
Didalam ruangannya, Gozie yang sedang mengerjakan sebuah dokumen penting menerima sebuah telepon dari keluarga Alavonte di Italia.
"Gozie.. apa yang kau pikirkan?! Membuat anak dari keluarga keparat itu menjadi kapten pemburu di negara mu?!"Nada berat dari seorang pria.
Gozie berputar dibangku nyamannya, "Hahaha.. kau tau? dia itu anak Silva!"
"Apa?! anak dari Silva? kau membiarkan anak pengkhianat itu hidup?"
"Hei.!! Jaga bicara mu! Meskipun Silva berkhianat, tetapi dia tetap lah kaka ku! Aku tidak akan membiarkan siapapun mencelakakannya, termasuk keluarga kita! lagi pula dia bisa kugunakan sebagai alat pencetak uang disini hahaha"
"Bagaimana kau bertemu dengannya? sedangkan Silva dan keluarga busuknya itu bersembunyi dari radar kita"
"Dia datang sendiri kepada ku dengan menggunakan nama Morctis, mungkin awalnya dia datang untuk membunuhku karena aku telah membunuh Kevin Morctis yang ada kaitannya dengan masa lalunya"
"Lalu, bagaimana cara mu agar dia bisa memihak kepada mu?"
"Itu mudah Fredo, aku hanya memberitahukan fakta tentang siapa sebenarnya dia dan sebab kematian orang tuanya yang dibunuh oleh pemerintah Indonesia. Saat aku mengatakan itu, wajahnya terlihat bingung"
"Yah.. kalau anak itu berguna, aku tidak akan menghentikannya, tapi... kau harus memastikannya untuk tidak berkhianat seperti ayahnya!"
"Ya, aku akan memastikan itu"
Sambungan teleponpun berakhir dan Gozie segera meletakan Smartphonenya diatas meja, lalu ia bersender di kursinya.
"Kaka.. kalau saja kau tidak berkhianat karena jatuh cinta pada wanita Indonesia itu.. mungkin kita sudah menjadi keluarga yang terhebat"Gozie menatap kelangit ruangan sambil mengandai jika hal itu tidak pernah terjadi.
______________
Setelah berbicara didepan para media, Rado segera turun dari panggung yang menjadi titik pusat pada acara tersebut. Rado berbincang-bincang sedikit dengan orang-orang pemerintah bawahan Gozie untuk mengkonfirmasi kalau pertemuan dengan awak media sudah selesai, setelah itu ia menghampiri Yoga yang sudah menunggunya didepan pintu keluar.
"Pernyataan mu sungguh menakjubkan" Yoga tersenyum kepada Rado dengan tangan yang dimasukan kedalam saku.
"Hm.. senyuman mu ternyata menyeramkan juga, seperti saat kau ingin menikam ku dari belakang" Setelah Rado melirik kearah Yoga ia juga ikut tersenyum sambil menutup matanya.
"Kalau fakta itu tidak terkuak mungkin aku sudah menikam mu"
Rado membuka mata, "Yah.. aku tidak menyalahkan mu"
Saat itu mereka berjalan bersandingan kearah gedung pusat tempat mereka berkumpul dengan para pemburu Saxon Elite lainnya, Rado saat ini masih mengembang Rank Eranelnya. Ia menolak untuk dinaikan ranknya sebab ia tetap memegang teguh pendiriannya kalau dia tidak ingin menggapai Rank tersebut.
"Kapten.. Selamat datang kembali"
Para pemburu elite itu memberi salam kepada Rado yang baru saja tiba. Mereka adalah para pemburu terkuat yang Gozie kumpulkan miliki sebagai wajah dari negara Genosha. Beberapa hari yang lalu, Rado ditunjuk secara langsung oleh Gozie sebagai Kapten pemburu di negara baru tersebut dan tentu hal itu tidak begitu mulus begitu saja.
Dalam pencapaiannya itu, Rado harus melawan puluhan pemburu Rank Saxon Elite yang tidak setuju oleh keputusan ini. Mereka tidak sudi bila seorang Rank Eranel menjadi pemimpin mereka. Sampai akhirnya, setelah Rado mengalahkan mereka seorang diri, baru mereka mengakui Rado sebagai kapten utama di negara tersebut.
Kesombongan mereka segera runtuh semua dihadapan kekuatan Rado yang begitu besar, Gozie pun yang menyaksikan pertarungan itu juga tidak habis pikir kalau keponakannya itu bisa sekuat ini.
