The Archon

The Archon
Permainan Ras Dwarf



Ditengah hutan persimpangan antara wilayah ras manusia dan juga ras elf dimana Folk memutuskan untuk membuat sebuah markas pusat dalam pergerakan pertamanya sebagai archon dari ras dwarf. Kejadian yang tidak disangka dengan tertangkapnya Joon sebagai kapten pengintai di wilayah dwarf tertangkap oleh pasukan dwarf yang sedang mempersiapkan pasokan logistik untuk dikirim ke markas pusat tersebut.


Joon yang diborgol dan sudah bersimbah darah dilempar begitu saja kedepan Folk yang sedang bertolak pinggan dan tersenyum lebar. Folk pun berjongkok untuk melihat wajah Joon yang sedang menyentuh tanah tak berdaya.


"Heee.... Ada seekor lalat yang tertangkap.." Tatapnya dengan wajah senang.


"Apakah ada yang lain?" Tanya Folk kepada dwarf berjenggot hitam yang menangkapnya.


"Kami membunuhnya ditempat hingga tak tersisa.." Jawabnya.


"Lalu.. Kenapa ini tidak kalian bunuh?" Tanya Folk heran.


"Karena pengintai yang lain memanggil dirinya kapten dan kami membiarkannya hidup dengan tujuan mungkin ia akan memberikan informasi kepada anda.." Jelas dwarf tersebut.


"Kau pintar.. tapi juga bodoh..." Ujar Folk tersenyum.


"Eh??!!! Kenapa anda berpikiran seperti itu tuan?" Heran Dwarf tersebut.


"Kau benar membawa mata - mata kemari.. tetapi, kalau kau membawa orang yang memiliki tanggung jawab yang besar, sama saja kau membawa peluit tanpa suara... Ia tidak akan berbicara" Senyum Folk lebar.


Joon terus terbaring menutup matanya, berpura - pura tidak sadarkan diri menunggu waktu yang tepat untuk melakukan tindakan.


"Sial! Bagaimana bisa... Aku harus mencari cara untuk lari dan memberitahu ini kepada tuan Rado, kalau ras dwarf telah menggali terowongan bawah tanah hingga keperbatasan wilayah... Kalau dibiarkan, mungkin ras dwarf bisa muncul di De Hoorn!" Pikirnya dalam benak sambi menutup mata.


Saat itu Joon dan lima bawahannya sedang mengintai wilayah timur dwarf didalam hutannya. Bagian wilayah ini bukan lagi menjadi sebuah ancaman karena wilayah ini merupakan perbatasan dengan wilayah elf yang sudah menjalin aliansi dengan ras manusia. Saat itu Joon dan bawahannya sama sekali tidak merasakan apapun yang aneh dari ras dwarf, hanya saja yang mereka lihat saat itu adalah mengenai para dwarf membawa suatu muatan kedalam benteng mereka yang berada di timur tersebut.


Joon mengutus salah satu bawahannya untuk melaporkan kejadian ini kepada Rado. Beberapa saat utusan itu pergi, Joon berencana untuk menarik diri dan segera mencari Vision yang berbeda untuk mengintai. Dalam perjalanannya menelusuri hutan tersebut, ia dikejutkan dengan sebuah lubang yang mencurigakan. Joon yang merasa penasaran pun memasuki lubang tersebut dengan sangat hati - hati.


Lubang itu ternyata adalah sebuah lorong yang gelap, memiliki ukuran setengah tubuh manusia yang mengharuskan Joon dan bawahannya harus membungkuk untuk menelusurinya. Karena lorong itu sangat gelap, salah satu bawahan Joon menyalakan sebuah alat berbentuk stick yang membuat kegelapan itu diterangi cahaya. Mereka menelusuri lorong tersebut selangkah demi selangkah. Semakin mereka jauh melangkah, mereka seperti mendengar suara roda yang berputar.


"Suara apa itu?" Tanya Joon.


"Kami tidak tahu.. tetapi sepertinya, suara itu berasal dari dalam lorong ini" Kata bawahannya.


Joon seperti tidak yakin dengan melanjutkan perjalanan ini, akan tetapi rasa penasarannya mengalahkan sinyal bahaya dalam hatinya. Joon memaksa untuk melanjutkan penelusuran lorong tersebut hingga jauh kedalam mengikuti suara roda tersebut. Alangkah terkejutnya ia ketika sampai ditengah jalur kereta yang membentang hingga masuk kedalam lorong bercabang.


