
Setelah perginya Rado dari kediamannya, Ray terlihat sangat puas setelah melakukan penghinaan terhadap Rado. Ia terus meminum tehnya tanpa henti dengan rasa manis yang terbuat dari gula bercampur dengan momen yang sudah ia tunggu - tunggu. Kesenangannya itu pun tidak berlangsung lama karena ia kedatangan tamu kehormatan, yaitu Greg dan para pengikutnya.
"Ku dengar ia mengunjungi mu.." Senyum Greg memasuki ruangan Ray.
"Hooo... Begitu cepatnya diri mu mendengar kedatangannya.." Senyum Ray kepada Greg.
"Kau pikir siapa aku?" Senyum Greg.
"Sepertinya rencana mu berjalan dengan sangat baik..." Lirik Ray kearah Watz.
Watz terlihat tersenyum puas saat mendengar pujian dari Ray.
"Menurut mu sampai kapan para warga akan bertahan..?" Tanya Nimuz terlihat senang.
"Dengan penghentian seluruh produksi yang ada... Mungkin kurang lebih seminggu dan saat itu lah waktu yang tepat untuk menunjukan diri mu sekali lagi kedepan publik tuan Greg.." Jawab Ray sambil meminum tehnya.
Greg pun tersenyum mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Ray, mereka yang mengikuti jejak Greg pun juga turut senang dengan kejayaan yang sebentar lagi akan mereka gapai kembali.
Tiga hari setelah kunjungan Rado, Yoga dan Albert dari kediaman Ray. Suasana pagi hari pada distrik menengah mulai menunjukan tanda - tanda kerusuhan. Mereka, para warga yang tinggal di distrik bawah mulai melakukan aksi kejahatan, mereka melakukan kejahatan berupa mencuri makanan, merampas dan tingginya angka dalam praktek prostitusi ilegal yang dilakukan oleh wanita - wanita muda.
Ditengah pusat perbelanjaan pada distrik menengah.
"Hei hentikan bajing*n kotor itu!" Teriak seorang pedagang buah mengejar salah satu pria lusuh yang membawa beberapa buah apel dipelukannya.
Pria itu berlari dalam keadaan panik menerobos kerumunan orang - orang yang sedang berbelanja di pasar. Para pedagang lainnya pun mulai ikut mengejar pria tersebut untuk menghentikannya. Pria itu terus berlari menghindari kejaran warga, beberapa apel terlihat berjatuhan kebawah karena kurangnya kehati - hatiannya dalam membawa apel tersebut.
Beberapa saat ia berlari dari kejaran para warga, pada akhirnya ia berhasil dilumpuhkan oleh seorang prajurit keamanan yang saat itu tidak sengaja sedang berpratroli. Pria itu segera dihajar habis - habisan sebelum dibawa kedalam sebuah penjara kota bawah tanah tempat para dwarf ditahan.
Dua hari setelah penutupan seluruh industri, kerusuhan yang dilakukan oleh masyarakat kalangan bawah sudah berjumlah 68 kasus. Penjara bawah tanah mulai di isi oleh orang - orang berpakaian lusuh dengan motif kejahatan yang hampir sama.
"Mati kau! Dasar bau! Jelek! Miskin!" Kata seorang pria gendut yang sedang menginjak - nginjak pemuda kecil yang sudah babak belur karena terlibat dalam aksi pencopetan.
Pada suatu restoran terdengar pecahan piring yang disebabkan oleh kurangnya keterampilan pekerja baru wanita.
"Dasar bodoh! Jangan menambah kesulitan di restoran ku! Kita sudah sulit mendapatkan bahan baku untuk membuat makanan dan sekarang kau memecahkan piring ku!" Kata pria pemilik restoran sambil menginjak - nginjak wanita tersebut.
Saat malam telah tiba disebuah jalan sempit, terlihat pria muda sedang menggait dua wanita yang sedang menawarkan dirinya.
"Kau serius? Murah sekali! Baiklah ikut dengan ku.." Kata pria hidung belang yang menggait 2 wanita sekaligus untuk menemaninya.
Dua wanita yang bergaun itu, segera mengikuti pria tersebut menelusuri jalan - jalan sempit pada kota tersebut. Kedua wanita itu terlihat takut karena masih belum mengetahui kemana arah tujuan mereka akan dibawa. Saat jalan itu menuju kebuntuan, kedua wanita itu terkejut saat melihat sekelompok pria yang sudah menunggu mereka sejak tadi.
