan lama.. bagaimana kalau kau menggiring mereka ke satu titik?" Usul ku melihat kearah Franz.


"Hahh?!!! Apa kau gila? Kalau aku mati bagaimana?!" Franz mencoba untuk menolak.


"Hiiiii!!! Jangan kumohon! Baiklah-baiklah, aku akan menggiring mereka semua kesana"


Franz akhirnya menyetujui usulan ku dan memilih tempat terbuka untuk penghabisan monster. Kami segera mengambil posisi dimana Franz menentukan titik pertemuan dan setelah kami sudah memberikan tanda, ia segera berlari memutari area tersebut untuk memprovokasi monster tersebut. Setelah beberapa lama ia berputar, Franz dengan terlihat berlari seperti anak yang dikejar oleh hantu, ia merengek ketakutan sambil menggiring banyak Granite Lava kearah kami.


"Hoi-hoi-hoi cepat! cepat! Siapkan diri kalian!" Teriak Franz ketakutan.


Franz berlari dengan cepat kearah kami, kami pun sudah bersiap untuk melakukan serangan. Selagi menunggu monster tersebut masuk kedalam titik serang, para mage mulai mempersiapkan serangan mereka. Dibelakang ku sekarang ini sudah diterangi berbagai warna yang disebabkan oleh rangkaian sihir yang nantinya akan menjadi sebuah force serang.


Aku terus memperhatikan gerombolan monster tersebut sampai ditempat yang tepat. Setelah mereka sudah mencapai tempat yang ditentukan, aku segera memberikan perintah.


"Sekarang!!!!"


Para Mage dan juga Ranger segera melancarkan serangan mereka yang mana menyebabkan ledakan yang amat besar. Ledakan itu menutupi area tersebut dan menelan mereka dalam asap yang pekat. Setelah asap itu mulai memudar, barulah tugas kami yang seorang close range maju untuk melakukan sentuhan terakhir, yaitu membunuh mereka yang masih hidup.


Aku mengayunkan kedua kapak ku kearah mereka yang tersisa, rasanya seperti memotong sesuatu yang keras dan sedikit kesat. Aku agak sedikit benci jika harus melawan monster yang bukan terbuat dari daging atau pun tumbuhan, karena bisa membuat ketahanan kapak ku cepat menurun.


Tidak perlu lama untuk membereskan kroco-kroco didalam dungeon tersebut, dengan strategi yang ku racik ini dapat mempermudah menyelesaikan dungeon.


"Ok, waktunya mengambil jarahan.." Perintah ku kepada mereka semua.


"Baik...." Sahut mereka menanggapi perintah ku dengan leseu.


"Hoi.. kenapa kalian sangat lesu sih?" Tanya ku tolak pinggang.


"Hah... Kenapa anda tidak membawa porter? Kami malas kalau harus memungut dropan dari monster" Kata salah satu anggota ku.


"Itu benar.. nanti kuku ku rusak" Lili mengeluh.


"Sudah.. kalian lakukan saja.." Paksa ku kepada mereka.


Kami segera melanjutkan peralanan menuju ruang bos yang tersisa. Ruangan itu memiliki pintu dengan gambar berupa banteng, perasaan ku sedikit tidak enak melihat gambar tersebut.


"Apa mungkin?" Pikir ku menebak bos yang ada didalam tersebut.


"Hah... apakah ini minotaur?" Hela nafas dari Franz.


"Mungkin saja..." Sahut ku.


Kami pada akhirnya membuka pintu tersebut dan masuk kedalamnya, ruangan itu cukup gelap hanya diterangi oleh lava yang mengelilinya, tetapi di ujung ruangan itu terdapat sebuah bayangan seperti banteng yang sedang membawa sebuah palu cukup besar.


"Hahhh.... benarkan, minotaur!" Franz terlihat malas menghadapi bos tersebut.


"Jangan banyak, mengeluh.. cepat lakukan barikade" Perintah ku dengan sedikit malas juga.


"Heee..... aku tidak mau... perisai ku selalu rusak kalau melawannya" Franz mulai merajuk.


"Cepat lah... aku ingin segera pulang teman-teman" Pinta ku kepada mereka.


Pada akhirnya para tanker mulai maju terlebih dahulu. Minotaur yang mengetahu keberadaan kami segera menunjukan wujudnya lalu mengeram sepeti seekor sapi, lalu ia segera berlari menghampiri kami membawa palunya tersebut.


"Hoi-hoi kenapa langsung kearah ku?" Teriak Franz dengan sedikit panik.


