The Archon

The Archon
Spesial Wen Li - END



Ingatan terkahir ku adalah disaat Goro melesat kearah ku dan setelah itu semua menjadi gelap. Aku mencoba untuk membuka mata ku perlahan karena lemas yang melanda tubuh ini.


"Eh?!"


Aku terbangun dalam posisi tangan dan kaki terikat disebuah kursi besi, aku sudah mencoba untuk memberontak dan melepaskan diri dari ikatan ini, namun usaha ku sia-sia. Disaat bersamaan, pintu yang berada didepan ku terbuka dengan suara yang membuat ku terkejut. Dua orang yang mengenakan topeng pun masuk kedalam dan segera menghampiri ku.


"Siapa kalian?!" Tanya ku kepada dua orang tersebut.


Bukan sebuah jawaban yang ku dapat, tetapi sebuah pukulan kerah mengarah tepat dihidung ku dan menyebabkan pendarahan. Sakit, rasa sakit dan sebuah kepanikan menjadi satu. Aku tidak bisa berkata apa - apa karena merasakan ketakutan. Ruangan gelap dan hanya sebuah lampu redup kelap - kelip berada diatas ku, berhasil membuat ku begitu gelisah ketakutan, dikarenakan pencahayaan yang minim membuat ku hanya bisa melihat mereka sekilas sedang melakukan sesuatu.


Salah satu mereka terlihat sedang melakukan sesuatu pada suatu kotak di ujung ruangan dan satu orangnya lagi sedang berdiri menatap kearah ku dengan dua pasang mata yang terus melototi ku tanpa berkedip.


"Aku takut.. tolong, siapa saja.. tolong aku.."  Jerit ku dalam hati.


Disaat aku sedang dalam keadaan yang tidak stabil, suara yang mengganggu seperti keritan dan jeritan dari suara perempuan membuat ku semakin gila. Suara itu mengelilingi kepala ku dan membuat kepala ku ingin pecah. Semakin lama aku mencoba untuk menahan, malah membuat ku semakin ketakutan, dan pada akhirnya aku berteriak - teriak didalam ruangan itu.


Disaat aku sedang berteriak - teriak, orang yang berada didepan ku segera mendaratkan pukulannya lagi kearah ku, dan itu terus berulang - ulang hingga membuat ku lemas dan seperti kehilangan jiwa. Tatapan ku kosong dan entah mengapa setelah keluar dari ruangan itu, aku tidak bisa lagi mengingat apapun.


Beberapa hari kemudian...


"Tuan Gozie... Ada yang bisa ku bantu?!" Tanya ku pada sosok pahlawan ini.


"Ah Wen Li... Hari ini akan ada seorang yang hebat datang dan dia adalah keponakan ku" Kata tuan Gozie dengan senyuman.


"Lebih kuat dari ku?!" Aku tersenyum karena ntah mengapa, aku sedikit gembira dengan pernyataan mengenai orang tersebut.


Pada akhirnya aku mengetahui identitas orang tersebut setelah ia melakukan jumpa pers keesokan harinya, dia adalah Rado Morctis, keponakan tuan Gozie.


"Hmm sepertinya dia orang yang angkuh, di kemunculan pertamanya dia sudah mengklaim kalau dirinya adalah orang yang terkuat.."


Awalnya aku meremehkannya, tetapi pada saat kami melakukan latihan bersama. Aku terkejut dengan kemampuannya yang mampu mengalahkan kami semua.


"Tidak mungkin!" Aku terkejut menatap kearahnya.


Orang yang bersamanya juga tidak kalah kuat, dia adalah Yoga Putra, seorang tanker pengalaman dari Indonesia.


"Wah... dulu yang lain bilang kalau pemburu Indonesia lemah - lemah, tetapi sepertinya mereka salah.." Aku tersenyum gembira saat dikalahkan oleh mereka berdua, tapi..


"Eh? Siapa yang ku maksud dengan yang lain?" Aku merasa bingung dengan perkataan ku sendiri.


Hari - hari itu telah tiba, setelah mengalahkan kami dalam percobaan tempur, Rado segera dipromosikan sebagai kapten utama dan Yoga, aku tidak mengetahui posisi apa dia dalam persatuan ini. Pertama kali aku mencoba untuk melakukan perburuan bersama mereka, aku merasa terpacu untuk menjadi lebih kuat lagi dan bisa bersanding bersamanya.