Kereta yang melintas itu membawa persenjataan yang telah dibuat oleh ras dwarf selama ini. Kereta itu adalah kereta tanpa awak yang memanfaatkan tenaga uap yang terpasang dibelakang kereta tersebut sebagai motor penggerak kereta tersebut.


Joon menatap ke bawahannya yang mengikutinya dari belakang, ia mengangguk tanda untuk tetap menelusurinya. Para bawahannya pun menyetujuinya dan mereka segera keluar dari lorong sempit dan beralih ke lorong yang lebih besar dengan trek kereta tersebut. Joon dan bawahannya melanjutkan penelusuran dengan mengikuti kemana arah kereta tersebut berjalan. Lorong tersebut kali ini diterangi oleh lentara berwarna kekuningan.


"Sampai mana kereta itu berjalan?" Tanya salah satu bawahannya.


"Aku tidak tau.. tapi kita harus mengikutinya..." Jawab Joon.


Semakin mereka mengikuti kereta tersebut, Joon seketika berhenti dan segera mengumpat disamping bebatuan lorong karena mendengar sebuah aktifitas didalamnya. Saat merasa aman, mereka mencoba untuk mengintip sedikit untuk melihat aktifitas apa itu.


"Apa?!" Joon terkejut melihat pusat aktifitas ditengah lorong tersebut.


"Ba- - bagaimana bisa mereka berbuat seperti ini tanpa ketahuan dari ketiga ras lainnya?!" Bawahan Joon ikut terkejut.


"Kau benar..! Seharusnya dengan aktifitas yang sungguh ramai ini, mereka bisa ketahuan bila kita melewati daratan diatasnya, mengingat wilayah mereka dan ketiga ras lainnya termasuk ras kita selalu dilalui dalam rute pengintaian" Jawab bawahannya yang lain.


Aktifitas ditengah lorong yang luas itu adalah kumpulan besar dwarf yang sedang menurunkan persenjataan, memoles perlengkapan, sebuah kemah dan juga mesin uap yang sangat berisik. Saat itu, ditengah keterkejutan mereka, Joon melihat sebuah alat yang terpasang meluas diatas langit - langit lorong itu, alat itu memiliki led berwarna merah dan cukup mengundang sebuah pertanyaan dari Joon. Sebuah portal pun juga terpasang disudut lorong yang luas tersebut dan mereka semua tidak mengetahui kemana koordinat portal itu tertuju.


"Kau ingin tahu kenapa kami tidak ketahuan? Karena alat peredam suara yang kami ciptakan itu.." Jawab Dwarf berjenggot hitam yang secara tiba - tiba muncul dibelakang mereka.


"Heh?!" Joon menoleh kebelakang dan penglihatannya menghilang setelah melihat dwarf dan beberapa dwarf lainnya memukulnya dengan sebuah senjata.


Kembali kepada Joon yang sudah tertangkap didalam markas pusat Folk.


"Sudahlah... Bawa dia kedalam tenda ku..." Kata Folk memerintah.


Saat Folk memalingkan tubuhnya dari Joon, Joon yang memiiki tekat untuk melakukan gerakan spontan untuk menerobos melarikan diri. Namun, baru saja ia menggerakan sedikit tubuhnya, Joon terkejut dengan Folk yang tiba - tiba menembakan pistol yang berada dipaha kanannya dan langsung menembus kening Joon tanpa memberinya untuk bergerak sedikit pun.


"Akkhhhh..." Dengan sekarat Joon berhasil mengangkat kepalanya sedikit.


Semua rencana yang sudah ia susun dengan matang terlintas di pikirannya.


"Aku gagal?" Tanya pada dirinya dengan mata melotot dan lubang didahinya.


"Bercanda..... Hhahahahahaha mana mungkin aku mengijinkan makhluk ini masuk ketenda ku..." Tawa Folk dengan senang.


Setelah Joon sudah tidak bernyawa dan darah yang membasahi tanah disana, barulah Folk meninggalkan mayatnya tergeletak begitu saja.


"Hei.. Penggal kepalanya..." Perintah Folk kepada dwarf disana.


"Baik tuan..." Kata dwarf tersebut.


Dwarf itu mengambil tombak dengan bilah yang tajam dari dwarf yang sedang berdiri disebalahnya. Saat itu, ia melihat mayat Joon seperti hewan buruan dan segera melancarkan satu tebasan yang akurat kearah leher Joon dan memisahkannya pada tubuh Joon.