Minotaur itu segera memberikan serangan kepada Franz, Franz segera memposisikan perisainya kearah atas dan palu itu menghajar terus menerus seperti ia sedang memukul paku. Franz terus bertahan dibawah perisainya, aku bisa melihat semakin lama perisai milik Franz mulai rusak karena intensitas jumlah pukulan yang dilancarakan oleh Minotour sungguh banyak.


"Hoi jangan lihat saja! Perisai ku ini hampir menonjol kebawah!" Franz berteriak kearah kami.


Aku segera berlari melesat dan mencoba untuk menebas Minotour tersebut, namun ia dengan sigap segera menghindar dan serangan ku itu hanya mampu memotong jenggot panjangannya. Minotour tersebut berdiam terlebih dahulu menelaah apa yang tertebas, setelah ia sadar kalau yang tertebas adalah jenggot panjang miliknya, ia mulai menunjukan amarah dengan asap yang keluar setiap ia bernafas.


Ia segera berlari kearah ku. Ku kira dia akan menyerang ku dengan palu miliknya, namun aku salah. Dia malah menyeruduk ku dengan tanduk miliknya. Aku segera menyilangkan kapak ku demi menahan tandukannya itu, tetapi aku hingga terseret kebelakang karena kekuatan miliknya.


"Dasar sapi gila... hoi tanker bantu aku menahannya" Aku menoleh kebelakang sambil merasakan beban yang berat didepan ku.


Franz dan beberapa tanker lain segera membantu ku untuk menahannya. Setelah dukungan sudah sampai dan menggantikan posisi ku sebagai penahan, aku segera melompat dan menebas punggungnya. Tebasan ku cukup telak dan dalam karena force yang kualiri ke kapak milik ku cukup banyak. Minotour itu segera mendongak keatas dan mengeram lagi layaknya sapi.


Para damage dealer jarak jauh pun segera menyerang dirinya yang saat itu sedang merasakan sakit akibat tebasan ku. Para tanker pun segera mengerti dan segera membuat barikade demi menghidari ledakan yang terjadi seperti sebelumnya, namun itu tidak cukup untuk menumbangkan Minotaur. Ia masih berdiri kokoh dan masih mengincar ku.


"Hoi apa kau sedendam itu dengan ku?" Tanya ku padanya.


Ia terus mencoba menyerang ku bertubi-tubi namun dapat ku tahah. Bodohnya karena egoisannya itu membuat bagian belakangnya terbuka lepas yang mana membuat para close ranger dengan bebas menyerang dirinya. Sapi gila ini sungguh keras kepala, meskipun punggungnya sedang ditusuk dan ditebas ia malah tetap berfokus pada ku.


"Ehh... Sesayang itu kah kau dengan jenggot milik mu? Rasakan ini!"


Disaat ada kesempatan aku menebas satu tanduknya yang mana membuatnya mendongak kesakitan sekali lagi, tanpa melewatkan kesempatan, aku segera merunduk mendekat dan menyayat lehernya yang sedang tidak terlindungi tersebut.


Sapi gila itu akhirnya rubuh setelah kerongkongannya tersayat oleh kapak ku dan kehabisan darah.


"Huh.. sungguh melelahkan.." Kata ku sambil mengusap keringat didahi.


"Wen Li!!! Lihat perisai ku!" Franz menunjukan perisainya pada ku.


"Bwahahahahahhaa"


Aku tertawa terbahak-bahak karena melihat perisainya yang sudah hampir menyerupai tempurung kura-kura.


"Belikan aku perisai!" Rengeknya.


Setelah kami mengambil barang penting dari bos tersebut, kami memutuskan untuk keluar dari dungeon tersebut. Namun saat kami keluar, beberapa anggota guild berlari tergesa-gesa menghampiri kami.


"Wen Li.." Kata salah satu dari mereka sambil terengah-engah.


"Hei.. kenapa kalian sampai begini..?" Tanya ku tersenyum.


Aku masih menunggu mereka untuk mengambil nafas sebelum memberitahu apa yang akan mereka sampaikan.


"kapten Long Bai.." Ia berbicara namun tidak sepenuhnya.


"Ada apa dengan Long Bai?" Aku bertanya kembali namun tidak ada perasaan yang aneh.


"Kapten Long Bai tewas terbunuh!"


"Apa?!"


Sontak itu membuat ku dan yang lainnya terkejut, dalam pikiran ku sekarang dipenuhi dengan pertanyaan mengenai bagaimana bisa itu terjadi. Tanpa berpikir panjang aku segera lari dari sana menuju gedung Guild.


"Bagaimana bisa?! Hoi Long Bai!" Cemas ku mengantarkan diri ku yang menuju kesana.