"Hei kawan - kawan.. aku membawa barang murah..." Kata pria yang menggait tadi dengan senyuman mesum.
"Hahahaha... Aku sudah menunggunya sejak lama.." Kata pria berkepala plontos dalam keadaan telanjang dada.
"K - Ku mohon lembut lah pada kami.." Kata salah satu wanita tersebut yang mulai dikelilingi oleh beberapa pria.
Keesokan harinya para pedagang mulai mengeluhkan sulitnya mendapatkan barang yang biasa mereka jual, karena terputusnya jalur supply yang biasa disalurkan oleh para industri - industri besar, membuat mereka sulit untuk memenuhi lonjakan permintaan dari para konsumen. Tingginya angka permintaan barang pokok sehari - hari, membuat kerusuhan dalam kasus berbeda terjadi, dimana harga barang yang dijual oleh para pedagang pasar melonjak tinggi dan membuat para konsumen memulai aksi protes mereka.
Kediaman Jefry yang berada di distrik bawah pun juga tak luput dari serbuan para warga kalangan bawah lainnya. Hal ini disebabkan karena mengingat Jefry yang bekerja langsung dibawah naungan Rado dan itu membuat dirinya dihujani dengan pertanyaan - pertanyaan yang mendesak.
"Bagaimana kebijakan yang akan diberikan oleh tuan Rado untuk menyelesaikan masalah ini?!" Tanya pria yang marah.
"Aku butuh uang!" Teriak pria satunya.
"Hei!!! Dia pasti memiliki uang yang banyak didalam rumahnya karena ia bekerja dibawah si penguasa langsung.. Cepat geledah rumahnya!" Kata seorang pria yang memprovokasi yang lainnya.
Mendengar hal itu, membuat para warga menjadi lebih brutal dan marah, lalu segera menerobos masuk kedalam rumah Jefry.
"Tidak tunggu!" Kata Jefry mencoba untuk menahan mereka.
Namun usahanya sia - sia, Jefry tidak mampu menahan gerombolan orang - orang untuk masuk kedalam rumahnya. Kedua anaknya terdengar memanggil - manggil dirinya dengan histeris karena ketakutan akan adanya orang asing yang masuk kedalam rumah. Istrinya pun mendapat perlakukan kasar, ia telah ditampar oleh seorang pria yang mencoba untuk menjarah isi rumahnya karena mencoba untuk menghentikan mereka.
Rumah mereka dibuat berantakan dan hancur dengan keadaan seluruh isi rumah dibawa keluar oleh mereka.
"Tolong jangan bawa pergi barang kami! Kami tidak memiliki apa - apa lagi..." Pinta Jefry melas dalam keadaan babak belur memohon ampun pada seorang pria yang memprovokasi emosi para warga untuk melakukan jarah rumah.
Jefry pun ia tendang hingga terpental kearah belakang.
"Jangan sentuh aku.. Dasar kotor!" Katanya menatap jijik pada Jefry.
Pria itu keluar tanpa membawa satupun barang dari rumah Jefry, setelah ia berhasil memprovokasi warga kelas bawah. Ia bertemu dengan seseorang prajurit keamanan kota yang tidak lain adalah Kayle.
"Bagaimana?" Tanya Kayle yang sedang menyandarkan diri di jalan sempit distrik bawah.
"Hahahaha mereka mudah sekali di provokasi... Selanjutnya apa tuan?" Kata pria tersebut.
Kayle tersenyum dengan amat lebar setelah mendengar pertanyaan tersebut.
"Hahh.... Ayo kita kembali ke atas untuk mencari tikus - tikus yang melanggar aturan dan menebar provokasi serta isu miring lainnya" Jelas Kayle.
Keesokan paginya didalam ruangan tempat biasa Rado bekerja. Ditengah kerusuhan yang mulai meneriakan dirinya untuk segera turun dari kursi pemimpin, Rado yang termenung karena musibah yang sedang melanda ibukota, terlihat sedang duduk mengarah keluar jendela. Suara para warga yang mulai mencaci maki dan memandang benci Rado, mulai terdengar di seluruh kota. Beberapa warga juga mulai melemparkan jendela - jendela gedung utama dengan buah - buahan busuk untuk memberikan tanda akan kebencian mereka terhadap Rado.
Para kapten juga sedang berusaha untuk meredam rasa amarah para warga yang menunjukan rasa protesnya kepada Rado
"Rado..." Panggil Yoga dengan perlahan.
"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Jaquile.