"Kapten anda mau kemana?" Tanya ku kepada Rado yang ingin pergi bersama Yoga.


"Hmm berburu.." ia menoleh kearah ku dengan senyuman.


"Boleh kah aku ikut?" Tanya ku dengan ketertarikan.


"Sepertinya tidak.. kau berlatih lah dulu.."


Itu kata - kata dari kapten Rado kepada ku sebelum ia pergi. Mendengar ia berkata seperti itu membuat senyuman ku itu padam dan berubah menjadi sebuah kemurungan.


"Apa aku kurang kuat?! Apa yang harus kutunjukan lagi pada mu hingga kau mengakui ku?" Kesal ku dalam hati.


"Jangan dimasukan kedalam hati.. Dia memang seperti itu, tetapi ia memiliki maksud yang baik untuk mu"


Kata - kata dari Yoga membuat ku semangat kembali meskipun masih ada rasa kesal dengan ucapan kapten Rado. Setelah ia mengatakan demikian dan beranjak pergi mengikuti kapten, keesokan harinya menjadi sebuah keakraban diri ku dengan Yoga. Dia orang yang lembut dan juga pengertian, tidak seperti kapten Rado yang lebih cuek terhadap orang lain.


"Ka Yoga.!! Tolong lakukan sekali lagi!" Pinta ku saat berlatih bersamanya.


"Sudah cukup... Kalau di teruskan tidak akan baik.." Katanya sambil beranjak pergi dan menyeka keringat di wajahnya.


"Ayolah... Sedikit lagi.." Aku meminta dengan keras.


"Tidak bisa.. istirahat lah.." Dirinya menoleh dan tersenyum keapada ku.


"Kalau begitu bisakah aku ikut dengan mu dan kapten bilang pergi berburu?" Tanya ku dengan harapan tinggi.


"Untuk sekarang sepertinya jangan dulu.." Katanya dengan senyuman yang tidak membahagia kan ku.


Aku meluapkan kekesalan ku dan itu mengejutkan ka Yoga, itu terlihat jelas dari mimik wajahnya.


"Kau belum siap.." Katanya singkat dan segera meninggalkan ku di gedung tempat biasa kami latihan.


Karena ucapan yang mengecewakan itu membuat ku selalu berlatih seorang diri setiap malamnya. Tubuh yang penuh dengan peluh tidak akan membuat ku berhenti berlatih. Tujuan ku jelas untuk dekat ini, yaitu diperbolehkan ikut dalam raid rahasia kapten dan Ka Yoga.


Demi mengukur sudah sejauh mana kekuatan ku, aku menghabiskan Red Dungeon yang ada pada list pemerintahan. Tetapi ada keanehan disalah satu Red Dungeon yang telah aku selesaikan, kala itu merasa seperti melihat gerombolan seseorang dengan telinga yang cukup panjang tidak seperti manusia normal lainnya. Mereka hanya menatap kami dari kejauhan didalam hutan dan kemudian mereka meninggalkan kami begitu saja.


"Apa kau melihat seseorang tadi?" Tanya ku pada anggota Raid yang lain.


"Orang lain? Sepertinya tidak.." Jawabnya dengan datar.


"Apa aku hanya berhalusinasi?" Dalam benak ku, aku mempertanyakan apa yang aku lihat.


Aku pulang dengan sebuah tanda tanya besar dengan apa yang telah aku lihat didalam red dungeon tersebut, sampai pada akhirnya aku mendengar cerita dimana saat regu raid kapten Rado, mendapat sebuah perlawanan dari para monster bernama Orc itu, aku jadi teringat dengan apa yang ku lihat didalam red dungeon, tetapi jika aku cocokan dari segi fisik dan visual mengenai monster yang dilawan oleh kapten, itu berbeda dengan apa yang ku lihat saat menyelesaikan dungeon tersebut.


Aku mencoba untuk tidak memikirkannya dan terus melatih diri ku hingga bisa mengejar kapten dan Ka Yoga. Tetapi semua sirna saat Kapten dan Ka Yoga menghilang bersamaan juga hilangnya Lucy, Bobby dan Peter yang saat itu juga ikut dalam raid bersama kapten.


"Apa mereka melakukan perjalanan yang rahasia?"