"Aku tidak menyangka kalau kau akan cepat naik menjadi Kapten utama di negara ini"
Yoga yang masih berdiri didepan pintupun mengatakan sesuatu kepadanya, "Rado.. Maafkan aku yang telah berencana menikam mu beberapa hari yang lalu"
Rado pada saat itu sedang menarik pedangnya itu dari sarungnya, "Hahaha ternyata kau masih memikirkan itu.. tak apa, aku sudah memaafkan mu"
"Tetap saja.. aku merasa tidak enak padamu, ku kira kau ingin memalukan keluarga Morctis lebih dari sebelumnya"
"Sudahlah, kita ini adalah satu keluarga yang dinaungi satu marga... Kesalahpahaman sudah pasti terjadi bukan.. Yoga Morctis?"
Rado menoleh kearah Yoga yang saat itu menunduk saat meminta maaf.
"Yah... sekali lagi aku minta maaf padamu" Yoga mengangkat kepalanya dan menatap kearah Rado.
Mata mereka saling bertemu dan tak lama Rado segera beralih ke pedang untuk memeriksa ketajamannya.
"Apa kau sudah tau dimana keluarga Morctis yang lain?" Rado bertanya kepada Yoga.
"Aku sedang mencari informasi dari keluarga lain yang sudah kutemui, ini sangat sulit karena mereka mengganti nama marga mereka dan pergi dari Indonesia untuk menghindari kejaran dari keluarga Alavonte" Yoga yang masih berdiri didepan pintu.
"Hah.. semoga dengan munculnya diriku yang menggunakan nama ini, keluarga Morctiis yang lain akan keluar.. dan kau Yoga! kau menjadi penengah dan penyambung kesalahpahaman atas diri kita yang berada dibawah Gozie"
"Baiklah.. tapi aku tidak menyangka, kalau ternyata ayah mu adalah SIlva Alavonte yang ditakuti pada masanya" Yoga tersenyum aneh atas ketidaksengajaan itu.
"Ya.. aku pun juga terkejut saat mendengar kalau ibu adalah salah satu dari keluarga Morctis dan Kevin adalah adik kandungnya. Tapi... bagiku, mereka adalah orang yang bodoh.... mereka rela meninggalkan keluarga hanya karena urusan cinta dan hidup bahagia dengan mengganti marga mereka menjadi Gavriel"
"Menurut ku cinta adalah alat yang bisa menembus suatu hal yang tidak mungkin menjadi mungkin karena cinta itu bisa mempersatukan seseorang dari kedua keluarga yang bermusuhan. Keluarga Morctis dan Alavonte sudah bertarung sejak puluhan tahun lamanya.. Alavonte adalah keluarga mafia dan Morctis adalah salah satu keluarga yang terkenal sudah menangani kejahatan dunia, lalu sudah tidak aneh lagi saat mendengar kalau keluarga kita saling membunuh sampai sekarang"
"Yoga... aku sempat jijik mendengar ceramah mu soal cinta..Tetapi kau harus mengetahui satu hal..."
"Yah... kalau kau memutuskan untuk tetap menjadi Gavriel dan mengurus perselihan ini bukan? aku sudah mendengarnya, tidak usah kau sebutkan lagi" Kata Yoga memotong perkataan Rado karena sudah mengetahui apa yang ingin ia katakan.
Rado dan Yoga tertawa kecil dalam perbincangan itu sebelum melakukan misi yang ditujukan untuk mereka. Kali ini permintaan berasal dari negara Australia, mereka memerlukan bantuan tenaga pemburu dari negara lain karena baru-baru ini Red Dungeon di Australia muncul lebih banyak dari biasanya.
"Apa kau sudah siap?" Tanya Rado kepada Yoga setelah ia selesai berkemas.
"Aku siap kapan saja" Yoga menanggapinya dengan senyuman.
Rado dan anggota barunya berjalan menuju bandara untuk melakukan Raid di negara Australia, Rombongan itu menjadi suatu yang ditunggu-tunggu oleh media lokal.
Mereka mengambil gambar dan video sebanyak mungkin demi menunjukan kepada dunia mengenai kekuatan dari tim pemburu negara Genosha dan juga untuk pemberitaan mengenai orang yang sedang menjadi sorotan dunia saat ini karena perkataannya yang mengklaim kalau dia adalah pemburu terkuat.
[Aku masih tidak bisa menghilangkan pikiran ku tentang mimpi itu.. kalau memang akan terjadi.., aku harus cepat!]
Dalam benak Rado dengan tatapan serius.
____________________
Note : Kali ini saya ga ngeitemin dialognya, karena cape kadang pas di upload malah berubah jadi ** hahahaha