"Tidak ada.." Jawab Rado singkat.
"Apa maksud mu dengan tidak ada?! Diluar sana sudah banyak sekali kejahatan dan itu bisa memperburuk reputasi mu..!" Kata Jaquile khawatir.
"Jaquile... Sekarang ini memang tidak ada yang bisa kita lakukan karena kita sedang melawan pemegang kuasa atas seluruh industri... Jika kita menghukum mereka sekalipun, itu tidak akan menutup kemungkinan kalau industri itu akan berjalan kembali" Jelas Albert.
Rado tidak sekalipun menggubris kekhawatiran yang sedang melanda ketiga pendampingnya itu, ia hanya tetap terduduk diam sambil melihat kearah luar jendela dan memperhatikan keramaian yang disebabkan oleh orang - orang yang sedang melakukan unjuk rasa protes akibat buntut masalah dari rencana busuk yang diusulkan oleh Watz di ibukota De Hoorn.
"Tuan.." Panggil Albert..
Rado tetap mengacuhkan mereka.
"Bagaimana dengan meminta bantuan terhadap ras elf..?" Tanya Yoga tiba - tiba.
"Jangan merepotkan mereka... Ini bukanlah masalah yang harus mereka tangani.." Kata Rado tanpa menatap mereka bertiga.
"Tapi..." Yoga mencoba untuk menekankan usulannya.
"Tapi kami dan jajaran para kapten lainnya tidak membenci anda.. Kami malah menaruh hormat yang tinggi kepada tuan.. Yang patut disalahkan atas kekacauan ini adalah mereka para pemilik industri!" Kata Albert memanas.
Melihat Rado yang tidak melalukan apapun, membuat Jaquile menjadi tidak sabaran.
"Tunjukan pada ku dimana letak kediaman orang kaya brengs*k itu.." Pinta Jaquile dengan geram kepada Albert.
"Mereka akan tiba sebentar lagi.." Kata Rado memotong amarah Jaquile, sambil tersenyum melihat kearah kerumunan warga yang marah.
Selang beberapa saat Rado berkata demikian, pintu ruangannya pun terbuka dengan paksa oleh prajurit keamanan kota dan juga Barley.
"Maafkan kami tuan Rado, tetapi mereka memaksa masuk..!" Kata prajurit yang menjaga ruangan Rado.
"Tidak apa.. Mereka adalah tamu ku.." Rado sambil memutar kursinya untuk menatap mereka.
Para penjaga ruangan memilih untuk keluar dari ruangan tersebut setelah melapor. Yoga, Albert dan juga Jaquile terlihat geram melihat kedatangan mereka yang terasa tidak sopan.
"Kalian! Apa yang kalian lakukan?!" Bentak Albert.
Barley yang tidak gentar saat digertak oleh Albert, hanya tersenyum sambil menatap rendah.
"Hooo tuan Albert.. Bagaimana kabar anda? Kedatangan ku kemari untuk menangkap pemimpin yang tidak becus itu.." Kata Barley tersenyum.
"Jaga ucapan mu!" Kata Jaquile.
Rado hanya terdiam tersenyum sambil menatap Barley yang ingin menangkapnya.
"Bagaimana bisa kau menangkap pemimpin mu sendiri!" Kata Yoga menyangkal.
"Atasan ku?" Barley bertanya kepada Yoga.
Wajah dari Yoga, Albert dan Jaquile pun terlihat kesal saat Barley bertanya seperti itu.
"Hahahahahhaa memang secara struktur kepemimpinan dia memiliki posisi tertinggi di militer... Tetapi bagi ku hanya satu orang saja yang pantas menjadi seorang pemimpin di ras ini, yaitu..."
Sebelum Barley menyebutkan nama orang yang ia akui, Greg beserta komplotannya masuk kedalam ruangan Rado.
"Kau!!! Greg!" Albert terkejut saat melihat Greg memasuki ruangan tersebut.
Dibelakangnya, jajaran petinggi dari kelompok pengkudeta itu satu persatu memasuki ruangan Rado. Wajah - wajah yang mereka kenal pun mulai menunjukan diri mereka pada satu tempat yang sama. Nimus, Ray, Watz, Kayle dan beberapa prajurit keamaan kota meramaikan ruangan yang menjadi sesak tersebut.
"Watz?" Yoga terkejut.
"Nimus? Kau?" Albert kembali terkejut.
Nimus hanya tersenyum disana.
"Hei! Kau bukankah bagian dari kami?!" Tanya Jaquile kepada Watz.