Saat ini Folk berjalan menuju titik pusat dari kemah ditengah hutan tersebut. Ia berjalan dengan sebuah senyuman lebar tanpa henti, dipahanya terdapat sebuah pistol dan dipunggungnya terdapat senjata api otomatis.


"Kalian!!" Teriak Folk kepada seluruh dwarf yang berada disana.


Seluruh dwarf yang sedang berkerja, serentak berhenti dan menghampir Folk yang berada ditengah - tengah perkemahan. Folk berdiri ditengah kerumunan para dwarf yang penuh dengan tanah, oli dan juga keringat. Para pendamping yang telah di pilih oleh Folk pun juga turut hadir. Folk saat ini memiliki 4 orang pendamping yang berasal dari dunia sebelumnya.


"Kita akan memulai permainannya! Siapkan semua perlengkapan kalian dan ayo kita berpetualang!" Seru Folk.


"Woooooo!!!!!!!!" Teriak para Dwarf.


"Mjorn, Ivar, Ubba, Sigurd! Awali petualangan dengan meriah!" Pinta Folk kepada para pendampingnya.


"Tenang saja Folk.. Aku akan meratakan mereka!" Kata Mjorn, ia bertubuh besar berotot dengan gada dipunggungnya, ia bertelanjang dada dengan celana yang terbuat dari bulu beruang. Rambutnya berstyle mohawk tipis dan memiliki anting kuku beruang ditelinganya.


"Hahahaha..  Hahahahahaha, aku akan memotong - motong mereka.." Kata Ivar, ia memiliki tubuh kecil dan memiliki kecacatan pada kaki satunya, akan tetapi tidak menutupi kelincahan menggunakan belati bergerigi miliknya. Ia memliki rambut yang terkepang panjang kebelakang dan memiliki mata layaknya hewan buas yang gila.


"Huuummmmmmmm..." Kata Sigurd, dwarf dengan rambut panjang tertutup helm besi bertanduk dan membawa kapak besar dipunggungnya, ia sulit berbicara karena lidahnya terpotong saat bertarung dengan Ivar.


"Aku akan memimpin dengan sangat hati - hati..." Kata Ubba, dia adalah pendamping terkuat yang dimiliki oleh Folk, ia pengguna pedang satu tangan dengan perisai bulat. Sama seperti Yoga yang memiliki kedekatan dengan Rado, Ubba ini adalah teman masa kecil Folk saat mereka masih menjadi dwarf penambang di dunia sebelumnya. Ia memiliki tubuh seperti Folk, pendek namun proporsional.


Bila Folk memiliki bola mata dan berambut hitam sampai menutupi keningnya, Ubba memiliki mata biru dengan rambut cepak. Mereka berdua memiliki tubuh yang dipenuhi luka karena pekerjaan kasar yang dilaluinya dulu. Folk yang mendekat kearahnya dan menatap secara personal kepada Ubba.


"Ku tunggu teriakan mereka.." Senyum lebar Folk.


"Hmph.." Angguk Ubba.


Kembali ke De Hoorn, saat itu matahari sudah berada dipuncaknya. Yoga datang untuk menemui Rado diruangannya. Kali ini Rado tidak mengunjungi akademi karena sedang membicarakan rencana lanjutan untuk membangun kamp pelatihan di distrik bawah dengan Albert dan juga Jefry. Ditengah perencanaan tersebut, Yoga memotong pembicaraan mereka karena ingin menyampaikan laporan dari petugas monitoring yang mendapat aduan dari pos 3 yang ditangani oleh Kenny.


Saat itu Yoga menjelaskan isi yang telah disampaikan oleh Kajol kepadanya mengenai penyerangan kumpulan para monster dari hutan barat.


"Eh?! Itu sangat tumben sekali..." Jawab Albert.


"Tumben?" Tanya Rado terheran.


"Ya... Itu sangat aneh menurut ku karena monster - monster disana sangat teritorial dan tidak mungki menyerang bersama..." Jawab Albert.


Mendengar penjelasan dari Albert membuat Rado memikirkan dan mengaitkan itu dengan pergerakan para dwarf.


"Untuk saat ini regu siapa yang berjaga pos dibagian barat?" Tanya Rado kepada Yoga.


"Saat ini regu dari Kan yang bertugas, akan tetapi Kan sedang menjalankan misi untuk menjaga Zowie di Lorien dan tugasnya diturunkan kepada Kenny.." Jawab Yoga.