Tanya ku dengan rasa iri yang amat besar. Hari - hari setelah kepergian mereka terasa berat bagi ku, aku menjadi malas berlatih karena tidak ada tujuan lagi. Namun, saat aku merasa ingin menyerah, ditengah bencana Black Dungeon sebuah kabar mencuat ditengah keputusasaan ini. Kapten Rado dan KaYoga telah barhasil menundukan salah satu negara. Aku sangat terkejut dan jantung ku terpompa kembali melihat pencapaian mereka.


Aku segera berlari menuju keruangan tuan Gozie, namun aku tidak menemukannya. Hanya Goro saja yang berada disana dan duduk di kursi tempat biasa tuan Gozie duduk.


"Goro? Apa yang kau lakukan di kursi tuan Gozie?" Tanya ku heran.


"Tuan Gozie telah tewas.." Jawabnya dengan enteng.


"Eh?! Apa maksud mu? Bagaimana ia bisa tewas?!" Tanya ku dengan kesal.


"Ia dibunuh oleh tuan Rado.. Apa ada masalah dengan itu?"


Aku terkejut dengan pernyataan itu, "Apa motif dibalik ini semua? Mengapa Kapten membunuh tuan Gozie?" tanya ku kepada Goro.


"Karena ini adalah takhta tuan Rado, tuan Gozie hanya sebuah bantu lompatan saja"


Entah mengapa aku seperti familiar dengan suara Goro saat ini, aku seperti pernah mendengar suaranya disuatu tempat dan entah mengapa aku merasa seperti mengikuti perkataannya begitu saja.


"Oh... begitu baiklah.." Senyum ku tanpa ku ketahui mengapa aku tiba - tiba tersenyum.


Karena aku merasa semangat kembali, aku mengambil sebuah resiko yang cukup besar demi segera menyusul mereka, yaitu mengambil misi menutup Black Dungeon. Goro segera menyetujuinya dan mempersiapkan diri ku untuk bisa terbang ke Amerika.


Dalam hati ku, aku hanya berharap kapten bisa melirik dan mengajak ku dalam perburuan rahasia itu, tetapi itu hanya angan - angan. Saat ini monster yang sangat kuat sedang melululantahkan kami, para pemburu berteriak kesakitan dan menangis karena ketakutan. Aku bingung harus melakukan apa, semua sudah tidak terkontrol dan ini bukanlah sebuah Raid monster, tetapi hanya sebuah pembantaian.


Aku mulai putus asa dan mengerahkan apa yang ku bisa, yaitu menebas dan menebas untuk bisa mengalahkan satu monster saja.


"Kumohon satu saja.. matilah!!!!" Teriak ku dalam hati dengan sebuah harapan kecil.


Tetapi saat itu aku lengah, aku terkena pukulan dari belakang dan membuat ku terjatuh lemas. Pandangan ku kabur dan kepala ku sangat berat, tetapi aku mencoba untuk berdiri untuk kembali melawan.


"Tolong sekali lagi" Dalam benak ku mencoba untuk memberikan semangat pada diri ku yang lemah ini.


Tetapi semangat itu datang terlambat sampai dimana aku sudah berada didepan mulut yang terbuka lebar yang siap untuk memakan ku ini. Aku hanya bisa pasrah karena semua badan ku mulai mati rasa dan sulit digerakan. Semakin lama semakin dekat wajah ku kedalam mulut itu dan didetik - detik terakhir kematian ku ini, aku mengingat semua kejadian semasa hidup ku. Mengenai kapten Long Bai dan para anggota dari guild BrotherHood.


"Kenapa aku baru bisa mengingat mereka semua disaat seperti ini?"


Aku merasa sedih dan tanpa ku ketahui air mata ini jatuh. Penyesalan dan rasa sedih yang telah lama kulupakan datang kembali.


"Bagaimana bisa aku melupakan kalian semua?!" Tanya ku pada diri ku sendiri.


Disaat itu juga aku mengingat wajah Kapten Rado dan Ka Yoga.


"Sial! Aku juga belum menggapai mereka..Aku tidak ingin mati! Tolong sekali saja! Siapa saja tolong aku!" Jerit ku yang tidak bisa terucap.


Kepala ku pun hampir sepenuhnya sudah masuk kedalam mulut monster ini dan aku hanya bisa berteriak untuk terkahir kalinya didalam mulut yang sangat berlendir ini. Aku mencoba untuk membakar semangat ini lagi tetapi setelah mulut itu tertutup, sekali lagi.. hanya kegelapan yang ku dapat.