Jaquile tanpa berpikir panjang segera menghampiri Watz dan ingin sekali memukulnya, namun Greg dengan segera mencegah Jaquile dengan memegang bahunya.
"Kalau kau melukainya, kau akan dianggap kriminal.." Kata Greg.
Jaquile pun mengurungkan niat untuk mendaratkan tinjunya pada Watz yang sedang tersenyum. Setelah melihat keadaan yang sudah mulai kondusif dan tidak ada lagi perlawanan dari sisi Rado, Greg bergerak maju menghadap Rado.
"Greg... Kau!! Seharusnya aku menyadari ini sejak dulu.." Geram Albert dengan bola mata yang terus mengikuti langkah Greg saat berjalan menuju kedepan Rado, Greg hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman.
Greg pun berdiri tepat didepan Rado yang sedang tersenyum. Ukuran tubuh Greg yang besar membuat Rado harus menyandarkan tubuhnya ke kursi untuk mendapatkan pemandangan wajahnya lebih baik.
"Perkenalkan.. Aku ada adalah Greg Listern.. Mantan wakil pemimpin di ras ini..." Greg memperkenalkan diri.
Seluruh ruangan menjadi hening dengan pertemuan antara mereka berdua.
"Senang bertemu dengan mu Greg..." Sapa Rado sambil melirik kearah pengikutnya yang sedang tersenyum, kecuali Watz yang terlihat geram saat melihat Rado.
Rado pun kembali beralih menatap Greg yang saat ini berada didepannya.
"Aku tidak menyangka kalau salah satu divisi yang tergabung dalam struktur militer di ras ini akan mengkhianati kepalanya.." Senyum Rado.
"Kau hanya kurang memiliki kharismatik.." Jawab Greg menanggapi keluhan Rado.
Mereka yang menentang Rado terlihat tersenyum dengan kondisi yang sudah dipastikan pemenangnya.
"Kau mungkin sudah mengetahui situasinya.. Seorang pemimpin yang dibenci oleh rakyatnya harus segera diturunkan..." Kata Greg tersenyum puas.
"Yah.. Aku mengetahui itu dan aku akan turun.." Terima Rado dengan cepat sambil tersenyum di kursinya.
"Rado?!" Ketiga pendampingnya terkejut dengan keputusan cepat Rado.
"Hahahahahahahahaha... Secepat itu? Sungguh memalukan! " Ejek Nimus tertawa lepas.
"Diam kau! Atau aku akan..." Jaquile memanas dengan force yang mulai menggetarkan bangunan.
"Hiii.." Nimus, Ray dan beberapa prajurit keamanan lainnya terlihat ketakutan, tetapi sekali lagi Rado mendinginkan suasana.
"Jaquile..." Rado menghentikan amarahnya sambil tersenyum.
Jaquile yang merasa tertahan, segera menghentikan pemberontakannya. Namun sekali lagi ia melihat kearah Nimus dengan geram dan sebagai balasannya, Nimus tersenyum dengan wajah yang menjengkelkan.
"Khek!" Jaquile merasa terhina melihat wajah Nimus.
"Aku kagum dengan ketenangan mu dan juga pengertian mu atas ketidakbecusan mu dalam mengelola sebuah ras..." Kata Greg melakukan penghinaan terselubung.
Rado hanya tersenyum tanpa melawan sedikitpun saat mendengar penghinaan tersebut.
"Sungguh memalukan..! Seseorang yang di anugerahi dengan kekuatan leluhur harus tunduk dengan mudah oleh rakyatnya sendiri.. Itu bukanlah sifat seorang pemimpin yang tegas!" Kata Nimus semakin memanaskan suasana.
Jaquile semakin geram dengan tingkah Nimus.
"Kau sudah mengerti bukan? Cepat segera tinggalkan kota ini dan segala yang ada pada diri mu... Termasuk kekuatan demicles.." Senyum Greg menatap Rado yang sedang tersenyum tenang.
"Baiklah.. Aku akan memberikan kekuatan ini kepada mu.." Terima Rado tersenyum menyetujuinya.
Seluruh pendamping yang menyaksikan pelengseran itu, terkejut dengan pasrahnya Rado saat diminta untuk melepaskan kekuatannya. Disisi lain, kubu Greg terlihat amat puas tersenyum dan tertawa lepas setelah meraih kemenangan mudah dengan memanfaatkan kerusuhan rakyat yang dicintai oleh Rado.