"Kirim regu lain ke pos tersebut untuk menemaninnya... Aku rasa ini ada kaitannya dengan pergerakan ras dwarf..." Asumsi Rado.


"Baiklah kalau begitu.. Aku permisi.." Kata Yoga pergi.


Rado memegang dagunya berpikir duduk diatas kursinya.


"Jeffry.. Bisa kah kau ambilkan aku peta dunia?" Pinta Rado kepada Jeffy.


"Baik tuan.." Jeffry berjalan menuju lemari berkas dan mengambil sebuah peta.


Peta itu segera Jeffry gerai diatas meja dan Rado segera menelaah peta tersebut. Ia sangat serius menatap peta tersebut untuk mencari teka - teki masalah ini. Saat melihat letak wilayah dwarf dengan bagian barat wilayah manusia,  ia merasa kalau kemungkinan apa yang ia asumsikan dapat terjadi, tetapi ia juga berpikir kalau asumsinya juga bisa saja salah karena mungkin penyerangan monster itu ada maksud lain mengingat wilayah dwarf juga berdekatan dengan wilayah elf.


"Ini aneh... Apa yang mereka rencanakan? Dan sisi mana yang akan mereka serang? ada kemungkinan mereka menyerang kami, atau mereka menekan kami untuk tidak membantu elf dengan mengirimkan pasukan monster tersebut? Atau mungkin saja mereka melakukan hal ini dikedua sisi? Ini membingungkan ku... Orang seperti apa Archon dwarf ini? Karena tujuannya masih belum terlihat." Pikir Rado dibuat bingung.


"Albert... Bisa kau hubungi Kan untuk meminta Slyvrin agar melakukan patroli di wilayahnya?" Kata Rado meminta Albert.


"Baiklah..." Pergi Albert dari ruangan tersebut.


Rado kebali berpikir sambil menatap peta yang berada didepannya. Sementara itu di pos bagian utara elf yang mengarah pada perbatasan ras manusia. Prajurit elf yang sedang berjaga juga dikejutkan oleh serangan para monster yang berasal dari hutan.


"Serangan! Serangan!" Seru prajurit elf yang bertugas.


Beberapa waktu kemudian prajurit penjaga elf pun juga berhasil menghabisi mereka, namun kali ini ada sebuah kepala yang tersangkut dibadan monster yang terlah tewas tersebut lalu ditemukan oleh prajurit elf. Prajurit elf itu terkejut saat menemukan kepala tersebut dan membawanya kehadapan Slyvrin di Lorien. Saat itu Kan yang baru saja menerima laporan atas kejadian - kejadian yang menimpa diwiliayah ras manusia, segera dipanggil oleh Slyrvin mengenai sesuatu.


Saat Kan hadir didalam ruangan pertemuan, ia dibuat heran dengan Slyvrin dan juga para pendampingnya sedang mengelilingi meja pertemuan tersebut lalu menatap kearahnya dengan sangat beberlangsungkawa.


"Kan..." Panggil Hamdall.


Kan yang masih dalam keadaan bingung perlahan mendekat kearah meja tersebut dan melihat kepala Joon dengan mata tertutup sudah terkoyak dibagian kirinya, terpampang diatas meja. Kan segera terkejut dan sedikit mual melihat kepala Joon diatas meja.


"Perbuatan siapa ini?!" Tanya Kan emosi.


"Kami belum mengetahuinya, tatapi dari informasi yang ku dapat dari suami ku, perbuatan ini mungkin saja berasal dari bangsa Dwarf.." kata Slyvrin memberitahu kepada Kan.


"Dwarf?!" Kan terkejut.


Kembali kedalam hutan ditengah wilayah manusia dan Elf.


"Hahahahahahahha mungkin mereka sedang merasa bingung dan waspada bukan?!" Tawa puas Folk didalam tendanya.


"Sepertinya begitu.." Jawab Barge dengan wajah bingung.


"Pastinya begitu Barge...! Terhiburlah dengan permainan ini... Hahahhahahaha" Tawanya puas.


"Tuan Folk... Semua perlengkapan sudah siap..." Lapor dwarf muda masuk kedalam tendanya.


"Ok.. ok... Beritahu Ubba dan yang lainnya.. untuk bersiap menuju wilayah manusia.. Sebentar lagi"


Senyuman dari Folk mengimbangin perintahnya yang membingungkan.


______________________


Peta Antares